Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Razia dari Sang Nyonya


__ADS_3

"Santai aja Mas, Jova juga hanya bercanda kok, kita ke kantor kamu aja yuk, aku mau razia karyawan kamu siapa tau masih ada yang berpakaian seksi," ucap Jova. Yah, sejak dirinya yang melihat sang sekretaris suaminya yang berpakaian seksi kini Jova pun selalu mengingatkan Arzen untuk menerapkan peraturan pakaian yang tidak terbuka, demi kebaikan bersama. Terutama sekretaris dari suaminya harus banget nutup aurat, itu juga kalau mereka masih mau kerja di kantor sang suami.


"Aduh Sayang, kenapa aku jadi deg-degan yah, aku takut nanti kamu menemukan sesuatu yang membuat aku nggak bisa lolos dari hukuman kamu," kelakar Felix dengan mengatupkan ke dua tanganya.


Jova pun langsung menatap Felix dengan tatapan yang membunuh. "Kamu menyembunyikan sesuatu yah di kantor? Kamu selingkuh yah di kantor?" cecar Jova dengan tatapan yang tajam.


"Kamu mau jawaban jujur atau jawaban yang bohong?" tanya Felix dengan menggoda Jova yang sedang cemburu.


"Nggak usah dijawab Mas, karena aku orangnya nggak sabaran. Aku takut malah menyakiti kamu. Hak kamu mau punya selingkuhan atau tidak, tetapi kalau aku mengetahinya aku tidak akan banyak bicara kesempatn untuk memerbaiki hubungan sudah jelas tidak akan ada. Lebih baik aku mencari bahagia dari yang lain, dari pada memendam kesakitan. Karena kalau sudah sekali selingkuh bakal ada kemungkinan selingkuh dilain kesempatan lagi. Hidup hanya sekali, aku nggak mau membatin dalam hidup ini," jawab Jova dengan santai, dan pandangan matanya yang di buang ke luar jendela.


"Maaf Sayang, aku hanya bercanda kok, aku nggak serius. Aku hanya cinta sama kamu. Seolah kamu sudah mengunci hatiku, jangankan untuk selingkuh, melihat yang lain saja aku tidak berani. Rasanya hati ini sakit kalau lihat kamu mendung. Cita-citaku sederhana. Aku hanya ingin menua bersama kamu. Kamu adalah  sumber kebahagiaan aku. Itu sebabnya aku rela ada banyak anak-anak kamu di rumah kita, karena aku ingin melihat tawa kamu terus. Aku tahu sumbernya bahagia kamu salah satunya dari maklum berhidung pesek yang lucu," Felix menggenggam tangan Jova yang saat ini kedua matanya dibuang ke luar jendela dengan mata yang memerah.


"Maafkan aku kalau candaanku keterlaluan. Percayalah aku hanya bercanda, aku tidak serius dengan apa yang aku katakan barusan. Aku bercanda Sayang, demi apapun dalam hatiku hanya ada kamu Momy-nya cemong." Kembali Felix meminta agar Jova jangan marah.


Entahlah, dalam hati Jova dia juga tahu kalau Felix itu tengah bercanda, tetapi seperti ada yang mengganjal hatinya nyeri ketika mendengar hal ini.

__ADS_1


"Jangan nangis, aku minta maaf, karena candaan aku membuat kamu bersedih." Felix mengusap air mata yang menetes di pipi Jova. Di mana wanita itu terisak sangat sedih, seolah dia telah kehilangan satu anak angkatnya.


"Maaf aku, entah mengapa sekarang aku jadi cengeng banget, selain cengeng aku juga panikkan. Aku bahkan tidak begitu paham dengan diriku yang saat ini. Entah siapa yang ada dalam tubuh ini. Rasanya bukan Jova yang seperti dulu Jova yang kuat dan tidak mudah meyerah. Aku lelah banget jalani hidup ini," racau Jova yang sedang bersandar di dada Felix.


"Kita adalah satu kalau kamu cape kamu bersandarlah padaku. Kita hadapi semua bersama-sama." Felix mengusap rambut Jova.


Kini Felix dan Jova sudah sampai di kantor Felix di mana Jova sekarang melihatnya sudah adem. Tidak ada yang berpakaian seksi. Bahkan ada yang sudah tertutup pakaianya, seperti Sumi, dan kalaupun tidak berhijab mereka tidak memamerkan aset dan kemulusan pahanya.


Pandangan mata Jova terus mengabsen karyawan suaminya satu persatu. Pkoknya jangan sampai ada satu yang mengundang komentar buruk Jova karena bisa-bisa dia kembali murung.


Jova menggeleng pelan. "Untuk sejauh ini tidak ada, tapi aku rasanya lapar sekali, sejak tadi sidang selera makanku hilang. Dan sekarang baru aku merasakan lapar," ucap Jova sembari duduk di kursi dekat sang suami, dan tangannya mengelus perutnya yang ramping.


"Kamu mau makan apa?" tanya Felix dengan bersiap menelepon Sachi untuk menyiapkan makanan yang Jova mau, siap-siap saja apa yang diminta sang istri pasti aneh-aneh, setelah kemarin telor ikan entahlah hari ini akan meminta apa.


"Aku ingin makan nasi timbel, tapi kamu yang beli," ucap Jova dengan tatapan yang memohon.

__ADS_1


"Hah, apa itu nasi timbel? Terus beli di mana?" tanya Felix kaget. Dengar namanya saja baru dengar sekarang.


"Enggak tau kan aku baru di Jakarta. Pokoknya nasi timbel yang dibungkus daun pisang dan kamu yang beli." Jova memberikan tatapan yang tajam.


"Ya Tuhan aku harus cari ke mana Sayang." Felix menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Momy-nya cemong mau nyapa pembaca dulu...



...****************...


Sembari nunggu Dady-nya cemong cari nasi timbul, yuk mampir ke karya bestie othor..


__ADS_1


__ADS_2