Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Dukungan Dari Teman


__ADS_3

"Ke... kenapa bisa Jova ada di kantor polisi, apa yang sebenarnya terjadi, dan juga bos saya kenapa bisa berada di ruang operasi? Apa yang sudah Jova lakukan?" tanya Arzen dengan serentetan pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.


"Jova, terlibat kasus pembunuhan," jawab wanita berseragam coklat itu. Tatapan Arzen kembali menatap wanita itu dengan tajam, kepalanya ia gelengkan berkali-kali, menandakan kalau Arzen tidak percaya bahwa Jova mampu melakukan itu.


"Tidak mungkin itu Mbak, saya tahu betul Jova seperti apa, bahkan sama seekor kucing saja dia bantu dan kasih makan, apalagi ini membunuh, ini tidak mungkin bisa saja dia dijebak," ucap Arzen dengan seyakin-yakinya.


Sang polisi wanita pun menjelaskan kronologinya kenapa Jova bisa di tuduh dengan pasal pembunuhan.


"Aku akan pastikan bahwa ini memang ketidak sengajaan, mana bisa Jova membela diri, tapi di penjara. Kalian jangan asal tangkap orang tidak bersalah, kalau kaya begini citra Anda yang kena semua, ini bukan pembunuhan, camkan. Ini pembelaan diri. Yang dilakukan Jova sudah benar, kalau dia tidak melawa, nyawa dia yang melayang." Arzen langsung berdiri dan memaki wanita itu.


Tangan Arzen langsung menekan nomor Sumi, untuk datang ke rumah sakit.


[Sekarang datang ke rumah sakit Ingin Selalu sehat!]


[Tunggu, aku datang pake apa?] tanya Sumi bingung letak rumah sakitnya saja dia belum tahu.


[Kamu naik taxi kalau tidak ojek, nanti uang untuk ongkos aku ganti!] Tanpa menunggu jawaban dari Sumi, Arzen langsung mematikan sambungan teleponya. Setelah Sumi bisa dipastikan datang, kini Arzen akan menghubungi pengacara Prabu, yang selama ini menjadi pengacara keluarga Felix, Arzen langsung hubungi untuk berkonsultasi mengenai hukum yang kira-kira bisa melepaskan Jova.


Dalam pikiran Arzen seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan. Tidak sedikit pun terpikirkan bahwa masalah sebesar ini akan menghadang Felix dan juga Jova.


Tidak lama menunggu pengacara Prabu datang dengan tas kerja di tangannya, yah Arzen memang sebelumnya sudah menjelaskan apa yang mereka akan bahas. Komdisinya Felix sendiri saat ini sudah selesai penanganan hanya tinggal menunggu proses pemulihan. Laki-laki itu masih beruntung karena luka tajamnya tidak sampai mengenai organ vital lainya, hanya laki-laki hampir kehabisan darah dan butuh waktu untuk luka jahitan saja. Dan kini tengah di lakukan tambah darah.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pengacara Prabu ketika baru datang. Kembali petugas kepolisian menjelaskan apa yang terjadi.


"Bukti-bukti aman kan?" tanya sang pengacara.


"Aman."

__ADS_1


"Kalau aman saya akan temui istri Felix sekarang juga untuk lebih tahu apa yang terjadi dan akan membuka tim  untuk menyelidiki kasus ini." Pengacara Prabu hendak berdii tetapi langsung ditahan oleh Arzen.


"Om, apa Jova ada kemungkinan untuk bebas?" tanya Arzen dengan wajah yang sudah kusut.


"Kalau memang semua bukti mengarah ke perbuatan pembelaan akan ada kesempatan untuk bebas, tetapi dia tetap harus menjalani serentetan sidang, tidak bisa keluar dengan suka-suka, ada aturan yang harus kita lewati satu persatu hingga kita bisa buktikan kalau ini adalah ketidak sengajaan alias pembelaan," jelas pengacara Prbau dengan yakin kalau Jova bisa saja bebas.


