Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Mommy Jova Pulang


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kini mereka pun sudah sampai di rumah Felix yang mewah. Meskipun perjalanan yang ditempuh jauh, tetapi rasanya perjalanan kali ini adalah perjalanan yang paling menyenangkan dari semua perjalanan yang sudah Jova lakukan bersama Felix. Meskipun menempuh jarak yang tidak dekat dan juga bukan jarang yang sebentar nyatanya mereka masih bisa haha hihi bersama, bahkan Lasmi pun ikut tertawa apalagi kalau dengar Sumi dengan Arzen yang selalu tidak akur.


Mereka baru ketemu tapi udah kayak teman. lama, selalu ada perdebatan.


"Baek-baek Sum, jangan galak-galak sama Arzen nanti bucin loh," goda Jova sama Sumi yang jutek sama Arzen. Eh, bukan Sumi yang galak tapi Arzen yang jahil juga sih. Laki-laki itu senang ngerjain Sumi.


"Ih, amit-amit Jo, lagian Jung Kook aku nanti gimana, pokoknya aku udah cinta berat sama dia rela di nikahin siri juga," ucap Sumi sembari memanyunkan bibirnya.


"Dasar sarap, nyesel aku mah punya teman juga mana jauh-jauh bawa dari kampung sampai Jakarta kayak gini, kenapa tadi tidak di tinggal di pom bensin ajah yah," kelakar Jova. Di mana saat ini sudah sampai di rumah mewah Felix. Bi Suro pun yang sudah dengar mobil majikanya langsung keluar dan menyambut mereka.


"Bibi... Jova kangen." Jova langsung menghambur kepelukan tim penyelundup makananya, saat ia pertama tinggal di rumah ini, tetapi untuk sekarang sudah jelas tidak dong kan Felix sudah ter-jova-jova. Jadi Jova boleh makan sepuasnya, dan apa yang ada di dalam rumah mewah ini juga sudah boleh Jova pakai termasuk kolam renang, yang mana sebenarnya Jova sudah sangat ingin mencoba berenang, dari pertama datang ke rumah ini pengin rasanya nyebur.


Bi Suro pun nampak kangen banget dengan Jova sampai nangis.


"Kabarnya cemong gimana Bi?" Kelakuan Jova baru turun bukanya rapihkan barang-barang dulu dia malah bertanya anak angkatnya.


"Cemong baik Neng, sekarang makin pinter, dan hidungnya juga makin pesek," jawab Bi Suro, dan memang benar semakin tubuh besar dan bulunya tebal hidung Cemong malah makin hilang.


"Ah, Jova jadi pengin buru-buru bertemu dengan cemong, udah kangen banget pengin cerita sama cemong," balas Jova, kalau bukan tidak enak sama suami teman dan ibunya Jova udah lari ke kamarnya dan mencari cemong untuk curhat.


Kini mereka pun mulai masuk ke dalam dan beristirahat dan mulai beraktifitas besok hari. Jova pun mengantarkan kamar untuk ibu dan juga temannya.

__ADS_1


"Mas yakin aku tidur di kamar ini?" tanya Jova dengan menatap kamar yang sangat luas.


"Tidak yakinya kenapa? Apa kamu mau kita tidur terpisah terus? kan kita bukanya suami istri, dosa kalau kita musuhan," balas Felix mungkin dia lupa dulu yang anggap musuh adalah dirinya.


"Bukan gitu Mas, kan biar aku enak juga. Masa tiba-tiba masuk kamar kamu, kan tidak sopan, apalagi kalau kamunya tidak suka," balas Jova dengan suara yang lembut.


"Kamar kita, bukan kamar aku aja." Felix meletakan tanganya di pundak Jova dan menariknya mendekat ke tubuh laki-laki itu.


"Ok, baiklah ini adalah kamar kita." Dua pasangaan pengantin baru itu pun masuk ke dalam kamarnya.


