
Dengan langkah kaki yang terseok, dan tubuh yang terasa semakin lemas kini Jova berjalan ke ruang tunggu. Kembali air matanya jatuh semakin deras ketika dia tahu siapa yang datang. Tubuh Jova bergeming sulit untuk ia gerakan. Seolah dia merasakan kalau tubuhnya kaku.
"Sini Jo, aku kangen banget sama kamu," ucap Felix sembari merentangkan tanganya, meskipun rasanya sangat nyeri di bagian luka yang ia tarik. Sementara Jova hanya menunduk sedih. Dengan langkah yang tertatih, Jova kembali melanjutkan langkahnya, dan duduk di hadapan Felix yang terus menatap wajah sang istri yang disembunyikan.
"Jo, apa yang terjadi?" tanya Felix tangan sebelah kanan sudah ia gunakan untuk menyusuri wajah Jova yang merah.
Gigi laki-laki itu pun saling beradu, hingga terdengar bunyi yang saling bergemelutuk. "Apa ini sakit?" tanya Felix. Bodoh! Sudah jelas itu merah dan bengkak jelas sakit kenapa dia tanya hal yang tidak penting.
"Aku senang melihat kamu tidak kenapa-kenapa. Aku takut, Tuhan akan mengambil kamu sama seperti Tuhan mengambil adik dan ayahku. Aku takut ucapan kamu tadi pagi adalah ucapan perpisahan. Aku terlalu takut orang yang aku sayangi perlahan meninggalkan aku, dan aku sendirian meratapi nasib, tanpa ada yang perduli," ucap Jova masih dengan menunduk dan air mata yang sudah mengalir deras. Air mata kerinduan dan kebahagiaan karena bisa melihat Felix baik-baik saja.
"Arzen, tolong datangkan pengacara Prabu ke sini," ucap Felix pada Arzen yang juga hanya bisa diam dengan tenggorokan yang sakit, terutama melihat kondisi Jova.
"Aku akan buat perhitungan sama siapa pun itu yang berani berbuat kurang ajar terhadap kamu," balas Felix tidak menghiraukan ucapan Jova yang sedang berusaha untuk mengalihkan konsentrasi Felix.
"Aku baik-baik saja, kamu jangan terlalu cape. Aku tidak mau kamu nanti sakit lagi, kamu harus kuat, kamu harus terus menjalani hidup kamu yang indah." Jova mengangkat wajahnya yang mana matanya terlalu sebab karena dia yang terus menangis.
__ADS_1
"Aku akan sehat kalau kamu sehat, aku akan bahagia kalau kamu bahagia. Kamu seperti ini karena aku Jo. Terus, mana mungkin aku biarkan kamu menderita seperti ini, mana mungkin aku biarkan ada yang menampar kamu hingga seperti ini. Siapa pun yang menyentuh kamu apalagi sampai pipi kamu merah seperti ini semuanya akan aku buat tidak berdaya, aku akan buat mereka tahu bagaimana rasanya berhubungan dengan aku." Kembali Felix di kuasa kemarahan kalau membayangkan sang istri mendapatkan perundungan di dalam sana, hingga pipinya memerah dan setengah bengkak, tidak usah di tanya karena jawabanya sudah pasti sang istri di tampar mungkin bukan hanya satu dua kali.
"Aku baik-baik saja. Pengacara Prabu mengatakan kalau aku ada kemungkinan untuk bebas. Kamu tahu kan aku melakukan itu karena terdesak keadaan, siapa yang mau mati konyol oleh mereka, maka dari itu aku melawan mereka, dan aku yakin kalau aku pasti bisa bebas." Suara Jova pun kali ini penuh dengan semangat, dan bibir yang di tarik membuat garis lengkung yang sangat Felix sukai, tetapi sayang semua yang Jova lakukan Felix tahu bahwa itu semua hanyalah sandiwara belaka. Ini cara Jova untuk menghibur dirinya sendiri.
Namun, Felix pun membalas dengan senyum terbainya juga. "Terima kasih sudah memberikan senyum terbaik untuk aku, aku sangat senang meskipun aku tahu hati kamu sedang hancur dan kamu sedang ketakutan, kamu sedang menghibur dirimu sendiri, tetapi kamu bisa menghibur aku. Kamu membuat aku semakin ingin cepat sembuh."
"Itu harus, kamu harus cepat sembuh, akuĀ berharap kalau kamu akan terus berada di pihak aku. Jangan pernah cape dan lelah untuk bersama-sama dengan aku yang sangat keras kepala ini. Oh, iya Mas, aku nitip Ibu yah, aku takut Ibu akan jatuh sakit karena terlalu memikirkan aku. Aku takut kalau Ibu kenapa-kenapa. Maaf kalau aku justru merepotkan kamu."
Felix menatap sang istri dengan tatapan yang penuh arti. "Aku sudah berjanji pada almarhum ayah mertuaku, kalau aku akan menjaga kalian. Aku senang ada Ibu di rumah kita karena aku merasa kalau Mamih hadir kembali dengan Tuhan mengirimkan Ibu, aku pasti akan jaga Ibu dengan baik. Kamu tidak perlu khawatir," ucap Felix dengan menggenggam tangan Jova yang dingin dan juga terborgol.
