
Jova pun terus tersenyum hingga giginya mengering saking bahagianya. Bahkan wanita itu mencubit berkali-kali lenganya, ia masih takut kalau ini semua hanyalah mimpi indahnya.
'Auhhh...' Jova meringis menahan sakit ketika dia mencubit tanganya sendiri, dan itu tandanya yang terjadi pada dirinya bukanlah mimpi, tetapi kenyataan. Ia benar-benar diratukan oleh suaminya. Bahkan seolah ia saat ini sedang memerankan salah satu tokoh yang ia tulis menjadi alur cerita dalam novel yang ia tulis sendiri.
Ngomong-ngomong tentang novel, Jova sampai lupa belum meng'up date bab terbaru hari ini, tangan Jova pun langsung meraih ponselnya dan dengan lentik jari jempolnya menari-nari di atas layar pintarnya. Kalau ditanya dapat apa dari menulis novel? Mungkin jawabanya hanya dapat pembaca yang sudah seperti keluarga, karena hingga detik ini Jova masih berjuang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sembari berdoa agar ia bisa mendapatkan pembaca yang banyak agar banyak juga keluarga baru untuk Jova, dan cemong.
"Astaga siapa sih..." umpat Jova ketika sedang serius dengan dunia halunya tiba-tiba pintu diketuk dengan cukup kencang, otomatis kata demi kata yang tersusun dalam otaknya dalam seketika buyar, dan tidak lama perempuan masuk, dengan pakaian seksi dan tentunya terbuka bagian belahan dadanya cukup bawah, sehingga Jova sampai tidak berkedip melihatnya.
"Siang Mbak, perkenalkan saya Sachi, sekretaris pribadi Mas Felix, mau mengantarkan pesana Mas Felix," ucap wanita yang meperkenalkan diri dengan nama Sachi.
Cukup lama Jova ternganga dengan wanita itu, hingga ia sadar dan membalas dengan anggukan samar, dan senyum yang samar juga. "Oh, terima kasih Mbak Sachi," balas Jova dengan sedikit terbata. Cemburu? Yah, saat ini di dada Jova bergemuruh sekali, bagaimana bisa Felix seorang laki-laki normal memiliki sekretaris yang sangat seksi seperti Sachi itu. Mana panggilnya 'Mas' hati siapa yang engga langsung kembang kempis mendengarnya.
"Kalau begitu saya undur diri Mbak," ucapnya sembari berlalu tanpa menuggu jawaban dari Jova.
"Cih, kenapa jadi dadaku panas yah," gumam Jova, begitu wanita yang berpakaian seksi itu sudah hilang ditelan pintu. Bahkan rasa laparnya langsung menguai hilang begitu ia tahu kalau laki-laki yang menyandang setatus suaminya suka menatap wanita seperti Sachi.
Jova pun kembali menghilangkan rasa kesalnya dengan melanjutkan menulis novelnya, hingga satu jam sudah berlalu, dan Jova sudah up dengan bab terbarunya. Bertepatan dengan itu Felix juga masuk ke ruanganya.
"Loh, kok makananya masih utuh, bukanya tadi katanya lapar?" tanya Felix sembari melihat makanan yang dia pesan via aplikasi online yang menjual aneka makanan.
"Udah nggak lapar, laparnya hilang gara-gara lihat cewek seksi. Pastasan lihai banget soal urusan perkembangbiakan, ternyata udah pro bahkan di tempat kerja ada yang siap mende-sah bersama yah," ucap Jova dengan nada yang menyindiri.
Felix pun menyipikan kedua matanya mencari celah apakah Jova benar-benar marah atau dia sedang bercanda saja. "Maksud kamu Sachi?" tanya Felix, pura-pura blo'on agar bisa sedikit menyiapkan mental untuk memberikan jawaban yang tepat, sebab keseleo sedikit bibirnya, bisa-bisa perang dunia ke tiga terjadi, dan dunia adon-mengadon, bisa-bisa terkunci.
"Emang ada berapa wanita seksi di kantor ini?" tanya Jova dengan ketus.
__ADS_1
"Nanti, tunggu aku akan hitung dulu," balas Felix dengan gaya yang seolah berpikir keras dan juga dia yang menekuk jari-jarinya seolah benar tengah berhitung wanita-wanita seksi seperti Sachi itu.
"Aku mau pulang, cemong udah kangen dengan mommy-nya." Jova pun bersiap dalam sekejap bangkit dan meraih tas selempangnya dan bersiap untuk meninggalkan ruangan suaminya.
Namun, laki-laki itu justru langsung menariknya hingga Jova kembali jatuh terjerebak ke atas sova.
"Katakan tadi menyebut apa?" tanya Felix dengan tangan sudah menahan dada Jova agar tidak bergerak.
Namun, bukan Jova kalau dia akan menurut ucapan Felix, wanita itu justru mengunci bibirnya, hingga sepatah kata pun tidak bisa ke luar saking rapatnya bibir Jova kunci.
