Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Kemalangan Sumi


__ADS_3

Begitu mobil yang Jova tumpangi memasuki halaman rumahnya Sumi sudah duduk di kursi depan dengan menunduk sedih. Ada yang beda dari Sumi. Yah, gadis itu sekarang berhijab dan juga menutup wajahnya dengan masker. Sumi langsung mengangkat wajahnya ketika ia tahu sebuah mobil mewah masuk ke halaman rumah Jova.


Wanita berhijab itu langsung menghambur ke pelukan Jova seolah ia sedang mengabarkan bahwa gadis itu sedang butuh bahu untuk bersandar. Jova pun mengusap punggung sahabatnya itu. Cukup lama Jova membiarkan Sumi untuk memeluknya, setidaknya sampai Sumi merasakan ketenangan. Yang Jova yakini sahabatnya itu tengah menahan tangis.


"Duduk yuk!!" Jova menunjuk kursi yang tadi di duduki oleh Sumi sedangkan Ibu dan suaminya serta Aarav masuk ke dalam rumah sementara Jova dan Sumi di teras rumah. Lagi dan lagi tebakan Jova benar mata Sumi merah dan itu tandanya wanita berhijab itu tadi sempat menangis, tetapi Sumi memang pandai untuk bersandiwara sehingga Jova tidak menyadarai bahwa sahabatnya menangis.


"Kita duduk di sini, atau mau di dalam saja biar lebih nyaman ceritanya?" tanya Jova basa basi untuk memulai obrolan di mana Jova tahu kalau Sumi masih mencoba menetralkan perasaanya.


"Di sini saja Jo, lebih segar banyak angin," balas Sumi dengan suara yang serak.


"Baiklah kalau gitu aku ke dalam dulu yah sebentar." Jova pun masuk ke rumah sebentar guna memngabilkan air minum untuk Sumi. Masa tamu dibiarkan kehausan.


"Terima kasih Jo, padahal jangan repot-repot aku juga tidak akan lama kok. Aku butuh bantuan kamu Jo," ucap Sumi dengan suara yang lirih, tidak berbasa-basi langsung pada niat tujuannya datang menemui Jova.


"Katakan saja Sum, mungkin aku bisa bantu," ucap Jova sembari terus mengamati cara duduk Sumi yang terlihat sekali kalau wanita itu memang tidak tenang.


"Aku sedang kena musibah Jo. Sejak kamu pergi hidupku hancur total. Maaf kalau kamu kirim pesan aku tidak pernah aku balas. Aku sedang tidak ingin berkomunikasi dengan siapa pun. Hatiku sedang terluka," ucap Sumi terdengar suara yang sangat berat, sebagai tanda bahwa wanita yang saat ini duduk di samping Jova tengah merasakan sangat sedih.


Jova pun menggeser tempat duduknya dan memberi kekuatan dengan menggenggam jari jemari Sumi agar gadis itu tidak merasakan sendiri di dunia ini yang teramat.

__ADS_1


"Jo... aku di tuduh mencuri kalung milik pelanggan yang harganya sampai dua puluh juta lebih." Tangis Sumi yang sudah dia coba tahan sejak tadi akhirnya pecah. Kini Jova pun semakin kuat menggenggam tangan Sumi yang sedang menangis. Jova tahu bagaimana sedihnya Sumi saat itu, bukan hanya sedih tapi juga pasti takut dengan posisi yang tertuduh. Untuk mengelak tak kuasa, hanya diam menahan malu dan ketakutan.


"Aku tidak tahu cerita yang sesungguhanya bisakah kamu ceritakan pada aku yang sebenarnya terjadi," ucap Jova mungkin Jova bisa sedikit membantu mencari kira-kira siapa yang melakukanya. Meskipun Jova tahu betul kalau yang dia lakukan itu terlihat sangat mustahil.


"Aku pun tidak tahu Jo, tiba-tiba tim pengawas mendatangi aku dengan polisi dan menggeledah tasku dan yang membuat aku bingung di dalam tas aku itu ada kalung yang aku sendiri juga tidak tahu siapa yang memasukanya." Sumi menceritakan detik demi detik kejadian itu hingga dia yang tidak bisa mengelak karena bukti ada dalam tas Sumi.


Hingga Sumi yang dimasukan penjara selama tiga hari sebelum keluarga Sumi memberikan uang sebagai jaminan kalau Sumi tidak akan mengulanginya lagi dan menggaanti rugi barang itu dengan nominal harga yang sama.