Aku mau bersih-bersih dulu lalu mau ketemu sama cemong yah Mas, udah kangen banget," ucap Jova sembari merapihkan barang-barangnya.


Laki-laki yang sedang duduk di tempat tidur pun langsung mengambil ponsel Jova. "Ih kamu pelihara kucing?" tanya Felix masih sama menujukan rasa tidak sukanya.


"Iya, emang Mas nggak suka yah?" tanya Jova dengan wajah sedihnya.


"Aku hanya geli saja kucing itu kan kotor dan bulunya  juga tidak bersih," balas Felix mengembalikan  ponsel Jova.


"Yah, padahal dia udah aku anggap seperti anak sendiri loh," balas Jova dengan sedih.


"Ya udah kamu pelihara saja, tapi tetap di atas jangan bawa ke sini." Pada akhirnya Felix yang kembali mengalah, hatinya saat ini tidak kuasa melihat wanitanya sedih. Jova pun langsung berjingkrak gebira.

__ADS_1


"Terima kasih Mas, kalau gitu aku mau mandi dulu yah, dan Jova pun buru-buru menuju kamar mandi tetapi belum juga samapi Felix undah panggil Jova lagi. Wanita itu pun membalikan badanya.


"Iya, apa ada yang mau di katakan lagi?" tanya Jova dengan nada yang riang.


"Ada, nanti malam aku mau kamu layani aku seperti seorang istri yang patuh melayani suaminya," ujaf Felix dengan tatapan yang tajam menatap Jova.


"Hah... maksudnya gimana? Aku harus gimana?" Jova menatap bingung Felix. "Ah, maksud aku iya-iya," balas Jova ketika melihat wajah Felix yang nampka tegang itu. Wanita itu pun buru-buru melanjutkan acara bersih-bersihnya


Senyum pun terkembang di bibir Felix ketika Jova sudahtahu apa yang dia maksud. Sementara laki-laki itu langsung pergi ke ruangan kerjanya yang masih dalam satu kamar. Begitulah laki-laki itu dalam otaknya kerja dan kerja, ittu sebabnya di menjadi pembisns muda yang kaya raya. Sedangkan yang dia korbankan waktunya tidaklah sedikit.


"Mas aku mau ke kamar atas yah, mudah kangen sama cemong pamit Jova pada Felix yang masih kerja.


"Boleh, tapi lusa kita ke makam Mamih yah, aku ingin kenalin kamu ke mamih aku. Pasti mamih sedang sekarang ada yang jagain aku di dunia ini," ujap Felix sembari menatp foto wanita yang saat ini sudah bahagia di surga-Nya.


Jova pun perlahan masuk dan mendekat ke arah Felix yang sepertinya sedang sedih karena pasti kangen dengan wanita yang paling dia cintai. "Aku sangat senang kalau kamu mau kenalkan aku dengan mamih kamu Mas. Itu tandanya kamu hargai aku sebagi wanita kamu," balas Jova dengan mengusap punggung suaminta.


"Duduklah!!" Felix menepuk pahanya agar Jova duduk di pangkuanya. Namun, wanita itu yang tidak biasa melakukanya pun hanya diam saja. Ragu campur malu karena sebelumnya Jova tidak pernah sedekat itu dengan Felix. Laki-laki itu yang tahu Jova malu pu memutar kursinya dan menarik Jova agar duduk di pangkuanya.


"Duduklah! Diam karena aku akan bercerita gimana ibuku saat itu jatuh sakit padahal mamih adalah orang yang dari dulu tidak pernah sakit, tapi dalam waktu singkat Mamih drop banget bahkan satu minggu dia mau pergi kaya nggak ngenalin aku sebagai anaknya.


Jova yang melihat Felix bersedih pun langsung mengusap-usap rambutnya yang indah. "Jo, apa aku salah kalau sampai detik ini aku masih menyimpan dendam, dan belum sepenuhnya memaafkan Papahku?" tanya Felix dengan tatapan yang mengiba.

__ADS_1


__ADS_2