
Jova termenung, ketika rasa tidak tenang tuba-tiba datang menghampirinya. Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak hebat. "Ayah, Ibu, Jini apa kalian baik-baik saja di kampung halaman? Jova kangen banget sama kalian. Semoga pengorbanan kita membutuhkan hasil. Jini kamu adalah gadis kecil yang hebat, kita pasti bertemu kembali dengan kesembuhan kamu." Kini pikiran Jova kembali merasakan tidak tenang, setiap teringat keluarga maka hati Jova seolah teriris-iris. Nyeri dan sesak.
Pagi hari menyapa, Jova akan bangun seperti hari-hari sebelumnya. Bangun pagi adalah hal yang wajib ia lakukan. Bersih-bersih dan menjalankan kewajibanya, selalu menjadi rutinitas wajib di pagi hari, sembari nunggu pukul enam pagi yang mana ia akan berangkat ke rumah sakit, lebih dulu ia merangkai kata demi kata untuk kembali melanjutkan serial novel yang ia tulis. Ini adalah hobby-nya sehingga dimanapun akan selalu Jova sempatkan waktunya di saat tidak sibuk, selain menghilangkan setres-nya, wanita itu juga memiliki teman baru.
"Cemong, Momy berangkat kerja dulu yah, kamu jangan nakal, ini makanan untuk kamu, dan jangan ngacak-ngacak pohon lagi, kasihan Bi Suro yang beresinya. Doakan momy pekerjaannya lancar dan tidak kena marah oleh bos momy yah." Seperti itulah setiap pagi sebelum berangkat kerja maka wanita itu akan menyiapkan makanan untuk cemong dan juga air menum untuk bayi kecilnya.
"Meong..." Seolah kucing hidung pesek itu mengatakan 'hati-hati dan sampai berjumpa lagi, dan dah-dah...'
"Iya, momy berangkat kerja yah, dah-dah anak ganteng," ucap Jova padahal dia sendiri belum tahu cemong itu kucing betina atau justru jantan, tetapi sejak pertama dia bertemu sudah jatuh cinta dan itu sebagai tanda bahwa kucing itu adalah jantan, karena pesonanya tampan dan memikat hati.
Ojek adalah pilihan transportasi yang Jova ambil sedangkan sebenarnya kalau mau naik taxi juga tidak akan yang memarahinya, tetapi sesuai perinsifnya diawal dia tetap memilih ojek yang lebih gesit dan tidak macet juga.
"Pagi Bi, ini piring yang semalam, terima kasih yah Bi, masalan Bibi memang selalu juara. Lain waktu, dan kalau ada kesempatan Jova ingin belajar masak dengan Bibi." Jova mengulurkan piring dari luar pintu.
"Masuk saja Neng, Tuan Felix tidak ada di rumah kok, makan dulu sini, bibi sudah masak nasi goreng." Bi Suro tidak bergeming dari dapur dengan maksud agar istri dari majikanya masuk saja. Kedua bola mata Jova berusaha memindai, dan baru saja kakinya hendak melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu. Kamera CCTV seolah tengah mengawasinya, sehingga Jova pun mundur lagi.
"Bi, Jova taro sini saja yah piringnya. Tuan Felix memang tidak ada di rumah ini, tetapi ada mata-mata yang mungkin saja akan mengadu kalau Jova masuk ke dalam rumah ini," Jova menunjuk kamera CCTV yang ada di ujung ruangan dengan bibirnya setengah monyong.
"Ya ampun Neng, tidak mungkin lah, Tuan Felix mau ngecek hal seperti itu, kayak tidak ada kerjaan saja," seloroh Bi Suro sembari memberikan kotak bekal yang sudah ia siapkan. "Untuk sarapan, jangan boros-boros, untuk makan biar bibi yang masakin, Tuan Felix tidak mungkin marah kalau bibi yang kasih Neng." Senyum teduh dan damai tersungging di bibir wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Lagi, Jova berkali-kali mengucapkan hamdalah, karena bi Suro yang tiada pernah henti menyelundupkan makanan untuk Jova. "Terima kasih Bibi, Jova bingung mau ngomong apa lagi, Bi Suro sudah baik banget. Jova janji nanti kalau sudah gajihan akan belikan bibi makanan yang enak."
