Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Rahasia Takdir


__ADS_3

Saat ini Felix dan Jova sudah sampai di rumah duka. Seketika kesedihan sangat terasa dalam pekatnya pagi, di mana saat ini jam masih menujukan empat pagi suasana pun terasa dingin dan sepi. Sehingga rasa kehilangan kembali menyelimuti mereka terutama Jova, meskipun tidak dipungkiri Felix pun merasakan kehilangan, rasa kehilangan ketika ia ditinggal oleh sang ibu kembali terasa. Felix mengusap punggung Jova, ketika wanita itu sudah kembali terisak. "Kamu yang sabar yah, tunjukkan pada Jini kalau kamu ikhlas dan tidak sedih."


Jova pun mengangguk dengan lemah, tetapi bohong kalau Jova bisa seperti itu menunjukan ikhlas dan tidak sedih, sekeras apapun Felix memberikan nasihat tetap saja sulit, di saat baru datang saja kesedihan lebih menguasai perasaan Jova. Lalu bagaimana dia bisa bersikap ikhlas dihadapkan jasad sang adik?


Dengan langkah yang berat pasangan suami istri itu masuk ke rumah sedehana di mana di dalam rumah sudah banyak orang yang mendo'akan Jini.


Tangis kembali pecah ketika Jova langsung berlari menghambur memeluk tubuh kaku adik kecilnya. Felix pun di belakang Jova terus mengusap-usap punggung istrinya. "Sabar Jo, kamu harus ikhlas dan kuat," ucap Felix sementara Janu dan Lasmi hanya duduk bersender pada dinding rumahnya yang sudah mengelupas di beberapa titik.


Bahkan kedua mata Lasmi sudah sangat merah karena sejak tadi menangisi putrinya begitupun Janu yang terlihat sangat sedih dan menyesal.


Tangan Jova membuka kain penutup wajah adiknya, di mana Jini memang sudah siap untuk di makamkan, pakaian terakhirnya sudah menempel rapih di tubuh Jini.


"Jini, kenapa kamu bohong sama Mbak. Kenapa kamu malah tinggalin Mbak, kalau kamu tidak ada Mbak akan bermain dengan siapa? Mbak akan cerita masalah Mbak pada siapa, kamu adalah adik serta teman terbaik Mbak, tapi kenapa kamu tinggalkan Mbak? Katakan Mbak harus apa tanpa kamu?" Jova terus mengajak bicara Jini dengan suara yang pelan, seolah ia sedang berbisik pada Jini.


Jova melihat wajah Jini meskipun pucat dan bibir yang sudah membiru, tetapi cantiknya  tidak hilang. Jini memang anak yang cantik, dan tidak banyak berbicara, terutama dengan orang baru, termasuk dengan Felix dia lebih memilih untuk pergi dan juga memilih untuk  tetap di kamarnya dari pada beramah tamah dan mengontrol hal yang tidak penting. Namun ketika dengan Jova nyamuk lewat pun akan dibicarakan oleh mereka.

__ADS_1


Kenangan bersama Jini terus di coba diingat-ingat oleh Jova untuk mencoba mengikhlaskannya. Jova terus mengajak bicara Jini, bercerita dari dia pertama kali ke Jakarta, dan bekerja dengan teman-teman yang baik, dan juga semua yang ia jalani selama di Jakarta pun tidak luput dari Jova ceritakan, seolah Jini memang mendengarkanya. Tentu tanpa lupa Jova juga menceritakan siapa cemong yang menurut Jova adalah makhluk Tuhan paling mengerti dia.


Sudah lama Jova ingin menceritakannya pada Jini, tetapi kesempatan yang belum ada, tetapi siapa sangka skenario Tuhan sangat tidak bisa ditebak. Jova belum bercerita tetapi justru Jini sudah berpulang.


"Jini, Mbak minta maaf yah, kalau selama hidup kamu Mbak ada salah sama kamu, jujur saat ini Mbak sedang hancur banget bingung mau memulai dari mana tanpa kamu. Kamu adalah salah satu tujuan Mbak kuat ngadapin hidup yang keras ini."


Felix di belakang Jova terus mendengarkan apa yang Jova katakan yang mampu membuat hatinya bergetar, yang ternyata nasib Jova juga tidak lebih baik dari dia,Jova sama-sama di tinggalkan orang yang berharga untuknya. Meskipun tidak sampai depresi seperti Felix yang hampir kehilangan arah karena kepergian ibunya. satu-satunya orang yang sangat berpengaruh pada dirinya, dengan semua yang berhubungan dengan kehidupannya. Saat itu Felix depresi karena bingung apa yang harus dia lakukan tanpa ibu yang selama hidupnya selalu menjadi penasihat dan perduli dengan Felix.


Laki-laki itu berpikir kalau tanpa ibu dunia hancur, dan itu memang benar hidupnya tidak ada warna dan tidak ada semangat hingga di kehilangan rasa simpati dan rasa belas kasih terutama dengan papahnya orang pertama yang seharusnya menjadi penguat untuk ibu dan Felix nyatanya justru menjadi orang pertama yang merusak pondasi pertahanan sang ibu.


