Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Derita Kembali Menghampiri


__ADS_3

Perjalanan Jova dan Arzen pun tidak terlalu memakan waktu yang lama, karena memang rumah sakit yang merawat Felix tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Yah, Felix memang tinggal di pusat kota, di mana hampir semua tersedia dan berdekatan, mall, rumah sakit serta pusat perkantoran dan juga apartemen semua ada  dalam satu lingkup, sehingga tidak perlu menempuh jarak jauh untuk menemukan kebutuhan yang di cari, asalkan duitnya cukup maka akan dengan mudah menemukanya.


"Zen, kalau aku tidak naik taxi dan naik ojek bisa kan? Rasanya meskipun uang yang untuk ongkos dibiayai oleh bos kamu, sayang juga jatuhnya," ucap Jova sembari menghafal jalan yang ia lalui. Meskipun wanita itu baru di Ibukota ini, tetapi dia juga ingin tahu seperti apa kota Metropolitan ini.


Arzen langsung memalingkan pandanganya sekilas pada Jova. "Janganlah terlalu berhemat, uang yang kamu gunakan juga diberikan oleh suami kamu, maka nikmati saja. Jarang-jarang bos sekaligus suami  kamu itu baik."


Jova pun hanya membalas dengan senyum getirnya ia tahu bagaimana perlakuan keluarga laki-laki itu di kampung, terutama papahnya yang lebih orang kenal dengan Juragan Guntoro, di kampung kelahiran Jova beliau terkenal dengan sebutan rentenir dan juga orang yang sangat perhitungan, maka Jova pun berpikir hal yang sama dengan Felix. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Seperti itu kira-kira pikiran Jova.


Itu sebabnya Jova memilih tinggal di atap rumah dan bekerja mencari nafkah sendiri dari pada suatu saat nanti dari mulut keluarga Felix menebas mentalnya. Hingga ia tersungkur dari tajamnya lidah keluarga kaya itu.


"Aku bukan terlalu berhemat, hanya saja tidak mau dicap terlalu memanfaatkan kebaikan bos kamu itu. Aku dengar biaya taxi bisa dua kali lipat dari biaya ojek, jadi aku hanya ingin memanfaatkan uang ini dengan lebih baik lagi. Aku hanya tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi di waktu yang akan datang. Mungkin memang tidak saat ini, tetapi di masa depan, aku hanya terlalu takut kalau uang ini akan di pertanyakan ke mana saja. Aku tahu keluarga bos kamu itu seperti apa, pasti juga tidak akan jauh berbeda dengan anaknya, yaitu Tuan Felix." Jova menjelaskan kenapa dia benar-benar perhitaungan dengan lembaran rupiah yang Felix berikan untuk pegangan dirinya.


Huhhh... Arzen menghembuskan nafas kasar, alasan Jova sejauh ini masuk diakal.


"Baiklah terserah kamu saja, aku hanya ingin bilang sama kamu, jangan terlalu kaku dengan Bos Felix, dia sebenarnya asik kok orangnya. Asal jangan dibantah apa yang dia katakan, seperti kamu tadi. Kalau bisa mengalah, maka mengalah lebih baik, aku hanya tidak ingin dia marah sama kamu, dan ujungnya memecat kamu. Cari kerjaan di kota besar seperti Ibukota itu tidak selalu gampang, jadi manfaatkan pekerjaan dengan sebaik mungkin, rajin dan jangan banyak mengeluh. Karena diluaran sana banyak yang memimpikan mendapatkan pekerjaan yang seperti kita. Bukanya kamu membutuhkan pekerjaan ini untuk menghasilkan uang yang bisa kamu gunakan untuk biaya pengobtan adik kamu."


Arzen pun menasihati Jova agar tidak membuat Felix marah dan bahkan Arzen yang tahu kisah keluarga Jova sebagian, ia iba pada Jova yang memiliki adik sedang sakit keras, dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, belum pernikahan Jova yang dijadikan sebagai pelunas hutang


Perasaan Jova kembali terenyuh dan teriris ketika ia mengingat kembali keluarganya yang sangat bergantung pada kekuatan pundaknya.


"Kira-kira Ayah dan Ibu serta Jini hidupnya membaik tidak yah? Bukanya Juragan Guntoro berjanji kalau beliau akan memberikan bantuan modal untuk Ayah usaha, dan juga tetap membantu pengobatan Jini," gumam Jova dalam batinya.

__ADS_1


Sementara itu di kota kelahiran Jova.


Hujan sejak sore tadi terus turun dengan lebat, langit pun nampak gelap, angin dingin berhenbus dari celah jendela yang sengaja di buka oleh Jini gadis remaja usia lima belas tahun itu tengah menatap kosong ke luar jendela menatap air yang terus turun dari langit.


Hatinya nyeri ketika mendengarkan percakapan orang tuanya barusan. Sama halnya dengan cuaca sore ini di kota kecil di tengah pulau Jawa yang nampak mendung dan seolah langit pun menangis menyaksikan sebuah keluarga yang kurang mampu terombang ambing mencari bantuan untuk pengobatan putrinya.


