
"Mas, ini apaan?" tanya Jova ketika matanya ditutup dengan kain hitam.
"Kamu diam saja, aku bikin kejutan untuk kamu," balas Felix dengan wajah yang tidak ada hentinya tersenyum dengan lebar.
"Iya aku tahu kamu bikin kejutan, tapi nggak ditutup dari rumah sakit juga Mas. Di mana-mana di tutup kalau sudah sampai rumah atau setidaknya baru mau sampai rumah ditutupnya. Masa ini dari rumah sakit," protes Jova ingin membuka penutup kain itu, tapi justru Felix buru-buru menahanya, agar Jova tidak melakukanya.
"Jangan, tunggu sampai semuanya Aman," balas Felix menahan tangan Jova, agar tidak membuka kain hitam yang menempel di kedua matanya.
"Aman, emang di luar ada de-mo?" tanya Jova yang tidak tahu maksud dari ucapan suaminya itu.
Felix terkekeh dengan pertanyaan Jova, tetapi sedetik kemudian dia menganggukkan kepalanya. Meskipun Jova tidak bisa lihat ketika Felix menganggukan kepalanya. "Iya di depan ada de-mo makanya kedua mata kamu harus di tutup agar tidak tahu de mo apa itu."
Kini Jova berjalan dengan pelan dangan tangan sembari terulur ke depan dengan meraba-raba ke depan seolah wanita itu takut kalau ada benda yang berbahaya akan ia tabrak.
"Mas ini kita mau ke mana sih?" tanya Jova kembali setelah naik di dalam mobilnya.
"Pulang Sayang, kan tadi pengacara Prabu sudah bilang kalau kamu akan pulang." Felix sendiri sedari tadi tanganya terus mengetik pesan pada orang di rumah agar bersiap karena dirinya dan Jova sudah pulang dan sebentar lagi akan sampai rumah.
"Awas saja yah Mas kalau nanti kejutanya tidak asik dan membuat bosan," ucap Jova dengan bibir mencebik sempurna.
__ADS_1
"Kalau tidak asik mau diapakan?" tanya Felix dengan tangan memeluk tubuh sang istri.
"Ya enggak diapa-apakan, cuma aku marah saja. Udah ditutup-tutup gini, tapi nggak asik kesel dong."
Setelah menempuh perjalanan yang sepanjang perjalanan cukup membuat tegang karena berdebat terus soal kejutan.
Kini mereka pun sudah sampai rumah, dan lagi Jova dengan perlahan berjalan dengan tangan meraba-raba, seolah ia tidak percaya dengan Felix yang menuntunya di samping Jova.
"Mas kamu mau ngapain sih, aku tahu yah kalau kamu mau bawa aku ke lantai atas. Enggak ah, kamu pasti mau ngerjain aku," protes Jova sepanjang jalan, bibirnya terus protes dengan ide konyol Felix. Bahkan Jova sempat berontak dan ingin bukan penutup matanya, tetapi Felix dengan cekatan menahanya.
"Enggak Sayang, ini itu kejutan, bener deh, nanti pasti kamu suka, bahkan bisa dibilang sangat suka banget." Yah, tentu Felix yakin banget bakal suka apalagi ada banyak kucing-kucing yang sangat lucu itu.
"Kita hitung yah."
Satu
Dua
Tiga
__ADS_1
Surprise... Suara yang terdiri dari Lasmi, Sumi dan banyak yang lain membuat Jova terharu luar biasa.
Felix membuka penutup mata dan Jova pun langsung bergeming bingung. Kedua matanya melebar dan bibir menganga, seperti ikan mas kekurangan oksigen. Tubuh wanita itu memutar melihat ke sekeliling. Tanpa bisa berkata-kata lagi, dan tidak terasa ia menangis saking bahagianya.
Bingung mau mengatakan apa, setelah memeluk sang Ibu dan mengadukan rasa rindunya, kini Jova beralih pada Sumi, dan Bi Suro. Entah mengapa ini hari bahagia Jova, tapi hatinya malah sedih. Meskipun Lasmi, Sumi dan Bi Suro mengatakan kalau ini adalah hari bahagianya, nyatanya hatinya tetap melow.
"Kamu suka?" tanya Felix memastikan. Ketika melihat Jova terus menangis.
"Suka banget apa lagi dengan anak baru yang banyak." Jova langsung masuk ke dalam ruangan di mana anak-anak Jova sedang bermain dengan temanya, ada juga yang tertidur.
"Hai cemong, mommy kangen banget." Jova merain kucing kesanganya dan menggendong di tangan kanan dan tangan kiri mengambil anak kucing yang sangat menggemaskan lagi. Sedangkan Felix sendiri jangan di tanya, laki-laki itu justru naik ke atas kursi takut kalau kucing ada yang lari ke arahnya.
"Zen, pintunya tutup saja takut ke luar kucing-kucinya," pekik Felix sembari terus bergidik takut tiba-tiba kucing-kucinya menghampiri dirinya.
Orang-orang pun tertawa dengan kelakuan Felix yang nampak sangat takut dengan kucing.
"Mas coba deh kamu pegang, ini nggak galak," ucap Jova dengan membawa cemong yang sudah sangat dekat denganya.
"Jo... jangan bercanda Jo. Aku lompat nanti Jo." Felix terus merancau sembari tangannya di gerak-gerakan seolah tengah mengusir ayam.
__ADS_1
Sontak saja tawa pun pecah kembali.