Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Mendadak Akad


__ADS_3

Setelah melewati perdebatan dan perundingan yang matang, akhirnya pernikahan Jova dan Felix dilangsungkan lusa, tepatnya dua hari setelah pertemuan mereka. Pernikahan yang cukup meriah kalau disiapkan dalam waktu satu hari. Bahkan Jova tidak menyangka teman-teman kerjanya pun hadir ke acara pernikahan mereka. Padahal harapan terbesarnya adalah teman-temannya tidak ada yang tahu akan pernikahan dirinya. Biarkan pernikahan ini menjadi rahasia mereka.


Dengan kaki yang beras Jova berjalan dengan anggun. Gadis jelek, pendek dan hitam, kini berubah seperti sosok asing, menjadi gadis cantik, bersolek ayu, make up  yang tidak terlalu menor +, tetapi enak dipandang oleh mata, tubuh berbalut kebaya yang melekat dengan indah di tubuhnya tidak kebesaran dan juga tidak kekecilan, cocok dengan tubuhnya yang tidak terlalu gemuk.


"Gila nih cewek cantik juga," gumam Felix ketika melihat Jova yang berjalan menuju ke tempat akan dilaksanakannya akad.


"Jaga mata, awas nanti kepincut, jatuh cinta lagi, malu nanti udah ngehina malah jatuh cinta," bisik Jova sembari membenarkan duduknya, tentu sebelum ia berkata sudah memastikan lebih dulu  bahwa tidak ada yang dengar selain Felix.


Laki-laki itu hanya terkekeh samar. "Kita buktikan siapa yang memuja duluan."


"Siapa takut!!"


Jova dan Felix pun langsung menghentikan perdebatan sengitnya ketika penghulu sudah datang dan itu tandanya acara akan segera di mulai.


"Sah!!" Suara saksi menggema di aula mushola (Surau) yang terletak tepat di samping rumah Jova.


Hati Jova bergemuruh, tidak percaya bahwa dalam hitungan singkat kini setatusnya telah berubah. Mendadak akad, mendadak pasutri. Bahkan ketika ia sedang senang bekerja, menikmati peran anak yang berusaha berbakti pada kedua orang tuanya harus menikah demi melunasi hutang-hutang keluarganya.


Yah, semua orang bahkan teman kerjanya sudah tahu bahwa pernikahan yang Jova lakukan adalah untuk menebus hutang. Tidak ada raut kebahagiaan di hari yang sakral ini, bahkan Jova tidak bisa melihat bayangan bahagia dalam masa depannya.


Satu demi satu acara sakral dalam prosesi pernikahan dilalui oleh Jova dan Felix, dari mereka mencium tangan dengan takzim, Felix yang mencium kening Jova dan sungkeman kepada kedua orang tua mereka. Tangis haru pun mewarnai acara sungkeman. Terlebih Lasmi dan Janu pun terlihat wajah yang kurang bahagia. Begitu pun dengan Jova, senyum yang tersungging hanyalah senyum paksa yang menutupi kesedihanya.

__ADS_1


"Selamat yah Jova, semoga kamu bahagia dan juga jangan lupa sama kita yah." Sumi yang menjadi teman kerja satu mejanya pun mencoba menghibur dengan kekonyolanya, ketika melihat teman yang sering membantunya tidak bahagia di hari pernikahannya.


Namun, hati Jova yang sedang patah, bahkan sudah hancur. Membuat apa yang diucapkan Sumi, justru seperti sembilu yang sedang mengiris-iris tubuhnya, menambah luka di tubuhnya.


Jova memeluk Sumi dengan keras. "Sum, maaf yah, mungkin selama kerja aku sering bikin marah sama kamu. Kalau bisa aku mau minta bantuan kamu, kira-kira kamu mau tidak?"


"Minta bantuan apa, asal jangan minta aku jadi pengantin pengganti suami kamu," bisik Sumi, dengan mengedikkan bahu, dan kepala yang di geleng-gelengkan. Seolah Felix adalah laki-laki yang sangat mereka takuti.


Sebenarnya tidak aneh sih ketika banyak yang berpikir seperti itu pasalnya anak juragan Guntoro dalam kampung Jova dan kampung tetangga sudah terkenal laki-laki yang bengis, dan kasar. Sehingga banyak wanita yang takut ketika mendengar akan dijodohkan dengan anak juragan Guntoro.


Baru Jova perempuan yang berani maju menjadi istri dari anak juragan Guntoro yang tekenal galak dan kasar itu.


