Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Pengakuan Felix


__ADS_3

Felix dan Arzen pun masih membahas tentang ke bohonganya yang Felix maksud, hilang ingat sebagian agar Jova tidak kepo dengan kehidupan pribadinya.


"Pokoknya kamu pastikan saja wanita itu jangan tanya-tanya soal keluargaku dan juga soal masa laluku, di saat ini dia masuk dalam kehidupanku di saat sekarang, maka yang dia harus tahu masa kehidupan aku yang saat ini dan masa depan itu pun kalau di masih kuat, bukan masa lalu, masa-masa terberatku," ulang Felix kali ini pandanganya dialihkan ke luar jendela menatap birunya langit di luar sana, yang cerah, berwarna biru dengan awan putih yang saling menggantung menambah keindahan cuaca di siang menjelang sore hari.


"Baik Bos, apa yang Anda inginkan akan saya penuhi, dan apakah ada lain lagi yang ingin Anda sampaikan pada Jova? Sikap atau cara dia berkata mungkin?"


Felix dalam sekejap diam, untuk berpikir mencari sikap ataupun cara wanita itu berbicara yang membuatnya kesal. Namun, dalam seperkian menit laki-laki itu menggeleng, sebagai tanda bahwa sikap dan perbuatan Jova tidak ada yang salah di mata dirinya, sejauh ini masih aman.


Tentu hal itu membuat Arzen sedikit terheran mengingat apa yang ia lihat setiap Felix bersama dengan Jova pasti akan ada saja yang terdengar seperti pertikaian dari kata-kata bosnya yang kurang menyenangkan, seperti menandakan kalau dia kurang menyukai Jova. "Anda yakin Tuan, soalnya saya lihat Anda justru seperti orang yang selalu marah dengan Jova selama ini, saya malah berpikir kalau Anda sangat membenci wanita itu."


Felix mengembangkan senyumnya tenduhnya. "Sampai detik ini cara dia berkata dan bersikap masih wajar, kalau akau terlihat membenci dia, itu hanya untuk hiburan semata."


Arzen pun nampak menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. "Jadi selama ini Anda marah-marah dengan Jova hanya ekting bos?" tanya Arzen yang mana ia sendiri pun merasakan kalau dia seperti di prank oleh bosnya itu.


"Ya tidak seratus persen ekting juga, kadang ada saja tingkah dia yang aneh bin nyeleneh, tetapi sejauh ini dia masih wajarlah, aku sendiri kalau dapat lawan bicara menyebalkan pasti juga melakukan respon yang kurang lebih sama dengan wanita itu."


Setidaknya sejak adanya Jova dia sedikit merasakan semangat, meskipun dengan cara-cara yang bikin wanita itu bertanduk, tetapi setidaknya harinya tidak lurus banget. Sedikit berkelok dan bergelombang di butuhkan untuk membuat hari-hari lebih berwarna itu yang Felix lakukan sehingga rasanya apabila tidak membua Jova kesal akan ada hari yang kelabu.


"Ah, akhirnya Anda sadar juga bos kalau Anda itu sangat menyebalkan," batin Arzen.


Di tengah-tengah obrolan tangan Arzen membuka ponselnya yang menandakan ada pesan, dan ternyata itu adalah pesan dari wanita yang saat ini sedang mereka bicarakan. "Oh, apa dia telinganya berdengung terus-terusan setelah dari tadi kami gibahi. Sehingga sekarang dia mengirim pesan padaku?" batin Arzen ketika melihat kalau Jova mengirim pesan untuknya.

__ADS_1


Diam-diam tangan Arzen pun membuka pesan yang Jova kirim.


[Malam ini kamu yang jaga bos kamu yah, aku tidak mungkin bisa tinggal di rumah sakit ini kalau malam.] itu adalah pesan yang Jova tulis.


Arzen pun tidak lama langsung mengetik balasan untuk wanita yang saat ini ada di depan ruangan bosnya. Mereka hanya dipisahkan oleh dinding saja.


[Alasanya?]


[Bukanya bos kamu mengatakan pekerjaan pengganti dan itu artinya seharusnya aku pun saat ini sudah pulang. Jadwal pulang kerjaku kalau di gudang jam tiga sore, saat ini bahkan sudah lewat dari pukul tiga.] Bibir Arzen tanpa sengaja melengkung dengan sempurna ketika ia membaca pesan balasan yang di kirim oleh Jova.


