
Detik berganti Menit dan jam pun berganti hari hingga tidak terasa kini Jova sudah satu minggu bekerja di tempat suaminya sebagai tungkang angkut barang di gudang. Ternyata makin hari dia bekerja makin terasa ringan.
Teman teman yang seru membuat Jova tetap bertahan dan menikmati hari-harinya. Justru Jova merasa kalau ketakutanya kota Jakarta atau yang sering di sebuta Ibukota lebih kejam dari ibu tiri, tidak Jova rasakan. Wanita ini selama tinggal di kota Metropolitan ini merasakan biasa-biasa saja, seperti ketika ia tinggal di kampung halamanya, tidak ada hal yang berlebihan menakutkan dari pada Felix.
Teman yang baik, tempat tinggal yang nyaman, bi Suro yang paling baik selalu memberika Jova makanan yang dia punya. Ia justru merasa betah tinggal di kota Metropolitan ini, terlebih gajih di sini lebih besar satu juta dari di kampungnya kemarin, udah gitu kerja di sini tidak harus naik angkutan umum, dia hanya butuh jalan kaki dari rumah suaminya ke depan komplek lalu menyebrang lewat flayover tidak butuh waktu lama sudah sampai di jejeran mall dan ruko-ruko mewah.
Lalu apa lagi yang tidak membut Jova senang dan bahagia, dia bisa mengumpulkan uang setidaknya dua juta setiap bulan untuk di kirim ke keluarganya, itu yang sudah ada dalam bayanganya, dan dia cukup memegang satu juta untuk pegangan, dan yang membikin Jova bahagia lagi, selama ini dia hampir tidak pernah bertemu dengan Felix, bahkan mendengar suaranya pun tidak.
"Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan Tuhan."
Namun, hal yang sebaliknya justru ditunjukan oleh Felix, selama ini Felix memang diam tidak pernah ikut campur dengan urusan Jova, tetapi bukan berati dia tidak memiliki laporan, bahkan mungkin laporan Jova sehari tertawa berapa kali Felix mendapatkanya, sehari dia ngapain saja Felix tahu semuanya.
"Sepertinya aku menempatkan dia di gudang adalah keputusan yang salah. Dia bukanya sedih, menyerah malah bahagia dan sangat menyukai pekerjaanya," gumam Felix sembari memperhatikan layar pintarnya yang menunjukan rekaman Jova sedang tertawa dengan renyah.
"Aku harus cari ide lain agar dia menyerah dan balik kampung." Otak berilian Felix pun mulai mencari ide agar bisa membuat Jova tidak lagi bisa melengkungkan bibirnya membuat garis senyum yang membuat Felix kesal. Yah bahagia Jova adalah petaka bagi Felix.
__ADS_1
Pagi hari Jova datang seperti biasa, lebih pagi dari yang lain, begitu datang setelah duduk beristirahat sebentar Jova pun mulai mengerjakan pekerjaan utamanya yaitu menyiapkan stok barang yang akan di keluarkan, menurut data orang dalam( Yang jaga bagian dalam supermarket), membaca stok apa saja yang di dalam rak sudah menipis Jova mengambilnya, agar orang-orang dalam ketika sudah datang tidak harus menunggu lama barang di cari, sudah tinggal angkut dan Jova bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Apalagi kalau barang datang semua harus gesit menyusun sesuatu tanggal kadaluarsa agar tidak ada yang terlewat tanggal bisa kena potong gaji kalau ada barang baru di keluarkan duluan, sementara barang lama masih ada. Jova harus hafal susana barang sesuai tanggal kadaluarsa.
Namun tidak seperti hari biasanya Jova merasa bekerja hari ini Jova seperti sibuk semua, dan wajah mereka juga terlihat tegang.
