
"Bi, Ibu pada kemana?" tanya Jova begitu pulang ke rumah, tetapi rumah mewah itu nampak sepi.
"Ibu dan Neng Sumi ada di lantai atas, sedang bermain dengan cemong," balas Bi Suro, dengan menunjuk bekas kamar jova. Wanita itu pun langsung berbinar bahagia ketika mendengar kalau ibu dan temanya pada senang bermain dengan binatang pliharaanya.
"Eh, kan katanya badanya pada pegal, aku sudah panggilkan tukang urut." Felix yang benar-benar cemburu dengan cemong yang selalu di sebut oleh Jova pun mengahalau agar istrinya tidak ke lantai atas. Alamat sulit turun pastinya. seperti itu kira-kira pikiran Felix. Padahal dia sendiri belum memanggil tukang urut seperti yang dia bilang.
"Sebentar ajah yah Sayang, sebentar banget kok, tidak sampai satu jam," ucap Jova seraya mengatupkan kedua tanganya. Namun, Felix tetap menggelengkan kepalanya. Untuk jawaban kalau Jova tidak boleh ke atas.
"Bi, panggilkan Ibu dan Sumi yah, kita makan bersama," ucap Felix justru memita orang-orang yang di atas untuk turun, selain agar makan malam bersama pasti tujuanya adalah agar sang istri tidak menemui anak angkatnya yang berbulu lembut dan sangat imut itu.
"Kamu kenapa sih, tidak suka kucing?" tanya Jova dengan bibir manyunya.
"Geli aja," balas Felix dengan malas, yah laki-laki itu memang kurang menyukai binatang yang berbulu, itu sebabnya dia tidak mengizinkan di dalam rumah utamanya ada binatang berbulu termasuk kucing. Namun malah Jova membuat gara-gara dengan membawa cemong.
"Oh, jadi takut," goda Jova dengan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dagunya seolah wanita itu sedang menertawakan Felix.
"Hay, aku bukan takut yah, tapi hanya geli," balas Felix tidak mau dikatai takut, karena memang dia tidak takut, tetapi kalau untuk pegang dia tidak mau karena geli. Kalau takut dia lihat saja sudah berasa lihat hantu. Tapi kalau Felix selama kucing itu tidak mendekati dan menempel di tubuhnya tentu dia tidak takut.
"Sama ajah, kamu kayaknya harus kenalan dengan cemong deh, siapa tau kamu jadi berani, dan tidak takut lagi, malah nanti bisa-bisa gantian aku yang dibuat cemburu dengan kamu yang selalu perhatiin cemong, " goda Jova, wanita itu sudah meminta izin agar cemong di biarkan untuk bermain di rumah utama, tetapi Felix masih belum mengizinkanya sekalipun hanya di taman.
Malam ini pun mereka makan bersama. "Jo, aku mulai besok udah tinggal di kontrakan yah, terima kasih udah diizinkan untuk tinggal di rumah kamu, dan juga terima kasih untuk bantuan cari kerjanya," ucap Sumi setelah makan malam.
"Yah, kok cepat banget Sum, kontrakanya jauh tidak?" tanya Jova, meskipun berat, tetapi Jova tidak bisa menahan Sumi untuk tetap tinggal di rumahnya selain karena alasan keharmonisan keluarganya yang tidak baik apabila kita sudah menikah, tetapi ada teman wanita yang menumpang di rumahnya. Meskipun ada ibunya Jova, tapi rasanya tetap kurang pantas.
__ADS_1
"Tidak, tepat di belakang supermarket Jo, kapan-kapan main atuh. Arzen udah tahu kontrakan aku kok."
"Boleh deh kapan-kapan main." Jova pun saat ini sedang dipijat bukan dengan tukang urut, tetapi oleh ibunya. Wanita itu yang tidak mau kalau ada yang menyentuh tubuhnya selain sang ibu, dan juga pijitan Lasmi adalah pijitan terenak menurutnya.
"Ibu kalau mijit kayak gini suka keingat kembali sama Jini loh Mbak, adik kamu itu senang kalau Ibu pijit kayak gini," ucap Lasmi dengan tangan masih mengurut tubuh putrinya.
Jova bergeming ia sudah berjanji bahwa dia tidak akan bersedih lagi dan juga tidak akan membuat sang ibu sedih dengan kepergian dua orang yang dicintainya.
"Ibu jangan sedih yah, Jini dan Ayah pasti nanti sedih kalau Ibu masih belum ikhlas," ucap Jova sembari menatap kedua netra hitam sang ibu yang mulai mengembun.
Lasmi buru-buru mengembangkan senyum tipisnya, agar Jova tidak merasa bersalah. "Ibu sudah Ikhlas, bahkan saat tahu uang-uang yang ayah bawa hilang, dari situ ibu sudah belajar ikhlas, karena dari awal dokter juga sudah bilang, harus ada kesiapan kalau apa yang diusahakan tidak akan membuahkan hasil yang bagus. Dari situ ibu sudah belajar ikhlas, tapi entah kenapa rasanya yang bikin ibu tetap berat adalah kepergian ayah. Jini memang sangat dekat dengan ayah sampe-sampe mereka pergi bersamaan." Lasmi kembali menitikan air matanya.
