Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Ketegangan Antara Felix dan Jova


__ADS_3

Jova dan Felix kembali ke ruang rawat dengan perasaan bahagia, terutama Jova yang justru sangat terlihat bahagianya.


"Alhamdulillah... alhamdulillah." Tidak ada henti-hentinya Jova terus mengucapkan hamdalah ketika dokter mengatakan bahwa hasil pemeriksaan Felix semuanya bangus, dan itu tandanya mereka boleh pulang.


Felix menatap Jova yang terlalu bersik, dia seperti sudah mendapatkan lotre saja bahagia yang tidak terkira. "Apa kamu tidak bisa diam? Bersik sekali, mana dari tadi senyum-senyum sendiri, aku jadi curiga jangan-jangan pulang dari sini kamu masuk rumah sakit jiwa," ucap Felix dengan  nada yang ketus.


Jova sudah biasa dengan nada bicara seperti itu pun hanya terdiam dan menatap Felix dengan tatapan yang bahagia. "Aku terlalu bahagia Tuan, akhirnya aku bisa kerja lagi di gudang," balas Jova tetap dengan cengengesan nya.


Felix mengernyitkan dahinya, hingga kedua alisnya hampir menyatu. "Apa kamu bilang, kerja di gudang? Kamu untuk selamanya akan jadi perawatku, aku belum sembuh betul enak saja mau pindah bagian. Tidak bisa!"


Sontak Jova langsung menjatuhkan tas barang yang akan dia bawa pulang. "Ke...kenapa Anda minta saya jadi perawat Anda terus. Bukanya perjanjianya sampai Anda sembuh, dan sekarang Anda sudah sembuh. Kalau saya jadi perawat Anda, saya harus apa lagi sedangkan Anda saja sudah sembuh?" tanya Jova dengan terbata. Bahkan wanita itu sudah membayangkan kalau hari-harinya akan semakin buruk dari tujuh hari yang telah ia lewati bersama dengan laki-laki yang menyandang status sebagai suaminya.


Perbandingan kerja yang sangat jauh, dia kerja di gudang tujuh hari terasa bahagia, dan bersemangat serta terasa lebih cepat. Sementara Jova kerja menjadi perawat Felix tujuh hari, stres, tertekan, waktu pun terasa sangat lama, jangankan satu minggu, satu hari pun terasa sangat lama untuk Jova lalui.


"Apa ada perjanjianya? Pokoknya kamu kerja di bawah tangan aku, tidak boleh kamu sesuka hati mengatur semuanya sendiri," bentak Felix, dengan nada bicara yang cukup tinggi.


Ini adalah kali pertama Jova benar-benar kesabaranya seperti sudah habis ia merasa selalu di permainkan oleh suaminya. Tubuh Jova pun jatuhkan di atas sofa dengan kasar. pandangan matanya menatap keluar jendela. Kini ia tidak bisa lagi merasakan bahagia seperti harapan sebelumnya di saat dia setidaknya bisa mengobati jiwanya yang sepi dengan teman-teman kerjanya. Melupakan sedikit perlakuan Felix yang menurutnya sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


Namun kali ini pikiran itu hilang, dia benar-benar seperti burung yang terkurung di dalam sangkar emas. Jova tahu Felix melakukan itu karena tidak ingin melihat dirinya bahagia bersama teman-temanya. Tanpa terasa air mata Jova menetes dengan hebat. Ia segera berlari ke dalam kamar mandi untuk menyembunyikan tangisanya.


Di dalam kamar mandi Jova benar-benar menumpahkan sesaknya selama ini ia tahan, wanita itu menyalakan keran air agar Felix tidak tahu bahwa dirinya sedang menangis. Mereka memang saat ini sedang menunggu Arzen untuk menjemput, tetapi dasar Arzen justru menjemput dengan lama sehingga membuat ketegangan lagi di antara Jova dan Felix.


Felix pun  menatap Jova yang pergi ke kamar mandi laki-laki itu tahu kalau sang istri tengah menangis. "Apa yang aku lakukan terlalu berlebihan?" Laki-laki itu menggedik kan bahunya dan memberikan tatapan yang tajam mengikuti arah kamar mandi. "Mungkin memang wanita itu sedang datang bulan."


