Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Kabar Buruk


__ADS_3

Jova yang sudah biasa dalam mengerjakan apa-apa cepat pun tidak betah mandi berlama lama. Hanya butuh waktu dua puluh menit saja kini wanita itu sudah selesai mandi. Sabun, Shampo dan juga sikat gigi sudah cukup untuk Jova, bahkan wanita itu heran kalau ada yang mandi tapi berlama-lama di kamar mandi mereka itu ngapain? Ngukur suhu air dulu atau justru mereka mengadakan konser dulu di dalam kamar mandi? Ah itu hanya mereka yang tahu.


"Astaga ini, sabun, shampo wanginya sampe kembang tujuan rupa juga minder, karena kalah saing." Tidak henti-hentinya Jova memuji perlengkapan mandi yang lengkap sekali dan juga wanginya enak. Bahkan Jova akui kalau Felix pasti sangat bersihan sekali orangnya itu terlihat dari perlengkapan mandi yang super lengkap, Jova sendiri sampe bingung untuk apa ajah benda-benda yang ada di dalam kamar mandi itu. Biasanya cewek yang perlengkapan mandinya banyak ini malah cowok yang seperti itu. Perlengkapan mandi Jova hanya sabun, shampo Emeron, dan sikat gigi udah cukup.


Setelah selesai mandi kini tinggal wanita itu yang bingung mau apa dia saat ini, pakai pakeian yang barusan dia pakai? Tidak mungkin baunya saja sudah sangat unik. Hanya pakai handuk? Itu tidak mungkin.


"Ya Salam!! Sial, siapa sih yang ketuk pintu?" umpat Jova yang tersentak kaget karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi di mana sejak sepuluh menit yang lalu ia mematung di balik daun pintu, memikirkan apa yang akan dia lakukan.


"Siapa?" tanya Jova dengan suara yang cempreng, meskipun wanita itu sudah yakin kalau yang mengetuk pintu kamar mandi adalah Felix.


"Bibi, Neng."


Ah, ternyata tebakan Jova salah, yang mengetuk pintu kamar mandi bukan Felix melainkan bi Suro. Jova mah apa-apa Felix.


"Iya Bi, ada apa?" taya Jova lagi.


"Bibi bawa baju untuk Neng Jova," balas Bi Suro. Jova pun langsung tersenyum dengan lebar, ternyata Felix memang tidak jahat-jahat banget, buktinya meminta bi Suro untuk mengambilan bajunya. Jova pun akhirnya membuka pintu kamar mandi, dan meminta bi Suro masuk.


"Neng, ini tadi ponsel Neng Jova dari tadi bunyi terus." Bi Suro mengulurkan ponsel Jova, tentu setelah melihat kalau Jova sudah selesai untuk berpakaian.


Dengan hati yang tidak tenang, Jova pun mulai meraih ponsel dari tangan bi Suro dengan tatapan Jova dan bi Suro saling bertemu.


"Kenapa perasaan Jova tidak tenang gini yah Bi," ucap Jova sembari tangan satunya memegang dada sebelah kirinya.


"Neng Jova tenang saja, semoga bukan kabar buruk," balas Bi Suro. Jova dan bi Suro pun tersentak kaget ketika ponsel kembali berbunyi.


"Angkat Neng," ucapan Bi Suro berhasil mengagetkan Jova yang ternyata tengah melamun dengan tangan bergetar akhirnya jari jempol Jova menekan ikon gagang telpon berwarna hijau.

__ADS_1


"Ha... hallo..." ucap Jova dengan suara yang bergetar, sedangkan dia sendiri berusaha menguatkan hatinya yang mungkin saja telpon dari papahnya adalah kabar yang kurang mengenakan.


"Hallo Mbak... gimana kabarnya?" tanya Janu dengan suara yang berat. Jova pun sedikit merasakan lega karena ketakutanya tidak akan terjadi di mana Jova terlalu takut kalau panggilan telepon yang masuk adalah kabar yang paling dia takutkan selama ini. Yaitu kabar buruk.


"Kabar Jova baik Ayah, Jova juga senang tinggal di sini," balas Jova dengan suara yang ceria. Dan memang Jova merasakan juga Felix yang saat ini sudah jauh perubahanya. Setidaknya tidak terlalu ketus.


"Syukur deh Mbak, ayah ikut senang dengarnya."


"Ayah, kabar Ayah sendiri bagaimana? Kabar Ibu dan juga Jini gimana?Jova sangat kangen dengan kalian?" tanya Jova dengan suara yang masih lepas menadakan bahwa wanita itu memang sangat bahagia.


"Kabar Ayah baik, begitupun dengan yang lainya," jawab Janu, meskipun dari suaranya seolah laki-laki paruh baya itu sedang menyimpan sesuatu yang berat. Kini Janu dan Jova pun terlibat sambungan yang cukup lama, hal itu karena Jova yang terus bercerita dengan kehidupanya di Jakarta yang sangat berbeda dengan kehidupan di desa.


