Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Dokter sekaligus Teman


__ADS_3

Dokter Evi mengusap punggung Jova dengan lembut. "Aku memang bukan sodara, Ibu atau bahkan teman dekat kamu, tetapi aku tahu betul apa yang kamu rasakan Jo. Aku akan selalu mendukung kamu. Aku tahu kamu adalah wanita yang kuat," ucap dokter Evi , memberikan dukungan pada Jova.


"Terima kasih Dok, jujur saya lebih tenang sekarang setelah bercerita dengan Anda." Tidak henti-hentinya wanita itu bercerita dengan apa yang terjadi dengan Jova. "Benar apa yang Anda katakan, saya lebih bebas bercerita dengan Anda. Bukan berarti keluarga saya tidak perduli dengan nasib saya, tetapi saya merasa kalau bercerita dengan Anda hati dan perasaan saya jadi lebih tenang," ucap Jova dengan suara yang kembali bergetar seolah wanita itu  sedang tidak baik-baik saja. Karena wanita itu tahu kalau bercerita dengan keluarganya pasti sang keluarga akan ikut cemas memikirkan nasib Jova.


"Sama-sama, aku suka kalau kamu bisa percaya padaku" balas dokter Evi. Setelah menghabiskan hampir setengah jam untuk bercerita dan memberikan masukan, kini daokter Evi pun sudah ke luar dari ruangan Jova.


Jova sendiri pun setelah bercerita dengan dokter Evi kini perasaanya menjadi semakin yakin kalau dia bisa melewati ujian ini.


"Kamu sudah di sini Fel?" tanya dokter Evi ketika melihat Felix tengah bersandar santai dengan gelas kopi hitam ditangan kanannya. Felix sendiri menggeser duduknya bertujuan agar dokter Evi bisa duduk dan membicarakan akan apa yang Jova katakan.


"Saya tidak bisa tenang kalau belum tahu bagaimana kondisi Jova," ucap Felix sembari menyesap kopi yang masih hangat.


"Jova baik-baik saja dia hanya terlalu merasa bersalah. Dan cobalah hibur dia dengan apa yang dia sukai." Dokter Evi juga harus bisa bersikap adil karena baik Felix maupun Jova sama-sama merasakan bersalah.


"Apa Jova ada cerita sesuatu?" tanya Felix dengan kepo. Apalagi tadi dirinya sempat melihat kalau baik Jova maupun dokter Evi terlihat sangat akrab, bahkan mereka berdua seolah sudah kenal lama.


Dokter Evi mengangguk dengan yakin. Yah, aku dan Jova memang terlibat obrolan yang cukup hangat. Dan Jova juga menceritakan apa yang dia rasakan. Tetapi untuk detailnya, mohon maaf aku tidak bisa ceritakan dengan lebih detail lagi karena aku sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun yang Jova ceritakan pada siapa pun. Aku tidak mau nanti Jova justru merasa tidak percaya dengan aku lagi. Biarkan dia merasa percaya dengan aku, dan menganggap aku sebagai teman yang nyaman untuk cerita sehingga dia akan merasa memiliki teman untuk bertukar cerita. Percayalah dia ceritanya tidak neko-neko. Yang dia ceritan hanya sebatas masalah dia selama di dalam penjara dan perasaan dia ketika harus kehilangan calon anak kalian. Jadi saran aku, kamu bebaskan dia apapun yang merasa nyaman, karena yang saat ini Jova butuhkan adalah kenyamanan, dan hatinya bahagia."


"Baik Dok, saya mengerti maksud Anda, dan saya juga berharap kalau Anda bisa menjadi teman curhat untuk Jova. Nanti saya akan bayar berapapun tarif untuk Anda meluangkan waktu untuk Jova," ucap Felix dengan tatapan yang mengiba.


Dokter Evi hanya terkekeh samar.

__ADS_1


"Kamu simpan saja uang-uang kamu, karena  aku tulus membantu Jova, dia wanita baik, dan juga pemberani. Aku berada di barisan terdeban untuk membantu Jova, bukan karena uang ataupun jabatan, tetapi karena keberanian dia dan juga kebenaran," ucap dokter Evi. Setelah cukup lama Felix dan dokter Evi bercerita kini mereka pun berpisah, sang dokter melanjutkan tugasnya, sedangkan Felix kembali masuk ke dalam kamar Jova.