"Ck... perhitungan sekali wanita ini," gumam Arzen dengan suara yang cukup kencang, hingga Felix memalingkan padanganya pada asistenya yang saat ini sedang tersenyum dengan pandangan mata ke layar pintarnya, dengan jari jempol siap menari di atas keyboard ponselnya.


"Ada apa Zen?" tanya Felix yang penasaran. "Siapa yang perhitungan?" imbuh Felix, dengan  kedua bola matanya menyorot Arzen seolah ia tidak ingin ada kebohongan.


"Sejak kapan kamu jadi perhitungan bukanya kamu adalah orang yang  tidak akan membuang waktu untuk cahating untuk mengurus masalah seperti itu. Kalau tidak cocok dengan pelayanan toko itu kamu ganti toko saja, kenapa harus membuang waktu kamu untuk menanggapi toko online yang tidak bisa menghargai pembeli."


"Ah iya Tuan, ini makanya saya akan mengganti dengan toko yang lain," balas Arzen ada rasa lega setidaknya Felix percaya. Yah, saat ini mungkin ia bisa berbohong, tetapi tidak menjamin kedepanya ia juga akan curiga bahwa Arzen diam-diam sering bertukar kabar dengan Jova, apalagi saat ini ia sedang terlibat obrolan dengan Felix bisa-bisanya Arzen bertukar kabar dengan wanita yang menyandang setatus istri bosnya. Meskipun yang mereka bahas bukan perselingkuhan, mereka hanya membahas soal waktu kerja, tetapi tetap saja Arzen merasa telah bermain-main dengan api.


Tinggal menunggu waktu saja, kalau tidak berhati-hati maka tubuhnya akan terbakar oleh api yang ia ciptakan sendiri.


[Kamu masuklah, dan bertanya sendiri pada bos kamu,] itu adalah balasan yang Arzen kirimkan untuk Jova.

__ADS_1


[Histtt... Kenapa bukan kamu saja yang ngomong, kalau aku yang bertanya dia akan marah,] dalam waktu singkat pesan pun masuk kebali dari Jova.


[Kalau aku yang bilang, justru bos kamu juga tidak akan percaya.] Itu adalah pesan yang terakhir Arzen kiri, setelahnya ia masukan ponselnya ke dalam kantung celananya. Biarkan kalaupun Jova membalas lagi paling ia akan protes dengan dirinya. Bukan Arzen tidak ingin bantu, tetapi apabila Jova yang berbicara langsung Felix akan lebih percaya.


Sementara Jova di depan ruangan pun tak henti-hentinya bibirnya mengumpat Arzen yang tidak mau membantunya, "Dia kenapa sih, sekarang jadi ketularan Felix, padahal sebelumnya Arzen adalah laki-laki yang sangat baik dan selalu menolong, tetapi kenapa saat ini malah laki-laki itu sebelas, dua belas dengan bosnya."


Ingin Jova memakai dua laki-laki yang ada dalam ruangan itu.


Namun, bagaimanapun  kesal marah dan jengekelnya Jova pada Arzen ia tetap mengikuti saranya. Dalam hatinya tentu sembari melangitkan doa-doa kebaikan sebelum masuk ke dalam kamar bosnya.


"Bismillah semoga jin penunggunya sedang dalam mode baik."


Tokkk... Tokkk.... Jova membuka hendle pintu begitu terdengar sahutan dari dalam.


"Ya Tuhan, kenapa dua laki-laki itu semuanya menatap ke aku, sepertinya aku sangat cakep," batin Jova dengan rasa yang gerogi.


"Masuk Jo, kamu bicaralah dengan Bos apa yang kamu inginkan." Arzen pun beranjak dari duduknya, dan kini ia berjalan ke sofa untuk kembali melanjutkan pekerjaanya. Sisil sudah mengirimkan email dan itu tandanya panggilan untuk dirinya agar segera menyelesaikan pekerjaanya.


Sementar Itu Jova semakin merasa tatapan Felix sedang menguliti tubuhnya. Padahal Jova belum mengatakan apa-apa tapi Felix sudah menatapnya terus menerus.


"Ya Tuhan kenapa Engkau kirimkan manusia seperti ini jadi suami, bos, serta pasien aku," jerit Jova dalam hatinya.

__ADS_1


"Apa kamu hanya akan duduk, diam dan menundukkan? Kamu sudah membuang lima menit waktu berhargaku untuk menunggu kamu ngomong. Kalau sampai dalam sepuluh menit masih dia juga. Aku hukum kamu hitung rumput yang ada di Gelora Bung Karno!!"


#Nah loh Jo hukuman dari bosmu emang gak main-main ngadi-ngadi nya.....


__ADS_2