
Detik kini terus berganti menit, dan menit merangkak berganti jam, sedangkan jam bergulir berganti hari dan tanpa terasa sudah seminggu Jova menjaga ibunya di rumah sakit. Hari ini adalah hari kepulangan Lasmi, dan juga hari ini Felix akan datang ke kampung halaman Jova dan Lasmi serta Jova akan tinggal di Ibu kota tentu bersama dengan sang ibu yang akan ikut kemana pun Jova pergi.
Kondisi Lasmi pun sudah jauh membaik baik dari sakit fisiknya hingga mentalnya sudah bisa menerima kenyataan kalau Jini dan juga suaminya sudah berpulang ke Sang Pemilik Kehidupan.
"Apa kalian sudah siap?" Tiba-tiba suara yang sudah Jova kenal pun masuk ke dalam kamar rawat Lasmi. Jova pun membalas dengan senyum mengembang sempurna.
"Kok kamu udah di sini Mas? Bukanya tadi bilang katanya kemungkinan sampai sore?" tanya Jova sembari tangannya terus merapihkan barang-barang yang akan dia bawa pulang. Seminggu Lasmi dirawat di rumah sakit sehingga barang bawaannya cukup banyak dari baju ganti hingga selimut dan lain sebagainya. Bahkan Felix sampai bingung dan mengira kalau mereka sedang pindahan. Berbeda saat ia di rumah sakit pulang hanya membawa barang seperlunya saja.
Yah, hubungan Jova dan Felix kini sudah makin dekat, semenjak meninggalnya Janu dan Jini, Felix benar-benar membuktikan ucapanya. Bahkan setiap hari Felix selalu melakukan panggilan telepon dan bertukar kabar dari mulai membahas apa saja hingga membahas kondisi Lasmi. Wanita paruh baya itu sendiri juga sekarang sudah bisa menerima Felix dan juga bisa menerima keadaan keluarganya.
Lasmi sudah lebih dulu berjalan ke mobil dengan di bantu oleh Arzen yang ternyata dia ikuti juga ke kampung halaman Jova untuk bergantian mengemudi di mana kebetulan mereka sedang libur bekerja. Dan soal juragan Guntoro yang menginginkan rumah Jova. Semenjak Felix mengatakan akan membuatnya hancur, mereka tidak lagi mengusik rumah itu.
Setelah Lasmi sembuh wanita itu juga bercerita yang sebenarnya terjadi.
*******
Flashback
Malam itu setelah Janu menerima uang dua ratus juta laki-laki itu pun kembali ke rumah sakit, tetapi seperti yang ia takutkan. Memang ada yang mengikuti mobil yang ia bawa. Dan di tengah jalan yang sepi Janu di rampok. Dan yang membuat curiga adalah kenapa kalau memang rampok kendaraan roda empat yang Janu pinjam dari desa tidak juga ikut diambil malah mereka hanya mengambil uang itu.
__ADS_1
Masih sedikit beruntung Janu membagi uang-uang itu menjadi beberapa bagian dan di sembunyikan di tempat yang tidak mungkin di curigai, seperti di bawah karpet mobil dan juga bawah kursi mobil. Sehingga Janu masih bisa memberikan perlayanan untuk Jini, meskipun itu tidak berlangsung lama karena memang pengobatan Jini yang sangat malah. Bermodal dari pengakuan itu Felix langsung menemui papahnya dan mengancam akan membuatnya hancur, Felix benar-benar marah di luar batas yang selama ini dia tahan, apabila memang Guntoro masih mengganggu Jova. Itu sebabnya kini Jova bisa bernafas lega karena juragan Guntoro tidak lagi mengganggunya. Entah manusia serakah itu benar-benar tobat atau justru hanya sedang menunggu waktu yang tepat?
Kini Jova dan Felix pun berjalan beriringan untuk menuju kendaraanya dan bersiap akan pulang. Sesekali Jova maupun Felix tersenyum dengan cerita-cerita yang mereka bagi, dan tidak jarang juga mereka sempat tertawa dengan lepas.
"Fel... Felix..." Tiba-tiba ada suara wanita yang tidak di kenal oleh Jova, dan kalau didengar dari suaranya seperti orang yang cukup dekat dengan suaminya. Berbeda dengan Jova yang tidak kenal dengan suara itu. Felix justru sudah sangat kenal dengan suara itu.