"Tuhan Kenapa Engkau kirimkan sakit ini pada aku. Tuhan tolong cabut saja nyawaku, karena aku tidak mau membuat orang tua, dan kakakku sulit." Jeritan pilu dari gadis kecil itu.


Sakit yang ia derita tidak juga ada kemajuan setelah biaya yang tidak sedikit orang tuanya gelontorkan. Berharap agar Jini bisa kembali sembuh, dan melanjutkan sekolahnya, serta hidup normal dengan menyusun kepingan cita-cita di masa kecilnya.


Namun, Jini sendiri seolah sudah kehilangan semangatnya untuk sembuh, terlebih setelah indra pendengaranya menangkap obrolan yang sangat menyesakkan dada, seperti pada sore hari ini sebelum hujan turun dengan derasnya.


Namun, ternyata salah, Jini yang saat itu akan ke luar rumah untuk mengangkat jemuran pakaian pun memergoki mereka, dan justru bersembunyi di balik bilik bambu dan menajamkan indra pendengaranya agar ia bisa mendengar setiap kata yang kedua orang tuanya obrolkan.


Janu membuang nafas kasar, dan seolah ia sedang mencari kekuatan, dan bercerita pada tulang rusuknya, bahwa betapa beratnya menjadi tulang punggung. Janu memberikan jawaban dengan gelengan kepala lemahnya.


"Kenapa bisa tidak, bukankah mereka sudah berjanji." Lasmi yang syok menghempaskan bokongnya di dipan kayu yang sudah usang.


"Mereka justru menawarkan agar kita menjual rumah ini, baru kita akan menadaptakn uang untuk biaya pengobatan Jini." Pandangan mata Janu menatap rumah yang tidak luas bahkan rumah yang mereka tempati bisa di bilang rumah paling jelek di antara tetangga-tetangga di kampung mereka tinggal.


Lasmi langsung lemas mendengar apa ucapan Janu. Ketakutanya benar-benar terjadi. Setelah putrinya menikah dengan anak konglomerat itu. Janji mereka pun diabaikan. Padahal mereka berjanji akan memberikan modal untuk usaha ternak kambing yang sebelumnya suaminya miliki.

__ADS_1


Namun, seiring kebutuhan yang meningkat, kambing-kambing mereka pun satu per satu di jual untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Janu pun bekerja serabutan menjadi buruh di sawah tetangga dengan upah yang tidak menentu. Serta usaha apapun laki-laki paruh baya itu usahakan, agar tidak terlalu mengandalkan pada bantuan Juragan Guntoro, tetapi besarnya pengobatan Jini sulit untuk dipenuhi oleh Janu, sehingga ia pun tetap mengharapkan janji besannya yang akan memberikan bantuan modal usaha itu.


"Terus apa Ayah menyanggupi ide mereka?" tanya Lasmi dengan suara yang lesu.


"Ayah butuh masukan dari Ibu, karena hanya ini harta kita yang paling berharga. Apabila rumah ini kita jual, kita akan tinggal di mana?" Janu menatap pada sang istri seolah tatapanya mengandung permohonan agar istrinya membantu memberikan masukan pada dirinya agar tidak salah mengambil keputusan.


Janu sudah cukup dirundung penyesalan dengan menerima tawaran Juragan Guntoro yang menjodohkan putranya dengan anak mereka. Bahkan kini Janu pun tidak tahu bagaimana nasib putrinya sebenarnya. Meskipun Jova masih berkomunikasi dengan mereka dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi Janu tidak seratus persen percaya. Mungkin saja Jova hanya berpura-pura baik untuk menutupi keadaan sebenarnya.


"Berapa mereka menawar rumah kita?" tanya Lasmi, pasrah, mungkin memang dengan mengorbankan rumah ini nasibnya akan berubah.


"Hanya dua ratus juta." Janu menunduk, sebenarnya uang dua ratus juta bagi mereka tentu besar, tetapi apabila di nilai dari harga jual luas tanah dan juga bangunan uang dua ratus juta tentu sedikit. Seharusnya apabila di jual dengan harga normal tentu harganya akan jauh lebih dari dua ratus juta.


Lasmi meneteskan air matanya, dalam hatinya berdoa dan meminta petunjuk pada Allah agar dia bisa mengambil keputusan yang tepat.


"Hanya uang itu yang kita bisa gunakan untuk membantu pengobatan Jini, dan hanya dengan uang itu ada harapan kita agar Jini sembuh, jadi ibu rasa lebih baik kita menjual rumah ini saja."


Jeduerrrr.... seolah petir saat itu juga menyambar tubuh Jini, ketika ia sudah tidak tahan lagi, dengan ujian yang Tuhan berikan.


Dengan langkah terseok Jini kembali ke kamarnya. Gadis kecil itu memilih menumpahkan kesedihanya di balik jendela yang melihatkan hujan yang teramat deras.


"Tuhan aku mohon cabut saja nyawaku. Tukar nyawa ini, dengan angin segar kebahagiaan untuk keluarga hamba."

__ADS_1


__ADS_2