
Gegas Jova pun langsung bersiap untuk menemui Felix. "Cemong, Mommy izin ke bawah dulu yah kamu jangan nakal!"
Jova langsung mengayunkan kakinya untuk turun ke bawah, setelah izin pada anak angkatnya. Untuk pertma kalinya selelah sekian purnama Jova tinggal di rumah mewah itu akan masuk dan meng-eksplor rumah mewah itu.
"Bi, apa Bi Suro yakin kalau Jova di minta masuk ke kamar Tuan Felix?" tanya Jova kembali, ia tidak mau kalau nanti ia masuk malah kena marah oleh laki-laki itu.
"Benar Neng, ayok bibi antarkan," ucap Bi Suro, dengan bergegas berjalan lebih dulu. Jova pun mengekor di belakangnya. Dengan perasaan yang deg-degan.
"Bi, Kenapa Jova deg-degan banget yah, takut bakal kena marah," ucap Jova sembari terus berjalan di belakang bi Suro.
"Tidak apa-apa Neng, Tuan Felix itu baik kok," ucap bi Suro, sembari tanganya mengusap pundak Jova seolah wanita paruh baya itu tengah memberikan kekuatan untuk Jova.
Jova pun sedikit merasakan nyaman ketika bi Suro mengusap punggungnya. Kesan pertama Jova sampai di lantai dua tentu lagi-lagi mewah dan tertata dengan apik. Bisa Jova simpulkan Felix memang tidak suka rumah yang terlalu banyak barang, hal itu bisa Jova lihat dari sedikitnya barang yang ada di lantai dua, tetapi juga bisa Jova tahu bahwa barang itu bukan barang yang murah.
Bi Suro untuk beberapa kali mengetuk pintu ruangan Felix dan lagi-lagi Jova hanya memperhatikanya, wanita itu masih merasakan sedikit gugup ketika mau menemui Felix mana di dalam kamarnya lagi. Kalau laki-laki itu berbuat sesuatu bagimana?" Itu yang ada dalam pikiran Jova.
"Neng masuk! Tuan sudah izinkan Neng untuk masuk," ucapan dari bi Suro membuat Jova langsung panas dingin, wanita itu menatap bi Suro.
"Bi, Jova deg-degan," ucap Jova sekali lagi, terlebih ketika dari ekor matanya menatap kamar Felix yang sangat luas dan rapih.
"Tidak apa-apa, Tuan baik kok. Kan Neng Jova udah jadi istrinya masa takut gitu. Kalau membuat hati suami senang dapat pahala loh," bisik bi Suro sebelum wanita paruh baya itu mengayunkan kakinya untuk pergi.
Sementara Jova yang dengar ucapan bi Suro justru semakin dibuat tegang.
"Ibu, Ayah, Jini, doakan kalau Jova tidak akan kenapa-kenapa," batin Jova sebelum benar-benar masuk ke kamar suaminya. Setelah Jova untuk menghirup nafas berkali-kali tentunya kini perasaanya semakin tenang.
__ADS_1
"Tuan, apa Anda panggil saya?" tanya Jova dengan suara yang lembut, di mana saat ini Felix duduk di atas tempat tidur dengan laptop di pangkuanya.
"Iya, duduk Jo!" ucap Felix tanpa menatap Jova. Fokusnya masih pada layar pintar itu.
Sementara Jova yang di minta duduk bingung mau duduk di mana, terlebih kamar suaminya sangat luas, mungkin luasnya setara dengan rumahnya di kampung. Ada ranjang yang super luas bisa buat koprol, dan juga ada sofa yang mungkin juga bisa buat menjamu tamu satu keluarga.
Jova tetap bergeming di balik pintu, dalam pikiranya masih bingung, mau duduk di mana?
Felix menghentikan kegiatanya, dan menatap Jova yang bergeming dengan pandangan yang kosong.
"Kenapa malah kamu mematung, apa ucapan aku kurang jelas?" tanya Felix ulang. Ah, kali ini nada bicara laki-laki itu sangat berbeda dari biasanya lebih sopan.
"Bukan, bukan kurang jelas Tuan, tetapi saya bingung, harus duduk di mana?" tanya Jova dengan pandangan mata yang menunduk dan juga suara yang melemah.
Sontak saja Jova kembali tercengang dengan ucapan Felix. "Anda serius Tuan, saya duduk di ranjang itu?" Jova melihat tubuhnya yang belum sempat mandi, barusan dia pulang, langsung bermain dulu dengan anak angkatnya, untuk menghilangkan capenya dan itulah sebabnya dia belum mandi.
