Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Meratapi Nasib


__ADS_3

"Aku bahkan sempat berdoa agar Tuhan menjemput nyawaku saat itu juga. Tetapi Tuhan tidak mengabulkanya. Aku sempat bertanya-tanya kenapa Tuhan kejam sekali kenapa tidak mencabut nyawaku. Kira-kira kamu tahu tidak kenapa aku tidak diizinkan Tuhan untuk berpulang ke pangkuan_Nya saat itu juga?" tanya Sumi dengan tatapan yang serius menatap Jova.


Jova pun hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Aku tidak tahu," jawab Jova dengan suara lirihnya.


"Itu semua karena Tuhan tahu kalau aku mati, aku tidak bisa membantu kamu, tidak bisa memberikan dukungan pada kamu. Kamu membutuhkan aku. Dan aku sekarang ada untuk memberi dukungan pada kamu. Kali ini aku bersyukur karena Tuhan waktu itu tidak mengabulkan doa aku. Coba kalau Tuhan mengabulkan doa aku, kamu sekarang akan sangat sedih karena tidak ada aku yang memberikan kekuatan untuk kamu." ucap Sumi dengan gaya sombongnya. Hingga Jova menepuk jidat, karena punya teman masa kecilnya semperti Sumi.


"Kamu memang terbaik.  Aku jadi menyesal kenapa dulu saat kamu ada masalah aku tidak ada, dan saat aku tergulung dengan masalah kamu adalah orang yang yang nomor satu memberikan aku dukungan. Maafkan aku yang tidak peduli saat kamu dulu ada masalah," ucap Jova dengan menatap Sumi yang berkaca-kaca.


"Hist... lupakan hal itu, aku sudah mengikhlaskanya. Aku sudah belajar untuk melupakan masalah itu, dan aku sekarang bahagia dengan hidup aku yang sekarang lebih tenang. Kamu juga harus semangat agar kita bisa kumpul bersama-sama lagi." Sumi kembali memberikan semangat untuk Jova.


"Tapi masalah yang aku alami beda Sum, masalah yang menimpa aku lebih berat, aku sendiri tidak yakin kalau aku akan bisa bebas," jawab Jova dengan kembali bersedih.


"Jo, kamu harus yakin. Kalau kamu tidak bersalah mari kita berjuang bareng-bareng, kamu tidak boleh pesimis, kamu harus optimis, yakin kalau kamu pasti bisa membuktikan kalau kamu tidak bersalah. Di sini kamu yang jadi mata tombaknya, jadi kamu harus kuat, dan tidak mudah ditindas, kamu harus yakin kalau kamu bisa membuktikan kalau yang kamu lakukan itu bukan ketidak sengajaan. Kadang ketika kita merasa terancam kita memang berbuat di luar kendali, jadi ayok kita sama-sama berjuang bersama." Pengacara Prabu  memberikan semangat untuk Jova yang masih terlihat sangat terpukul dan pasrah.


Sementara Jova hanya menunduk pasrah.


"Betul Jo, kamu harus semangat, harus yakin dan ingat Bi Lasmi beliau butuh kamu. Kamu harus buktikan kalau kamu tidak bersalah. Almarhum Jini dan Mang Janu menitipkan Bi Lasmi pada kamu jadi kamu harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja. Yakinlah akan ada pelangi setelah badai," imbuh Sumi.

__ADS_1


Jova tertawa getir. "Iya Sum, aku juga sedang memikirkan nasib Ibu, aku sempat berpikir ujian terberatku adalah ketika aku kehilangan orang yang aku sayang sekaligus dalam waktu satu hari adik dan ayahku meninggal. Aku berpikir itu adalah badai ujian terberatku, dan aku yakin akan ada pelangi setelah badai besar itu, nyatanya tidak, awan cerah hanya hadir untuk sesaat dan kini aku kembali di hadapkan dengan ujian yang luar biasa berat. Aku bingung  Sum, apakah aku akan mampu menghadapi badai-badai yang mungkin di depan sana akan mengantamku dengan lebih kuat lagi?"


"Kamu pasti bisa, kamu adalah manusia pilihan, kamu pasti bisa melewati itu semua. Aku janji akan selalu menemani kamu apapun masalah-masalah kamu nantinya." Sumi menggenggam tangan Jova dengan hangat.


