
Felix menatap Arzen yang baru saja bangun. Memang semalam Arzen tidur cukup larut malam, itu karena ia harus menyelesaikan pekerjaan Felix yang terbengkalai."Zen... Arzen... apa kamu tidak bilang pada wanita ini kalau tugas dia itu juga termasuk membersihkan tubuhku?" tanya Felix pada Arzen yang baru saja bangun, bahkan mungkin nyawanya masih belum menyatu dengan sempurna.
Arzen pun nampak bingung, keningnya mengerut sempurna. "Aku lupa memberitahu tugasnya Bos," jawab Arzen dengan suara yang serak, khas bangus tidur, serta wajah bersalah.
"Kamu bisa dengarkan, bukan aku yang salah, tetapi Arzen yang lupa memberitahu pada kamu untuk tugas yang ini. Kamu salahkan Arzen lah, dia memang pikun." Felix menatap Jova yang sudah bersiap untuk melayangkan protes.
"Tapi, aku tidak tahu cara membersikan badan orang sakit. Lebih baik suster atau perawat saja Tuan, aku takut nanti malah akan menyakiti Anda," tolak Jova dengan sangat yakin.
"Jojo, kamu pikir aku menugaskan kamu untuk merawat aku itu maksud kamu yang seperti apa? Ya untuk tugas seperti ini. Kamu pikir aku laki-laki apaan. Kamu minta aku di bersikan oleh perawat, sedangkan aku punya kamu yang lebih berhak atas tubuhku," ujar Felix dengan nada yang tegas, dan Jova pun langsung terdiam dan memang benar yang dikatakan oleh Felix bahwa tubuhnya lebih berhak untuk disentuh oleh Jova. Bukan perawatan yang bukan muhrim lagi.
"Tapi, saya hanya takut kalau saya akan menyakiti Anda," balas Jova, jujur dari pada nanti jatuhnya dia menyakiti suaminya dan Felix akan marah.
"Pelan-pealan saja Jov, semuanya juga dari tidak bisa setelah pelan-pelan belajar juga jadi bisa." Kali ini Arzen yang menyahut setelah laki-laki itu ke luar dari kamar mandi, selesai membersihkan tubuhnya.
"Beri waktu saya sebentar untuk belajar dari internet, setelah itu saya akan mepratekanya," balas Jova dan di anggukan oleh Felix.
"Jangan pakai lama karena tubuh saya sudah sangat lengket."
Jova pun berlalu duduk ke sofa setelah Arzen bangun dan berangkat kerja, dan kini dia dengan anteng memperhatikan bagaimana cara membersihkan tubuh Felix. Sebenarnya Felix tubuhnya dari bagian pinggul ke atas tidak masalah dan itu pun seharusnya dia bisa berjalan ke kamar mandi untuk membersihkanya sama seperti ketika ia membuang hajat besar dan kecil, juga berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam Jova belajar bagaimana cara membersihkan tubuh orang sakit. Jova pun kembali menghampiri Felix, wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau pekerjaanya sangat berat. Namun ia kembali mengingat pesan ayahnya bahwa surganya istri ada pada suaminya. Kalau memang saat ini adalah waktunya ia untuk berbakti pada suaminya maka Jova tidak akan mengeluh. mungkin juga dengan dia merawat Felix dengan baik sikap laki-laki menyebalkan itu sedikit melunak. Jova akan berusaha melakukanya dengan Ikhlas.
"Tuan, kita membersikan tubuhnya di kamar mandi yah." Jova kembali berlalu untuk menyiapkan semua alat yang akan dia gunakan dan juga air yang akan pakai untuk mandi, tatakan untuk kaki dan untuk Felix duduk karena pasti akan sakit kalau berdiri.
"Kamu yakin bisa?" tanya Felix sekali lagi memastikan jangan sampai nanti malah di tidak bisa dan mengakibatkan dia kembali merasakan sakit yang luar biasa.
"Di coba Tuan," balas Jova dengan suara yang terdengar lirih. Jova pun dengan perlahan membantu Felix bangun, hanya Jova sendiri yang melakukanya sebab, Arzen sudah berangkat kerja.
