Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Tergulung Penyesalan


__ADS_3

Entah alasan apa Jova pun tidak tahu, tetapi setelah pertemuanya dengan sang suami, kini dirinya dipindahkan kamar tahanannya, tidak lagi bersama-sama dengan temanya yang sebelumnya mereka bersama. Kali ini Jova tinggal di kamar sendiri, bahkan di lengkapi dengan kasur yang cukup a nyaman, dan juga kipas angin dan TV.


"Apa di penjara juga ada kamar seperti ini?" batin Jova, udah gitu dia sekarang tidak lagi diborgol seperti sebelumnya, kamar mandi pun tidak bersama-sama, tetapi ada sendiri menyatu dengan kamarnya. Meskipun Jova ingin protes, tetapi dia tidak jadi, karena pikiranya tahu pasti ada andil dari uang-uang suaminya, dan juga kedatangan pengacara Prabu pasti ada tujuanya, tidak mungkin Felix memanggil pengacara tanpa tujuan yang berarti.


Wanita itu pun merebahkan tubuhnya, ingin ia mengadu pada Tuhan, akan jalan takdir yang tidak pernah berpihak padanya, tetapi kemarahannya masih menguasai. Ada rasa kecewa pada takdir yang selalu mempermainkanya. Kini Jova hanya meratapi nasibnya dengan memandang langit-langit ruangan yang terlihat sedikit kotor. Meskipun ini bukan kamar yang nyaman, tetapi setidaknya lebih baik dari sebelumnya. Ia berharap dalam tidurnya bertemu dengan ayah dan adiknya. Jova ingin bercerita perjalanan hidupnya. Ia ingin memberikan pada ayah dan adiknya bahwa dirinya tidak bersalah.


"Kira-kira Jova sedang apa yah?" batin Felix laki-laki tu tidak juga kunjung bisa tidur. Dia masih terus membayangkan sang istri, rasanya dia tidak  bisa memejamkan mata ketika dia bisa tidur di atas kasur yang empuk dengan fasilitas kamar yang super mewah mau apa tinggal tunjuk sedangkan Jova, tidur dalam tempat yang sempit mungkin banyak nayamuk.


Apalagi Felix setelah tahu kalau Jova tidak bisa langsung bebas setelah bukti cukup. Ternyata Jova harus tetap menjalani sidang satu per satu untuk membuktikan bahwa apa yang Jova lakukan adalah dalam bentuk pembelaan. Keterpaksaan membela diri yang berujung hilangnya nyawa seseorang.


"Zen... bukanya tadi pengacara Prabu bilang semuanya bisa saja bebas kalau polisi menutup kasus ini?" tanya Felix, dia baru ingat kalau tadi ada pembahasan mengenai pembatalan kasus.


"Iya, tetapi untuk membatalkan suatu kasus tidak asal juga Bos, harus ada bukti kalau polisi melakukan kesalahan, seperti salah tangkap dan lain sebagainya. Kalau kasus Jova sepertinya harus melewati sidang satu persatu ya setidaknya tiga bulan baru bisa melakukan putusan dan berharap hakim menerima pengajuan kita dan bukti- bukti cukup kuat, dan bisa menggugurkan kasus jadi ketidak sengajaan yang sudah jelas diatur dalam undang-undang bahwasanya siapa pun yang melakukan perbuatan untuk membela diri sendiri, baik orang lain, tidak bisa di pidanakan. Kecuali..." Arzen kembali teringat akan kasus yang sempat firal itu dengan kekuatan nitijen, kasus yang bahkan tadinya sudah ketuk palu bisa gugur dan menjadi kasus ketidak sengajaan, bahkan sang pelaku yang sempat menjadi tersangka bisa menjadi duta untuk kesadaran masyarakat akan pentingnya membela diri.


"Kecuali  apa Zen?" tanya Felix dengan antusias mungkin saja Felix bisa menggunakan kesempatan yang terkecuali itu.

__ADS_1


"Kekuatan nitijen Bos, Apalagi yang dilakukan Jova itu sudah jelas pembelaan diri, karena alat yang dia gunakan batu yang kebetulan ada di lokasi kejadian, sedangkan ada salah satu kasus yang membunuh dengan piso yang ada di dalam jok motor yang akan dirampok saja bisa mendapatkan keringanan. Apalagi Jova di mana alat yang dia gunakan untuk melukai pelaku hanya batu yang kebetulan berada di samping Jova. Undah gitu ada bukti rekaman dari Jova, dan bukti rekaman cctv dari kamera yang terpasang di dashboard mobil Anda." Arzen dan pengacara Prabu yakin kalau kasus Jova akan di menangkan oleh Jova hanya untuk menyelesaikan sidang itu butuh waktu yang benar-benar cukup butuh kesabaran tingkat dewa. Karena membuktik itu semua ada tahapannya.


