
Jini yang cukup lama berdiri di depan jendela pun makin lama makin merasakan kalau tubuhnya kehilangan keseimbangan. Kepalanya pusing, dan dadanya pun sesak. Bahkan keringat dingin sudah membanjiri tubuh kecilnya, padahal saat ini udara dingin, karena hujan yang tidak kunjung berhenti.
Brukkk... Suara gaduh terdengar dari kamar Jini, Lasmi yang sedang menyiapkan masakan untuk makan malam pun langsung mengintip ke kamar sang putri bungsunya.
"Yah... Ayah... Jini pingsan!" pekik Lasmi. Janu yang masih di ruang tamu menatap derasnya hujan di luar rumah sembari mencari ide untuk mendapatkan uang dalam waktu cepat pun langsung beranjak dan lari ke kamar Jini, dia tidak menyangka sama sekali kalau putrinya pingsan.
"Jini kenapa Bu?" tanya Janu dengan tangan menepuk-nepuk pipi Jini agar sadar. Lasmi pun memancing dengan aroma yang menyengat tetapi tidak juga Jini memberikan respon.
"Pak, kenapa Jini seperti tidak memberikan respon apa-apa," ucap Lasmi dengan suara yang putus asa. Tidak seperti biasa Jini kalau pingsan paling dioles minyak kayu putih bagian pelipis, dan dipancing dengan aroma minyak kayu putih udah sadar. Kali ini tubuh Jini juga dingin dan tidak sadar-sadar.
"Kita bawa ke rumah sakit Bu," balas Janu, dengan suara yang panik.
"Uangnya? Ibu sudah tidak ada tabungan sama sekali. Uang sisa amplop hajatan sudah di pakai untuk melunasi utang di warung."
"Kita bawa ke rumah sakit dulu saja, nanti Ayah akan berusaha nego dengan Juragan Guntoro agar membeli rumah kita. Biarkan di hargai murah juga yang penting Jini sembuh," balas Janu, ia bersiap meraih panyung yang sudah tidak begitu layak pakai, itu terbukti dari pakaian Janu yang tetap basah meskipun laki-laki itu sudah memakai payung.
Janu pergi ke rumah ketua RT untuk meminta mengantarkan Jini ke rumah sakit dengan mobil siaga. Untung mobil siaga yang ada di desa sedang tidak dipakai sehingga sore itu juga di tengah hujan yang terus mengguyur bumi. Tubuh kurus Jini di bawa ke rumah sakit, berharap bahwa ini adalah kondisi buruk Jini terakhir kalinya setelah ini akan ada kesembuhan total.
Di tengah derasnya hujan sore ini tidak mengurungkan satu keluarga untuk berusaha mencari kesembuhan untuk putrinya.
"Jini, kamu yang kuat yah, kamu harus kuat dan kita akan tetap berkumpul bersama seperti janji kakak kamu sebelum pergi ke Jakarta," bisik Lasmi, ibu dua anak itu terus membisikan motifasi agar Jini bisa bersemangat lagi untuk sembuh. Meskipun matanya terpejam tetapi Lasmi berharap bahwa Jini tetap mendengar apa yang ia. katakan.
__ADS_1
Tubuh basah Janu pun tidak di rasakan laki-laki paruh baya itu begitu sampai di rumah sakit langsung berlari untuk mencari bantuan untuk sang buah hati. Seketika itu pun yang memang Jini sebagai pasien rutin cuci darah dari rumah sakit itu langsung mendapatkan pertolongan utaman. Cukup lama Jini mendapatkan pertanganan hingga dokter yang menangani Jini keluar dan menemui Janu dan Lasmi yang terlihat sangat tegang.
"Gimana gondisi anak kami Dok?" cecar Janu begitu melihat dokter ke luar.
"Kita akan langsung lakukan cuci darah seperti biasa, dan kondisi Jini saat ini sedang tidak bagus, akan kami lakukan pemeriksaan lanjutan setelah cuci darah karena takut ada sakit lainnya, dan kalau dari kondisi saat ini Jini seperti bukan mengindap sakit ginjal saja, seperti ada komplikasi lagi, mudah-mudahan ini hanya tebakan buruk saya saja." Dokter kembali tidak ingin memberikan kekecewaan bagi keluarga pasien.
Namun ternyata tidak pikiran Janu dan Lasmi sudah tahu akan kondisi Jini, sehingga di katakan tidak apa-apa juga tidak bisa karena Janu pasti akan terpikirkan terus.
"Dok, apa masih ada kemungkinan putri saya akan sembuh?" cecar Lasmi, entah doa apa saja yang dia langitkan untuk kesembuhan Jini, tetapi rasanya doanya belum mendapatkan jawaban yang membuat mereka tenang. Justru kali ini dokter mengatakan ada kemungkinan komplikasi ke organ vital lainnya. Rasanya tubuh langsung tidak bertulang ketika. mendengar ucapan itu.
