Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Hari Berkabung


__ADS_3

Tidak pernah terpikirkan oleh Jova kalau dalam satu hari Tuhan dengan tega mengambil dua orang tersayangnya, hanya waktu dan cara kepergianya yang berbeda. Kini sepasang suami istri yang dalam beberapa hari ke belakang menjadi orang yang paling saling membenci, tetapi di satu kesempatan ini mereka kembali bersimpuh di antara dua pusara yang masih baru.


"Jini semua rasa sakit yang kamu rasakan selama ini, di hari ini sudah sembuh, Allah sudah benar-benar mengangkat sakit kamu. Dan Mbak di sini sedang belajar menerima garis Tuhan, yang Mbak rasa terlalu kejam karena tidak memberikan Mbak kesempatan untuk membahagiakan kamu dan bertemu dengan kamu sebelum ajal menjemput kamu. Namun, kenapa kamu ajak Ayah? Apa kamu sangat ketakutan di dalam sana? Sehingga kamu meminta teman pada Ayah? Jini, ajarkan arti ikhlas untuk Mbak itu seperti apa? Karena Mbak tidak tahu ikhlas itu bagaimana. Mbak tetap berharap suatu saat kamu akan kembali ke rumah Mbak bersama dengan Ayah, kita berkumpul bersama. Jini rasanya hati ini sakit sekali ketika takdir terus mempermainkan hidup kita." Jova kembali terisak dengan tangan yang terus mere-mas tanah kuburan adik dan ayahnya.


"Jini, Ayah, apakah kalian tahu hal yang paling menyakitkan saat ini untuk Jova? Yah, mengucapkan kata SELAMAT TINGGAL untuk kalian, karena Jova ingin menghabiskan sisa waktu Jova untuk kalian, tapi  kenapa kalian justru pergi lebih dulu?"


Felix di samping Jova hanya bisa diam mendengarkan setiap kata demi kata yang ke luar dari bibir Jova. Laki-laki itu mencoba mengerti apa yang sedang Jova rasakan marah, kesal, sedih, kehilangan dan hancur semua menjadi satu. Mungkin kalau sang ibu tidak ada, wanita itu akan menjerit dan memohon pada Tuhan agar menjemput kematianya. Atau justru dia yang berlari untuk menemui ajalnya.


Namun, sebaik-baiknya rencana Tuhan, ketika Jova merasa dia adalah makhluk paling   buruk nasibnya di dunia ini, dia masih memiliki satu kekuatan yaitu sang ibu yang kondisinya lebih hancur dari dirinya, dan menunggu Jova untuk menguatkanny.

__ADS_1


'


"Ayah, Jova tidak menyangka pertemuan kita di makam Jini siang tadi adalah pertemuan terakhir kita. Andai Jova tahu bahwa ketika pulang Ayah hanya untuk mengantarkan nyawa, maka Jova akan menahanya. Jova akan terus peluk Ayah hingga saat maut menjemput maka Ayah dalam pelukan Jova, tetapi takdir memang misterius, seperti yang Ayah katakan, kalau kematian adalah rahasia Tuhan. Setiap makhluk yang hidup pasti akan meninggal, dan Kini Jova menyasikan sediri bahwa ajal memang rahasia Tuhan. Ayah Jini kalian sudah bersama, bahagialah, dan Jova mohon jangan ayak Ibu juga..." Jova menangis semakin keras, karena tidak kuasa lagi melanjutkan kata-katanya.


Felix pun langsung merangkul Jova, dan membiarkan wanita itu menangis dalam pelukanya, tanpa sadar Felix pun meneteskan air matanya. Rasa  kehilangan yang dulu pernah ia rasakan kini terulang kembali. Laki-laki itu kini kembali meneteskan air matanya untuk orang yang belum begitu ia kenal. Biasanya ia adalah orang yang paling tidak bisa menangis atau sedih, tetapi kali ini setelah sepuluh tahun kepergian sang ibu laki-laki bernama lengkap Andrean Beryl Felixio kembali meneteskan air matanya.


Seolah Jini dan Janu adalah orang terdekatnya, andai ada yang bertanya kenapa laki-laki itu sampai bisa meneteskan air mata kesedihan sedangkan Felix sendiri belum begitu mengenal mereka. Bahkan dengan Jini, Felix sendiri belum pernah terlibat obrolan secara langsung. Jabat tangan yang Jini lakukan saat Felix menikahi Jova itu hanya keterpaksaan, tetapi rasa kehilangan sangat Felix rasakan bahkan hingga ia meneteskan air mata hal yang paling anti dia lakukan. Hal itu karena Felix tahu bahwa mereka adalah orang baik.


