Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Rumput GBK


__ADS_3

"Apa kamu hanya akan duduk, diam dan menundukkan kepala? Kamu sudah membuang lima menit waktu berhargaku untuk menunggu kamu ngomong. Kalau sampai dalam sepuluh menit masih diam juga. Aku hukum kamu hitung rumput yang ada di Gelora Bung Karno (GBK)!!"


Sontak saja Jova yang masih menyiapkan keberanianya, langsung mendongak, dan berkata apa yang dia maksud. "Aku mau izin pulang."


"Untuk apa?" tanya Felix dengan menatap Jova dengan tatapan yang tajam, sedangkan Jova yang ditatap pun tampak kurang percaya diri. "Bukanya Arzen bilang kamu akan menjaga aku untuk mengurus semua kebutuhan aku," imbuh Felix dengan menjual nama Arzen.


Sementara Arzen sediri yang sedang bekerja pun langsung mengangkat kepalanya, kaget kenapa bisa bosnya berkata seperti itu sedangkan dia saja tidak berbicara apa-apa mengenai pekerjaan Jova.


"Bisa banget rumput GBK, jual nama orang buat mulu sih rencananya," batin Arzen, sembari kembali mengfokuskan pikiranya pada pekerjaan yang masih menumpuk.


"Arzen bilang kalau saya hanya menggantikan pekerjaan saya dari di gudang menjadi merawat Anda yang sedang sakit, dan itu artinya jam kerja saya sudah selesai," balas Jova, tidak mau kalah.


Lagi, kali ini Arzen kembali mengangkat kepalanya, ketika Jova juga menjual namanya untuk mendapatkan izin pulang. "Astaga ini Jova, dan Bos pada kenapa sih, kenapa pakai nama aku segala untuk memuluskan rencana kalian apa sebegitu mujarab nama ku." Arzen lagi-lagi begumam dalam hati. Ingin ia menyela obrolan dua orang yang sedang menyelipkan nama Arzen untuk memuluskan rencana mereka.


"Tidak bisa, kamu harus jaga aku dua puluh empat jam!!"


Sontak Jova langsung mengangkat wajahnya dengan melebarkan ke dua matanya. "Enggak-enggak enak saja pekerjaan apa yang harus menjaga orang sakit dua puluh empat jam. Arzen kan bisa gantian jaga Anda saat malam, dan saya bisa pulang." Jova pun  langsung mengangkat tubuhnya dari duduknya. Tidak ada negosiasi baik-baik, Jova justru semakin merasa sedang dipermainkan oleh suaminya.


"Enak saja kerja dua puluh empat jam, sedangkan di rumah cemong udah nungguin aku pulang," gerundel Jova dalam hatinya.


"Oh kamu berani melawan apa kamu tidak takut aku pecat?" tanya Felix dengan nada yang dingin, ketus dan mengancam.


"Lakukan saja kalau itu memang terbaik untuk saya dan artinya saya juga akan pulang ke kampung halaman, dan gosip tentang Anda yang membuat istrinya menderita dan masih banyak gosip buruk tentang Anda, akan menyebar di kampung." Jova yang juga cape dengan tingkah Felix yang sedikit-dikit mengancam pun lebih baik berontak sekali. Bersikap baik-baik juga akan tetap kalah oleh Felix, dia akan tetap membuat Jova tidak bisa berkutik.


"Kamu mengancam Jojo, berani kamu." Tatapan Felix semakin nyalang menandakan kalau dia saat ini memang tidak bercanda.


"Bukanya Anda juga sedang mengancam Saya Tuan." Jova masih berusaha mengimbangi permainan suaminya. Meskipun dalam hatinya ada perasaan takut yang teramat, kalau dirinya akan benar-benar dipecat dan dan kembali ke kampung halaman dengan menyadang janda, sudah gitu ia akan semakin sulit mencari pekerjaan.


"Udah-udah kalian itu kenapa sih, masalah jam kerja saja bertengkar terus. Saya memang yang bilang pada Jova untuk gantikan pekerjaanya dari gudang menjadi perawat Anda sesuai jam kerja. Jadi kalau Anda meminta dia bekerja sampai dua puluh empat jam itu sudah salah Tuan, karena tidak ada dalam perjanjian yang saya katakan pada Jova." Arzen pun yang sedang duduk akhirnya melerai pertengkaran ini. Meskipun dalam kenyataanya dia tidak pernah mengatakan  seperti yang Jova katakan. Namun, demi perdamaian dia juga mengikuti permainan Jova.

__ADS_1


"Lain kali kalau mau membuat peraturan, kamu tanyakan dulu pada ku, jangan asal ambil keputusan sendiri, aku yang gaji kalian jadi untuk keputusan akhir bertanya dulu pada aku," balas Felix dengan matanya mengamati dua karyawanya saling bergantian.


"Baik Tuan, akan saya ingat terus apa yang Anda ucapkan, dan saya mohon maaf atas kejadian kali ini," ucap Arzen dengan menunduk hormat. Biarkan dia kena marah oleh bosnya setidaknya Jova tidak kena marah, hampir saja Felix hilang kendali dan memecatnya. Meskipun Jova istri ataupun siapa kalau Felix marah dia bisa saja memecatnya dengan mudah, tanpa harus berpikir dua kali.


"Kalau begitu kamu boleh pulang, ingat besok datang ke sini lagi pasti Arzen sudah memberitahukan apa yang harus jadi tugas kamu."


