
Felix begitu sampai di rumah sakit, langsung mengayunkan kakinya dengan setengah berlari. Laki-laki itu sudah tidak sabar ingin buru-buru sampai di kamar sang istri, dan melihat kondisinya.
Setelah bertanya pada resepsionis. Kini laki-laki itu sudah berada di depan ruangan sang istri. Yang hanya ditempatkan di ruang kelas tiga. Dengan perlahan Felix membuka pintu, kedua matanya menangkap punggung Jova yang bergetar, menandakan kalau sang istri tengah menangis. Laki-laki itu mengurungkan untuk masuk, dadanya semakin sesak ketika melihat tubuh Jova yang kurus tengah menangis.
Ia memang hampir tidak pernah melihat Jova menangis, tetapi Felix tahu kalau Jova pasti masih terus menangisi nasib hanya saja di hadapannya dia mencoba untuk tetap tegar. Di depan ruang rawat Felix hanya duduk dan sesekali menghiup nafas dalam dan menghenbuskanya perlahan. Hingga rasa sesak di dadanyasedikit hilang. Kembali laki-laki itu masuk ke dalam ruangan sang istri.
"Ehemz..." Seolah Felix ingin memberikan waktu untuk Jova menghapus sisa tangisnya. Benar saja Felix melihat tangan Jova langsung menghapus air matanya.
Jova membalik tubuhnya yang awalnya miring. "Mas, kamu tahu kalau aku dirawat di sini?" tanya Jova pura-pura tidak tahu, padahal dokter Evi sudah mengatakan kalau suaminya sedang dalam perjalanan ke sini.
"Kepala lapas yang langsung menghubungi aku, dan aku langsung ke sini. Kamu bagaimana keadaanya, Sayang?" tanya Felix dengan suara yang berat, Jova tahu kalau suaminya sedang mencoba untuk menahan tangisnya. Dia adalah laki-laki yang selalu bisa menahan kesedihanya.
"Terima kasih sudah menjenguk aku. Kondisi aku udah mendingan setelah habis satu botol infus." Jova menunjuk botol infus yang sudah kosong tergantung di samping botol infus yang masih baru dengan bibir yang di paksa tersenyum.
"Terus kata dokter kamu kenapa. Dokter udah memberitahukan hasil pemeriksaanya?" tanya Felix sembari tanganya mengusap keringat di kening Jova. Yah, sekarang dia merasa gerah setelah tadi dia kedinginan, kini justru kebalikanya.
Jova mengangguk dengan semangat. "Dokter hanya mengatakan kalau aku terlalu stres, dan aku kurang istirahat. Aku memang akhir-akhir ini terlalu setres menghadapi persidangan, aku terlalu takut kalau aku justru nanti tidak bisa membuktikan kalau apa yang aku lakukan itu salah satu membela diri. Aku belum siap kalau haru menghabiskan waktu lebih lama lagi di dalam penjara."
"Kamu jangan takut, aku dan semua tim akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu. Kamu yang tenang karena hanya butuh kurang lebih satu bulan maka kamu akan bisa mengetahui kalau kamu bersalah atau tidak." Felix memijit Jova, dan wanita itu pun membiarkanya biasanya dia akan menolak kalau disetuh oleh sang suami karena merasa bersalah, tetapi kali ini dia tetap diam dengan. Justru Jova merasa nyaman ada Felix di sampingnya.
__ADS_1
"Apa mungkin, bayi ini tahu kalau Felix ini adalah ayahnya," batin Jova, sembari terus menikmati pijitan dari Felix.
"Jo, kamu makan yah. Aku suapin, akhir-akhir ini kamu pasti tidak teratur makan sehingga tubuh kamu seperti ini, sakit dan coba deh lihat kamu sangat kurus. Pasti Ibu kamu sangat sedih kalau lihat kamu seperti ini." Felix mengambil jatah makanan untuk sang istri, tetapi Jova kembali menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Menandakan kalau dia menolak untuk makan.
"Kamu jangan bilang Ibu yah Mas, aku tidak ingin kalau Ibu akan sedih lihat aku sakit. Ibu tidak boleh kefikiran aku takut nanti Ibu juga ikut sakit."
