
"Kamu itu sebenarnya cari kontrakan yang seperti apa sih Sum? Udah lima kontrakan kamu batalkan semuanya, sedangkan kontrakan itu sudah termasuk dekat dengan kantor, dan juga murah," umpat Arzen yang cape diajak muter-muter oleh Sumi yang nyari kontrakan, tetapi tidak ada yang dia ambil dengan alasan belum cocok tempatnya. Padahal dalam kenyataanya bukan belum cocok, tetapi uang dia yang tidak cukup untuk biaya kontrakan di Jakarta yang tidak Sumi pikir akan sangat-sangat mahal.
Sumi duduk di bangku taman yang saat ini mereka berada. Pandangan matanya lurus ke depan, mencoba kembali menimang-nimang keputusan untuk mengontrak.
"Sum... Kamu kenapa sih?" tanya Arzen ulang yang melihat kalau Sumi seperti tengah bingung. Benar saja wanita itu langsung mengerjapkan kedua matanya.
"Kamu ngomong apa Zen?" tanya Sumi balik, nah kan wanita itu mulai nguji kesabaran Arzen. Ingat Arzen dan Felix adalah asisten pribadi dan bos yang mana kesabaran Arzen juga tidak setebal kamus bahasa inggris lima ratus milliar. Dia hanya sabar ketika berurusan dengan Felix karena dia digajih, tetapi kalau berurusan dengan Sumi dia juga langsung bertanduk ketika wanita itu diajak ngobrol nggak nyambung.
"Tau ah, gue cape mau pulang, matahari juga sampe males nemanin kamu cari kontrakan kagak nemu-nemu, mending gue pulang," ucap Arzen sembari beranjak dari duduknya bersiap pulang, tetapi buru-buru di tahan oleh wanita berhijab itu.
"Tunggu Zen! Maaf kalau aku hanya buat kamu marah, cape dan kesal, tapi kontrakan tadi terlalu mahal," ucap Sumi pada akhirnya mengakui juga kalau uangnya yang hanya beberapa lembar saja tidak cukup untuk membayar kontrakan dan juga untuk pegangan dia nanti makan.
Huhh... Arzen menghela nafas kasar, " Uang kamu ada berapa?" tanya Arzen dengan serius.
Sumi menujukan angka satu dari jari telunjuk yang ia ancungkan.
"Satu juta?" tanya Arzen untuk mematikan saja. Sumi mengangguk pelan.
"Jova tahu, kamu hanya bawa uang segitu?" tanya Arzen mengetes saja. Dengan gerakan perlahan Sumi pun menggeleng.
"Kenapa?" tanya Arzen kembali.
"Aku tidak bisa tergantung terus dengan Jova, untuk diberikan pekerjaan saja aku sudah sangat bersyukur karena mereka yang sudah berbaik hati memberikan pekerjaan dengan gaji yang cukup besar, untuk kalangan seperti aku, aku tidak mungkin menambah beban mereka lagi," jawab Sumi dengan menunduk bingung.
"Tapi kalau kamu tidak minta bantuan dari Felix dan Jova, kamu mau minta bantuan dengan siapa lagi. Di Jakarta ini hanya mereka yang kamu kenal." Arzen kembali mengingatkan agar Sumi meminta bantuan dari Jova untuk semntara.
"Tidak deh Zen, aku tidak enak, mungkin aku akan cari kontrakan yang harga dua ratus atau lebih sedikit," jawab Sumi dengan percaya diri, sontak Arzen langsung terkekeh. "Ya Tuhan Sum, kamu mau muter satu Jakarta, kontrakan dua ratus yan enggak ada kecuali..." Arzen dengan sengaja menjeda ucapanya.
__ADS_1
"Kecuali? Kecuali apa?" tanya Sumi dengan antusias. Mungkin saja dia bisa memenuhi syarat 'tapi' yang Arzen katakan.
"Kecuali, kamu nikah dengan aku, dan kita akan tinggal dalam satu rumah yang sama," balas Arzen, dengan setengah terkekeh dengan renyah.
"Apaan nggak mau, nanti calon suamiku marah kalau aku nikah sama yang lain," balas Sumi dengan gaya menyombongkan diri.