"Itu akan segera terwujud, kamu jangan khawatir tim Om sedang bekerja dengan sebaik-baiknya, kamu hanya butuh semangat dan terus berdoa." Pengacara Prabu yang kebetulan datang pun langsung memberikan sembangat untuk Felix dan juga Jova.
Awalnya laki-laki paruh baya itu tidak menyukai Jova, karena dia menganggap bahwa Jova akan sama dengan wanita-wanita lain yang hanya mengincar uang-uang Felix, apalagi Jova hadir dari pihak Guntoro yang pengcara Prabu sudah cap sebagai papah yang gagal. Namun setelah melihat langsung dan berbicara dengan Jova, laki-laki paruh baya itu kini tahu bahwa Jova bukan seperti yang sempat ia pikirkan Jova adalah wanita baik-baik yang tulus menikah dengan Felix, bahkan sudah ia buktikan dengan kejadian ini di mana Jova sangat marah, ketika melihat suaminya terkapar dan tidak berdaya, ini sudah sangat membuktikan kalau Jova adalah wanita baik-baik yang tulus menyayangi Felix, yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Dari semasa Mamihnya masih hidup mereka memang sudah saling kenal dan cukup akrab.
"Om..." Felix mengembangkan senyum kelegaan ketika seperti biasanya pengacara Prabu selalu datang lebih cepat.
__ADS_1
"Om, lihat wajah Jova, aku yakin dia di dalam sana mendapatkan perundungan baik sesama narapidana atau justru oleh petugas penjaga lapas. Tolong usut dengan tuntas, dan pastikan ini tidak akan terjadi lagi, siapa pun yang menyentuh Jova maka akan berurusan dengan saya. Dan juga aku ingin Jova mendaptkan fasilitas yang terbaik, berapa pun uang yang harus aku keluarkan, aku akan bayar semuanya," ucap Felix dengan yakin, selama yang atasi pengacar yang sudah terkenal dengan kinerja yang baik, maka semuanya akan selesai.
"Mas... tidak usah Jova udah biasa kok tidur di alas sedanya, hidup Jova dari kecil udah biasa keras, jadi sekarang di hadapkan masalah seperti ini sudah tidak aneh," balas Jova dengan santai.
"Tidak, itu kamu mungkin dulu memang sudah terbiasa dengan hidup keras, tetapi tidak dengan kali ini, kamu harus hidup dengan bahagia, kamu harus hidup dengan enak, tidak ada lagi penderitaan. Aku janji setelah kamu ke luar dari tempat ini. Aku akan buat kamu menjadi wanita sebaik-baiknya yang sudah punya suami. Aku tidak akan buat kamu bersedih lagi," janji Felix sedangkan pengacara Prabu langsung menemu dengan kepala lapas dan menanyakan apa yang terjadi dengan Jova kenapa bisa wanita itu pipinya bisa memar. Dan sedikit memberikan ancaman bakal meng-viralkan agar mereka tidak bermain tangan aapalagi Jova belum jelas terbukti bersalah, bahkan kalau Jova terbukti benar dan dia murni melawan hingga menghilangkan nyawa karena kepepet maka dia tidak bisa ditetapkan sebagai tersangkan, ada pasal-pasal yang mengatur akan itu semua jadi pengacara Prabu dengan yakin bisa membuat Jova bebas.
"Termasuk dengan cemong? Apa kamu akan membiarkan aku membawa cemong untuk masuk ke rumah utama kamu, atau bahkan kamar?" Jova pun hanya mengetes Felix, wanita itu tahu kalau Felix tidak menyukai sungguhan dengan hewan berbulu itu.
Felix nampak diam sejenak berpikir, laki-laki itu tahu bahwa wanita yang saat ini berada di depanya dengan senyum yang terlukis di wajah sedihnya sangat menyukai binatang berbulu itu.
"Udah, jangan dipikirin, aku hanya bercanda kok," balas Jova sembari bibirnya kembali tersenyum semakin lebar.
"Aku akan izinkan cemong untuk masuk ke rumah utama, tapi banyak syaratnya, kamu harus pakai masker dan juga kamu harus sering bersihkan perabotan seperti kasur dan sofa, karena takut bulunya menempel, tidak baik untuk kesehatan, kalau bulunya terhirup dan masuk ke hidung, karena bulu kucing sangat halus." Akhirnya Felix mengizinkanya meskipun banyak sekali peraturanya.
Jova pun hanya terkekeh samar. Mereka pun terus bercerita satu sama lain, hingga kini Jova merasakan sangat nyaman ketika bercerita dengan suaminya, begitupun Felix yang merasakan sakitnya semakin membaik dengan melihat tawa renyah Jova. Wanita itu masih terus tertawa dengan renyah padahal musibah tengah bersilahturahmi pada hidupnya. Namun, sifatnya yang santai menambah kagum untuk Felix.
__ADS_1
"Jo, aku janji setelah ini kamu tidak boleh menangis lagi aku akan buat kamu bahagia."