"Bukan Sum, aku hanya mau minta bantuan sama kamu tolong ambilkan gaji aku yah. Aku masih ada gantungan sepuluh hari, nanti kamu bisa kirimkan uang itu padaku. Aku sedang butuh uang," balas Jova tidak kalah berbisik.


Hari ini seharusnya adalah hari bahagia untuk Jova bahkan semestinya ia sepanjang acara menyunggingkan senyum bahagianya, tetapi tidak dengan Jova yang justru dalam otaknya ia banyak memikirkan banyak pikiran yang mengganggu, seperti ia harus mencari uang untuk ia bertahan, pekerjaan dia nanti apa, dan dia akan tinggal di mana, lalu dia yang tidak memiliki siapa-siapa di Jakarta bagaimana ia akan hidup? Ini adalah pikiran yang mengganggunya hingga acara pernikahannya ia tidak terlihat bahagia.


Acara demi acara sudah Jova dan Felix jalani, tamu udangan pun sudah tidak terlalu ramai lagi, dan hari pun beranjak dari siang kini sudah berganti malam.  Rasa takut Jova kembali menghinggapi ketika ia membayangkan malam pertamanya nanti.


Meskipun Felix mengatakan ia tidak akan pernah mau menyentuhnya atau pun memberikan nafkah batin, dan ini kabar gembira untuk Jova, tetapi  lagi-lagi ia dilanda ketakutan kalau yang Felix katakan justru akan berubah lagi.


"Jo, mana suami kamu, panggil ajak makan bareng," ucap Lasmi sembari memberikan dua kotak nasi untuk makan menantu dan anaknya.

__ADS_1


Jova pun tersentak kaget dengan suara ibunya. Lalu wanita itu mengedarkan pandanganya, mencari sosok suaminya yang ternyata masih di luar. Entah sedang apa tetapi sepertinya apabila dilihat kasat mata sedang sibuk.


"Mas Felix masih teleponan Bu, Jova makan sendiri saja yah." Tangan Jova hendak mengambil makanan yang ada di hadapannya, tetapi buru-buru di tahan oleh Lasmi.


"Kamu tunggu suami kamu, dia tidak akan lama kok teleponannya. Tidak sopan kalau kamu makan duluan, jatuhnya tidak menghargai," ujar Lasmi dengan suara yang lirih. "Meskipun ibu tahu kalau kamu tidak menyukai suami kamu, tetapi setidaknya kamu  menghargai dia. Cinta bisa datang dengan terbiasa karena perlakuan yang lembut." Wanita paruh baya itu menepuk pundak Jova, sebelum Lasmi meninggalkan putri sulungnya.


Tidak lama kini Jini pun datang, menghampiri kakaknya. Yang sejak acara pernikahan tadi Jini lebih banyak berdiam diri di kamarnya.


"Mbak, maaf yah, gara-gara Jini yang sakit-sakitan. Mbak Jova harus menikah dengan laki-laki itu. Jini jahat yah Mbak." Wajah sedih terlihat dari raut wajah Jini yang di tekuk dan menunduk sempurna.


"Ini semua sudah takdir, ini bukan salah Jini, dan mbak juga sudah ikhlas. Saat ini kalau Jini sayang sama mbak, Jini harus doain mbak terus, agar mbak sehat selalu, dan bahagia selalu."


Gadis usia lima belas tahun dengan tubuh yang kurus langsung memeluk tubuh kakaknya. "Jini, ucapkan terima kasih banget. Karena Mbak mau mengorbankan ini semua untuk Jini. Jini berjanji akan sembuh dan buktikan pada Mbak kalau Jini sembuh."


Jova pun langsung mencium bangga pada adik kecilnya.


"Mbak, bangga punya adik yang sangat bersemangat seperti kamu."


'Biarlah aku tidak bahagia, sedih, kerja keras asalkan adikku sembuh," batin Jova sembari mengelus rambut adinya. Yang mulai besok Jova tidak bisa membelai rambut adiknya, di mana Jini biasanya adalah teman curhat pertemanan dan pekerjaan sekaligus pribadi. Namun mulai besok mereka akan terpisah dan mencoba memberikan kebahagiaan terutama kedua orang tua mereka.


"Inikah akhir perjalananku? Atau ini adalah awal perjalananku? Akankah ada bahagia setelah ini? Atau justru aku terkukung dalam jurang penderitaan?"

__ADS_1


#Semangat Jo kamu pasti kuat....


...****************...


__ADS_2