
"Kenapa Mas?" tanya Jova dengan perasaan semakin tidak tenang ketika mobil perlahan berhenti. Matanya terus mengawasi sekitar.
"Kayaknya ban mobil kempes deh," jawab Felix, seraya laki-laki itu hendak turun dari mobil yang ditumpanginya, tetapi Jova langsung menahan suaminya itu.
"Mas jangan turun deh, aku tidak tenang perasaannya," balas Jova sembari menahan tangan Felix.
"Tenang saja aku hanya memeriksa setelah itu aku akan panggil montir." Felix sendiri tidak mengindahkan ucapan Jova, setelah memanggil montif Felix membuka pintu mobil dan langsung mengecek ban mobil yang kempes, bahkan laki-laki itu sempat menendang-mendang ban mobil yang kempes itu.
Jova sendiri dalam hatinya terus berdoa agar tetap dilindungi oleh Tuhan. "Ya Tuhan semoga ini bukan pertanda buruk, dan perasaanku yang tidak tenang hanyalah ketakutanku yang berlebihan saja," ucap Jova sembari kedua bola matanya awas memindai tempat sekitar, ia tidak ingin terjadi hal buruk dengan ia sendiri dan suaminya.
Hingga pandang mata Jova melihat ada yang datang satu kendaraan roda dua menghampiri mobil mereka yang mogok. "Mobilnya kenapa Mas?" tanya salah satu laki-laki yang turun dari kendaraan bermotor itu, sedangkan temanya tetap menunggu di atas motor. Jova sendiri di dalam mobil sudah mengamati gerak-gerik dua laki-laki itu. Wanita itu langsung mengamankan barang berharga milik Felix yang ada di atas kursi kemudi Jova dengan hati-hati memindahkan ke belakang dan mengambil konci mobil, dia terlalu takut kalau dua laki-laki itu sedang berniat jahat.
Mata Jova tetap mengawasi laki-laki yang sedang berbicara dengan suaminya.
"Iya nih bocor," jawab Felix dengan santai.
"Bisa kami bantu?" tanyanya lagi.
"Oh terima kasih sebelumnya, tapi tidak usah deh, soalnya saya sudah panggil montir, lagi nunggu ini, tidak enak kalau montir datang mobil udah beres," tolak Felix dengan sopan.
Namun di luar dugaan Felix, laki-laki itu menodongkan belati tepat di perut Felix, sedikit bergerak maka Felix akan terluka dari ujungnya yang tajam.
"Serahkan harta-harta kalian," bentak laki-laki itu. Felix pun bingung dalam waktu sekejap, dompet dan ponsel Felix sudah berpindah tangan, sedangkan Felix berjalan dengan tangan di lipat ke belakang untuk masuk kembali ke mobil mengambil barang berharga lainya laptop barang milk Jova. Namun Jova sendiri justru keluar dari pintu hendak membantu Felix.
"Jangan main-main kamu wanita, kalau tidak laki-laki ini akan mati konyol," ucap laki-laki yang tengah menodongkan benda tajam itu di belakang pinggang felix.
"Biar Jo, mereka ambil barang-barang berharga kita tapi kita selamat," ucap Felix dengan suara yang pasrah.
__ADS_1
"Aku sudah merekam kejahatan kalian, sebentar lagi polisi datang," ancam Jova dengan mengacungkan ponselnya, seraya menunjukkan rekaman yang dia ambil barusan dengan gawai-nya.
"Habisi aja Bro, mereka sudah kenal kita, bahaya kalau mereka selamat," ucap laki-laki yang ada di atas motor.
Akhhh... Felix mengerang hebat ketika benda tajam itu menujuk pinggangnya apalagi, dari belakang ada kendaraan bermotor menuju arah mereka, mungkin orang itu panik dan menusuk Felix, tatapi Jova yang merasa terancam langsung mengambil bongkahan batu yang ada di sisi jalan.
Memang antara Jova dan laki-laki yang menusuk Felix sempat tarik menarik tas Jova. Hingga temanya berteriak agar laki-laki itu kabur.
"Bro kabur... kabur Bro... "
Brugggh... Brugghhh... dua kali Jova menghantam laki-laki yang hendak berlari dengan batu besar yang ada di tanganya.
Akhhh... Laki-laki yang sudah bersiap berlari langsung tersungkur setelah dari kepalanya terjadi pendarahan hebat.
Jova sendiri yang terlalu marah pada laki-laki yang sudah membuat Felix terluka pun kembali mengambil batu besar tadi.
Rasa simpatik nya sudah hilang. Dia tidak merasakan bergetar atau takut ketika melakukan itu. Jova hanya ingin melupakan kemarahanya. Ia tidak memperdulikan apapun.
