
Dua wanita berbeda generasi turun dari taxi yang di tumpanginya. Lasmi dan Sumi pun berjalan menuju pos penjagaan yang terdapat dua orang pejaganya, memang masuk sini saja harus melalui pemeriksaan yang ketat. Setelah Sumi dan Lasmi melewati pemeriksaan yang lumayan ketat kini wanita itu kembali masuk ke dalam.
Tentu mereka tidak mulus-mulus saja untuk bisa membesuk Jova ke dalam sana, banyak pertanyaan yang cukup sulit untuk di jawab. Udah gitu Sumi dan Lasmi juga sempat di minta pulang kembali.
Untung saja Sumi bisa meyakinkan kalau kunjungan mereka hanya akan sebentar dan setelah berdebat cukup lama mereka pun diizinkan untuk masuk.
"Sum... " Suara yang sudah Sumi kenal pun terdengar. Dengan gerakan secepat kilat Sumi membalikan badanya.
"Arzen... ngapain kamu disini?" tanya Sumi dengan terkejut. Arzen langsung menghampiri Lasmi untuk bersalaman, ada rasa bahagia di hati Arzen ketika melihat kalau Lasmi baik-baik saja dan juga bisa menerima keadaan Jova.
"Ibu mau lihat Jova?" Arzen justru mengabaikan pertanyaan Sumi dan mengalihkan partanyaanya pada Lasmi.
"Iya Nak Arzen. Apa Ibu boleh bertemu dengan Jova?"
"Boleh Bu, kebetulan Felix juga ada di dalam, jadi Ibu bisa masuk ke dalam," ucap Arzen dengan menunjuk ruangan besuk, bahkan di sana juga ada tim kesehatan yang berjaga karena takut terjadi sesuatu dengan Felix.
Lasmi pun masuk mengikuti apa yang Arzen tunjukan. Wanita paruh baya itu menangis melihat kondisi putrinya yang sangat memprihatinkan, tetapi Lasmi juga merasakan bahagia karena Felix ternyata memang laki-laki yang bisa diandalkan karena Felix saat ini nampak tengah bercerita dengan Jova, bahkan terlihat wajah Jova bahagia bersama dengan Felix.
"Ibu..." Jova yang melihat wanita telah melahirkanya berdiri di ambang pintu pun langsung berdiri dan kembali matanya memerah. Kembali kedua bola mata itu mengembun.
Tidak kalah ketinggalan Felix pun dengan gerakan hati-hati memalingkan pandangan matanya menatap ke belakang, dan benar ternyata ibu mertuanya datang untuk memberikan semangat untuk putrinya. Kembali Felix melebarkan senyumnya karena Jova banyak yang memberikan dukungan.
__ADS_1
"Maaf, Ibu ganggu yah." Lasmi masuk ke dalam setelah bersalam dengan Felix, Jova langsung menggenggam tangan sang ibu.
"Maafkan Jova Bu, karena Jova sudah membuat Ibu malu, marah dan kecewa," ucap Jova dengan mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkanya.
Lasmi mengusap rambut sang putri yang bergelombang. Mereka untuk beberapa saat berpelukan, seolah Jova tengah meminta dukungan dari sang ibu.
"Apa ibu bilang kalau ibu marah? Apa ibu bilang kalau ibu kecewa? Ibu tidak bilang gitu kan? Ibu sudah dengar dari Sumi, dan ibu tahu apa yang kamu lakukan itu udah bagus. Lebih baik ibu melihat kamu di penjara, tapi yang kamu lakukan untuk membela diri. Dari pada kamu diam saja dan ibu tidak bisa melihat kamu lagi, karena kamu dibunuh oleh mereka. Mbak, jangan tinggalin ibu lagi. Ibu di dunia ini tidak ada siapa-siapa lagi, Jini sudah bahagia bersama Ayah, kamu jangan ikut yah Mbak. Ibu tidak marah kamu di pejara. Ibu masih bisa lihat kamu dan juga ibu masih bisa melihat kamu, dan ibu masih bisa memasakan makanan kesukaan kamu, ibu masih bisa memeluk dan bercerita dengan kamu, itu sudah lebih dari cukup."
Suara yang terdengar berat menunjukan kalau Lasmi sangat sedih, yah untuk membayangkan ia kembali ditinggal oleh putrinya sudah membuat Lasmi sangat sedih. Apalagi kalau sampai kenyataan, wanita itu mungkin akan benar-benar gila.
Jova pun kembali terisak ketika mendengar ucapan ibunya seperti itu. Bahkan Felix pun menunduk dan matanya sudah memerah. Rasa sesalnya semakin menguasainya kembali. Andai dia menuruti ucapan Jova untuk tidak menggunakan jalan itu, mungkin Jova akan tetap berkumpul dengan ibunya, dan dirinya juga tidak terluka.
Jova menarik bibinya ketika dia mendengar kalau ibunya tidak marah dan bahkan terlihat wajah Lastri terlalu bahagia dengan apa yang telah Jova lakukan. "Terima kasih Bu, dukungan dari Ibu sangat berarti untuk Jova," ucap Jova dengan terus mengusap tangan sang ibu.