Di saat Felix dan Jova sedang berusaha memperbaiki diri. Di dunia maya sang perawat kembali beraksi. Mereka adalah garis keras pendung Jova sehingga begitu tahu kalau Jova kembali dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi yang cukup parah, sang perawat yang menyandang sebagai paparazi pun mulai menunjukan aksinya.


"Yang tabah yah Kak Jova, semua ini akan indah pada waktunya. Biarkan dedek bayi bahagia dia alam sana." Bahkan sang perawat mengirimkan berita yang diyakini akan jadi viral ke akun lambe-lambe. Sehingga dalam hitungan menit komen kembali banjir bahkan dukungan untuk Jova semakin mengalir hingga ke pelosok.


Umpatan dan juga sindiran untuk para orang-orang tinggi yang di belakang Jova semakin pedas dan sangat menyesakan dada, bahkan anggota keluragga lembaga yang bersangkutan dengan kasus Jova tidak kalah diserang oleh netijen yang kesal dengan ulah mereka. Semua karena mereka menginginkan keadilan untuk orang-orang yang tidak bersalah seperti Jova. Mereka terlalu takut kalau korban seperti Jova di jadikan tersangka, para be-gal atau pencuri akan semakin menggila, dengan bebas dan terang-terangan menggunakan senjata tajam dan mengancam korbanya karena kalau korban melawan mereka di penjara. Sehingga mereka besar kepala berasa dilindungi oleh hukum.


Dukungan untuk Jova terus mengalir, bahkan sepertinya ibu-ibu sampai ada yang mengusulkan menggalang dana untuk membebaskan Jova. Karena mereka menganggap hukum harus dibeli dengan uang. Itu semua mereka lakukan karena sangat perduli dengan keadilan.


Felix kali ini bisa bernafas sedikit lega pasalnya ia tidak melihat tangisan Jova lagi. Untuk saat ini sang istri memang sudah tertidur dengan damai. Wajah kurus dan pucatnya membuat Felix semakin dihantui oleh perasaan bersalah.


Tangan Felix merogoh ponselnya, lalu nomor telepon ibu mertua menjadi tujuan utama  orang yang ia hubungi.


[Hallo, ada apa Fel kenapa pagi-pagi kamu telepon?] tanya Lasmi dari sebrang telponya.


[Tidak Bu, hanya mau tanya kalau Jova yang paling di sukai apa yah?] jelas Felix tujuan utamanya ia  menelepon hanya untuk menanyakan itu.


[Loh, ada apa dengan Jova? Dia baik-baik saja kan?] tanya Lasmi balik, justru mengabaikan pertanyaan menantunya.


[Jova baik Bu, baik banget malah, ini aku lagi pengin bikin kejutan saja kalau Jova sudah boleh pulang biar nanti kalau waktunya tiba tidak mepet,] jelas Felix agar sang mertua juga tidak ikut panik.

__ADS_1


Cukup lama Lasmi tidak menjawab pertanyaan Felix, itu karena wanita paruh baya itu benar-benar mengingat-ingat kira-kira yang selama ini Jova inginkan itu apa.


[Kalau Ibu tidak salah, Jova paling senang dengan kucing, bahkan dia sangat ingin memiliki  kucing yang banyak gitu dan di buatkan rumah untuk kucing kucingnya.] balas Lasmi. Yah, Jova memang dari jaman dulu sangat suka dengan binatang berbulu halus itu.


Felix jadi teringat pagi hari sebelum kejadian na'as itu terjadi. Jova sangat antusias ketika Felix mengusulkan agar dirinya merawat kucing selain sebagai hobby juga bisa menghasilan uang.


"Mungkin ini saatnya aku bisa mewujudkan apa yang Jova inginkan.


Setelah menghubungi mertuanya Felix pun langsung  kembali menghubungi Arzen agar membuat bagian rooftop rumahnya menjadi tempat yang nyaman untuk bersantai menikmati senja, dan juga rumah untuk calon anak anak Jova, sebut saja kucing-kucinya.


Felix ingin memberikan kejutan untuk sang istri, meskipun dirinya tidak suka kucing, tetapi demi kebahagiaan sang istri dia rela deh rumahnya di tempati banyak Kitty yang kata Jova semua kucing adalah anak-anaknya.


Kembali Felix terkekeh setiap mendengar ucapan Jova yang selalu ingin di panggil Mommy sama kucing-kucingnya.


Seperti ini kira-kira keinginan Felix untuk atap rumahnya.



Dan untuk rumah anak-anak Jova seperti ini. Biar mereka senang bermain sedangkan sang mommy bersantae


__ADS_1


__ADS_2