
[Aku ada perlu dengan dia. Di mana dia berada?] jawab Naya dari sebrang telepon yang belum tahu kalau Jova dan Felix sedang bersiap akan melakukan senam seirama.
Jova pun justru memiliki ide jahil agar Naya di sebrang sana kepanasan.
[Mas Felix ketiduran,] balas Jova dengan menghadapkan kameranya pada dirinya yang tubuhnya terbungkus selimut, sebagai wanita beristri tahu dong kalau Jova sedang dalam keadaan tidak berpakaian, dan itu tandanya dia baru saja melakukan silaturahmi tubuh.
Nut...Nuttt... Panggilan telepon langsung terputus. "Dih, kok kabur?" kekeh Jova.
Hahaha... Jova dan Felix tertawa. "Jahil banget kamu emang," ucap Felix, tapi Felix juga menyukai cara Jova, karena laki-laki itu sendiri juga merasa kurang nyaman dengan hadirnya Naya kembali. Apalagi Jova sudah jelas risih banget dengan adanya Naya yang ke gatelan itu. Di mana wanita akan sangat sensitif kalau yang berhubungan dengan mantan.
Felix kembali melakuakn pemanasan tubuh sang istri ia baringkan dengan gerakan yang lembut di atas membaringan. Jova pun hanya bisa pasrah menikmati sentuhan demi sentuhan yang membuat naluri tubuhnya merespon dari setiap sentuhan Felix. Tangan Jova pun tanpa terasa melakukan hal yang sama menjelajahi area sensitif sang suami hingga tanpa sadar meremas sotong yang sudah mengeras, Felix pun memejam dengan sempurna ketika tangan Jova sudah membuat sentuhan yang lembut di tempat yang semestinya.
"Kita mulai," ucap Felix dengan nafas yang memburu setelah pemanasan yang membuatnya tidak tahan untuk berlama-lama menundanya.
Jova mengangguk dengan pasrah. "Tapi, apa hal itu akan sangat sakit?" tanya Jova lagi seolah bayangan malam pertama sangat menakutkan.
"Kamu akan merasakan seperti teriris pisau, dan luka itu akan sembuh setelah kita semakin sering melakukanya. Kini posisi Felix sudah siap di atas tubuh polos Jova. Dengan tubuh di condongkan kedepan dan kedua lutut dijadikan tumpuan dan tangan Felix berada di kanan kiri wajah sang istri.
"Kalau gitu aku siap melakukanya." Tanpa menunggu lama Felix pun bersiap untuk melancarkan misinya.
"Akh... Mas... i... ini sakit..." ringis Jova sembari tanganya menarik bahu Felik dan kuku-kuku Jova yang dibiarkan panjang menancap di bahu kanan dan kiri Felix. Setelah beberapa kali meleset tidak bisa menerobos ke lubang surgawi milik sang istri akhirnya setelah usaha yang lebih. Felix berhasil membuka pintu masuk itu.
__ADS_1
Untuk sesaat Felix membiarkan Jova menikmati rasa yang hanya sekali ia rasakan, "Sakit ini akan menjadi bukti cinta kita," bisik Felix di balik daun telinga Jova. Dengan rasa yang masih tersisa. Jova meengangguk mengerti akan ucapan Felix. Bukannya sudah menjadi kewajiban sebagai seorang istri untuk melayani suaminya
Tetes demi tetes keringat dan juga air mata sesekali mengintip dari sela mata Jova menadakan bahwa permainan Felix membuatnya banyak menghabiskan tenang, dan perasaan. Tubuh Felix pun semakin terlihat berkilat karena keringat yang semakin luluh bersama gerakan ero-tis di atas tubuh Jova.
Aroma tubuh dan rintihan sensansional membuat mereka semakin lupa diri, tenggelam dalam nikmat yang tidak pernah Jova rasakan sebelumnya. Terguyur dalam hasrat yang penuh dengan birahi dan juga meluapkan keindahan dalam sebuah penyatuan yang panas. Cairan bercinta yang ke luar dari tubuh Felix dan bersemayam di rahim Jova akan menjadi bukti kisah cinta mereka.
Indahnya cahaya pagi menuju siang hari yang cerah menjadi saksi, bahwa dua pasangan suami istri baru saja selesai melakukan ibadah bersama. Nafas yang memburu dengan dada naik turun, menandakan bahwa permainan yang hampir satu jam itu selain menyiksakan kenikmatan surgawi, juga menyiksakan cape yang luar biasa.