"Ibu yakin kamu pasti bebas, ibu akan terus berdoa untuk kamu, ibu tidak akan pernah lelah berdoa untuk kamu, Sayang. Sekarang kamu yang sabar yah. Semoga semuanya cepat terbukti bahwa kamu tidak bersalah." Lasmi meletakan bok makanan yang ia bawa. "Tadi Ibu sempatkan memasak untuk kamu, kamu pasti belum makan kan? Ibu masak kesukaan kamu."
Jova pun mengangguk dengan yakin. Ia memang kebetulan belum makan. Rasa sedihnya sedikit terobati dengan wangi masakan yang diolah dari tangan sang ibu tercinta.
"Felix, mau makan sekalian?" tanya Lasmi. "Kebetulan Ibu bawanya cukup banyak," imbuh Lasmi dengan menunjukan menu masakan sederhana yang menjadi makanan kesukaan Jova.
"Boleh deh Felix juga belum makan, terlalu cemas memikirkan Jova sampai lupa belum makan," jawab Felix dengan malu-malu.
__ADS_1
Lasmi pun mengambil satu piring dengan nasi campur orek kering tempe dan juga sambel kecombrang dan tumis toge, dadar telor tidak lupa, Jova sangat suka dengan telur dadar bahkan dia akan tetap mencari telur dadar buatan ibunya, meskipun di rumah sedang banyak masakan lainya.
"Biar untuk sekarang Ibu yang suapin kalian. Ibu ingin kalian bersama-sama terus. Ibu bahagia kalau lihat kalian bersama-sama," ucap Lasmi dengan menjulurkan sendok ke menantunya dan bergantian dengan Jova. Tenggorokan Jova pun semakin sakit rasanya ketika terlalu bahagia, tapi ia harus menahan rasa sakitnya. Kini mereka pun tidak memikirkan apa-apa lagi selain bahagia yang teramat.
"Ibu sedang, melihat kalian kompak seperti ini. Memang bisa dibilang ini adalah musibah, tetapi kita juga bisa mengambil hidayah dari kejadiaan ini semua. Hubungan kamu dan Felix jadi makin dekat," racau Lasmi merasakan senang sekali akhirnya Jova memiliki suami yang sayang dengan dirinya dengan apa adanya.
"Betul Bu, dengan adanya kejadian ini banyak yang Felix pelajari terutama mendengar ucapan istri. Mungkin kalau Felix tadi pagi mendengar ucapan Jova untuk ganti jalan yang lebih ramai. Kita tidak akan seperti ini. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kita hanya perlu bersabar dan terus menikmatinya dengan tetap mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang kita hadapi." Felix menatap Jova yang terus menunduk.
"Sudah Mas, semuanya sudah terjadi, yang penting kita tetap bersama-sama untuk hadapi ujian ini. Karena aku tidak sanggup kalau aku harus sendirian menghadapi ini semu." Sama dengan Felix ketika mengingat kejadian itu maka hatinya akan sakit. Jova pun sama dia merasakan sangat sakit kalau ingat hal itu.
Malam ini Jova pun merasakan bahagia, dan semangatnya semakin menggebu untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah. Sehingga kalau nanti diperiksa dia tidak akan diam dan hanya menangis lagi. Kini dia akan jawab dengan yakin, apa yang dia alami akan diceritakan dengan detail. Apalagi ada tim pengacara Prabu yang selalu siap membantu Jova.
"Mbak, Ibu pulang dulu yah, kasihan Sumi nunggu di luar. Ibu nanti akan kirim makanan untuk kamu biar kamu juga tetap bisa makan seperti kami, dan soal hukuman, ibu yakin kamu pasti akan bebas. Semangat yah Ibu tunggu di rumah," pesan Lasmi sebelum dia benar-benar pulang.
Jova pun kini lebih bisa tenang dengan dukungan dari sang ibu.
Kini di dalam ruang tunggu pun hanya tinggal Felix dan juga Jova. "Aku juga harus kembali ke rumah sakit Sayang. Kamu sabar yah, aku akan sering menjenguk kamu. Aku berjanji bakal membebaskan kamu. Apapun yang akan terjadi pada kamu aku yakin kalau kamu pasti akan bebas." Kini Felix pun benar-benar berpamitan setelah banyak menghabiskan waktu dengan istrinya.
Berat pasti, hanya saja Felix tidak bisa melakukan apa-apa, selain memanfaatkan uangnya untuk sedikit memberikan kenyamanan untuk Jova. Termasuk kamar. Felix meminta Jova ditempatkan di kamar khusus yang ada fasilitas, kasur dan kipas angin meskipun dia harus merogoh uang yang cukup banyak, itu tidak masalah yang terpenting Jova tidak tidur dengan alas seadanya dengan teman-teman yang mungkin bisa melakukan perundungan. (Ini hanya Fiksi anggap saja memang hukum terlalu mudah untuk orang-orang yang berduit)
"Terima kasih Mas, untuk semua yang telah kamu berikan. Aku merasa beruntung karena telah di pertemukan dengan kamu, meskipun, aku terkena masalah kamu tidak meninggalkan aku. Dukungan kamu sangat berarti untuk aku."
__ADS_1