Tinggal bukti-bukti yang mereka miliki kuat apa tidak untuk membuktikan bahwa apa yang terjadi dengan Jova adalah karena pembunuhan karena pembelan diri.


"Om, kami percayakan sepenuhnya pada Anda, kami yakin banget kalau Jova tidak bersalah," ucap Arzen, bertepatan dengan itu Sumi datang dengan keringat yang bercucuran di wajahnya.


"Ini ada apa Arzen?" tanya Sumi dengan nafas yang masih tersengal.


"Kamu ikut pengacara Prabu, dan hibur Jova, sekarang Jova butuh teman untuk membagi kesedihanya, pasti di takut sekali." Tanpa berbasa basi Arzen langsung menugaskan Sumi dengan tugas yang Sumi sendiri tidak tahu.


"Ayo, nanti saya akan ceritakan," ucap pengacara Prabu dan Sumi pun mengikut saja, padahal sebelumnya sudah bersiap untuk melemparkan pertanyaan untuk yang Arzen ceritakan. Sementara Arzen juga tidak lupa menghubungi Bi Suro, agar tidak menyalakan televisi, karena bisa saja berita Jova dan Felix ditayangkan dalam siaran berita, dan untuk sementara Felix dan Jova tidak bisa pulang dulu. Bi Suro tentu bertanya-tanya, tetapi Arzen belum bisa cerita, karena Arzen sendiri belum tahu dengan pasti apa yang terjadi.


Butuh waktu untuk menganalisis kasus ini. Namun Arzen belum tahu bagaimana nanti keadaanLasmi, dia terlalu takut kalau Lasmi akan kembali bersedih. Arzen duduk termangu menatap ruangan yang di dalam sana ada Felix tengah berjuang untuk segera puluh.


******


"Apa yang Anda katakan itu benar Om?" tanya Sumi begitu pengacara Prabu selesai menjelaskan apa yang terjadi.


"Yah, makanya kami sangat berharap sama kamu. Beri dukungan untuk Jova, agar dia tidak merasakan sendiri. Saat ini dia pasti sedang terpuruk, luar biasa terpuruk," jelas pengacara Prabu.


Sumi pun mengangguk, "Saya tahu bagimana berada di posisi Jova. Apalagi ini kasus yang dialami Jova sangat berat. Sebisa mungkin saya akan terus memberikan dukungan pada Jova," ucap Sumi dengan suara yang bergetar, karena ia sendiri sudah membayangkan betapa ketakutanya Jova. Dirinya yang pernah masuk penjara karena dugaan pencurian saja masih terngiang sampai detik ini, setiap kejadian yang wanita itu alami. Apalagi Jova pasti sangat ketakutan.


"Yah, maka dari itu kami membutuhkan kamu."

__ADS_1


Setelah melewati cukup lama perjalanan kini Sumi dan pengacara prabu dan timnya masuk ke  kantor polisi untuk menganalisis kasus yang membelit Jova. Memeriksa bukti dan juga pengakuan Jova.


Kini Sumi duduk dengan gelisah di ruang tunggu sembari menunggu teman masa kecilnya. Pandangan Sumi menangkap teman masa kecilnya dengan pakaian tahanan dan borgol berada di tanganya. Sekuat apapun Sumi sudah berjanji tidak akan menangis nyatanya tidak bisa kedua bola matanya sudah mengembun.


"Jo... Aku di sini untuk kamu." Sumi meraih tubuh Jova dan memeluknya dengan kuat tangis pun pecah dari Sumi, tetapi tidak dengan wanita berambut sepinggang itu. Kedua bola matanya sudah membengkak menandakan bahwa ia terlalu lama menangis.


"Sum, kondisi suami aku bagaimana?" tanya Jova dengan suara lirih dan parau.


