Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Kepercayaan Felix Untuk Jova


__ADS_3

Jova pun memberikan nomor ponselnya pada Naya. "Ini Mbak nomor ponsel saya, kalau memang Anda berkenan langsung hubungi saya," ucap Jova dengan senyum yang ramah. Rasanya dia ingin terbang karena ternyata Felix mengakui dirinya sebagai istrinya. Apalagi dia melibatkan ia sebagai perantaraan antara Naya dan Felix sendiri. Jarang-jarang suami seperti Felix.


Padahal awalnya wanita itu sempat cemburu, dan ingin meninggalkan Felix, tetapi tidak jadi karena ternyata suaminya cukup peka.


Naya pun merogoh ponselnya, lagi dan lagi wanita itu terlihat kurang menyukai Jova. Namun Jova pun tidak mempermasalahkanya toh yang terpenting Jova tidak mengusik wanita itu, tetapi kalau wanita itu yang mengusik Jova duluan. wanita itu pastikan bisa-bisa dia menggeser lututnya jadi menghadap ke belakang. (Gimana ceritanya itu Jo?)


Setelah cukup berbasa-basi Felix pun akhirnya mengakhiri obrolan antara Naya, dan akan pulang ke rumah Jova terlebih dahulu untuk memprersiapkan keperuan Lasmi selama tinggal di rumah Felix nantinya.


"Mas, apa Naya itu mantan kamu?" tanya Jova begitu mereka sudah cukup jauh dengan pergi meninggalkan Naya yang juga pergi menuju kamar rawat sang anak.


Felix menatap Jova dan tidak lama mengembangkan senyum terbaiknya. Sebenarnya laki-laki itu sudah mempredisikan kalau Jova pasti akan bertanya seperti itu.


"Mau jawaban yang jujur atau bohong?" goda Felix dengan senyum yang mengembang sempurna. Baru kali ini dia merasakan  rasa yang sangat bahagia ketika ada yang cemburu, biasanya Felix kurang nyaman ketika ada yang cemburu, apalagi sampai urusan dengan masa lalu, tetapi kali ini laki-laki itu merasakan beda, Felix justru suka ketika Jova merasakan cemburu.


Jova pun melakukan hal yang sama yaitu menatap dengan malas pada Felix. "Tidak usah di jawab, karena sudah tahu jawabanya. Aku tadi hanya mengetes kamu apakah kamu akan jujur atau tidak," balas Jova dengan santai.


Felix terkekeh dengan renyah, dan menarik Jova agar berjalan mendekat. "Iya dia mantan aku," jawab laki-laki itu dengan mengucapkan dengan nada setengah berbisik tepat di balik daun telinga sang istri.


"Oh... terus kalau dia tanya pekerjaan kamu terima?" tanya Jova kembali, sangat alamiah sebagai seorang istri dia takut kalau mantan kekasih dari suaminya akan merebut suaminya dari dirinya. Apalagi kalau dia dengar dari cerita Felix kemarin-kemarin, suaminya itu dulu terlihat sangat memuja Naya hingga ia seperti kehilangan separuh hidupnya, ketika Naya yang mengakhiri hubunganya.

__ADS_1


"Itu alasan aku kasih nomor kamu Jova, karena aku ingin kamu terlibat dengan masalah seperti ini. Aku ingin mencoba terbuka dengan kamu. Makanya aku kasih nomor itu ke kamu. Soal diterima atau tidaknya silahkan kamu bisa pilih sendiri sesuai apa yang kamu mau. Karena aku ingin kamu yang ambil keputusan," balas Felix dengan nada yang sabar.


"Kita lanjutkan obrolan ini lain kesempatan kasihan Ibu dan Arzen pasti dia sangat bosan menunggu kita," imbuh Felix, padahal Jova sudah bersiap akan membalas ucapanya. Namun apa yang dikatakan Felix benar sehingga Jova kembali menelan kata-katanya.


Benar yang dikatakan oleh Felix Lasmi nampak sudah sangat lelah menunggu mereka. "Bu,maaf nunggu lama yah. Tadi ada ketemu teman dan ngajak ngobrol sebentar," ucap Felix langsung, begitu menghampiri ibu mertuanya yang sedang duduk dengan menatap lalu lalang orang-orang berjalan ada yang masih sakit dan ada yang sehat.


Lasmi yang sedang melamun tersentak kaget dengar ucapan mantunya. "Tidak apa-apa, Ibu pikir tadi dokter ada yang ingin disampaikan sehingga lama," balas Lasmi, mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dan gegas pulang ke rumah mereka.


Jova sudah berjanji tidak akan sedih lagi sehingga dia pun lebih banyak mengajak ibunya berkomunikasi dan juga bercerita yang membuat senang. Karena kalau Jova sedih pasti wanita yang telah melahirkannya juga akan ikut sedih juga. Kini saatnya Jova menunjukan kalau dia adalah wanita yang kuat, sehingga Tuhan menitipkan sang ibu tercinta pada dirinya.


Tangan Jova meraih ponsel yang tiba-tiba bergetar menandakan ada panggilan yang masuk. "Sumi... tumben tuh anak telpon aku," gumam Jova, tetapi tidak lama kemudian Jova pun mengangkat telpon Sumi.