Dokter yang menangani Jini nampak berat memberikan jawabanya. Biasanya dokter kalau memang peluangnya besar akan meyakinkan kalau Jini akan sembuh, tapi untuk kali ini dokter pun hanya mengucapkan perbanyak doa.
"Dok, tolong perjuangkan apapun itu untuk putri kami." Janu bahkan sampai memohon pada perawat dan dokter yang sedang memberikan perawatan pada Jini.
"Anda tenang saja Tuan, kami akan bekeja dengan profesional, dan kami juga akan bekerja dengan kemampuan kami, dan putri Anda yang justru sepertinya putri Anda justru tidak mau orang lain cemas. Jadi Anda perbanyak doa untuk Jini, dia gadis yang kuat."
Setelah dokter mengatakan kondisi Jini dan akan memberikan perawatan terbaik. Dokter pun kembali melanjutkan pekerjaannya dan membawa tubuh Jini entah ke mana. Janu dan Lasmi hanya diam dan mengekor serta selalu berdoa agar Jini kuat. Mereka akan melakukan apapun agar buah hati mereka sembuh dan bisa kembali menjalani hidup dengan sehat.
"Bu, Ayah mau ke rumah Juragan Guntoro yah, sekalian menawarkan rumah kita," ucap Janu dengan nada bicara yang lirih, Janu berat sebenarnya mau menjual rumah mereka, tetapi bagaimana lagi ini adalah perjuangan terakhir untuk kesembuhan Jini.
Lasmi menatap Janu dengan tatapan bingung. "Yah, apa tidak mencari calon pembeli lain dulu, harga dua ratus juta jauh sekali dengan pasaran tanah di tempat kita, belum tanah kita luas, mungkin saja ada yang akan membeli dengan harga yang lebih masuk di akal," ucap Lasmi dengan tatapan yang mengiba.
__ADS_1
Mereka tidak menyangka kalau menikahkan putrinya dengan juragan Guntoro justru tidak sepenuhnya mereka bisa terbebas dari persoalan ekonomi. Memang utang mereka sebelumnya pada konglomerat kaya raya itu lunas, tetapi tidak setelahnya. Bantuan uang yang menurut mereka akan diberikan untuk bantuan usaha pun tidak juga kunjung dipenuhi. Mau hutang lagi mereka pun tidak memberikannya dengan segudang alasan.
Janu yang sudah bersiap untuk beranjak pergi pun kembali meletakan bokongnya di samping sang istri. "Ayah juga tidak bisa berbuat apa-apa Bu, orang yang bisa membantu saat ini hanya Juragan Guntoro, karena hanya dia yang punya uang segitu banyak dalam waktu dekat. Kalau yang lain bisa-bisa dicicil sedangkan untuk pengobatan Jini tidak bisa di cicil," balas Janu, memberikan alasanya untuk menjual rumah dengan harga murah pada juragan kaya raya itu.
Lasmi kembali bergeming, apa yang dikatakan oleh suaminya adalah kebenaran. Dan yang ada dalam pikiranya saat ini adalah kesembuhan untuk buah hatinya. Akan sangat menyesal apabila ia terlambat memberikan pertolongan pada Jini, hanya karena mencari pembeli rumah yang tidak juga kunjung ketemu kesepakatanya, sedangkan Juragan Guntoro siap memberikan uang yang bisa dia gunakan untuk pengobatan Jini.
"Kalau gitu pergilah Yah, setelah ini buruan datang lagi ke sini, karena ibu tidak kuat kalau apa-apa sendiri tubuh ibu lemas," ucap Lasmi dengan nada bicara yang masih lemas.
Janu pun mengikuti apa kata Lasmi segera beranjak dari duduknya dan sekalian mengembalikan mobil siaga desa, ia pulang berharap kembali ke rumah sakit bisa membawa uang untuk memberikan harapan kesembuhan untuk Jini.
"Sabar yah Nak, Ayah yakin kamu pasti kuat dan Ayah yakin kamu pasti sembuh. Kamu adalah gadis kecil Ayah yang kuat."
...****************...
Teman-teman sembari nunggu kelanjutan kisah Mbak Jojo dan Bambang Felix, serta si manis Cemong, kalau berkenan bantu dukung novel baru othor yah. Jangan lupa Fav, like, komen dan kalau berkenan tabur mawar, kopi atau iklan juga boleh banget...
komen beri masukan yah. Terima kasih yang sudah berkenan mampir., 🙏
Dukungan dari kalian sangat berarti untuk othor yang masih belajar ini🙏
__ADS_1