"Ok, aku tidak akan bilang pada Ibu kalau kamu sakit, tetapi kamu juga harus janji kalau kamu mau makan, dan cepat sembuh."
Pandangan mata Jova menatap makanan yang tengah Felix pegang dan cukup lama menatapnya. "Mas aku tidak ingin makan-makanan itu. Aku sudah bosan hanya makan nasi sayur bening dan telor kalau tidak tempe ya tahu.
Serrrr... Jantung Felix seolah tercubit dengan hebat. Ketika mendengar ucapan Jova, dia makan di rumah dengan enak dan segala macam ada, mau apa dia bisa makan, sedangkan Jova justru hanya makan dengan menu yang itu-itu saja.
Cukup lama Jova berpikir.
"Ayolah, kamu mau makan apa biar aku belikan. Aku suka kalau kamu mau mengatakan apa yang kamu katakan." Felix tahu kalau Jova saat ini sedang merasa tidak enak untuk mengatakan apa yang dia mau.
"Aku ingin bebek bakar sambal hijau Mas," jawab Jova dengan suara yang lirih.
"Ok, baiklah kalau gitu kita cari apakah ada bebek bakar sesuai permintaan kamu tidak." Felix mengeluarkan ponselnya dan mencari menu yang Jova inginkan.
__ADS_1
Untungnya diaplikasi jual beli khusus online yang menyediakan aneka makanan banyak yang jual bebek bakar yang Jova inginkan.
"Kamu pilih sayang mau yang mana?" tanya Felix sembari memberikan ponselnya. Untuk beberapa lama Jova menggulir layar ponsel mencari yang menurutnya enak, dilihat dari penilaian, dan juga komenanya para pembeli.
"Yang ini Mas." Jova menunjuk salah satu warung yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.
"Ada lagi yang kamu inginkan?" tanya Felix setelah melakukan transaksi untuk bebek bakar yang ia beli, sekarang tinggal menunggu kurir mengantarkan pesanan mereka. Jova menggeleng dengan lemah. Sebenarnya Jova ingin meminta rujak bebek, tetapi dia takut nanti Felix akan curiga sehingga dia pun tidak jadi meminta untuk yang satu itu. Dia yakin kalau anaknya pasti akan memakluminya.
"Ayolah Jova, aku senang kalau kamu meminta sesuatu. Kamu tahu kan aku kerja banting tulang, hanya untuk kamu dan ibu kamu, kalau kamu terlalu hemat rasanya aku jadi tidak semangat untuk bekerja." Felix memaksa Jova untuk kembali membeli sesuatu, tetapi Jova tetap tidak mau hingga Felix yang memilihkan beberapa makanan tambahan yang menurutnya enak.
"Astaga ini rujak enak banget," batin Felix ketika matanya menatap rujak serut yang menggoda. Dia pun membeli dua porsi yang mungkin Jova mau. Tak lupa laki-laki itu juga membe buah untuk Jova. dan minuman yang tengah Viral, es boba. Setelah merasa cukup dengan beberapa pilihan menu kini Felix kembali meletakan ponselnya mengusap rambut Jova dan sesekali mengusap keringat yang menetes, di mana wanita itu meringkuk memegangi perutnya yang sebentar melilit, tetapi kembali hilang terus saja seperti itu.
"Kenapa perutnya sakit?" tanya laki-laki itu yang melihat kalau Jova memejamkan matanya seolah menahan sakit yang teramat.
"Mungkin karena ada sakit Maag jadi sedikit terasa perih," ucap Jova kembali bersikap biasa saja.
Felix mengambil kayu putih yang ada di atas nakas dan mengusap perut sang istri dengan gerakan asal, tetapi mempu membuat Jova merasakan nyaman.
"Aku tidak tahu ini benar tidak mengusapnya, tapi mungkin saja akan terasa lebih nyaman," ucap Felix sembari tanganya terus mengusap. Dan seolah calon buah hatinya tahu kalau yang mengusap adalah tangan ayahnya. Rasa sakit yang Jova rasakan pun perlahan hilang.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu suka kalau yang pegang ayah kamu?" batin Jova, sembari kelopak matanya memanas, ia ingin. menang lagi.