Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Mengunjungi Makam Mertua


__ADS_3

"Loh, ini ngomong-ngomong kita mau ke mana Mas?" tanya Jova setelah dia menyadari kalau Felix tidak menujuk supermarket yang biasa dia kerja.


"Aku mau kenalin kamu sama Mamih aku dulu," balas Felix dengan wajah yang kembali datar setelah membicarakan teman cemong.


"Kenapa aku jadi deg-degan yah." Jova memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdetak lebih cepat.


"Kalau tidak deg-degan ya udah aku bawa ke rumah sakit, Neng," kelakar Felix, kebanyakan bermain sama Jova dan beberapa kali mendengar candaan sang istri dan Sumi laki-laki itu jadi ikut-ikutan bisa ngelawak. Beda dengan Felix yang dulu yang selalu serius dan baperan.


"Hist, bukan itu maksud aku. Aku serius deh, perasaan aku tidak enak," ucap Jova. Wanita yang  saat ini mengenakan kemeja dan celana jeans pun menatap ke jalanan yang nampak sepi.


"Apa perjalanan masih jauh?" tanya Jova yang melihat kalau seperti tidak ada orang yang melintas.


"Tidak, memang jalan ke makam Mamih sedikit sepi," balas Felix dengan santai, dia sering bolak-balik ke area makam sehingga tidak merasakan takut seperti Jova yang pertama kali melewatinya.


"Kenapa Mamih kamu di makamkan di sini? Bukanya makam ini jauh dari rumah kamu Mas?" tanya Jova sembari menatap ke kanan dan kiri yang benar-benar sepi seperti jalan di tengah hutan.


"Dulu saat aku dan Mamih tinggalnya bukan di rumah itu, tetapi perumahan yang dekat sini, dan makam ini juga ada makam nenek dan kakek aku, jadi Mamih ingin di makamkan dekat dengan mereka. Selain karena dekat dengan rumah saat itu, Mamih juga ingin di makamkan di samping orang tuanya. Aku juga nanti kalau meninggal pengin di makamkan di sini, tepatnya di samping Mamih," ucap Felix dengan tetap fokus pada jalanan yang masih sepi, padahal saat ini sudah hampir pukul sembilan pagi, tetapi jalanan masih sangat sepi.

__ADS_1


"Apaan sih kamu Mas, jangan ngomong kaya gitu deh. Aku masih trauma dengan ucapan Ayah, sebelum beliau menyusul Jini," ucap Jova seraya kedua matanya sudah kembali mengembun. Laki-laki yang duduk di samping Jova pun menatap Jova dengan tatapan yang penuh arti.


"Hay, ini aku hanya seandainya jangan sedih dong," hibur Felix sembari meraih tangan Jova dan menggenggamnya dengan kuat.


"Tetap saja Mas, aku merasakan takut. Aku takut kalau seandainya omongan kamu tadi itu akan jadi kenyataan seperti Ayah. Kamu adalah orang yang saat ini sudah aku sayang, aku tidak mau kalau kamu juga meninggalkan aku seorang diri. Aku sudah bergantung sama kamu, jadi kamu harus tetap sehat, dan jangan ngomong macam-macam." Jova benar-benar tidak kuasa menahan  tangisnya ketika membayangkan akan hal itu terjadi.


"Iya-iya aku minta maaf yah, kalau ucapan aku itu bikin kamu ketakutan, Aku tidak ada niat untuk bikin kamu sedih. Yuk kita turun, kita sudah sampai di makam Mamih. Tinggal turun dan berjalan kita akan sampai di rumah Mamih," ucap Felix, sembari menunjuk letak makam sang ibu kandung.


Ok setelah sampai area makam memang sedikit ramai dan juga ada pos penjagaan sehingga tidak terlalu menyeramkan, tetapi kalau di jalan tadi memang sangat menguji nyali. Selain sepi juga banyak semak belukar.


Wanita itu bergandengan tangan dengan Felix menuju makan ibu kandung dan juga kakek dan neneknya. "Assalamualaikum Mih, Nek dan Kakek. Felix datang ke sini sekarang membawa istri Felix namanya Jova." Laki-laki itu menjeda ucapanya sengaja untuk memberikan kesempatan untuk Jova memperkenalkan dirinya.