Sumi sendiri yang tidak tahu apa-apa hanya memalingkan pandanganya pada pengacara prabu, dari tatapanya wanita berhijab itu sedang meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Jova.


"Perkenalkan Jo, saya Om Prabu. Pengacara yang nantinya akan membantu kamu keluar dari masalah ini. Barusan Felix menunjuk saya untuk membantu Anda, dan untuk sementara memang saya yang nanti akan menangani masalah Anda, selagi Felix sendiri sedang tahap pemulihan. Dia tidak apa-apa bahkan sudah selesai operasi untuk menjahit lukanya, dan setelah dia membaik pasti akan menemui kamu, Jo," ucap laki-laki paruh baya yang berpilan rapih itu.


Senyum samar terlukis dari bibir Jova yang  tipis, wajahnya pun tidak setegang tadi.


"Alhamdulillah, saya senang mendengarnya Om, sampaikan salam saya untuk Felix," ucap Jova dengan suara kembali bergetar.


"Pasti, pasti akan saya sampaikan. Dia juga menitipkan salam pada kamu, Felix bilang kamu tidak perlu takut karena ini semua pasti bisa diatasi, apalagi kamu menghilangkan nyawa bukan karena sengaja ingin membunuh, tetapi karena membela diri yang tidak sengaja menghilangkan nyawa seseorang. Kamu tetap berdoa biarkan tim kami yang mengusahakan semuanya untuk kamu bisa keluar dari tempat ini." Pengacara Prabu mengedarkan pandanganya menatap betapa menyeramkan di dalam penjara sana.


"Saya tidak bersalah Om, saya tidak tahu kalau apa yang saya lakukan justru menghilangkan nyawa seseorang, yang saya lakukan reflek, karena laki-laki itu ingin mengambil tas saya di mana di dalam tas ada ponsel yang sempat saya gunakan untuk mereka detik-detik terjadinya perampokan itu," ucap Jova dengan jujur.


"Yang kamu lakukan sudah benar Jo, kamu mengamankan barang bukti, sekarang kami akan menyelidiki semuanya dari mulai kesaksian kamu dan ponsel serta mungkin mobil yang seharusnya setiap kendaran milik Felix biasanya ada CCTV pada dasboar mobil itu seharusnya aktif dan bisa melihat kejadian sekitar." Pengacara Prabu menyuiapkan alat untuk merekam Jova ketika bercerita nantinya.


"Kamu sudah siap untuk bercerita? Ini untuk bukti, dan kesaksian kamu, agar kami bisa selidiki semuanya. Untuk membebaskan kamu."


Jova menatap Sumi, dan Sumi kembali mengusap punggung Jova. "Kami ada di sini untuk membantu kamu. Ceritakan setiap kejadian karena itu sangat menentukan nasib kamu ke depanya," ucap Sumi dengan suara yang teduh.


"Apa kamu kemari juga merasakan ketakutan seperti ini?" tanya Jova dengan memberikan tatapan yang dalam.

__ADS_1


"Sama, aku sama-sama merasakan hal itu, ketakutan, marah, kesal, sedih, dan malu, banyak pikiran dalam isi kepalaku, bahkan aku sempat berdoa agar Tuhan menjemput nyawaku saat itu juga. Tetapi Tuhan tidak mengabulkanya, karena Mereka tahu kalau aku mati, aku tidak bisa membantu kamu, tidak bisa memberikan dukungan pada kamu. Kamu membutuhkan aku. Dan aku sekarang ada untuk memberi dukungan pada kamu. Kali ini aku bersyukur karena Tuhan waktu itu tidak mengabulkan doa aku. Coba kalau Tuhan mengabulkan doa aku, kamu sekarang akan sangat sedih karena tidak ada aku yang memberikan kekuatan untuk kamu." ucap Sumi dengan gaya sombongnya. Hingga Jova menepuk punya teman masa kecilnya itu.


"Kamu memang terbik."


__ADS_2