
"Jo, ini sudah mau Maghrib, kita pulang yuk! Kasihan juga ibu kamu, beliau sendirian di rumah sakit, hanya ada tetangga kamu yang menjaga pasti sedih kalau tidak ada yang mengajak bertukar cerita sekaligus membagi kesedihan," ucap Felix sembari mengusap pundak Jova, agar tidak terus-terusan bersedih, meratapi kepergian kedua keluarga. Menatap kosong dua pusara yang masih basah.
Memang rasa yang paling mengesakkan yaitu ketika kita sedang bersedih dan hanya ingin menangis, dan merenung, tetapi ada yang mengingatkan agar berhenti menangis karena itu semua hanya akan sia-sia, karena hal yang sudah pergi atau rusak tidak akan kembali atau untuh lagi.
Jova mengangkat kembali wajahnya menatap luasnya cakrawala, bahkan sinar sang surya sudah meredup seolah mengabarkan pada penghuni bumi bahwa sebentaar lagi siang akan berganti petang. Setelah menyadari bahwa yang dikatakan oleh Felix memang benar Jova pun kembali menunduk. Menatap dengan sendu pada makam ayah dan adiknya yang berdampingan.
"Jini, Ayah. Kami pulang dulu yah. Jini, Mbak nitip Ayah, kalian bahagia dia sana. Ini bukanlah perpisahan karena kelak kita akan bertemu kembali. Jova akan menjaga Ibu dengan baik, kalian jangan khawatir. Semampu Jova akan berusaha terus untuk membahagiakan Ibu. Kalian juga bahagia di sana." Terakhir Jova kembali mencium nisan ayah bergantian dengan adiknya. Merenung dan menangis ternyata tidak juga mengurangi sesaknya. Karena sesedih apapun itu, kehidupan akan terus berjalan. Itu yang coba Jova pikirkan sehingga dia tetap mencoba tegar karena ada ibu yang butuh bahunya untuk bersandar, dan tangan untuk menggandeng berjalan bersama untuk tetap melewati hari yang akan terus mereka lalui.
Dengan langkah kaki yang berat Jova dan Felix kembali meninggalkan pemakaman, meskipun untuk beberapa kali Jova tetap membalikan tubuhnya untuk memastikan kalau ini bukan mimpi.
"Kita sore ini juga akan lansung ke rumah sakit. Begitu sampai rumah nanti kamu harus cepat membersihkan diri dan menyiapkan pakaian Ibu karena kasihan kalau Ibu di biarkan sedirian di rumah sakit," ucap Felix mencoba mengajak berkomunikasi, agar Jova tidak bolak balik membalikan badan melihat makam ayah dan adiknya.
"Ibu pasti sedih banget," racau Jova. Kini wanita itu pun berjalan lebih cepat, karena ingin segera menemui ibunya. Felix pun cukup bangga dan salut dengan wanita itu, dia tidak terpuruk dalam kesedihanya, meskipun duka yang menimpanya sangatlah luar biasa.
Seperti yang dikatakan Felix, sesampainya di rumah Jova langsung bersih-bersih dan menyiapkan pakaian ganti untuk sang ibu. Sementara Felix meminta kepada ketua RT mengurus acara pengajian hingga tujuh hari, karena dia sendiri maupun Jova harus mengurus Lasmi yang kurang sehat. Selain mengurus pengajian Felix juga meminta pada warga terutama ketua RT dan RW apabila papahnya ataupun antek-anteknya datang ingin mengambil rumah itu maka Felix meminta untuk di hubungi.
Andai laki-laki paruh baya selama ini bebas melakukan apapun kali ini tidak bisa lagi semena mena, karena Felix akan bertindak.
Laki-laki itu pun ingin dengar cerita versi ibu mertuanya yang ia yakini bahwa ibu mertuanya yang tahu lebih jelas dengan apa yang sebenarnya terjadi antara mertua serta papahnya. Terutama uang-uang yang mereka maksud.
__ADS_1
Setelah semua urusan selesai dan tentunya Felix memberikan sejumlah uang yang bisa digunakan untuk membelikan makanan kini Jova dan Felix bada Magrib langsung menuju rumah sakit yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Untung di kampung halaman Jova untuk soal gotong royong masih sangat kental sehingga Felix bisa meninggalkan rumah serta urusan pengajian dengan tenang karena warga yang justru suka rela menawarkan bantuan untuk menjaga rumah keluarga Jova dari tangan-tangan jahil suruhan juragan Guntoro.
