Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Berpisah Untuk Sementara


__ADS_3

Enggak, Ibu nggak mau kalau harus ikut dengan orang jahat itu." Lasmi menunjuk pada Felix.


Felix yang tahu betul bagaimana perasaan ibu mertuanya memiliki ke luar lagi dari ruangan rawat Lasmi. Duduk mematung menatap hilir mudik lalu lalang dari koridor rumah sakit, entah itu adalah perawat, dokter ataupun keluarga pasien. Setidaknya dia sedikit teralihkan perhatiannya karena kesibukan orang-orang yang berlalu lalang.


"Maafkan Ibu yah, beliau masih menganggap kamu sama seperti Juragan Guntoro, tapi barusan aku sempat jelaskan kalau kamu itu berbeda, jadi kamu jangan marah yah, Ibu hanya belum tahu siapa kamu sebenarnya." Jova yang baru ke luar dari ruangan sang ibu pun langsung mengambil duduk di samping Felix.


Felix menatap Jova dengan senyum samar. "Aku tahu bagaimana perasaan ibu kamu, dan aku rasa untuk sementara waktu ibu kamu membutuhkan kamu dan dirawat di rumah sakit, bagaimana kalau aku pulang ke Jakarta dulu? Lagi pula kasihan Arzen kalau dia hanya sendirian mengurus kerjaan yang banyak?" tanya Felix, ia kini ingin melibatkan Jova untuk mengambil keputusan meskipun sebenarnya tanpa masukan dari Jova, pasti istrinya itu masih bisa memaklumi keputusannya.


"Aku rasa itu lebih bagus, aku juga kasihan kamu kalau di sini pasti hanya akan buang waktu dan juga istirahat kurang nyaman karena  tempat istirahat yang kurang nyaman," balas Jova dengan yakin.


"Baiklah, aku akan pulang ke Jakarta tapi kalau kamu butuh sesuatu kamu langsung hubungi aku yah. Dan apa kamu ada nomor rekening?" tanya Felix dengan setengah berbisik.


Jova mengangguk lemah.


"Kalau gitu kamu kirimkan nomor rekening kamu padaku,  aku akan mengirim kamu uang untuk biaya rumah sakit dan juga uang pegangan kamu selama di sini."


Jova hanya menunduk. "Maafkan aku kalau aku merepotkan kamu," ujar Jova dengan suara lirih.


"Jo, diawal memang aku salah karena berbuat semena-mena dan membatasi diri dengan kamu, tetapi aku sudah berjanji pada papah kamu kalau aku akan menjaga kamu dan juga ibu kamu jadi biarkan aku memenuhi kewajiban aku sebagai suami dan juga anak menantu. Lagi pula aku kerja banting tulang dari pagi kadang sampai pagi lagi untuk apa, kalau bukan untuk keluargaku. Dan bukankah keluargaku saat ini adalah kamu dan ibumu?"

__ADS_1


Ucapan Felix membuat Jova terharu. Dia yang sejak sekolah sudah diajarkan untuk bekerja jadi ketika tiba-tiba diperlalukan layaknya seorang ratu bukanya berjingkrak bahagia justru Jova merasakan sedih.


Kenapa ketika Jova merasa di ratukan oleh suaminya ayah dan adiknya sudah tidak ada. Kenapa untuk mendapatkan bahagia  dari suaminya harus dengan ditukar dengan meninggalnya ayah dan adiknya. Itu yang membuat Jova sangat sedih.


"Kalau begitu aku ucapkan terima kasih banyak, dan aku juga akan perlahan menjelaskan pada ibu kalau Mas dan Juragan Guntoro itu berbeda." Hanya itu yang bisa Jova lakukan dan semoga saja Felix menyukainya, dan bisa memaklumi kondisi ibunya.


"Yah, setidaknya Ibu tidak membenci saya, karena nanti kita kan akan tinggal bersama setelah Ibu sembuh, kita akan secepatkan pindah ke Jakarta."


Lagi, Jova hanya mengangguk dengan pasrah, dan  tentu juga senang karena dia dan ibunya bisa bersama sama terus.


