
Tangan Felix terus mengusap perut Jova yang masih rata. Ada rasa hangat yang Felix rasakan ketika mengusap perut sang istrinya. Bahkan Jova yang merasakan nyaman, dan tidak sakit lagi sampai tertidur karena usapan di perutnya membuat dia nyaman.
Laki-laki itu duduk di samping Jova dengan menatap sedih tubuh sang istri yang meringkuk dengan wajah yang sangat meprihatinkan, tulang tanganya terlihat menonjol menandakan bahwa wanita itu banyak kehilangan berat badanya. Kejadian ini benar-benar membuat Jova berubah dratis dari sifat dan juga tubuhnya.
Dengan gerakan lembut tangan Felix mengusap rambut Jova, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya. Felix sangat rindu wajah Jova yang seperti dulu terutama kalau berdebat mengenai cemong, selalu bersemangat dan membuat Felix terkekeh.
"Maafkan aku Jo, gara-gara aku kamu jadi menderita seperti ini. Kamu adalah wanita yang kuat yang pernah aku temui. Kamu seperti ini gara-gara aku yang keras kepala," ucap Felix dengan menatap Jova yang sedang pulas tertidur.
Hingga makanan satu persatu datang, dan Felix pun mengusap rambut Jova, untuk membangunkanya.
"Jo... bangun yuk, makanan sudah datang." Felix membisikan dengan lembut hingga Jova menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya, dan tersenyum ketika indra penciumanya yang tajam mencium wangi makanan yang sudah ia inginkan sejak lama. Yah, sebenarnya Jova menginginkan makanan itu sudah sejak lama tepatnya setelah ia melihat kepala lapas memakan makanan itu dia ingin memintanya, tetapi Jova merasa segan dan tidak enak.
"Aku suapi yah," ucap Felix dan laki-laki itu membantu Jova untuk duduk. Terlihat beberapa kali Jova meringis merasakan rasa sakit yang teramat di bagian bawah perutnya.
"Sakit banget yah?" tanya Felix sembari sesekali mengusap perut Jova, wanita itu menggigit bibir bawahnya. Jova pun mengangguk memberitahukan kalau memang apa yang dia rasakan sangat sakit.
"Ya udah pelan-pelan saja, kalau nanti kamu merasa sakit lagi. Kamu boleh sambil tiduran lagi," ucap Felix. Suapan demi suapan terus memanjakan lidah Jova, hingga wanita itu yang sangat bahagia tidak kuasa menahan tangisnya. Tatapan Jova ia alihkan menatap kelain arah seolah ia malu kalau Felix tahu bahwa dirinya tengah mengis dengan kebisuan. Dengan wajah yang disembunyikan sesekali wanita itu mengusap air matanya, dan menahan bibinya agar tidak mengeluarkan suara.
"Kenapa nangis?" tanya Felix, ingin ia pura-pura tidak tahu tetapi isakan yang lolos dari bibir Jova, semakin membuat hatinya sesak.
"Aku hanya terlalu senang," jawab Jova dengan jujur yah dia terlalu senang bisa makan-makanan yang sudah lama ia inginkan, bukan makanan mewah memang, tetapi rasanya hatinya sangat bahagia ketika bisa menikmati makanan itu.
"Bahagia karena makanan ini?" tanya Felix memastikan, dan Jova mengagguk dengan lembut.
Lagi hati Felix sesak melanda. "Untuk kedepanya tolong apapaun yang kamu inginkan katakan. Aku dengan senang hati akan membelikanya semua untuk kamu. Aku akan sangat marah kalau kamu ingin sesuatu hanya diam saja. Janji yah kamu jagan kaya gini lagi."
Jova pun lagi-lagi hanya mengguk. Tanpa terasa satu porsi makanan yang ia inginkan sudah pindah ke dalam perutnya. Lagi, ia tidak merasakan mual dan lain sebagainya. Padahal beberapa hari ini dirinya kalau makan terasa mual terus-terusan.