Kini pasangan suami istri sudah ada di halaman rumah sakit. Jova dengan tergesa akan masuk ke rumah sakit dan segera menemui wanita yang telah melahirkanya. Namun, tangan Felin menahanya.
"Tunggu Jo!"
Jova pun seperti yang sudah-sudah menurut saja. Berhenti daan mendengarkan apa yang akan Felix katakan.
"Ingat, sebisa mungkin kamu tunjukan kalau kamu baik-baik saja, ikhlas dan kalau bisa hindari dulu sesuatu yang berkaitan dengan adik dan ayah kamu, karena aku takut ibu kamu belum begitu ikhlas dan akan kembali bersedih. Kecuali kalau memang beliau yang memulai kamu untuk bercerita, kamu dengarkan dan kamu beri motifasi. Aku tahu kamu juga masih amat bersedih, tetapi aku takut ibu kamu nantinya akan sakit karena terlalu berat beban pikiranya. Seperti ibuku dulu, karena dari pikiran yang setres tanpa aku ketahui ibu sakit, dan aku terlambat menyelamatkanya." Tentu bukan maksud Felix untuk menakuti Jova, tetapi Felix hanya tidak ingin apa yang dulu terjadi pada dirinya terulang pada Jova.
Jova pun mengembangkan senyumnya, meskipun wajah sedihnya tetap tidak bisa di sembunyikan.
"Terima kasih untuk nasihatnya," balas Jova, yang saat ini dia justru bersyukur di pertemukan dengan Felix yang ternyata di balik sifat galak, jute, dan menyebalkan, ada alasan dia melakukan itu. Patah hati ditinggal calon istri, dan ibunya yang dihianati pasanganya hingga depresi dan meninggalkan dia seorang diri membuat Felix merubah diri menjadi laki-laki yang tidak mudah di sentuh oleh orang luar kecuali mereka yang sudah tahu siapa sebenarnya kehidupanya.
Kini mereka kembali berjalan beriringan, dengan tangan saling menggenggam seolah mereka mengambarkan bahwa bersatu adalah cara yang paling baik untuk menghadapi masalah segudang masalah.
Lagi, langkah kaki Jova terhenti tepat di depan pintu berwarna putih, di mana di dalam sana ada ibu yang tengah terbaring lemah. Yah, sebelum Jova bisa melihat wanita yang telah melahirkanya tertidur dengan meringkuk.
__ADS_1
"Masuklah, ibu kamu sudah menunggu. Jangan sedih, kamu harus menjadi penguat untuk ibu kamu. Beliau hanya tinggal punya kamu sebagai anggota keluarga. Kamu pasti bisa membuat Ibu kembali bahagia lagi." Felix, kembali memberikan dukungan untuk Jova.
Ceklek... Jova. menekan handle pintu, dan dengan sigap Lasmi bangun, tetapi sesaat kemudian wanita itu tertidur kembali, setelah melihat wajah Jova. Yah baik Jova maupun Felix tahu bahwa wanita paruh baya itu tengah menunggu sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Ibu Jova datang, apa Ibu sudah makan?" tanya Jova dengan suara yang terdengar ceri. Meskipun itu hanya kebohongan belaka dalam hati Jova menangis kembali meratapi kesedihanya.
"Jova, kamu bilang kan sama Ayah kalau ibu sedang sakit?" tanya Lasmi. Benar dugaan Felix bahwa sang ibu belum menerima kepergian ayahnya.
"Bu Jova sudah berunding dengan suami Jova kalau Ibu akan ikut kita ke Jakarta. Apa Ibu senang?" tanya Jova dengan lembut.
Namun, tatapan Lasmi menunjukkan kebencian terutama pada Felix.
"Enggak, Ibu nggak mau kalau harus ikut dengan orang jahat itu." Lasmi menunjuk pada Felix.
Jova menatap pada Felix seolah dari tatapan matanya mengatakan kalau ia meminta maaf atas ucapan sang ibu, dan laki-laki itu membalas dengan senyum tipis.
Kini yang Felix rasakan adalah, orang lain yang makan nangka, ia yang kena getahnya. Papahnya yang berbuat salah, dia yang menanggung akibatnya.
Rasanya sakit ketika bukan kita yang membuat masalah, tetapi kita ikut mendapatkan hukuman. Itulah yang sedang dirasakan oleh Felix.
__ADS_1