"Terima kasih bestie, kamu memang teman sekaligus sahabat paling baik, terbukti kamu selalu ada di saat aku susah." Jova memeluk Sumi.


"Iya dong, apalagi kalau kamu lagi jatuh aku selalu terdepan."


"Iya terdepan buat ngetawain aku," balas Jova dengan menepuk pundak Sumi.


"Itu adalah ciri-ciri sahabat terbaik Jo, temanya jatuh tertawa dulu baru dibantui kemudian."


Kini Jova pun sudah bisa sedikit terhibur dengan kedatangan Sumi. Dan wanita itu pun sudah bisa menceritakan kronologi kejadian, dari mereka ke luar dari pemakaman yang sudah sepi, ban kempes, dan yang tiba-tiba Felix dihampiri pengendara motor asing itu dan juga Felix yang diminta menyerahkan barang berharganya. Aksi Jova yang merekam kejadian itu dan teriakan temanya yang meminta agar menghabisi Felix dan Jova karena sudah mengenali wajah mereka, lalu Jova yang mempertahankan tasnya di mana ponsel itu ada di dalam tas itu dan Jova yang merasa terancam langsung mengambil batu besar dan menggunakan untuk memukul  kepala lawan hingga Jova tidak sadar lagi apa yang dia lakukan dan mendengar ringisan Felix, dan Jova baru menghentikan memukul preman itu dan membantu Felix, hingga tiba-tiba polisi dan tim medis datang.


Meskipun Jova sesekali menghentikan ceritanya, dan mengusap bulir air mata yang menetes. Butuh perjuangan untuk menceritakan itu semua. Hingga tanpa sadar dia telah menyelesaikan ceritanya.


"Baiklah, dari kesaksian kamu, nanti akan  Om selidiki, dan sekarang tim Om juga sedang mencari bukti-bukti untuk  menguatkan kalau kamu tidak bersalah. Kamu tenang saja yah, semuanya serahkan sama Om."

__ADS_1


"Terima kasih Om, atas bantuanya, kini Jova bisa sedikit lebih tenang," balas Jova meskipun dia tidak bisa membayangkan tinggal di dalam bui entah sampai kapan.


Setelah obrolan selesai mereka pun pamit untuk pulang, dan melanjutkan tugasnya.


"Jo, aku pulang yah, kamu yang kuat yah, kamu pasti bisa melewati ini semua." Sumi kembali memberikan semangat untuk Jova.


"Terima kasih Sum, maaf kalau aku hanya merepotkan kamu. Aku titip Ibu yah Sum, aku percayakan Ibu sama kamu, dan  semoga Ibu tidak kecewa dengan aku, yang bodoh ini" ujar Jova dengan suara yang terdengar berat kembali.


"Kamu tenang saja, Bi Lasmi pasti akan selalu mendoakan kamu. Seorang Ibu pasti tahu anaknya bersalah atau tidak. Bi Lasmi tidak akan mudah percaya begitu saja, ikatan batinnya dengan kamu pasti lebih kuat."


Jova pun mengembangkan senyumnya. Kini dia kembali sendiri lagi setelah Sumi, dan pengacara Prabu pulang. Sendiri tinggal di dalam penjara, tidur hanya dengan alas seadanya dan juga dengan orang-orang yang tidak Jova kenal sama sekali, bahkan banyak yang menatap sinis pada Jova. Makan, entah makanan apa yang akan ia gunakan untuk mengganjal perutnya kala lapar melanda.


"Mas, apa kamu di sana baik-baik saja?" gumam Jova di mana wanita itu sedang duduk beralaskan ubin dan kaki dia tekuk meratapi nasibnya yang masih terus diterpa masalah.


"Ayah, Jini, maafkan Mbak yang belum bisa menjaga Ibu."


"Ibu, maafkan Jova yang membuat ibu cemas dan mungkin malu karena Jova telah membuat kesalahan terbesar."

__ADS_1


"Siapapun yang meninggal karena kemarahanku, percayalah aku tidak sengaja membunuh kamu. Aku hanya membela diri."


__ADS_2