Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Dukungan Warga +62


__ADS_3

Tanpa terasa satu minggu telah berlalu, selama satu minggu juga Felix selalu mengurus Jova yang tengah sakit dengn sangat baik. Hari ini seharusnya menjadi hari yang paling bahagia untuk mereka. Karena Jova sudah boleh pulang tetapi justru Jova terlihat sangat sedih dan juga sangat tidak bersemangat. Felix pun tahu kalau Jova pasti sedih dengan dirinya yang harus kembali ke penjara.


Sejak ke luar dari kamar rawat Jova hanya menunduk tindak berani menatap sang suami yang juga terlihat sangat sedih itu.


"Sayang, aku tahu kamu sedih. Tapi kamu harus semangat yah, ingat hanya tinggal beberapa kali persidangan lagi kamu pasti akan bebas. Aku janji akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu," ucap Felix ketika Jova harus kembali ke penjara dengan menggunakan mobil tahanan. Ia sudah berusaha untuk bernegosiasi mengantar Jova dengan kendaraannya, tetapi Felix untuk kali ini tidak diizinkan, sehingga Jova tetap dengan mengendari mobil tahanan. Dan kini Jova pun hanya bisa mengangguk dan menggigit bibir bawahnya agar tidak menagis.


Benar yang dikatakan suaminya dia sudah sejauh ini bertahan tidak mungkin dia menyerah sedangkan jalanan yang ia lewati hanya tinggal beberapa hari lagi.


Sebagai perpisahan Felix memeluk Jova dengan mesra dan Jova pun yang tanganya terborgol hanya mematung dengan mata yang sudah mengembun.


"Aku akan mengantar kamu sampai penjara, aku akan memastikan kalau kamu baik-baik saja." Felix mencium rambut Jova yang wangi. Itu karena sebelumnya Felix membersihkan tubuh Jova dengan sangat baik, bahkan laki-laki itu membersihkan rambut Jova dan memotong kuku serta merapihkan rambutnya yang sudah sedikit panjang.


"Terima kasih," balas Jova dengan suara paraunya. Kini Jova harus menaiki mobil tahanan kembali. Banyak pasang mata yang menangkap pemandangan perpishan Jova dan Felix dengan tatapan yang iba. Mereka entah tahu dari mana sampai banyak yang tahu akan cerita Jova yang menjadi tersangka karena kasus menghilangkan nyawa demi membela diri. Tidak jarang mereka salut dengan keberanian Jova dan juga dengan ketegaran wanita berambut gelombang itu. Bahkan banyak juga yang memuji pasangan itu terutama Felix yang sangat perhatian dengan Jova.


Tidak jarang ada yang iri dengan Jova karena memiliki pasangan yang tanpan, kaya dan juga setia serta sangat sayang pada istrinya.


"Kasihan yah mereka, semoga istrinya bisa membuktikan kalau di tidak salah." Salah satu perawat di sana menatap rekaman yang baru dia ambil dan mengunggahnya kedunia maya.


"Iya, mana istrinya lagi hamil. Tapi nggak dikasih tahu suaminya, karena istrinya kasihan nanti suaminya kepikiran dia di penjara bakal susah." Teman yang lain menimpalinya. Hingga tanpa terasa obrolan mereka banyak yang menyebarkan dan banyak juga menyangkut pautkan dengan berita yang beredar.


"Oh, ini yang be-gal di jalan sepi itu yah, dengar-dengar yang bunuh cewek." Salah satu komen netijen yang kepo.

__ADS_1


"Iya cewek, tapi dia ngebunuh karena ngilindungi diri, tasnya mau diambil, dan suaminya udah pingsan karena ditusuk sama be-gal yang meninggal itu, dihantam pakai batu itu." Komen salah satu netijen yang lain. Hingga tanpa terasa unggahan yang di bagikan perawat itu sudah menyebar dengan caption yang beragam. Banyak yang simpati pada Jova dan Felix yang harus menjalani hidup terpisah. Bahkan ada yang mengatakan Romeo dan Juliet karena kesetiaan mereka. Apalagi ternyata banyak yang mengenal Felix sebagai pengusaha sukses.


Tanpa sengaja tim dari pengacar Prabu mengetahu kalau klienya sudah viral, setelah berunding bersama. Mereka diam diam mengeluarkan rekaman milik Jova dan rekaman CCTV dari kamera dashboard mobil. Sehingga mereka makin mendukung Jova.


Yah, Ini semua mereka lalakukan, krena ternyata kasus Jova di putar balikan oleh keluarga korban be-gal yang terbunuh. Yang ternyata mereka beberapa kali meneror Felix meminta tebusan uang untuk menutup kasus ini. Sebenarnya bukan masalah uangnya, tetapi masalahnya mereka memberikan kesaksian yang salah. Mereka malah mengatakan kalau sebenarnya Jova ada masalah dengan dirinya dari awal dan  mereka selalu menyudutkan Jova, sehingga ditakutkan akan memberatkan kesaksian Jova.