"Inilah yang membuat aku jatuh cinta dan tergila-gila," ucap Felix mulai melancarkan niatanya, Laki-laki itu membopong Jova ala bridal style. Higga Jova tidak bisa berontak karena tenaganya yang jauh lebih kuat Felix.
Bruggg... Felix meletakan Jova di atas kasur yang empuk, di ruangan pribadinya.
"Apa aku pernah bilang kalau aku suka dengn wanita seksi-seksi seperti itu?" tanya Felix dengan bersiap melepaskan kemejanya.
"Mana aku tahu, kan yang tahu kamu," balas Jova dengan menggulung tubuhnya dengan selimut tebal bak ulat yang terbungkus kepompong.
"Aku nggak suka cewek sexsi, aku lebih suka dengan cewek yang setengah-setengah kayak kamu." Kini Felix sudah berusaha menarik selimut yang Jova sengaja pegang dengan kencang.
"Cih... pandai banget berbohong. Mungkin kalau aku percaya dengan omongan kamu, aku adalah orang ke sekian-sekian dan sekian yang jadi korban kamu." Jova menggeser tubuhnya dengan suara yang semakin melemah karena tidak bisa membayangkan ternyata suaminya kerja dengan didampingi wanita yang seksi.
"Kamu bisa tanya Arzen apakan aku pernah pakai Sachi atau tidak. Aku tidak pernah menyentuh dia untuk menemani malamku." balas Felix dengan tangan terus berusaha membuka selimut dari tubuh Jova.
"Ok, Sachi nggak pernah dipakai, tapi kenapa kamu tidak menegurnya untuk memakai pakaian yang lebih sopan. Kamu bos di sini, ajarkan karyawan kamu dengan pakaian yang lebih sopan, agar yang melihatnya tidak berpikir buruk. Aku yakin siapa pun yang melihat pakaaian Sachi mereka pasti akan langsung berpikir yang tidak-tidak. Kalau kamu mau dihargai orang lain, kamu harus tegas Mas, terkecuali kamu suka melihat Sachi seperti itu, karena demi memuaskan batin kamu yang tandus." Jova kali ini duduk bersender ke dasbord ranjang, dengan selimut masih membungkus tubuhnya, dagunya ia tompangkan di atas lutut, dari kedua kakinya yang sengaja ia tekuk.
__ADS_1
"Maaf, bukan aku terlalu ikut campur dengan kehidupan kamu, tetapi kamu saat ini adalah suami aku, aku berhak menjaga pandangan kamu, dan juga baik buruknya kamu, aku suatu saat akan terbawa juga karena aku istri kamu. Aku berbicara seperti ini bukan aku yang teramat baik tanpa kesalahan, tetapi kita sama-sama berangkat dari manusia yang berlumur dosa untuk meraih ridho-Nya, jadi tolong kalau ingin kamu dinilai baik, perbaiki cara berpakaian karyawan di kantor kamu, terutama Sachi," imbuh Jova, wanita itu benar-benar tidak memberikan Felix untuk melakukan pembelaan.
"Aku besok akan minta Arzen untuk menyelesaikan masalah ini." Felix pun langsung mengikuti apa kemauan Jova, toh alasan yang Jova berikan sangat masuk akal.
"Kalau gitu, ayok kita pulang. Aku sudah kangen banget sama cemong."
Brugggg!! Kembali Felix membuat Jova terbaring di atas kasur dengan tangan di atahan ke atas.
"Hay, kamu menyakiti aku Mas," protes Jova dengan berusaha berontak agar Felix melepaskan cengramanya, tetapi bukan Felix kalau kalah dengan Jova yang tenaganya tentu jauh lebih kecil dari laki-laki itu.
"Itu hukuman kamu karena masih mengucapkan kata cemong. Sebutkan kenapa kamu suka sekali dengan makhluk yang memiliki nama jelek itu?" tanya Felix dengan tubuh yang sudah berada di atas tubuh Jova dengan kaki saling bertumpu pada kedua lututnya agar tidak menindih istrinya.
"Jelas dia lucu (Cup), Imut (Cup) menggemaskan (Cup), baik (Cup), dan tampan (Cup)"
"Hay, kenapa kamu terus mencium aku," protes Jova karena Felix yang selalu memciumnya hingga dia tidak membuatkan lolos.
"Itu hukuman karena kamu lebih memuji cemong dari pada aku," balas Felix dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi itu kenyataan, cemong tidak pernah membuat aku menangis, tapi kamu, kamu sering membuat aku sedih," ucap Jova sembari menujukan wajah sedihnya.
"Kalau gitu maafkan aku, kalau aku pernah membuat kamu sedih, aku janji mulai saat ini aku hanya akan membuat kamu bahagia, aku janji aku hanya akan membuat kamu menangis karena bahagia."
Bushhh... wajah Jova dalam seketika merah merona. Hati Jova pun dalam merasakan kedamaian.
"Apa yang kamu katakan adalah kebenaran, bukan rayuan sesaat, yang akan hilang seiring berjalannya waktu?"
__ADS_1