Tangan Felix dengan sigap langsung mengusap punggung Jova. "Jangan nangis yah, nanti aku ikutan nangis," bisik Felix. Laki-laki itu sedang berusaha agar jangan menangis dan malah mendengar Jova yang sudah nangis duluan hatinya jadi ikut teriris ketika mendengar Jova menangis. Jova sendiri pun dengan sekuat tenaga berusaha untuk tidak menangis, tetapi hatinya kembali tidak tenang. Jova pun hanya diam di samping Felix mendengarkan apapun yang Felix ceritakan dari perkenalan pertama dirinya dan Jova.


Tanpa terasa mereka sudah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk bercerita. "Ibu, Nenek dan Kakek, kalian sekarang jangan khawatir, karena sekarang Felix sudah ada yang menjaga, sudah ada yang mengurus dan juga sudah ada yang melindungi. Jova bukan hanya istri, tetapi dia juga ibu intuk Felix, jadi kalian mulai saat ini harus tenang yah. Felix baik-baik saja bersama Jova." Itu adalah ucapan terakir sebelum Felix dan Jova pergi untuk melanjutkan bekerja.


"Kamu pasti dekat banget sama Mamih yah?" Suara Jova memecah kesunyian saat kembali ke mobil. Semua yang Felix katakan barusan di makam benar-benar menujukan kalau suaminya itu sangat dekat dengan sang wanita yang telah melahirkanya.

__ADS_1


Felix mengangguk dengan kuat. "Mamih adalah segalanya bagi aku. Aku bahkan dulu ingat banget sering diajak kerja ke sana ke sini sama Mamih, beliau bisa saja menitipkan aku pada pengasuh di rumah, tetapi nyatanya aku justru selalu di rawat oleh Mamih bahkan saat meeting tugas luar kota untuk mengurus usahanya Mamih selalu mengajak aku, makanya saat aku harus menikah dengan kamu demi tanda tangan dari Papah Guntoro, aku rela. Karena harta-harta kami adalah hasil kerja keras Mamih."


"Apa itu berarti Juragan Guntoro tidak mendapatkan harga dari peninggalan Mamih kamu, sedangkan dia adalah suami biasanya akan ada harta gono gini?" tanya Jova, sepertinya apa yang Jova alami mungkin adalah efek dari perebutan harta.


"Laki-laki itu tidak dapat apa-apa karena harta sebelumnya adalah harta warisan dari kakek nenek, belum lagi ternyata kedua orang tuaku melakukan perjanjian yang mana apabila salah satu berselingkuh maka dia harus pergi tanpa membawa harta sepeser pun. Itulah yang terjadi pada Papah, tetapi Mamih masih berbaik hati sehingga supermarket yang ada di kota kamu di kelola oleh Papah, atas kebaikan Mamih. Tapi bukanya wanita yang menikah dengan Papah adalah janda kaya. Jadi mana mungkin Papah akan kekurangan uang," jawab Felix dengan santai. Kini mereka sudah kembali memasuki mobil dan meninggalkan area pemakaman.


Perasaan Jova kembali tidak tenang ketika mobil yang mereka tumpangi perlahan sudah meninggalkan area pemakaman.


"Mas, apa tidak ada jalan lain yang lebih ramai, jalan yang tadi kita lewati sepertinya terlalu sepi," ucap Jova sembari dalam bibirnya sudah melafalkan segala jenis bacaan untuk kebaikan.


"Ada, tapi jalannya sempit dan jelek udah gitu muter pula. Lebih enak dan lebih cepat lewa sini Sayang. Lagi pula ini siang hari kalau siang biasanya ramai kok," jawab Felix, dan jawabannya itu sedikit membuat Jova merasakan tenang.


Namun, Jova sendiri masih terus melafalkan doa-doa dan juga surat pendek. Hingga Felix yang sudah biasa datang ke makam ini pun mengajaknya ngobrol, tetapi Jova tetap tidak menanggapinya. Wanita itu terlalu tegang.


"Kenapa Mas?" tanya Jova dengan perasaan semakin tidak tenang ketika mobil perlahan berhenti.


"Kayaknya bannya kempes deh," jawab Felix, seraya laki-laki itu hendak turun dari mobil yang ditumpanginya, tetapi Jova langsung menahanya.

__ADS_1


"Mas jangan turun Deh, aku tidak tenang perasaanya," balas Jova sembari menahan tangan Felix. Tenang saja aku hanya memeriksa setelah itu aku akan panggil montir." Felix sendiri tidak mengindahkan ucapan Jova, setelah memanggil montir Felix membuka pintu mobil dan langsung mengecek ban mobil yang kempes bahkan laki-laki itu sempat menendang-mendang ban mobil yang kempes itu.


"Ya Tuhan semoga ini bukan pertanda buruk."


__ADS_2