"Kalau gitu kenapa kita tidak gunakan cara yang itu saja? Aku juga banyak tahu kalau nitizen ketika sudah bergerak sampai keakar-akarnya akan segera teruangkap, bahkan kadang kekuatan nitizen melebihi segalanya," ujar Felix seolah laki-laki itu menemukan angin segar untuk membebaskan sang istri.


"Kita sudah sepakat dengan pengacar Prabu, untuk mengatasi masalah ini dengan mengikuti aturan hukum dulu, karena ketika nanti melibatkan nitizen kehidupan kita akan dikorek juga, saya takutnya nanti malah Anda dan Jova akan terkenal dan untuk waktu istirahat terganggu. Yang sudah-sudah mereka akan memburu Anda dan juga kehidupan Anda akan seperti serebritis, sedangkan Anda kurang suka dengan hal semacam itu," jelas Arzen dengan berhati-hati, agar Felix bisa mengerti keputusan mereka.


Felix pun diam sejenak apa yang diucapkan oleh Arzen memang benar, siap viral maka siap juga kehidupan pribadinya digali terus.


"Kalau gitu aku serahkan sepenuhnya dengan kalian, dan kalau bisa jangan terlalu lama prosesnya, aku kasihan dengan Jova," balas Felix, entah dia bilang jangan lama-lama terus. Mungkin kalau hukum bisa ia beli seketika itu dirinya akan membelinya agar sang istri bisa bebas dari jeruji besi itu.


"Kenapa kamu menertawakan aku, apa aku lucu karena terlalu mencemaskan Jova?" bentak Felix dengan mata nyalang menatap Arzen yang seolah meremehkan dirinya.


"Bukan itu Tuan, saya hanya tidak menyangka saja Anda bisa secemas ini dengan wanita, padahal biasanya Anda akan cuek dan tidak peduli, tapi dengan Jova, Anda sangat berbeda."


"Jelas dong Arzen, kalau bukan gara-gara aku yang keras kepala mungkin Jova tidak akan mengalami kesulitan ini, ibarat kata aku itu sedang ditegor agar tidak keras kepala, tetapi dengan mengorbankan orang yang peduli dengan aku. Jova sempat menahan aku agar jangan ke luar, tetapi aku tetap ke luar. Jova menahan aku, agar jangan lewat jalan itu, tetapi lagi-lagi aku lewat jalan itu. Aku memang terlalu keras kepala, aku terlalu yakin kalau yang ada di dalam otakku selalu benar nyatanya musibah tidak pandang buluh."

__ADS_1


Malam ini Arzen dan Felix terus terlibat obrolan, memikirkan bagaimana Jova tidur dan lain sebagainya. Felix benar-benar menyesal hingga dia mau tidur saja seolah tidak tega karena  dia bisa tidur dengan nyaman dan juga makan enak sedangkan Jova? Entahlah Jova bagaimana beratnya berada di dalam sana.


"Tuan, baiknya Anda tidur, ini sudah larut malam dan Anda juga harus tetap sehat agar bisa memberikan kesaksian untuk Jova." Arzen kembali mengingatkan bosnya yang keras kepala itu. Entah sudah berapa kali laki-laki itu mengingatkan Felix yang masih betah melamun.


"Aku tidak bisa tidur Zen, setiap mata aku mau merem aku terpikirkan Jova yang tidur dengan alas seadanya dan kedinginan," balas Felix padahal matanya sudah merah dan berair itu menandakan bahwa dirinya telah sangat lelah, tetapi entahlah, dia tidak bisa memejamkan matanya.


Felix juga merasa tubuhnya sudah merespon kurang enak, tetapi sekuat ia berusaha untuk tidur nyatanya rasa bersalahnya kebali menghampiri.


"Anda tenang saja Tuan, bukankan pengacara Prabu sudah mengatakan kalau beliau sudah bisa membayar satu kamar khusu untuk Jova, itu sudah lebih baik dari sebelumnya. Uang yang Anda keluarkan untuk mengurus itu juga tidaklah sedikit," bisik Arzen, ini adalah rahasia dirinya dan lembaga yang terkait jadi jangan sampai ada pihak-pihak yang mendengar dan bisa menggali rahasia di dalam sana. Rahasia, tetapi yang sudah jadi rahasia umum.


"Tetap saja Zen, aku jauh lebih enak dari Jova, padahal yang Jova lakukan untuk membela aku."


Arzen yang sudah lelah memberitahukan Felix pun meminta suster untuk memberikan obat tidur untuk Felix karena dia tahu Felix untuk saat ini tidak akan bisa diajak berbicara dengan baik-baik.


"Maafkan saya Tuan, saya melalukan ini untuk kebaikan Anda. Saya tahu Anda dikuasai rasa bersalah, dan Anda tengah berusaha menghukum diri sendiri. Namun, Jova butuh Anda nantinya, sehingga Anda harus tetap sehat."

__ADS_1


__ADS_2