"Baik Tuan saya tahu." Jova merogoh uang dan kartu yang tadi ia ambil, dan juga kartu yang Felix berikan.


"Tuan ini tadi kartu yang Anda berikan pada saya, dan sisa uang yang saya ambil, saya mengambil uang satu juta harga pisang satu sisirnya tiga puluh enam ribu, sisanya ini." Cucu pun mengembalikan semua yang Felix berikan, beserta struk uang sebelum dia ambil dan setelah dia ambil. Intinya dia tidak mau dituduh yang macam-macam sebab itu ia melakukan itu semua.


Felix pun kembali melebarkan kedua bola matanya. "Apa ini?" tanya Felix sembari menujukan struk bukti pengambilan uang dan saldo awal dan akhir yang ia print.


Jova dengan telaten menjelaskan dari saldo dia belum ambil wanita itu cek dulu, lalu setelah mengambil saldo dia cek lagi dan ia gunakan sebagai bukti, agar Felix tidak bisa menindasnya lagi. Kejujuran mahal harganya, lagi pula orang tuanya tidak pernah mengajarkan bohong, itu sebabnya Jova tidak ingin di cap buruk, sebelum itu terjadi lebih baik dia antisipasi dengan melakukan hal semacam itu.


"Apa kamu pikir aku sepelit itu? Kamu ambil uang tidak usah lah mengumpulkan sampah seperti itu. Lagi pula juga nanti bakal ada laporan masuk ke akun aku, dan aku bisa tahu berapa uang yang kamu gunakan. Jangan bersikap bodoh." Ferix meremas struk bukti pengambilan uang.


Lagi-lagi Jova menunduk diam. "Maaf saya hanya antisipasi, takutnya Anda akan menuduh saya dengan ucapan yang tidak terbukti kebenaranya, maka dari itu saya melakukan itu semua."


"Baik Tuan, kalau begitu saya pulang dulu." Jova pun pamit untuk pulang, dalam hatinya sudah sangat lega akhirnya bisa bebas dari pekerjaan yang sang sangat menyebalkan itu.


"Tunggu!! Ambil sisa uang itu untuk kebutuhan kamu selama menjaga aku." Felix bahkan tidak menyentuh sama sekali uang yang Jova berikan.


Jova sendiri bingung, kenapa Felix baik sekali apakah dia benar-benar baik atau justru dia sedang bersandiwara dan uang-uang itu akan ia tagih suatu saat nanti. Sama seperti papahnya, juragan Guntoro.


"Ambil saja bisa kamu gunakan untuk ongkos kamu puluh pergi ke rumah sakit," bisik Arzen, tepat di belakang telinga Jova.


Jova pun akhirnya mengikuti apa yang disarankan Arzen, dia mengambil uang itu. "Saya akan gunakan uang ini dengan sebaik-baiknya."


"Hemzzz..." Felix hanya membalas dengan deheman.

__ADS_1


"Asisten Arzen apa Anda bisa antar saya pulang. Saya tidak tahu ini ada di mana, dan untuk pulang pun saya tidak tahu bagaimana caranya." Jova kembali menatap Arzen, ia tahu Arzen tidak mungkin membiarkan dia pulang sendirian nanti yang ada dia nyasar kan mereka nanti yang repot juga.


"Tuan saya antar Jova pulang dulu yah," ucap Arzen, lagi-lagi ia harus meninggalkan pekerjaanya untuk mengantar Jova.


"Hemz..." Felix hanya membalas dengan deheman lagi.


Kini Jova dan Arzen pun sudah berada di dalam mobil.


Pletak... Arzen menyentil kening Jova.


"Auh... kenapa?" tanya Jova sembari mengelus-elus keningnya yang merah karena ulah Arzen.


"Lain kali kalau bos marah jangan di tanggepin, dia bisa pecat kamu benaran," dengus Arzen ini adalah waktunya untuk menasihati Jova, kalau Felix itu orangnya tidak pandang buluh kalau marah bisa pecat-pecat saja meskipun dia adalah istrinya.


"Tapi sampai detik ini aku tidak di pecat," balas Jova dengan sedikit membusungkan dadanya.


"Sombong."


"Itu semua karena ada aku yang bisa diandalkan untuk menasihati kamu, tetapi kalau ke depan kamu sepert itu lagi bukan tidak mungkin bos akan memecat kamu."


"Tidak akan, kan ada kamu yang selalu bela aku, ia kan?" Jova mengembangkan senyum tebaiknya.


"Hist... pantes Juragan Guntoro kekeh kamu jadi menantunya, watak kamu dan Bos sama persis." Arzen pun kembali fokus pada jalanan Ibukota.


"Arzen apa itu tandanya besok aku juga akan kamu jemput berangkat kerjanya?" tanya Jova dengan percaya diri. Bahkan rumah sakit tempat Felix di rawat dia tidak tahu tempatnya ada di mana.


"Enak saja tidak lah, kamu bisa naik taxi," balas Arzen dengan santai. "Lagi pula uang yang tadi Bos berikan tujuannya untuk ongkos kamu juga."


"Tapi naik taxi mahal."

__ADS_1


"Kalau gitu aku rasa, ide Tuan Felix agar kamu tetap stay di rumah sakit adalah ide yang paling bagus." Arzen mengembangkan senyumnya, iya lah bagus itu tandanya Arzen tidak harus jaga malam.


"Apah??" Kedua mata Jova hendak loncat mendengar ucapan Arzen, yang makin lama makin sama dengan Felix. Suka menindas dirinya.


__ADS_2