
Dengan langkah kaki, dan perasaan yang berat, Jova mau tidak mau harus meninggalkan kedua orang tuanya, serta adik, dan juga kampung halaman. Sekuat tenaga Jova menahan agar ia kuat tetap tidak bisa air mata pun jatuh, dan isakan samar terdengar dari bibir mungilnya.
"Jangan nangis! Gue nggak suka di dalam mobil gue berisik!" sungut Felix ketika wanita yang ada di sampingnya masih terisak.
Bagaimana tidak menangis ini adalah pengalaman pertamanya jauh dari keluarganya. Ikut suami, tapi suaminya galak, dan sangat menyebalkan, siapa yang tidak sedih. Siapa pun akan sedih dan takut seperti Jova, tinggal dalam tempat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan seperti apa nantinya.
Namun, Jova hanya diam tidak membalas ucapan Felix, biasanya kalau mood dia sedang bagus wanita itu akan membalas ucapan yang menurutnya sangat menyebalkan dan tidak sesuai dengan isi hatinya, tetapi moodnya saat ini sedang hancur Jova memilih diam dalam hatinya hanya bisa membaca doa agar dia tetap dalam lindungan Tuhan. Bayangan akan penderitaanya yang membuatnya sedih itu hanya ketakutanya saja.
__ADS_1
Felix melirik pada Jova yang hanya diam saja. "Ingat nanti di rumahku hanya ada dua pilihan tiggal di rumah utama, tetapi jadi pembantu. Tanpa gajih, atau tinggal di gudang yang berada di rooftof, dan kamu boleh kerja di kantorku, tetapi hanya menjadi OG (Office Girl) atau bagian lain yang tidak akan terlihat olehku." Suara dingin dan tegas menusuk gedang telinga Jova yang sedang terpejam.
Tidur? Tidak meskipun mengantuk karena hampir semalam ia yang tidak bisa tidur, tidak juga membuat Jova sedikit pun mengantuk, tetapi jangankan tidur untuk duduk di samping Felix saja bulu kuduknya sudah berdiri.
"Seperti pilihan awal, saya akan tetap kerja dan masalah tinggal saya tidak pernah masalah meskipun di gudang sekali pun," balas Jova tanpa membuka matanya. "Aku sudah biasa hidup keras, jadi tidak masalah mau kerja apa dan tinggal di mana asal tidak kepanasan dan kehujanan, dan asal kerjaan saya halal saya akan terima dengan senang hati," imbuh Jova.
Wanita itu hanya ingin memberitahukan pada Felix bahwa dirinya tidak akan pernah mudah menyerah hanya dengan perlakuan suaminya yang seperti itu, dia tidak akan pernah menyerah walaupun dia hanya kerja sebagai OG ataupun pembersih WC seperti yang laki-laki itu katakan.
__ADS_1
"Yup, aku suka keras kepala kamu, Jojo." Senyum mengejek terlihat dari wajah tampan laki-laki yang sedang fokus dengan kemudi mobilnya.
"Dasar laki-laki gila," umpat Jova tentu dalam batinnya, kalau sampai suaminya dengar bisa-bisa dia di turunkan di tengah-tengah jalan tol.
Demi menghidari perdebatan-perdebatan Jova pun lebih baik diam dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur, dan bangun-bangun sudah sampai di tempat tujuan. Rasanya duduk berdekatan dengan orang yang membeci kita itu seba salah, bahkan mungkin bernafas saja kita salah. Itu yang sedang Jova rasakan saat ini, ia merasakan serba salah berada satu mobil dengan suaminya. Bahkan rasanya ingin buru-buru melewati ujian berat ini.
Mungkin saja ia akan memohon agar datang pertolongan jin yang langsung menyulap kalau mereka langsung berada di tempat tujuan. Rasa lapar pun harus Jova tahan, ingin buang air kecil dan lain sebagainya ia harus menahanya hingga Felix yang menghentikan mobilnya di SPBU, baru Jova akan lari ke kamar mandi, dan mampi ke kantin sekedar membeli roti ataupun makanan yang bisa digunakan untuk mengganjal perut. Mengingat suaminya sangat pelit.
__ADS_1
Entah memang sifatnya seperti itu atau itu cara laki-laki itu mengetes Jova, menyerah atau tidak ia perlakuan seperti itu.
#Sabar Jo....