"Mas, apa kamu dulu juga saat kehilangan ibu kamu merasakan hal yang sama?" Rasanya Tuhan sangat tidak adil. Kenapa, ketika mungkin di belahan bumi yang berbeda ada yang dengan haru dan senyum bahagia menyambut kelahiran buah hati, tapi di belahan bumi yang berbeda juga aku merasakan duka yang sangat dalam, dua anggota keluargaku Tuhan ambil dalam hari yang sama, kenapa? Apakah ada dosa aku yang sangat buruk sehingga Tuhan tengah menghukumku, atau ini adalah cara Tuhan agar aku semakin kuat?" tanya Jova dengan tubuh yang masih berada di dalam pelukan Felix.

__ADS_1


Felix diam untuk beberapa saat, mengontrol emosinya agar tidak terlalu terlihat bahwa ia juga sedang menangis. "Kalau di bilang sama, sepertinya iya, tapi aku salut sama kamu yang masih bisa berpikir positif, bisa aku lihat dari setiap ucapan kamu yang mencoba untuk kuat dan ikhlas, meskipun itu tidak mudah. Aku adalah orang yang tidak memiliki pegangan di dunia ini selain ibuku. Jujur tiga tahun sebelum ibuku meninggal aku berpisah dengan kekasihku. Eh bukan kekasih lagi, tetapi calon istri yang kami sendiri sudah menjalin kasih selama lima tahun. Sakit kehilangan seorang yang selama ini mendukung kita, membuat aku hanya bergantung dengan ibuku. Papahku yang bilang akan membangun supermarket di kota ini nyatanya ketika pulang mengabarkan kalau dia telah menikah bahkan memiliki anak. Lagi-lagi aku merasakan hancur, tidak percaya orang lain selain ibuku. tetapi ketika aku berusaha bangkit setelah di pukul hingga tumbang oleh dua orang yang sangat berpengaruh dalam hidupku, aku di beri kejutan oleh Tuhan yang ternyata ibuku sakit parah lima bulan berjuang melawan sakit nyatanya ibuku menyerah meninggalkan aku seorang diri di dunia ini, tidak ada siapa pun yang merangkul aku untuk membantu bangkit, hingga Arzen asisten aku yang selalu kasih penyemangat agar bangkit dan mengolah harta peninggalan ibuku. Termasuk supermarket yang ada di kota ini. Yah, semua adalah harta ibuku, karena papahku dulunya hanyalah pesuruh dari keluarga ibuku yang beruntung di cintai oleh putri satu-satunya dari pengusaha kaya raya. Jadi sangat mudah aku untuk membuat Papahku miskin setelah tahu kelakuanya."


Jova mengangkat wajahnya di mana saat ini wajah mereka sangat dekat. "Aku ingin kamu buat juragan Guntoro sama merasakan seperti yang aku rasakan?" ucap Jova dengan air mata yang kembali luluh.


"Yang kamu rasakan sebelumnya lebih dulu aku rasakan, aku selama ini sudah mencoba sabar dan berdamai dengan keadaan karena dia bagaimanapun adalah laki-laki yang darahnya sebagian mengalir di dalam tubuhku, belum aku juga membutuhkan tanda tangan dia untuk mengalihkan harta hartaku, tetapi sekarang sekalipun dia meninggal karena keserakahanya aku rasa aku tidak akan kehilangan." Felix menyunggingkan sebelah bibirnya. Kejam? Semuanya akan berubah kejam kalau memang dia terusik.


"Aku tidak pernah bosan jadi orang baik, tapi aku juga tidak pernah berkata kalau aku tidak bisa jahat. Tergantung orangnya kalau dia baik aku bisa membalas lebih baik, tetapi apabila dia mengusik maka aku akan singkirkan dia, sekalipun dia adalah papahku." Yang Felix katakan adalah sebuah kejahatan, tetapi entah mengapa Jova merasakan kedamaian dalam hatinya.


Jova kembali menatap Felix dengan tatapan yang tajam. "Tidak ada kata terbaik di diri orang baik, karena sesungguhnya orang baik bisa berubah jahat kapanpun, dan orang jahat akan menyadari kesalahannya, tapi aku tidak yakin bahwa papah kamu akan sadar dengan salah-salahnya. Jadi aku berpikir menghukumnya adalah cara terbaik."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2