Felix langsung membalikan tubuhnya. Sesuai yang Felix tebak bahwa wanita yang memanggilnya adalah mantan kekasihnya.
"Naya... ngapain kamu di sini?" tanya Feix dengan suara yang terdengar dingin. Awalnya Jova sedikit ada rasa kesal dan cemburu karena Felix ada yang memanggilnya. Mana dia adalah wanita yang cukup cantik dan penampilanya menggoda.
Namun, setelah mendengar kalau suara Felix dingin Jova pun sedikit lega.
"Oh, aku baru saja menjemput mertua aku yang baru ke luar dari rumah sakit," balas Felix dengan wajah yang terlihat bahagia. Jova pun sama merasakan lega setidaknya suaminya tidak menutupi hubungan mereka.
"Oh, kamu sudah menikah?" tanya Naya, terlihat wajah kecewa dari wanita itu.
"Alhamdulillah sudah ini istri aku," Felix memperkenalkan Jova, dan Jova pun langsung mengenalkan diri dengan mengulurkan tanganya, dan Lagi lagi Jova bisa lihat kalau Naya terlihat seperti malas untuk membalas uluran tangan dari Jova.
"Kenalkan Mbak, saya Jova istrinya Mas Felix dan kita baru menikah, baru satu bulan yang lalu," ucap Jova dengan nada yang menujukan kalau mereka sedang bahagia-bagaianya.
__ADS_1
Naya membalas uluran tangan Jova dan menyebutkan namanya meskipun wanita itu sudah yakin kalau Jova pasti sudah tahu nama dirinya.
"Oh iya Felix apa nomor ponsel kamu masih yang dulu?" tanya Naya terlihat sekali kalau wanita itu tidak suka dengan Jova yang dengan sengaja memanasi dirinya.
"Sudah ganti Nay," balas Felix dengan santai.
"Apa aku boleh memintanya, jujur aku sejak suamiku meninggal dunia aku kesulitan ekonomi apalagi anak aku juga sakit yang cukup parah sehingga aku berniat untuk kerja lagi." Naya seolah tengah menjual kesedihanya.
"Oh suami kamu sudah meninggal dunia, aku turut berdukacita, apa kejadianya sudah lama? Terus anak kamu sakit apa?" cecar Felix terlihat cemas, ingin Jova mencubit pinggangnya, tapi ingat dia tidak boleh kasar nanti suaminya hilang benaran. Jova juga harus bermain halus biar para ulat-ulat bulu tidak gatal di depan suaminya. Apalagi Felix terlihat perhatian sekali pada Naya.
"Baru dua tahun Fel, kecelakaan pesawat yang sempat heboh itu dan suami aku salah satunya, dan soal sakit anak aku dia mengindap sakit bawaan yang harus kontrol rutin. Seperti sekarang dia kecapean sedikit saja maka sakitnya akan kembali kambuh sudah hampir dua minggu di rumah sakit." Naya terlihat sangat sedih Jova sendiri akui dia adalah wanita yang kuat tanpa suami bisa tetap membiayai anaknya yang sakit bawaan. Namun Jova juga bukan berti harus lengah dia harus hati-hati sama Naya karena taruhanya suaminya gimana kalau Felix malah berpaling pada Naya? Oh tidak Jova harus kuatkan barisan.
"Gini saja deh Nay, berhubung aku udah nikah aku kasih nomor ponsel istriku saja yah, nanti kamu bisa nitip pesan sama dia untuk di sampaikan ke aku. Kalau mau kerja lagi aku juga tidak akan melarang kamu kerja lagi di kantorku, itu juga kalau ada bagian yang kamu mau nanti aku katakan pada Jova." Felix menujuk Jova yang wajahnya sudah di tekuk. Sontak saja Jova langsung girang ketakutanya setidaknya tidak harus begitu hebat karena ternyata Felix masih menghargainya sebagai istri.
Jujur Jova takut mereka bertukar nomor telepon dan nanti berkomunikasi di belakang Jova dan bermain-main api.
Namun kalau nomor Jova yang diberikan setidaknya Jova masih bisa mengontrolnya.
...****************...
__ADS_1