"Tuan, nanti kalau terasa sakit bicara saja, karena saya masih sangat awam untuk mengurus orang sakit," balas Jova, dan di balas anggukan kepala oleh Felix.
Wanita itu sebelum membuka pakaian (Baju pasien yang model kimono) Felix pun kembali terpejam, entah mimpi apa dia semalam, kenapa bisa dia melakukan tugas yang horor seperti ini.
"Maaf aku belum terbiasa melakukanya," ucap Jova entah berapa kali ia memngucapkan kata maaf. Kaki Felix di topang menggunakan alat penyangga sedangkan rambut dengan telaten Jova yang membersihkanya, tubuh bagian belakang dan depanya dia yang membersihkan kecuali bagian terlarangnya. Felix yang membersihkanya, dan Jova memalingkan pandanganya ke lain arah.
Sebenarnya mau lihat juga sah-sah saja, tetapi keduanya masih sama-sama malu. baik Jova maupun Felix masih belum nyaman.
"Sekarang gosok gigi." Jova mengulurkan sikat gigi beserta pasta gigi di atasnya. Felix lagi-lagi diam, pagi ini laki-laki galak itu sedang dalam mode baik.
"Tuan, kira-kira berapa lama Anda ada di rumah sakit ini?" tanya Jova dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Aku belum tahu, nanti kamu tanya saja sama dokter yang berjaga," balas Felix lagi-lagi suara ketus dan dingin.
Jova hanya menelan salivanya kasar dan mencoba mengerti maksud dari ucapan Felix. Jova kembali diam. Kini tanganya terbungkus dengan anduk kecil dan membersihkan rambut laki-laki itu dengan lembut dan sedikit memijatnya, sama persis seperti yang tadi dia pelajari dari internet. Membersihkan rambut dengan shampo pun Jova sembari memijat-mijat kepalanya, dan beberapa kali Felix memejamkan matanya menikmati pijatan Jova yang cukup nikmat.
"Tuan mau pakai baju di dalam sini atau luar?" tanya Jova dengan suara lirih dan kali ini tidak seperti tadi baik Jova maupun Felix sama-sama kasar, dan beradu mulut kali ini cenderung lembut.
"Di luar saja, di sini lantainya kotor nanti malah pakaianya ikut kotor," balas Felix, dan kembali Jova memapah Felix dengan gerakan yang cukup pelan dan berhati hati.
"Kalau sakit bilang yah." Lagi Jova selalu mengucapkan kata-kata itu berulang.
"Aku mau duduk di depan jendela saja Jo." Felix menujuk depan jendela dan Jova pun kali ini tidak banyak protes. Cape juga protes karena pada akhirnya Felix akan tetap menang karena dia adalah bosnya.
"Tunggu, aku akan menyiapkan pakaian Anda." Jova mengambil satu pakaian pasien yang ada di dalam lemari, pokoknya untuk pakaian pasien saja ada beberapa banyak, memang ketika duit banyak semuanya akan terasa mudah.
Setelah berganti pakaian. Kini Jova menyisir rambut Felix, sebelumnya tentu wanita itu tidak terpikirkan sama sekali kalau dia akan memegang rambut bahkan memainkanya, dan menyentuh tubuh suaminya tanpa ada jarak, Tetapi yang ada di dalam batin Jova tetap biasa saja, tentu berbeda dengan Felix, ketika Jova menyentuh tubuhnya terutama area yang sensitif pasti dia menegang, bahkan Felix bertahan mati-matian agar Jova tidak menyadari kalau di bawah sana sang adik kecil sudah berontak ingin di manjakan.
Niat Felix yang ingin mengerjai Jova tetapi lagi-lagi malah sepertinya dia yang masuk dalam permainanya. Jova tetap nampak biasa saja, bahkan menggosok tubuhnya dengan santai sedang Felix harus menggigit bibir bawahnya agar tidak terdengar desa-han yang lolos dari bibir seksinya.
#Nah makanya jangan usil Fel, kata orang jaman dulu itu namanya senjata makan tuan. Kena kan di kerjai diri sendiri. Adiknya berontak bingung kan, mau minta malu sama2 gengsi, nggak minta ngeganjel di otak!!
__ADS_1