Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Kepasrahan


__ADS_3

"Pak izinkan saya menyusul suami saya. Hanya melihat suami saya, dan setelah saya memastikan bahwa suami saya baik-baik saja Anda bisa menahan saya. Saya janji, saya  tidak akan kabur atau pun mangkir dari tanggung jawab ini, saya akan tetap bertanggung jawab atas apa yang telah saya perbuatan, tapi biarkan saya melihat kondisi suami saya dulu," mohon Jova sekali lagi pada petugas polisi yang hendak membawanya ke kantor polisi.


"Baiklah, kami akan biarkan Anda melihat suami Anda, tapi dengan catatan anggota kami mengikuti Anda," Jova pun hanya diam mengangguk dengan pasrah, dan mengucapkan terima kasih dengan hati yang hancur.


Perlahan mobil tahanan yang Jova taiki sudah meninggalkan tempat kejadian, tempat yang sangat tidak ingin Jova datangi lagi. Andai ia tahu bahwasanya akan seperti ini nasibnya. Dia akan memaksa Felix untuk menggunakan jalan yang lain meskipun jelek, lama dan sempit, dari pada  lewat jalan yang bagus dan jarak tempuhnya lebih cepat, tetapi justru kemalangan yang ia dapatkan.


sepanjang perjalanan Jova pun hanya melamun, memikirkan atas apa yang telah terjadi. "Pak, kita batalkan ke rumah sakit. Langsung ke kantor polisi saja," ucap Jova dengan lirih.


"Loh kenapa?" tanya laki-laki yang bertugas menjaga Jova, bahkan di tangan laki-laki itu ada senjata api yang siap digunakan apabila Jova coba-coba bercanda dengan dirinya.


Wajah Jova masih menunduk, tanpa ingin mengangkatnya. "Sa... saya tidak sanggup bertemu dengan suami saya, biarkan suami saya diurus oleh orang-orang yang lebih bisa diandalkan. Saya tidak bisa diandalkan menjaga suami saya. Saya terlalu bodoh." Kembali air mata Jova luluh membentuk anak sungai yang deras. Kejadian demi kejadian terus ia ingat hingga dia sendiri tidak sadar kalau dia telah membunuh orang lain.


Kini mobil tahanan yang di tumpang Jova pun nampak putar arah, kembali ke kantor polisi tempat Jova akan menerima keadilan.


"Pak, ketika kita membunuh seseorang, tetapi kita dalam keadaan terdesak seperti yang saya alami apakan saya bisa tetap di penjara?" tanya Jova, dengan suara yang parau.


"Bisa saja, kecuali kalau Anda bisa membuktikan kalau ini adalah bentuk pembelaan dan nanti Anda dan pengacara Anda bisa berdiskusi untuk meminta keringanan ataupun kebebasan, kalau memang Anda terbukti tidak bersalah, isa saja Anda bebas, atau malah bisa juga Anda di pejara," jawab laki-laki yang duduk di samping Jova dengan senjata api di tanganya.


"Apabila saya di pejara kira-kira berapa tahu?" tanya Jova. Meskipun hatinya tidak kuat untuk mendengarnya tetapi rasanya Jova tidak tenang apabila tidak mendengar jawabanya.


"Bisa lima belas tahun penjara, tergantung tuntutan dan tentu bukti-bukti, dan juga saksi yang menguatkan kalau Anda berasalah atau tidaknya."


Tubuh Jova kembali lemas, rasanya tulang-tulangnya sudah hilang. Dia sekarang ibarat tinggal menunggu keajaiban Allah, tidak bisa berharap lebih karena memang pada kenyataanya tanganya ia gunakan untuk menghilangkan nyawa orang. Meskipun dia dalam keadaan emosi yang hilang kendali, karena terlalu takut dirinya akan bernasib seperti Felix.

__ADS_1


Jova menatap tangannya yang banyak bekas darah dan juga pakaian yang banyak bekas darah juga.


"Apa darah ini adalah darah laki-laki jahat itu?" tanya Jova dengan menegadahkan tanganya yang masih banyak darah. Jova benar-benar tidak habis pikir dirinya melakukan itu semua.


"Bisa jadi, atau malah darah suami Anda," jawab laki-laki itu terlihat laki-laki yang di samping Jova adalah laki-laki baik, buktinya terus memberikan semangat dan keyakinan pada Jova bahwa hukuman untuk dirinya bisa saja semakin ringan asal Jova berkelakuan baik.