"Mbak kita makamkan Jini sekarang yah. Ke inginan terakhir Jini sudah di penuhi. Adik kamu hanya ingin bertemu dengan kamu," ucap Janu dengan suara berat dan serak.


Jova hanya mengangguk lemah. "Maafkan Jova karena Jova tidak bisa membantu kalian untuk menjaga Jini, maafkan Jova juga tidak ada saat Jini membutuhkan Jova." Lagi, Jova semakin teriris ketika melihat Lasmi yang terlihat sangat kehilangan. Meskipun tidak memungkiri Janu dan Jova juga merasa kehilangan tetapi hati seorang wanita yang melahirkan buah hatinya dan melihat buah hatinya tidak bernyawa, kehancurannya sudah tidak berbentuk lagi. Kalau ada yang berkata ikhlaskan karena itu yang terbaik untuk buah hati yang telah berpulang dan berdoalah agar kalian berkumpul kembali kelak. Rasanya sebagai seorang yang telah mengandung dan melahirkan, ingin meminta pada Sang Khalik agar saat ini juga ia di pertemukan dengan buah hatinya dan berkumpul lagi.


Pada kenyataanya adalah hatinya akan tetap berduka selamanya. Rasa tidak akan melupakan kehilangan orang yang dicinta, ini hanya soal belajar untuk hidup tampanya. Ia akan sembuh dan akan membangun kembali diri yang hancur di tengah rasa kehilangan yang menyengsarakan. Kehidupan mungkin akan kembali menjadi utuh lagi, tetapi tidak akan ada rasa yang sama lagi. Kehilangan akan terus membekas dan menjadi luka yang terus membekas. Sedih yang sampai tidak bisa diluapkan lagi adalah sedih yang sangat dalam. Sudah sampai pada titik kesedihan yang terdalam. Itulah yang saat ini dirasakan Lasmi.

__ADS_1


Bukan dia tidak sayang pada Jova dan mengabaikanya, tetapi sosok Jini yang kuat dan selalu menasihati orang-orang agar kuat di tengah dia sendiri tengah merasakan lelahnya berjuang, membuat Lasmi semakin teringat akan kenangan itu.


Setelah semua beres kini mereka pun mengantarkan Jini ke rumah terakhirnya. Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk melindungi Jini.


"Tuhan telah memberikan begitu banyak nikmat kepada hidupku. Baik itu nikmat yang aku sadari maupun tidak aku sadari. Lalu Tuhan juga menguji aku dengan segala ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan perasaan. Aku juga sempat berputus asa atas semua ujian yang telah Tuhan berikan. Namun, aku selalu teringat kembali bahwasanya orang yang beriman tentu percaya bahwa kekuatan Tuhan tiada batas. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan bisa merubah masalah yang kita hadapi dengan sebuah kenikmatan, dan kemudahan. Tuhan bisa dengan mudah mengobati orang sakit menjadi sehat. Hingga  aku kembali yakin bahwa kekuatan Tuhan itu pasti akan datang." Jova terus menatap kosong pada orang-orang yang membantu memakamkan Jini.


"Kenapa lagi-lagi ketika aku berharap sangat tinggi dan mempercayakan semuanya pada Tuhan, ternyata Tuhan kembali memberikan cobaan yang teramat dahsyat, harapanku dihempaskan dengan begitu kuat hingga kehancuran di depan mata." Itu yang Jova rasakan ketika perlahan tubuh kecil adiknya di timbun dengan tanah. Bahkan Lasmi sudah tidak sadarkan diri sejak melihat sang suami mengazankan untuk terakhir kalinya buah hatinya.


Jova bukan tidak sedih, tetapi dia sendiri masih berharap bahwa keajaiban Tuhan akan datang janji Tuhan akan bernar-benar di tepati dengan bangunya sang adik. Namun, ia tersentak kaget bahwa apa yang ia harapan adalah kesia-siaan belaka.


"Hanya kepada Allah, aku mengadu kesusahan, dan kesedihanku, dan dari Allah juga aku mengetahui apa yang tidak aku ketahui. Semoga rahasia yang Engkau rencanakan saat ini adalah kebaikan untuk kami di hari yang akan datang."


"Jini, kamu sudah tidak sakit lagi. Kamu sudah sembuh. Mungkin memang ini adalah cara Tuhan untuk menyembuhkan kamu. Kamu sekarang sudah benar-benar sembuh untuk selamaunya. Maafkan kakak kamu yang tidak bisa hadir saat terakhir kamu ingin betemu."


"Tapi lihatlah Jini, Mbak mengantarkan kamu sampai ke rumah kamu yang baru. Semoga kamu bahagia di dalam sana. Sampai kapan pun kenangan bersama kamu adalah kenangan terindah yang akan Mbak buat untuk cerita yang manis."

__ADS_1


"Jini kamu telah meninggalkan kami dengan kenangan indah, cintamu, tawamu, dan kebaikanmu masih menjadi obat bagi lelah kami. Meskipun kami tidak lagi bisa melihat kamu dengan segala keisenganmu, tapi kamu akan selalu ada dalam batin kami. Beristirahat lah dengan damai wahai adikku tercinta, tetaplah hadir untuk kami yang rindu akan ceritamu walaupun itu hanya dalam mimpi."


__ADS_2