Oleh sebab itu pengacara Prabu mengambil langkah ini. Demi kebaikan bersama mereka pun akhirnya menggunakan kesempatan ini.


Benar saja dalam hitungan jam dukungan untuk Jova sudah mulai membanjiri bahkan mereka banyak yang terang-terangan me-mention pemimpin negara dan lembaga yang terkait untuk mengusut kejadian yang menimpa Jova.


"Welcome to rakyat +62 yang mana kalau diram-pok jangan melawan, kalau melawan maka penjara tempatnya."


"Jangan heran dengan hukum di negriku ini, di mana yang salah bisa tidur nyenyak, yang tidak salah masuk penjara."


"Profesi yang paling menjanjikan adalah be-gal, karena dilindungi sama hukum."


Seperti itu kira-kira komen yang berjumlah ribuan, dan bahkan mereka dengan tangan kreatifnya membuat meme-meme sindiran untuk hukum di negara ini, untuk kasus Jova memang menarik sekali untuk di kulit sehingga mereka dengan senang hati menjadi pendukung untuk Jova.


Sedangkan Jova sendiri yang tidak tahu apa-apa. Saat ini hanya duduk di pojokan tempat tidurnya dengan menekuk kakinya dan meletakan wajahnya di atas lututnya. Tanganya mengusap perutnya yang seolah bayinya tahu kalau tempat ini bukanlah tempat yang nyaman untuk dia.


"Maafkan Bunda yah Nak. Kita untuk sementara waktu tidur di sini lagi. Kita tidak bisa bobo sama Ayah lagi. Ayah sedang kerja untuk cari uang agar kita bisa cepat pulang," isak Jova dengan tangisan yang hebat.

__ADS_1


Wanita itu terlalu takut kalau dirinya akan semakin lama tinggal di penjara. Apalagi dia sendiri sedang hamil butuh banyak dukungan dari orang-orang sekitar, belum makanan dan vitamin harus benar-benar terjaga, tapi kalau di dalam penjara dia bagaimana nasib anaknya? Itulah ketakutan yang Jova rasakan.


Tanpa terasa Jova terus menangis. Pikiranya yang kata dokter Evi jangan tegang justru sebaliknya baru kembali ke dalam penjara dia sudah merasakan terlalu pusing. Namun, Jova berusaha untuk tenang, demi buah hatinya.


"Nak, kamu yang kuat yah. Kamu adalah penguat Bunda saat ini. Bunda tahu kamu pasti kuat di dalam sana. Kamu adalah rezeki untuk kami, kata dokter Evi kamu adalah malaikat untuk Bunda, Sayang." Memang untuk pertama kali Jova menolak akan kehamilannya, tetapi berkata dokter Evi yang memberikan pengertian. Jova akhirnya kini sangat menyayangi calon malaikat kecilnya.


Di saat Jova kembali bersedih dan juga kembali murung. Hal yang sama pun Felix rasakan. Dia kembali ke kantor dengan wajah lesu dan juga tidak bersemangat.


"Bos... lihatlah!" Arzen yang barusan di hubungi oleh tim pengacara Prabu pun langsung menyampaikan apa yang terjadi di luar sana.


Dengan wajah setengah kesal Felix akhirnya menatap Arzen. "Bicaralah, aku akan mendengarkanya, meskipun aku sedang tidak mood untuk semua urusan," ucap Felix dengan menatap malas pada  asistenya itu.


Arzen langsung membuka media sosial, dari tweeter, tik-tok, instagram, fecebook, dan juga dunia maya lainya.


Kedua mata Felix langsung melebar ada harapan dari berita yang viral. Dada Felik naik turun dengan kuat. Apa ini tandanya Jova bisa bebas dengan lebih cepat?" tanya Felix dengan suara yang bergetar. Ada angin segar, harapan yang berhembus membawa sedikit ketenangan dalam hati Felix.


"Bisa Tuan, malah mereka dengan terang terangan me-mention kepala bagian yang berwewenang. Resikonya kalau mereka tutup mata, dan telinga maka rakyat akan semakin menggila. Mereka harus belajar dari kasus yang sudah-sudah salah keputusan jabatan digulingkan.


Felix tersenyum dengan air mata yang jatuh. "Aku baru merasakan sebahagia ini Zen. Bisa melihat mereka sangat kompak. Aku baru tahu kalau rakyat kita sangat perduli dengan sesama terutama untuk mengungkap kebenaran. Seolah hakim saat ini adalah rakyat," ucap Felix dengan mata yang berkaca-kaca.


"Benar Tuha, hakim saat ini adalah rakyat sendiri. Karena dari rakyat mereka bisa seperti ini. Sehingga salah memeberikan keadilan makan tangan rakyat yang akan membuat hukuman untuk mereka. Netijen itu kompak untuk urusan kebenaran, dan juga kalau tangan nitizen sudah bergerak, bakal dikuliti sampai tulang belulang."

__ADS_1


Felix kembali melebarkan senyumnya. "Sayang kamu sabar yah sebentar lagi kamu pasti bebas. Sodara setanah air kita banyak yang peduli dengan kamu."


__ADS_2