Kadang memang kita bicara ikhlas di bibi, tetapi di hati akan tetap merasakan berat. Sementara Sumi sendiri hanya bisa diam. Dia juga sama-sama diuji dengan cobaan yang berat meskipun bukan kematian, tetapi cukup membuat Sumi menjadi wanita yang murung dan tidak ingin berbuat apa-apa, malu dan merasa seperti sampah masyarakat.
Untuk beberapa saat tiga wanita itu terlibat kebisuan, meratapi kesedihan masing-masing. Hingga akhirnya malam semakin larut dan Jova pun kembali ke kamarnya sementara Sumi istirahat dengan Lasmi.
Yah, Jova sangat sadar, karena suaminya yang bilang untuk kerja saja minta ditemanin, takutnya Lasmi pengin sesuatu dan malu untuk bicaranya. Biasanya orang tua akan seperti itu malu dengan anak yang sudah memiliki suami.
"Gampang itu Mbak, ibu mah sama Bi Suro udah dekat kok, ibu juga senang sama Bi Suro jadi ada temanya," ucap Lasmi, setidaknya membuat Jova senang, karena ibunya tidak mersa sedih di rumah ini apalagi bisa bermain dengan cemong juga kalau sedang bosan.
"Jova senang kalau Ibu betah, pokoknya kalau ada yang bikin Ibu kurang nyaman bilang saja, nanti Jova perbaiki, dan soal Bi Suro, kalau Ibu cape jangan bantu-bantu yah, takutnya Ibu kecapean." Jova mendaparkan laporan dari Bi Suro, kalau Lasmi membantunya beres-beres, bi Suro tentu tidak keberatan, tetapi ada rasa takut juga kalau ibu dari majikanya tidak biasa kerja keras seperti bi Suro.
"Kamu tenang saja, Ibu pasti bilang kok."
__ADS_1
Setelah memastikan sang ibu tidak ada masalah apapun, begitupun dengan Sumi yang sudah lebih dulu beristirahat. Jova kembali ke kamarnya. Dalam fikiran wanita itu pasti suaminya sudah tidur.
"Kok lama banget?" tanya Felix begitu Jova kembali ke kamarnya dengan air mineral di teko, kebiasaan Jova adalah terbangun karena haus. Jova yang mengira kalau sang suami sudah tertidur pun hanya mengembangkan senyumnya.
"Biasa, ngobrol dulu sama Sumi sekaligus pamitan kalau besok dia sudah pindah ke kontrakanya," jawab Jova dengan menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya serta dirinya sendiri, tentu pakaian dinas di hadapan suaminya.
"Bukanya tadi udah ngomong saat di meja makan?"
"Kamu kayak nggak tahu ajah sih Mas. kalau cewek itu kalau sudah ngumpul, bisa panjang pembahasanya," balas Jova singkat, dan memang Felix akui memang seperti itu adanya. Bisa dar A sampai Z di absen semua.
"Mas, malam ini aku cuti bikin dedek boleh yah, badan aku pegal-pegal semua," ucap Jova sembari merangkak ke tempat tidurnya. Benar-benar jadi istri ternyata cape juga melayani suami, entah memang benar-benar cape atau memang Jova yang belum bisa.
Laki-laki itu pun menatap Jova dengan tatapan yang simpatik. "Kalau begitu kamu tidurlah, dan ingat besok kita akan ke makam ibu aku. Aku sudah tidak sabar untuk mengunjunginya dan memperkenalkan kamu," balas Felix dengan pandangan kembali ke layar laptopnya yang menampilkan deretan yang dilihat saja bikin pusing melihat angkatan angka begitu banyak, tapi itu bagi orang yang belum terbiasa saja mengerjakan laporan, beda cerita kalau dengan Felix dia justru akan bersemangat kalau melihat laporan-laporan itu, gimana tidak bersemangat deretan uang berjejer masuk ke rekeningnya. Eits... tapi juga harus siap deretan angka yang keluar.
*******
Di tempat yang berbeda. Seorang ibu muda sedang terisak, karena sakit buah hatinya yang tidak kunjung membaik sedangkan uang untuk biaya pengobatanya sudah semakin menipis.
"Apa aku titipkanĀ Risa dengan neneknya yah, aku kembali bekerja, rasanya aku tidak bisa tetap mengandalkan barang-barang peninggalan mendingan suaminya yang ia jual, bahkan mobil almarhum suminya dari yang ada beberapa, hingga tersisa satu dan itu pun hanya mobil kelas menengah ke bawah.
Kini perlahan mobil dan rumah bisa saja di jual lagi untuk pengobatan putrinya yang mengindap kelainan hormon bawaan sejak lahir. Sehingga harus ada perawatan khusus.
Yah, wanita itu adalah Naya, dia memang dulu lebih memilih suaminya yang jauh lebih tajir melintir dibandingkan Felix, meskipun Felix tajir, tapi yang jelas kalah dari mantan suami Naya.
__ADS_1
Namun, na'as dia kehilangan suaminya saat sang suami melakukan perjalanan kerjaan ke luar negri.
Kini dia harus cepat mengambil keputusan agar tetap bisa melakukan pengobatan untuk buah hatinya.