Bahkan cemong pun tidak luput dari cerita Cucu dari awal mula dia bertemu dengan makhluk Tuhan yang paling menggemaskan itu hingga kini cemong sudah semakin pintar dan mengenali dirinya sebagai Momy-nya.


Janu pun lagi-lagi terlihat benar-benar mendengarkan cerita Jova, hal itulah yang membuat Jova semakin dekat dan bahagia dengan apa yang sedang ia perjuangkan itu semua karena ayahnya yang sangat perhatian. Sehingga Jova merasakan kalau dia sangat bersemangat untuk bekerja karena dukungan dari keluarganya.


"Jova masih lama Bi?" tanya Felix yang saat itu sedang duduk di sofa ketika melihat asisten rumah tangganya ke luar dari kamar mandi.


"Kalau di lihat dari obrolanya sih masih Tuan," jawab bi Suro dengan sopan sebelum akhirnya ia pamit untuk pergi kembali bekerja.


Felix pun kembali pada pekerjaanya sembari menunggu Jova selesai berkomunikasi dengan keluarganya yang dapat Felix simpulkan dari obrolan Jova yang sedikit bisa Felix dengarkan dia sangat bahagia bisa berkomunikasi dengan keluarganya.


Felix pun merasa senang ketika Jova bisa sebebas itu bercerita dengan keluarganya, tidak tertekan terus oleh sikapnya.


Kembali lagi pada Jova yang masih di dalam kamar mandi sedang asik berjongkok di balik pintu kamar mandi dengan sebelah tangan masih memegang ponsel dan tangan satu lagi digosok-gosokan pada ubin marmer kamar mandi yang bersih.


"Ehem... Mbak apa bisa pulang malam ini juga?" tanya Janu, setelah obrolan panjang mendengarkan curhatan putri sulungnya yang bisa sedikit mengobati perasaan sedihnya. Hanya cerita Jova yang bisa menjadikan hiburan untuk dirinya. Setelah mendengar cerita Jova yang sangat antusias Janu pun mulai membahas tujuan awal dirinya menelepon putrinya.

__ADS_1


Deg! Jova cukup terkejut dengan ucapan ayahnya. "Pulang Yah? Malam ini juga?" tanya Jova pikiranya sudah tidak bisa berpikir jernih.


Cukup lama Janu tidak menjawab, karena di sebrang telepon Janu sedang menahan tangisnya.


"Ini ada apa sih, Yah?" tanya Jova dengan perasaan yang sudah mulai tidak tenang, justru semakin Janu berusaha menyembunyikan keadaan dan berusaha baik-baik saja malah membuat jiwa penasaran Jova semakin tinggi. Setinggi gunung.


"Tidak ada apa-apa, Mbak Jova pulang dulu saja Jini kangen dengan Mbak Jova." Janu tetap tidak mau mengatakan yang sesunggungnya.


"Yah, ini ada apa? Kalau Jini kangen sama Jova, mana? Biar Jova bicara dengan Jini? Jova juga kangen sama Kini, " ucap Jova tetapi nada bicaranya sudah tidak baik-baik saja, suara yang serak dan tenggorokan yang tercekik menandakan kalau Jova sudah bisa berpikir kalau ada yang tidak beres dengan adiknya.


"Udah Yah, katakan yang sesungguhnya saja, percuma ditutupi juga pada akhirnya Jova akan tahu kalau adiknya sudah tidak ada." Suara dari Lasmi bisa Jova dengan dengan jelas.


Jedueeerrrr... Suara petir seketika membuat tubuh Jova lemas, air matanya jatuh meskipun Jova masih berharap bahwa Jini masih berjuang, tapi suara dari wanita yang ia dengar mematahkan semuanya.


"Yah, apa itu suara Ibu?" Bodoh, Jova justru bertanya pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Saking paniknya. Sudah jelas suara yang barusan di dengar adalah suara dari wanita yang melahirkanya. Namun, justru Jova masih bertanya.


"Yah, katakan kalau Jini masih berjuang," ucap Jova dengan tangisan yang sudah pecah.


"Maafkan ayah Mbak, ayah memang payah tidak bisa menjaga Jini. sampai adik kamu tidak bisa tertolong. Maafkan ayah!"


Seketika tangisan Jova pun semakin pecah. Tidak terbayangkan sama sekali perngorbananya akan sia-sia.


"Jini, kenapa kamu bohong. Bukannya kamu janji akan berjuang sama-sama kenapa kamu bohong," racau Jova, Felix di dalam kamar pun langsung belari ke kamar mandi ketika mendengar tangisan Jova.


"Jojo, kamu kenapa?"


#Yang sabar yah Jo, pasti ada bahagia di balik duka.

__ADS_1


__ADS_2