Sebenarnya Felix tidak terlalu menyalahkan Jova, untuk kedekatanya sejauh ini baik pekerjaan Jova dan ucapanya masih wajar, tetapi gara-gara gadis itu pilihan ibu tirinya Felix merasa kesal dengan Jova, apapun yang berhubungan dengan ibu tirinya, Felix sangat jijik termasuk Jova yang ia kira bahwa Jova adalah bagian rencana dari istri papahnya yang baru. Wanita yang menjadikan ibunya meninggal dunia. Dan kali ini mengirimkan wanita bernama Jova untuk membuat skenario baikan. Sangat tidak diinginkan oleh Felix hal itu terjadi.


Pandangan Felix teralihkan pada pintu yang barusan di buka. Arzen datang dengan wajah sedikit memerah. "Maaf, jalanan macet sangat menyebalkan." Pandangan mata Arzen menatap ke sekeliling.


"Jova kemana?" tanya Arzen sembari memunguti tas yang terjatuh.


"Sakit perut dia?" tanya Arzen kembali, karena indra pendengaranya mendengar air mengalir.


"Bukan sakit perut tapi nangis. Kamu bujuk dia biar jangan menangis lagi. Aku akan masuk lebih dulu ke dalam mobil." Felix mengulurkan tanganya agar Arzen memberikan kunci mobilnya. Arzen pun langsung buru-buru merogoh kantung celananya dan memberikan kunci mobil pada Felix, dengan langkah yang sedikit tertatih Felix beranjak dari kamarnya dan menuju mobil. Sementara urusan Jova selalu Arzen yang mengurusnya.


Tokk...Tokkk... Arzen mengetuk pintu kamar mandi, yang memang dari luar terdengar samar tangisan Jova. "Jo, buka pintunya, kita pulang yuk. Ini aku Arzen."

__ADS_1


"Aku cape banget Zen, rasanya aku sudah tidak kuat kerja bareng bos kamu," balas Jova dia tahu kalau Felix sudah keluar dari ruangan itu.


"Kok kamu nyerah sih. Sayang lagi Jo, kamu sudah setengah jalan, lagi pula kalau kamu nyerah kamu dapat duit dari mana, bukannya adik kamu butuh  banyak uang untuk pengobatanya, coba bayangin kalau kamu tidak keja nanti yang ada buat bantu-bantu orang tua kamu tidak ada. Semangat yuk, kan ada aku," ucap Arzen masih berbicara dari balik pintu.


Jova membuka pintu kamar mandi dan menatap Arzen dengan tatapan yang mengiba. "Aku akan coba."


"Nah, gitu dong, kalau kamu semangat aku juga jadi semangat," balas Arzen dengan senyum mengembangnya.


"Ini semua aku lakukan untuk adik dan keluargaku, hanya aku sumber dari bahagia mereka, tanpa uang dari aku pasti mereka akan sangat kesulitan." Jova sampai detik ini belum tahu kondisi yang sebenarnya dengan keluarganya belum tahu kalau adiknya sampai saat ini masih di rumah sakit dengan kondisi yang sangat buruk. Bahkan harapanya untuk hidup semakin berkurang.


Setiap kali Jova akan melakukan sambungan video. Janu selalu beralasan kalau kamera ponselnya bermasalah sehingga Jova hanya bisa melakukan panggilan telepon biasa, hal itu Janu lakukan agar Jova tidak sadar bahwa saat ini mereka sedang berada di kamar rumah sakit, bangsal tiga  yang satu ruangan terdiri dari enam pasien. Sampai kapan Jini keadaanya akan membaik, mereka pun tidak tahu, sementara Jini sendiri seperti kehilangan semangat untuk kesembuhanya.


"Ya udah kalau gitu, ayo kita pulang, kamu percaya semuanya akan baik-baik saja," ucap Arzen dengan mengusap pundak Jova.


Jova sendiri hanya menjawab dengan getir, "Yah, aku berharap apa yang kamu katakan benar adanya, setidaknya biarkan aku merasakan bahagia di luar rumah, karena memang aku sudah membayangkan di dalam rumah itu akan terasa seperti neraka, tetapi tidak. Harapanku untuk bertemu dengan teman-teman saat kerja di gudang semakin kecil. Itu karena bos kamu kali ini memerintah aku untuk menjadi pengawal pribadinya. Pekerjaan yang horor bukan?"


Jova terus mengeluarkan unek-uneknya. Sepanjang lorong rumah sakit yang ia lalui dia mengeluarkan segala beban yang dia rasakan, berharap ketika bertemu dengan Felix hatinya sudah kembali biasa saja, tanpa rasa kesal dan kecewa apalagi marah.

__ADS_1


#Sabar yuk Jo, benar kata Arzen kamu sudah setelah jalan masa menyerah.


__ADS_2