"Loh, kenapa? Apa kamu pikir aku akan menyakiti kamu?" tanya Felix dengan tatapan yang mengintimidasi.
Jova langsung menggerakan tanganya di depan dadanya. "Bukan, bukan itu maksud saya. Saya tahu Anda tidak mungkin berbuat macam-macam pada saya, karena saya bukan wanita tipe Anda, jadi saya tidak harus khawatir. Hanya saja saya belum mandi dan tubuh saya masih kotor, takutnya ranjang Anda malah kotor," jawab Jova dengan melihat tubuhnya. Ia menyesal kenapa pulang dari rumah sakit dia tidak langsung mandi, kan tidak malu jadinya tubuhnya masih bau. Sementara Felix sudah rapih.
"Kalau begitu kamu mandi dulu," ucap Felix, tidak memarahi Jova, sedangkan biasanya Jova tidak salah maupun salah akan selalu kena marah.
"Baik Tuan, kalau gitu saya pamit dulu untuk mandi," ucap Jova, dengan semburat senyum tipis yang tanpa dia sadari senyum tipis dari Jova menarik perhatian Felix. Jova bersiap akan kembali ke kamarnya untuk mandi dulu.
"Hey, kamu mau ke mana?" tanya Felix, justru menahan Jova, yang bahkan tangan kananya sudah memegang knop pintu.
__ADS_1
"Ka... bukanya kata Anda saya boleh mandi dulu," tanya Jova dengan memberika tatapan bingung, dia suaminya tadi yang mengatakan dia boleh mandi tapi suaminya juga yang menahanya.
"Mandi kan bisa di sini, di dalam kamar ini juga ada kamar mandinya, tuh." Felix menunjuk pintu kamar mandi dengan sedikit memonyongkan bibirnya dan gerakan dagunya yang menunjukkan di mana letak kamar mandinya.
Kembali Jova membelalakan matanya. "Anda yakin Tuan, saya mandi di sana. Sabun, pakaian dan segala macam punya saya ada di kamar saya." Jova bahkan bingung mau menujuk kamarnya dengan telunjuknya arah yang mana, sehingga ia hanya menggoyang-goyangkan telunjuknya, kanan dan kiri.
"Hay, Jojo kamu pikir di dalam sana tidak ada shampo, sabun atau apalah itu. Udah buruan karena kebaikanku biasanya ada waktu kadaluarsanya," ucap Felix. Laki-laki itu pun meletakan laptop di samping tubuhnya dan dia turun untuk mengampiri Jova yang terlalu banyak anu dan anu.
"Buruan, nanti kamar aku keburu terkontaminasi bau dari tubuh kamu, dan juga kuman, dan virus dari rumah sakit bisa saja menempel di tubuh kamu," ucap Felix dengan mendorong pundak Jova.
Jova pun yang sebenarnya sangat aneh dengan sikap Felix pun hanya bisa mematung dan tidak berani protes banyak pada laki-laki itu, dia mengikuti apa kata suaminya, masuk ke kamar mandi yang Jova lagi-lagi norak plus katro. Tidak ada gayung dan lain sebagainya.
Cukup lama Jova hanya berdiri mematung di balik daun pintu.
"Tuan, saya tidak ada pakaian lagi. Lebih baik saya mandi di kamar mandi bawah saja." Jova pun mencoba bernegosiasi lagi dengan Felix. Mungkin saja dia dalam mode baik kan.
Lagian kamar mandi bawah ada gayung dan juga ada tempat untuk wudhu dan lain-lain, yah tidak jauh beda dengan kamar mandi dia di kampung meskipun, jauh sekali perbedaan kemewahanya.
"Jo, kalau kamu tidak mandi juga, pintu kamar mandi aku kunci kamu semalaman tidur di kamar mandi yah."
Glek!! Jova langsung menelan salivanya kasar.
"Ah, biarlah, pakai baju ini lagi," batin Jova, wanita itu pun melangkahkan kakinya menuju shower yang lagi-lagi hanya dia tahu dari internet dan Televisi.
"Apa begini rasanya jadi orang kaya? Apa-apa mudah. Apa Felix tidak pernah merasakan mandi yang nimba air dulu dan membawanya dengan ember untuk mengisi bak mandi?"
__ADS_1