"Oh iya, kamu juga harus tanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada uang pembayaran rumah. Bukan aku ingin membela orang tuaku, tetapi apabila bukan Papah yang melakukanya nanti timbuhnya akan fitnah, dan apabila memang terbukti orang tuaku yang mengambil kembali uang-uang itu, maka aku sendiri yang akan membuat memperhitungan dengannya," pesan Felix pada Jova.


"Tapi, kalau ternyata yang mengambil uang kembali memang bukan suruhan papah kamu gimana Mas?" tanya Jova tidak mau juga Jova menuduh.


"Terima kasih lagi dan lagi kamu selalu ada di pihak aku, sepertinya yang dapat untung banyak dari pernikahan kita adalah aku," kelakar Jova. Meskipun dia masih berkabung, tetapi  tidak ada salahnya dia bercanda. Kalau bukan dirinya sendiri yang menghibur hati lalu siapa lagi. Itu yang ada dalam pemikiran Jova.


"Jangan terima kasih terus nanti kehabisa stok. Kalau gitu aku langsung kembali ke Jakarta yah?"  Felix mengulurkan tanganya. Jova pun cukup terkejut dengan perlakuan Felix, tetapi sedetik kemudia Jova menarik bibirnya menandakan wanita itu senang dengan perubahan suaminya itu.


Jova mencium punggung tangan suaminya dengan ta'zim. Begitupun Felix mencium pucuk kepada Jova dengan hangat. Untuk seketika Jova mematung dengan perlakuan Felix yang Jova akui romantis.

__ADS_1


Jova pun mengantarkan suaminya hingga ke tempat parkir. "Mas, apa tidak lebih baik kamu istirahat dulu, dari semalam kamu belum tidur," ucap Jova terlihat sangat cemas dengan kondisi Felix, apalagi perjalanan yang akan Felix tempuh bukanlah perjalanan yang dekat. Sehingga laki-laki itu harus benar-benar tubuhnya kuat.


"Heheh... baru rencananya aku mau cari hotel dulu untuk istirahat, karena jujur aku capek banget." Felix pun menujukan wajahnya yang jelas terlihat sangat lelah juga.


"Nah, kalau gitu Jova tidak terlalu cemas. Ya udah kalau gitu hati-hati yah. Kalau ada apa-apa informasi, dan kalau sudah sampai rumah juga beri tahu." Jova kali ini sudah mulai bawel.


"Baiklah aku pasti kasih tahu kamu kalau sudah sampai rumah, dan kamu juga jangan terlalu capek yah."


Jova membalas dengan anggukan kuat dan juga senyuman terbaiknya. Kini Felix sudah benar-benar meninggal halaman rumah sakit.


"Semoga kamu baik-baik saja Mas, dan kamu juga memang benar-benar akan memperbaiki hubungan kita menjadi lebih baik lagi," batin Jova dengan serius.


Setelah memastikan mobil yang ditumpangi Felix sudah pergi Jova pun kembali ke ruangan sang ibu yang tadi sempat beristirahat.


*****


"Felix? Apa laki-laki yang barusan aku lihat adalah Felix? Sudah lama banget aku tidak bertemu dengan Felix sekarang sangat jauh berbeda," ucap seorang wanita yang tanpa Jova dan Felix sadari sedari tadi ada yang mengamati mereka berdua. Wanita yang tidak jauh berada di lokasi Felix dan Jova berpisah, secara tidak langsung melihat kondisi Felix saat ini.


Wanita sudah bolak balik rumah sakit itu pun terus teringat dengan laki-laki yang barusan meninggalkan rumah saki tempat  buah hatinya di rawat.

__ADS_1


"Tapi ngomong-ngomong sipa wanita itu? Apa dia adalah istri dari Felix?" batin wanita itu yang masih sangat yakin kalau yang barusan bertemu denganya adalah Felix. Mantan kekasihya dulu.


Wanita itu terus mencari ke mana Jova pergi hingga tanpa sadar dia kehilangan jejak Jova. "Sial, siapa wanita itu, tapi kalau istri ataupun ada hubunganya dengan Felix kenapa jauh sekali Felix sampai ke kota ini? Apa itu tandanya aku dan dia masih ada jodoh? Semoga saja setelah aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Felix bisa mengerti keadaanku saat itu dan memaafkan aku karena telah meninggalkan Felix secara sepihak."


__ADS_2