Jova pun dengan teliti menyimak apa yang Sumi ceritakan. Rasanya terlalu aneh ketika tiba-tiba ada yang ingin menjatuhkan Sumi, sedangkan Sumi adalah orang yang baik dan tidak macam-macam.


"Apa kamu ada curiga dengan seseorang yang mungkin saja bisa kamu curigai?" tanya Jova. Apalagi dalam perusahaan yang termasuk besar, dan seharusnya di dalam juga harus ada CCTV, jadi semua ini tidak bisa di buktikan dengan apapun hal itu karena tidak ada bukti CCTV, dan Sumi sendiri serta teman-temanya tidak punya bukti kalau bukan Sumi yang melakukanya.


"Terus yang bisa aku bantu apa? Kalau aku bisa bantu, aku akan membantu. Pasti sudah aku lakukan kalau aku memang bisa membantu kamu," tanya Jova, ia sangat tahu kalau Sumi tidak mungkin melakukan itu semua.


"Aku butuh kerjaan Jo, apa kamu bisa memmberikan aku pekerjaan, tidak masalah aku bekerja sebagai pembantu juga. Aku juga merasa terlalu hina di kampung ini Jo, tidak jarang ada yang benar-benar percaya kalau aku melakukan itu semua. Tatapan orang-orang membuat aku tidak betah lagi tinggal di rumah Abah," balas Sumi dengan pandangan yang mengiba.


"Aku akan tanyakan pada Mas Felix yah Sum. Karena yang tahu ada kerjaan atau tidak suami aku. Kamu bisa tunggu sebentar di sini aku akan masuk ke dalam dan kalau memang ada sore ini juga kita akan berangkat ke Jakarta apa kamu tidak masalah?" tanya Jova untuk memastikan.


"Tidak masalah Jo, semakin cepat semakin baik, aku juga sudah izin dengan Abah dan beliau setuju saja selama aku pergi dengan kamu," balas Sumi untuk meyakinkan sahabatnya itu. Dan Jova pun kembali izin pada Sumi untuk masuk ke dalam rumahnya berharap agar Felix bisa membantu Sumi memberikan pekerjaan.

__ADS_1


Beruntung sekali Jova di mana Felix dan Arzen rupanya sedang ngobrol di ruang keluarga.


"Mas..." Jova duduk di samping Felix dengan wajah yang cukup tegang, tentu ada perasaan tidak enak ketika ada temannya yang meminta bantuan mencarikan pekerjaan sedangkan dengan ikutnya sang ibu saja sudah menambah beban ekonomi untuk suaminya.


Felix dan Arzen nampak bingung dengan Jova yang seperti tengah memikirkan sebuah rumus fisika.


"Kenapa Jo?" Justru Arzenlah yang lebih kepo.


"Di luar ada teman Jova yang sedang kemalangan, sedang butuh bantuan cari pekerjaan apa Mas bisa berikan dia pekerjaan. Jova bisa jamin kalau wanita itu adalah orang baik tuduhan yang dilayangkan pada dia hanyalan kebohongan belaka." Jova tentu sebelumnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sumi, baik yang gadis itu dipenjara hingga dipecat tidak hormat dan mengembalikan ganti rugi kalung dengan nominal yang fantastis itu.


Baik Felix dan Arzen menyimak dengan jeli yang di ceritakan oleh Jova. "Kenapa aku curiga justru ini sabotase dari perusahaan itu sendiri. Mungkin nggak sih kalau mereka sedang mengambil keuntungan dari masalah yang mereka buat? Apa tidak ada CCTV?" tanya Arzen bahkan Arzen menjabarkan tuduhanya dengan sangat jeli.


"Nah, aku pun berpikir demikian Zen." Felix tidak kalah ternyata memiliki pemikitan yang sama dengan Arzen.


"Tapi untuk apa mereka melakukan itu semua?" tanya Jova bingung, rasanya tebakan Arzen dan suaminya terlalu memaksakan.


"Astaga Jo, kamu polos sekali. Persaingan dunia bisnis itu berat, mereka harus dengan pintar mencari uang sebanyak-banyaknya, dan tidak jarang memang ada owner dari perusahaan yang jahat bahkan mereka rela mengorbankan karyawanya agar mereka mendapatkan untung yang tidak sedikit."


Jova pun langsung terkejut ternyata ucapan Arzen cukup masuk akal juga. "Ya Tuhan kasihan sekali kalau memang seperti itu adanya. Sumi korban keserakahan mereka, udah gitu Sumi jadi dikucilkan warga. Dipandang buruk padahal dia hanyalan rakyat kecil yang dijadikan tumbal keserakahan atasanya."

__ADS_1


__ADS_2