"Gimana udah kenyang?"
__ADS_1
Jova mengangguk. "Bumbunya enak, aku suka," jawab Jova.
"Nah kaya gitu makanya lahap kan aku jadi senang lihatnya," ucap Felix. Tanganya sembari membuka rujak, dia bahkan belum makan, tetapi ingin langsung makan rujak lebih dulu. Perutnya belum ingin makan nasi.
"Itu apa?" tanya Jova sama dengan Felix langsung tergiur dengan rujak serut itu.
"Aku beli rujak, tapi kamu takut sakit perutnya," ucap Felix, tetapi wajah Jova langsung menunjukan kekecewaanya.
"Aku mau sedikit saja, boleh?" tanya Jova dengan suara yang sangat mengiba. Hingga Felix pun tidak tega.
"Boleh, tapi sedikit saja yah, takut nanti perut kamu semakin sakit." Felix pun dengan hati-hati kembali menyuapi Jova. ia takut kalau nanti ada perawat atau dokter yang tahu kalau dirinya menyuapi Jova dengan rujak serut. Nyatanya janji Jova yang ingin sedikit, tetapi justru satu porsi hampir habis oleh Jova sendiri. Untung Felix beli dua.
"Kamu doyan banget Sayang makan rujak. Aku takut nanti kamu sakit makin parah ragi."
"Hehehe... rujaknya enak tidak terlalu asam." Jova pun berkali-kali memuji makanan yang Felix belikan. Bahkan kali ini wajah Jova tidak pucat seperti tadi lagi.
"Aku pun heran, kenapa sekarang aku makan bersama kamu terasa enak dan tidak sakit perut ini. Tidak seperti biasanya pasti aku akan kesulitan untuk makan dan bahkan untuk melihat makanan saja aku sangat malas," adu Jova, dengan menatap Felix makan dengan lahap.
"Itu karena kamu kangen aku, Baby. Dalam hati kamu pasti kamu merasakan kalau kamu itu sangat kangen dengan aku." Felix menatap tajam pada Jova yang kali ini seolah tengah menatap kosong pada dirinya.
Yah, apa yang dikatakan Felix memang benar adanya dirinya terlalu kangen dengan Felix sampai Jova sering bermimpi pulang dan kembali tinggal dengan sang suami lagi.
"Apa yang kamu katakan benar Sayang, aku memang sangat kangen dengan kamu dan aku juga tidak tahu apakan aku bisa menjalani ini semua. Apalagi sekarang ada anak kamu yang seolah dia selalu ingin bersama-sama dengan kamu," gumam Jova di dalam hatinya.
"Kenapa kamu sedih lagi. Kamu tidak usah sedih. Kamu sudah berjalan setengah jalan. Sabar yah. Nanti kamu pasti akan bebas." Felix mengusap-usap rambut Jova dengan lembut.
"Entahlah, aku jadi cengeng banget. Aku juga marah pada diri sendiri yang terlalu lemah," balas Jova. Ingin dia kembali seperti dulu yang tidak mudah menyerah dan juga selalu ceria dan tidak lemah. Bukan Jova yang seperti sekarang, sebentar-bentar nangis, dan murung, putus asa, bahkan bosan untuk menjalani hidup. "Aku merasa sekarang bukan diriku yang dulu yang menunggu jasad ini, karena Jova yang aku kenal itu tidak cengeng, kuat, cuek, dan selalu semangat untuk menjalani hidup baik berat maupun ringan, tapi sekarang kamu lihatlah. Jova yang sekarang sangat cengeng, manja, selalu putus asa dan tidak percaya diri," imbuh Jova sembari terkekeh menertawakan dirinya yang sangat buruk.