"Kenapa bukan aku saja yang mereka tikam, kenapa bukan aku saja yang saat ini tegah menahan sakit karena di tikam para penjahat itu? Aku tidak bisa melihat bagaimana sedihnya Ibu kalau tahu nasib anaknya seperti ini," racau Jova, kedua bola matanya sudah kembal berkaca-kaca hingga butiran kristal mengintip dari sudut matanya. Seolah matanya memproduksi air dengan jumlah banyak sehingga air mata adalah itu terus mengalir membentuk anak sungai di pipi mulus Jova.


********


Di tempat lain.


[Hallo, apakah ini adalah kerabat atau orang kepercayaan dari Tuan Felix?] tanya seseorang dari balik telepon.


[Kalau begitu, apakah Anda bisa mendatangi rumah sakit 'Ingin Sehat Terus' saat ini juga?]


Arzen untuk sesaat diam hingga ia diingatkan kembali oleh wanita yang berada di balik telepon. "Ngomong-ngomong buat apa saya datang, dan juga buat apa saya ke rumah sakit,] balas Arzen dengan jutek. Ia tentunya tidak menyangka akalu saat ini Felix sedang menghadapi masalah yang serius, begitupun dengan Jova. Arzen pikir ini hanya komplotan penipuan dengan modus sakit atau kecelakaan.


[Anda bisa lihat pesan vidio yang saya kirim!] Tanpa berpamita, wanita dari balik telepon pun memutus sambungan teleponya.


Arzen langsung mengikuti ucapan wanita itu membuka pesan vidio yang barusan dikirim. Untuk beberapa saat bahkan Arzen mematung, bingung, apakah ini asli atau hanya editan. Tapi laki-laki itu mencoba mencocokan dari semua gerak-geriknya, dan ciri-ciri tubuh korban.


"Ya Allah Bos, Anda kenapa." Arzen begitu sudah sadar kalau bosnya dalam bahaya pun langsung meninggalkan pekerjaanya dan juga langsung menuju rumah sakit Ingin Sehat Terus.

__ADS_1


"Jova, kalau Bos di rumah sakit sendirian, lalu bagaimana dengan Jova?" Arzen kali ini benar-benar bingung pikiranya terbagi dengan serentetan kejadian yang menyeramkan.


"Jo, bagaimanapun kondisi kamu semoga kamu baik-baik saja," ucap Arzen, dalam pikiran laki-laki itu sudah memikirkan hal yang buruk. Tidak memakan waktu lama kini Arzen sudah sampai di rumah sakit di mana Felix menjalani perawatan.


Langkah kaki Arzen langsung menuju ke ruang operasi, tentu laki-laki itu sebelumnya sudah bertanya pada resepsionis sehingga dia tahu di mana Felix berada. Kaki Arzen terhenti ketika ada petugas berpakaian coklat berdiri di depan ruang oprasi.


Pikirian Arzen semakin tidak tenang, dan tidak menentu, terutama memikirkan bagaimana keadaan Jova, karena sampai detik ini Arzen tidak tahu bagaimana keadaan Jova.


"Siang Pak, apa Anda semua sedang menunggu  bos saya yaitu Felix?" tanya Arzen dengan hati-hati terlebih mereka sepertinya sedang meeting sesuatu yang penting.


"Oh, apa Anda adalah Arzen?" tanya wanita yang di samping Arzen. bahkan saking pusingnya Arzen sampai tidak sadar ada wanita cantik berdiri di sampingnya.


"I... Iya saya, Arzen."


"Kalau gitu kita ngobrol sembari menunggu operasi Tuan Felix selesai." ucap wanita itu sembari menunjuk kursi tunggu, dan Arzen yang merupakan laki-laki baik pun langsung menyanggupinya.


"Jova, sekarang ada di mana Mbak?" tanya Arzen dia belum tenang kalau belum tahu bagimana keadan Jova. Meskipun tidak bisa dipungkiri Arzen juga tidak tenang dengan kondisi Felix saat ini.


"Istri Tuan Felix saat ini sudah kami amankan di kantor kami," jawab wanita itu, sontak saja langsung membuat Arzen mengangkat wajahnya, dan memberikan tatapan yang penuh pertanyaan. Bahkan tidak jarang juga Arzen berpikir yang buruk pada Jova.


"Ke... kenapa bisa Jova ada di kantor polisi, apa yang sebenarnya terjadi, dan juga bos saya kenapa bisa berada di ruang operasi? Apa yang sudah Jova lakukan?" tanya Arzen dengan serentetan pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.


Wanita itu tersenyum dengan teduh, tetapi bukan membuat Arzen senang. Justru senyum wanita berambut pendek itu membuat Arzen kesal.

__ADS_1


"Bisa tidak langsung jawab pertanyaan saya. Dari pada tersenyum tidak jelas."


__ADS_2