"Jo... jangan Jo..." ucap Felix dengan sisa tenaganya, bahkan suara hanya seperti tengah berbisik. Jova yang melihat lawan sudah terkapar pun langsung menghambur pada Felix yang sudah mengeluarkan banyak darah. Tubuhnya bergetar hebat, takut, dan marah, hingga wanita itu untuk sesaat tidak tahu apa yang sudah dia lakukan. "Felix kamu bertahanlah," ucap Jova sembari mengusap tangan Felic dan air mata sudah luluh kembali. Ketakutanya kini terjadi. Ia sangat takut kalau ucapan Felix akan menjadi kenyataan.
Dalam waktu sekejap tempat yang awalnya sepe kini ramai, lagi-lagi malang tak dapat dihindari. Felix di bawa ke rumah sakit dengan benda tajam masih menempel di tubuhnya. Jova bersiap akan ikut naik ke mobil ambulan, tetapi tiba-tiba tangan kekar menahanya.
"Anda tidak bisa ikut ke rumah sakit. Anda harus bertanggung jawab atas kejadian ini."
Jeduueerrr... bak tersambar petir di siang hari. Tubuh Jova kembali mematung, bergeming dalam ketakutannya.
"Kenapa saya yang bertanggung jawab?" tanya Jova dengan tangis yang semakin pecah. Pandangan matanya menatap pada mobil ambulan yang membawa tubuh suaminya. Apa yang akan terjadi pada suaminya saja dia tidak tahu, tetapi justru laki-laki berseragam lengkap dengan warna coklat menahanya.
__ADS_1
"Karena laki-laki itu meninggal kamu kan yang bunuh." Laki-laki lain datang untuk menahan Jova lagi.
Jova menghela nafas dalam, tidak menyangka kalau bahagia yang datang pada dirinya nyatanya hanya sesaat. "Saya tidak membunuh Pak, laki-laki itu dan temannya tadi ada satu lagi bawa motor hendak merampok kami, dan menusuk suami saya dengan pisau yang masih menempel di punggung suami saya. Lalu saya diam saja ketika saya juga terancam keselamatanya? Saya hanya membela diri," jelas Jova dengan gigi-gigi yang sudah beradu, wanita itu tidak menyangka sama sekali kalau hari yang cerah ini justru menghantarkan dia kemasalah yang runyam.
"Nanti Anda jelaskan di kantor polisi, karena ini kasusnya sudah pembunuhan." Tangan laki-laki itu menarik tubuh Jova, tetapi wanita itu mencoba berontak.
"Saya tidak membunuh, dia yang hampir menyerang saya, saya hanya membela diri," jelas Jova kali ini dengan suara yang sudah tertahan dan penuh kemarahan.
"Iya, saya tahu tapi nanti tolong jelaskan di kantor polisi, karena ini sudah menyangkut nyawa yang melayang," jelas polisi yang memegang tangan Jova, kali ini dengan nada bicara yang lebih lembut lagi.
"Tapi kalau saya tidak melawan, saya yang akan mati konyol Pak," jelas Jova dengan mengiba.
"Anda tenang saja, nanti akan ada yang membantu Anda untuk lepas dari masalah ini, setidaknya hukumanya lebih ringan." Tubuh Jova kembali di seret tetapi Jova sendiri kembali melawan.
"Saya ingin melihat suami saya," ucap Jova dengan nada bicara yang lirih dan tidak banyak berontak.
"Tidak bisa karena Anda telah mengihilangkan nyawa. Anda harus di tahan," ucap yang lainya tetap menahan Jova dengan keras.
"Hanya melihat suami saya, dan setelah saya memastikan bahwa suami saya baik-baik saja Anda bisa menahan saya," balas Jova kali ini wanita yang di baju dan tanganya banyak darah sudah bersimpuh di bawah laki-laki berseragam lengkap itu.
Mereka saling bertatap satu sama lain, sedangkan Jova sudah menunduk masih bersimpuh memohon belas kasih dan keringanan, agar dirinya diizinkan untuk bertemu Felix.
"Saya tidak akan kabur ataupun mangkir dari tanggung jawab ini, saya akan tetap bertanggung jawab, tapi biarkan saya melihat kundisi suami saya dulu," mohon Jova sekali lagi.
"Baiklah, kami akan biarkan Anda melihat suami Anda, tapi dengan catatan anggota kami mengikuti Anda," Jova pun hanya diam mengangguk dengan pasrah.
Masa depanya sudah gelap. Bahkan setitik cahaya pun tidak nampak. "Apakah aku masih pantas memohon, dan berdoa setelah serentetan duka aku alami? Dan kali ini aku baru tahu arti bahagia, tetapi kembali Engkau rampas kebahagiaan itu. Tuhan, Engkau ada di mana? Tuhan, aku butuh keadila-Mu, Tuhan, siapa lagi yang akan membantuku kalau laki-lakiku saja Kau buat tidak berdaya?"
__ADS_1