"Hist...tidak usah. Uangnya Neng tabung saja, bukanya adik Neng butuh uang buat pengobatanya, bibi di sini makanan sudah terjamin, enak-enak pula. Lagian bibi senang kalau Neng mau makan makanan dari bibi, itu artinya Neng ngehargai pemberian orang lain." Bi Suro mengusap pundak Jova. Yang selalu melow apabila bi Suro bersikap baik padanya.
"Pasti dong Bi, pokonya apapun yang Bibi beri pasti Jova suka. Jova berangkat dulu yah Bi. Abang ojek sudah sampai di depan. Terima kasih untuk makananya. Oh iya Jova titip cemong yah Bi, makanan sudah Jova beri stok aman sampai sore." Jova pun gegas langsung mengayunkan kakinya dengan setengah belari. Bi Suro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sama halnya dengan Jova yang senang ketika bertemu dengan bi Suro. Wanita paruh baya itu pun sama halnya senang ketika bertemu wanta ceria seperti Jova.
"Sesuai aplikasi yah Pak." Sebelumnya Jova memang sudah diajarkan oleh Arzen cara memesan ojek atau taxi via online. Sebelumnya Jova tentu tidak tahu apa itu aplikasi online untuk memesan ojek dan transportasi lainya. Dia pernah mendengarnya tetapi berhubung di kampung tempat tinggalnya dulu tidak ada transportasi semacam itu sehingga Jova pun kudet (Kurang Update).
Benar dugaan Jova menggunakan ojek dia lebih cepat sampai buktinya saat ini ia hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di layanan kesehatan yang merawat Felix. Untung Tuhan memberikan dia kelebihan berupa daya ingat yang super tajam sehingga dirinya tidak harus bingung untuk mengetahui ruangan rawat Felix.
Dengar berjalan santai Jova pun sudah sampai di ruangan VIP tempat bosnya di rawat.
"Apa seperti itu cara kamu masuk kerja seperti pencuri saja." Suara yaang sangat Jova kenal membuat langkah wanita itu dalam hitungan detik langsung berhenti.
"Anda, tidak tidur Tuan? Saya pikir Anda sedang tidur?" tanya Jova dengan wajah yang polos.
"Sial, padahal aku sudah senang karena itu tandanya aku akan ada waktu untuk menulis lagi," gerundel Jova di dalam hatinya.
"Terus kalau aku sedang tidur kamu mau apa?" cicit Felix dengan pandangan yang seolah tengah menguliti Jova.
__ADS_1
"Saya paling duduk sambil menunggu kalian bangun."
"Jawab ajah terus," sela Felix dengan ke dua mata melotot.
"Siapkan perlengkapan untuk membersihkan tubuh aku, kamu sudah diberitahukan tugas kamu kan oleh perawat ataupun Arzen?"
Hahhh...Kedua bila mata Jova langsung terbelalak tidak percaya tugasnya sangat berat pagi ini.
"Tidak Tuan, saya tidak diberikan info apa-apa mengenai tugas seperti itu," balas Jova, berharap bahwa dirinya tidak di berikan tugas gila macam yang ada dalam pikirannya. Namun Jova masih bersikap tenang, ia berharap kalau Felix itu sedang bercanda, mengujinya, lagi pula bukanya di amarah dan benci pada dirinya, kenapa mau Jova yang membersihkan tubuhnya.
"Zen... Arzen... apa kamu tidak bilang pada wanita ini kalau tugas dia itu juga termasuk membersihkan tubuhku?" tanya Felix pada Arzen yang baru saja bangun, bahkan mungkin nyawanya masih tercerai berai.
Arzen pun nampak bingung, wajahnya yang kusut dan rambut acak-acakan, serta mata yang merah menandakan bahwa dia masih mencoba mengingat apa yang Felix katakan. Tangannya menggaruk kepalanya untuk beberapa kali, dan mulut yang masih menguap sangat menjijihkan sekali untuk di lihat ingin sekali Jova memberikan sambal ketika laki-laki itu menguap dengan santai tanpa menutupnya.
"Aku lupa memberitahu tugasnya Bos," jawab Arzen dengan suara yang serak, khas bangus tidur.
"Kamu bisa dengarkan, bukan aku yang salah, tetapi Arzen yang lupa memberitahu pada kamu untuk tugas yang ini. Kamu salahkan Arzen lah, dia memang pikun." Felix menatap Jova yang sudah bersiap untuk melayangkan protes.
"Tapi, aku tidak tahu cara membersikan badan orang sakit. Lebih baik suster atau perawat saja Tuan, aku takut nanti malah akan menyakiti Anda," tolak Jova dengan sangat yakin.
__ADS_1