"Tiwi, ini ada apa kok tumben sekali sepertinya sangat sibuk?" tanya Jova dengan suara lirih dan hati-hati, ia tahu kalau sedang sibuk seperti ini kalau tidak kedatangan pengawas, atasan, atau orang penting dan biasanya orang-orang akan sensi, ditanya A jawabnya Z, udah gitu nadanya udah kayak preman terminal.
"Hari ini ada stock opname, kamu harus siap-siap biasanya kamu akan sangat cape karena mengecek setiap barang dengan data adminitrasi yang tercatat dengan setok fisik, dan kalau tidak sesuai Tuan Felix bisa murka, bisa dicincang kita jadi taburan bubur." Tiwi menjelaskan apa yang membuat orang-orang yang wajahnya tegang.
Deg!! Jantung Jova seolah loncat dari porosnya, baru saja ia bilang kalau sangat bahagia selama hampir satu minggu dia kerja tidak bertemu Felix, bos sekaligus suaminya, tetapi sepertinya hari ini adalah hari kenestapaan untuk Jova.
"Santai Jo, dia nggak bakal macam-macam sama kamu kok, dia pasti profesional," gumam Jova dalam hatinya dan tetap berusaha bekerja dengan santai seperti biasa dan tidak tegang. "Ingat Felix akan semakin suka menindas aku kalau dia melihat aku tegang," imbuh Jova, dia pun mencoba menghirup nafasnya dalam dan menarik bibirnya membentuk garis lengkung yang indah.
Benar saja sesuai yang dikataakan Tiwi, sepanjang pagi hingga jam kerja berakhir kerjaan Jova sangat berat dan tidak ada hentinya sudah gitu Felix seolah benar-benar mengerjaainya, yang dipindah barang hingga tiga kali bahkan lebih.
Tidak hanya itu Felix pun terus mengekor Jova terus menerus. Keringat pun sudah membanjiri tubuh Jova.
__ADS_1
"Usap kringat kamu, bikin salah fokus aja." Felix menyodorkan sapu tanganya. Jova hanya melirik, bukanya mengambil sapu tangan Jova malah mengusapnya dengan pakaianya, dengan ekor mata yang melirik sinis pada Felix. Marah? Yah, ingin Jova mengumpat, memaki dan memarahinya, karena dia benar-benar membuat Jova cape dan ditambah dengan keisenganya mengerjai Jova terus menerus.
"Sombong!!"
"Biarin, selagi sombong tidak bayar pajak, wajib dilestarikan." Jova hanya melirik dengan tajam, dan setelahnya kembali bekerja, jangan sampai teman-temanya bertanya hubungan mereka. Apalagi Felix yang benar-benar super menyebalkan, seolah sengaja ngikutin Jova terus, udah gitu mepet-mepet.
"Ah... pokoknya hari ini adalah hari terburuk sepanjang aku kerja." Jerit Jova dalam batinnya.
"Tapi aku suka gadis sombong." bisik Felix tepat di balik daun telinga Jova, hingga wanita itu langsung menjauhnya terlebih dalam gudang kondisinya lebih ramai dari biasanya. Ada yang dengar bisa berabe urusanya.
"Gila memang itu perjaka tua, apa coba maksudnya ngomong seperti itu," umpat Jova sembari terus mengawasi sekeliling, takut ada yang mendengar.
Jova jadi teringat dengan ucapan Arzen, "Apa jangan-jangan Arzen mengadu pekerjaan aku dan juga mengadu kalau aku sering mengumpat Felix. Arzen ini memang sebelas dua belas dengan Felix," geram Jova.
Memang selama ini Arzen sering berkomunikasi dengan Jova, tidak hanya itu Arzen juga selama satu minggu ini cukup dekat, dan teman-teman Jova yang tahu bahwa Jova dan Arzen sodara pun tidak curiga apa-apa. Yah, biasa lah sodara dekat dan sering menitipkan makanan untuk Jova pun biasa, tidak ada yang menyangka bahwa sodara yang mereka maksud, adalah sodara setanah air.
__ADS_1
...****************...