[Jo... aku dengar hari ini kamu pulang dari rumah sakit apa boleh aku ke rumah kamu. Ada yang ingin aku bahas sama kamu.] cecar Sumi begitu sambungan telepon diangkat oleh Jova.


[Iya maaf Jo, abisan aku sedang panik banget. Aku sedang banyak masalah, dan ingin cerita dengan kamu. Kamu kan sahabat terbaik aku,]  balas Sumi dengan suara yang dibuat-buat manja.


[Eleh... kalau baik gini biasanya ada udang dibalik bakwan. Giliran ada masalah aja datang manis banget kayak rambut nenek giliran enak mah boro-boro aku kirim pesan aja cuma di read doang,] adu Jova dengan nada yang kesal. Memang beberapa kali Jova kirim pesan dengan Sumi, tapi wanita yang ngaku sahabat terbaiknya itu tidak membalasnya, pesan hanya di baca tanpa di balas sama sekali.


[Hehehe, ya maaf Jo, nanti aku ceritain dah kalau sudah ketemu sama kamu. Intinya aku pengin cerita banyak hal sama kamu. Hanya kamu yang tahu aku dan kamu pasti juga akan maklum kenapa aku tidak balas pesan kamu,] balas Sumi, kali ini suara wanita yang selalu ceria itu sudah sedikit melow hal itu karena dia yang kembali teringat masalah-masalahnya. Terutama sejak kepergian Jova ke Jakarta. Pesaingan kerja membuat dia terlilit segudang masalah.

__ADS_1


[Ya udah, kamu ke rumah aku aja sekarang, karena aku sebentar lagi sampai rumah,] balas Jova, setelah Sumi menyanggupinya Jova pun memutuskan sambungan teleponya.


"Siapa Mbak?" tanya Lasmi, padahal sebenarnya wanita paruh baya itu sudah tahu siapa gerangan yang menghubungi putrinya.


"Sumi, katanya pengin curhat," balas Jova dengan wajah yang terlihat bingung, pasalnya dari nada bicara Sumi sepertinya temannya itu sedang banyak masalah.


"Oh, kasih dia, ibu sempat dengar berita dia dituduh mencuri di tempatnya bekerja hingga dia dipenjara, dan orang tuanya diminta mengebalikan uang dengan nominal barang yang dicuri. Mana ibu dengar nominalnya besar banget," ujar Lasmi.


Deg!! Jova pun langsung memalingkan wajahnya pada sang ibu. "I... Ibu dengar dari siapa? Rasanya tidak mungkin karena setahu Jova, Sumi sudah lama kerja di toko itu dan juga selama kita kerja tidak pernah ada masalah apapun," balas Jova, yang tidak percaya kalau temannya melakukan itu.


Lasmi pun mengedikkan bahunya tanda tidak begitu tahu dengan apa yang terjadi dengan teman Jova itu. "Ibu dengar dari tetangga-tetangga yang banyak ngomongin Sumi, sempat rame itu berita di kampung, dan ibu rasa juga tidak mungkin apalagi Sumi kan anak Kyai (Gelar dalam masyarakat Jawa yang setara dengan Ustadz) tapi kan buktinya ada di tas Sumi jadi tidak bisa ngelak," jelas Lasmi kembali yang terdengar dari berita di masyarakat.


Jova pun yakin kalau Sumi akan cerita hal ini, ia jadi merasa bersalah yang sempat mengirimkan pesan menagih uang gajihnya yang Jova yakin pasti terpakai oleh Sumi apalagi kalau masalahnya berat seperti ini, pasti yang tiga ratus Jova bisa saja dipakai dulu untuk menutupi masalah-masalahnya.


Namun dalam keyakinan Jova dia tetap yakin kalau Sumi tidak mungkin mencuri. "Aku jadi tidak sabar ketemu sama Sumi," batin Jova sedangkan Felix dan Arzen di depan terlibat obrolan sendiri. Ah, sudah jangan ditanya pasti obrolan mereka mengenai usaha yang Jova sama sekali tidak tahu. Yang Jova tahu adalah setok gudang dan nama-namanya.


Benar yang dikatakan Jova begitu mobil yang ia tumpangi memasuki halaman rumahnya Sumi sudah duduk di kursi depan dengan menunduk sedih. Ada yang beda dari Sumi. Yah, gadis itu sekarang berhijab dan juga menutup wajahnya dengan masker. Sumi langsung mengangkat wajahnya ketika ia tahu semuah mobil mewah masuk ke halaman rumah Jova.


Sumi langsung menghambur ke pelukan Jova seolah ia sedang mengabarkan bahwa gadis itu sedang butuh bahu untuk bersandar. Jova pun mengusap punggung sahabatnya itu.

__ADS_1


...****************...


#Sekedar info othor up tiap hari diusaha selalu dua bab, tapi kadang kenapa review manul bisa tertahan dimeja editor smp satu hari jadi kalau up telat itu gak selalu karena othor belum up yah teman-teman, memang kadang review-nya yang lama banget.....


__ADS_2