Felix menarik tubuh Jova dan memeluknya, niat Jova pengin bertemu dengan anak angkatnya di tunda lagi, hal itu karena kedua kelopak mata Jova tiba-tiba memberat, ingin istirahat untuk sejenak, begitupun Felix di mana dipermainan pagi ini Felix adalah pemimpinya sehingga energinya habis lebih banyak. Pasangan suami istri itu pun terbuai ke alam mimpi. Berbeda dengan Jova dan Felix yang sedang terlelap tertidur karena telah melakukan olahraga pagi.
Di tempat berbeda Naya justru tengah kesal luar biasa karena Jova yang membuat hatinya panas. "Siapa sih wanita itu kenapa ngeselin banget, paling juga sebentar lagi di tinggal sama suaminya, bukanya Felix juga laki-laki tidak benar," gumam Naya yang terus mengingat kelakukan Felix tempo dulu, Felix adalah orang yang jauh dari kebaikan. Sangat berbeda dengan Felix yang saat ini.
"Bi, Jova belum turun?" tanya Sumi saat makan siang. Untuk sementara Sumi memang tinggal di rumah Felix, tapi untuk kedepanya dia akan cari kontrakan sendiri itu semua karena Sumi merasa tidak enak menumpang terus pada sahabatnya.
"Baiklah Bi, soalnya nanti Sumi juga mau pergi sama Mas Arzen," ucap Sumi sembari mengambil duduk bersebelahan dengan Lasmi.
"Pergi? Pergi ke mana Sum? Awas ah jangan macam-macam, orang tua kamu sudah nitipin kamu pada kita," ucap Lasmi yang takut kalau Sumi akan pergi entah ke mana dan terjadi sesuatu.
"Hehehe Bi, Sumi mau cari kontrakan, pengin mandiri tinggal di kontrakan, dan karena belum tahu seluk beluk di sini jadi deh Sumi minta Mas Arzen yang bantu, Jova udah tau kok, dan udah izinin kalau Sumi boleh pergi," ucap Sumi dengan santai.
"Oh, kalau Jova sudah tau, bibi nggak bisa bilang apa-apa, kamu yang hati-hati saja jangan terlalu percaya dengan orang lain yah, karena di kota besar seperti Jakarta sulit cari orang baik, kalau ada apa-apa kamu cerita sama Jova biar di bantu."
__ADS_1
Makan siang hari ini pun hanya Sumi dan Lasmi itu semua karena Jova dan Felix yang kelelahan sehingga tertidur hingga melewatkan jam makan siang.
Hemzz... Jova menggeliatkan tubuhnya yang sakit semua, belum rasa lapar yang melanda dan juga rasa sakit di bagian pangkal pahanya yang seolah ada yang mengganjal.
"Aduh kenapa tubuh aku sakit semua," gumam Jova, dia ingin menggeliatkan tubuhnya yang sakit, tetapi tertahan karena adanya Felix yang memeluk dari belakang.
"Ya Tuhan, Mas bangun! Pantesan saja badan aku sakit semua, kamu t*ndih badan aku... Huhuhu... Mas bangun," rengek Jova sembari menggoyang-goyangkan tubuh suami yang besar itu.
"Hemzz... Jo, masih ngantuk," rancau Felix, dengan menarik tubuh Jova kembali.
"Aduh... remuk tubuh aku benaran Mas." Jova semakin meringis, dan Felix pun langsung bangun.
"Ya Allah, Sayang, kamu kenapa?" tanya Felix langsung bangun ketika mendengar ringisan Jova.
"Bandan aku hancur semua..." Suara Jova semakin terlihat menyedihkan. "Ini semua karena kamu yang t*ndih aku," adu Jova dengan menyalahkan Felix.
"Ya ampun Sayang aku minta maaf, gimana kalau kita mandi bareng biar badan kamu sembuh," tawar Felix dengan santai.
#Modus banget kamu Bambang, bilang mau nyembuhin awas ajah kalau ngajak nambah.
"Kamu serius akan sembuh?" tanya Jova dengan polos dan melilit tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
"Ya berusaha dulu Sayang," ucap Felix dengan menyengir kuda, seolah menyimpan niat lain.