"Hai, kamu tidak boleh bilang seperti itu. Kamu sekarang dan kamu yang dulu sama saja. Aku tidak pernah keberatan kalau kamu jadi manja dan cengeng. Justru aku suka karena aku bisa jadi penguat dan pelindung kamu. Aku justru tidak suka kalau kamu terlalu kuat dan mandiri, nanti aku tidak ada kerjaan sedangkan pekerjaan suami adalah melindungi istri. Jangan sedih aku suka kamu seperti apa pun itu." Felix memeluk Jova di mana saat ini laki-laki itu sudah duduk di ranjang pasien yang sempit.
__ADS_1
"Jo, kamu tunggu sini yah. Aku mau minta kamu pindah kamar. Mata aku ngantuk pengin tidur. Kamu lihat ranjang saja sesempit ini mau naik buat tidur samping kamu yang ada nanti kamu yang jatuh. Udah gitu mana banyak pasien lain," bisik Felix, dan Jova pun hanya mengangguk sembari tetawa kecil.
Tidak bisa dipungkiri Jova juga ingin merasakan tidur bersama dengan Felix lagi. Ya meskipun hanya di atas ranjang pasien, setidaknya apa yang dia inginkan sudah tercapai.
Tidak menunggu lama dan tidak menjadi masalah yang berarti Jova pun dipindahkan ke ruangan yang jauh lebih nyaman mau koprol atau mau karokean sekali pun tidak ada yang melarangnya karena dalam satu ruangan hanya ada dirinya seorang. Memang ketika ada uang semua jadi mudah.
"Nah, ginikan jadi enak. tidur juga bisa berdua, bisa main bola kasti juga di ruangan," ucap Felix ketika sudah ganti ke ruangan kelas sultan.
Kini laki-laki itu langsung naik ke ranjang pasien dan merebahkan dirinya ke atas kasur yang jauh lebih empuk dari pada yang tadi.
"Tapi ini terlalu enak Sayang, aku jadi takut," balas Jova sembari ke dua bola matanya mengawasi seisi ruangan yang harumnya wangi bukan bau obat seperti di kamar sebelumnya.
"Loh kok takut memang kamu kenapa?" tanya Felix dengan santai.
"Takut ajah terlalu nyaman tinggal di rumah sakit jadi tidak sembuh-sembuh," jawab Jova setengah tersenyum jahil.
"Jahat nggak kalau aku malah pengin kamu sakit terus sampai persidangan selesai? Aku ingin bersama-sama kamu terus, tidur bareng dalam satu kasur (Saat ini Felix memeluk sang istri dengan posesif), makan berdua bareng terus, dan juga bisa ngobrol lebih dekat." Felix menatap wajah Jova yang terlihat senyum yang teduh.
"Iya sih senang dan yang kamu katakan aku juga merasakan, tapi kalau tiap hari di rumah sakit juga bosan Mas, selain bosan juga bayaranya mahal," balas Jova dengan setengah berbisik.
"Hai, kamu jangan masalahkan soal uang. Apa kamu lupa kalau aku ini orang kaya. Soal bayar rumah sakit sangat mudah untuk aku. Lagi pula aku kerja itu untuk kamu." Lagi, sifat sombongnya ke luar.
"Iya-iya suami aku itu memang orang kaya. Aku jadi ingin buru-buru ke luar dari penjara dan segera menghabiskan uang-uang suamiku untuk belanja. Aku ingin seperti orang-orang diluar sana, istri sultan yang belanja barang mewah dengan ditemani suami mau apa tinggal tunjuk," balas Jova dengan menirukan ke sombongan Felix.
"Nah, kalau kayak gitu aku setuju. Aku jadi lebih semangat kerja karena aku punya istri yang boros dan matre."
Kini mereka pun bisa saling bercanda dan ngobrol santai, melupakan sedikit apa yang tengah mereka hadapi. Dan juga Jova tidak jarang terkekeh karena keusilan Felix.
"Terima kasih yah Mas, kamu bisa membuat aku melupakan sedikit ketakutanku. Nak, apa ini cara kamu untuk menghibur Bunda kamu?"
__ADS_1