"Baek-baek nanti gila kalau nggak keturutan nikah dengan Jungkook," ejek Arzen. Sementara Sumi hanya membuang nafasnya kasar. Setelah melewati perdebatan yang panjang dan melelahkan akhirnya Sumi pun kembali ke kontrakan pertama yang jaraknya hanya beberapa meter dari supermarket tempatnya kerja nanti. Tentunya dengan bantuan Arzen. Untuk menyewakan kontrakan itu.
Yah, Sumi memang akan kerja di tempat dulu Jova sempat bekerja, tetapi pastinya bukan penunggu gudang seperti Jova. Sumi lebih beruntung dengan bekerja di bagian kasir dan tentunya atas rekomendasi dari Arzen, dan atas persetujuan sang pemilik perusahaan, siapa lagi kalau bukan suaminya Jova.
Kita tinggalkan Sumi dan Arzen yang sedang beres-beres kontrakan baru, kita sekarang intip Mommy Jojo dan calon Dady tirinya cemong, sedangkan apa mereka?
"Aku nggak mau pulang," dengus Jova yang kesal gara-gara Felix, pakaianya sudah rusak. Yah, laki-laki itu menarik dengan paksa pakean Jova hingga sobek.
"Ya udah kalau gitu kita menginap malam ini di kantor, anggap ajah bulan madu," goda Felix dengan memeluk kembali tubuh sang istri yang masih polos.
"Tidak sendirian, ada Bi Suro, dan Sumi, malam ini Sumi masih nginap kan di rumah kita?" Kalau Jova punya seribu cara-cara beralasan untuk pulang, Felix juga punya sejuta cara untuk menghalau-nya.
"Mas, jangan nguji kesabaranku yah, karena kalau aku sudah marah, monas saja bisa aku pindahin ke Kalimantan loh," acam Jova dengan melebarkan matanya. Nah Felix pun bukanya nurut malah ngetes iman Jova yang setipis tisu.
Setelah melewati perdebatan, akhirnya Felix pun menyerah, malam ini mereka pulang, kencan ala ABG yang sempat Jova bayangkan pun tidak ada, itu semua karena suaminya yang mengurung dirinya di kamar pribadinya hingga satu permainan cetak gol. Bahkan Jova sampai heran kenapa bisa laki-laki itu baru juga tadi pagi di bercinta pergi sedikit udah minta lagi, apa memang seperti itu laki-laki selalu saja tidak mau meninggalkan kegiatan bercocok tanam?
Ah, entahlah yang Jova rasakan saat ini adalah dia benar-benar merasakan sakit sekujur tubuhnya, bayangkan saja ia di bolak-balik seperti sate yang tengah di panggang, dari di bawah, atas, samping, hingga kayang di cobanya.
"Kita makan dulu yah," ucap Flix yang bersiap akan membelokan kendaraan roda empatnya ke sebuah restoran mewah.
"Eh, enggak-enggak, aku nggak mau Mas," tolak Jova dengan suara yang mengiba.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Felix dengan aneh, padahal laki-laki itu yakin sekali kalau Jova pasti lapar.
"Tidak ingin aja, kasihan Ibu di rumah makan seadanya, masakan rumah. Kita malah makan enak," balas Jova, ia ingin apa yang dia makan ibunya juga makan.
"Kan bisa di bungkus untuk Ibu jadi Ibu juga tetap bisa makan enak," balas Felix, ia juga ingin memanjakan istrinya dengan makanan mewah seperti yang ia biasa makan.
"Lain kali saja Mas, aku benar-benar sakit tubuhnya," tolak Jova yang merasakan kalau tubuhnya seperti mau pada copot.
"Kalau gitu nanti aku panggil tukang utut mau nggak?"
"Boleh deh Mas, beneran kerja di atas ranjang ternyata lebih melelahkan daripada mengangkut barang di gudang," dengus Jova sembari memijit pundaknya.
"Tapi enak kan?" goda Felix dengan menoel pinggang sang istri.
"Nah, itu dia masalah, karena keenakan sampe kebablasan dan pada sakit semua." Wajah Jova pun memerah karena ia bicara kebablasan.
...****************...
Kita kenalan yuk sama sama Mommy-nya Cemong yang Felix bilang gayanya setengah-setengah, ngalahin gaya Sachi yang seksi. Ini diambil fotonya pas pulang nguli jadi kuli panggul di gudang.
Kalau ini waktu nunggu Felix di Rumah Sakit bosen-bosen, melipir angkringan untuk beli boba...
Jangan tanya Deddy-nya Cemong karena dia lebih jelek dari Cemong...
__ADS_1