Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Dukungan Untuk Jova


__ADS_3

Di lain tempat.


Sumi dengan langkah berat langsung mengayunkan kakinya menuju rumah mewah yang terdiri dari tiga lantai. Ia masih bimbang, sebab Arzen mengatakan untuk sementara waktu jangan dulu memberitahukan Lasmi akan kejadian yang menimpa Jova, tetapi Sumi tahu, Jova butuh dukungan dari sang ibu.


Namun, juga Sumi takut akan terjadi sesuatu dengan Lasmi karena terlalu kaget dengan kabar yang menyedihkan ini. Sumi terlalu takut kalau Lasmi akan kembali sakit karena musibah ini. Wanita berhijab itu pun duduk di depan pintu, bukan buru-buru masuk ke dalam sana, dia malah duduk dengan melamun. Mungkin saja dia mendapatkan ke kuatan untuk mengambil keputusan apa yang kiranya akan dia lakukan.


"Neng... ngapain di sini." Suara Bi Suro yang mau membuang sampah ke depan berhasil membuat Sumi terkejut.


"E... Anu itu Bi, Sumi sedang kecapean," jawab Sumi dengan setengah terbata, dia tidak tahu sama sekali  akan berbuat apa. Namun, bagaimanapun cara dia untuk menghidar, kenyataan di depan mata harus ia hadapi, sehingga mau tidak mau Sumi harus tetap berdiri tegap untuk menghadapinya.


Setelah melangitkan seribu doa, Sumi pun masuk ke rumah mewah itu. Wajah wanita yang ingin Sumi hindari justru menyambutnya dengan ramah.


"Sum, kamu sudah pulang. Bibi pikir kamu akan langsung pulang ke kontrakan." Lasmi terlihat sangat gembira dengan melihat Sumi pulang.


Namun, justru hal yang berbeda ditunjukan oleh Sumi, wanita berhijab itu justru terlihat sedih, dan di bawah kesadaranya air matanya luluh. Membayangkan wajah ceria dan gembira akan segera hilang dan berganti dengan wajah kesedihan dari wanita paruh baya yang berdiri dihadapanya.


"Sum, kamu kenapa? Apa kerjaan kamu tidak nyaman, dan kamu pengin pulang kampung?" cecar Lasmi dengan wajah yang nampak sama dengan Sumi yaitu bingung, ketika melihat Sumi nampak sedih.


Sumi menggelengkan kepalanya lembut. "Tidak Bi." Namun, Sumi kembali teringat wajah kesedihan Jova, semakin dia ingin menyembunyikan keadaan Jova semakin dia dihantui dengan bayang-bayang kesedihan Lasmi kalau tahu bahwa Sumi telah berbohong. Cepat atau lambat hari itu akan terbuka juga. Lasmi akan tahu bahwa anaknya itu tengah diterpa musibah.


"Bi, apa kita bisa berbicara?" tanya Sumi dengan suara yang setengah berbisik, dan hal itu membuat Lasmi semakin bingung.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Sum. Apa kamu sedang ada masalah?" tanya balik Lasmi, mengabaikan pertanyaan Sumi.


Dengan menghirup nafas dalam Sumi mencoba untuk mengerti posisi menjadi Jova, dan dengan segal resiko dia sudah siap untuk mengatakan sejujurnya. Meskipun nanti Arzen akan marah denganya. Ada satu harapan yang terhampar kalau Lasmi bisa mengerti berada di posisi Jova, dan tidak menghakimi dan memberikan kekuatan untuk Jova. Sumi yang pernah berada di posisi Jova pun tahu betul dukungan keluarga adalah kekuatan utama. Tanpa dukungan dari keluarganya mungkin Sumi belum bisa bebas dari beruji besi.


"Bi, apa Bi bi bisa berjanji kalau Bibi, tidak akan sedih, tidak akan jatuh sakit dan tidak akan marah, kalau Sumi berkata jujur. Meskipun apa yang Sumi katakan adalah kabar yang kurang mengenakan," ucap Sumi dengan menuntun Lasmi agar duduk di sofa yang empuk. Dengan menatap ikan-ikan yang berenang dengan cantik mungkin bisa sedikit membuat pikiran Lasmi tidak tegang. Yah, Felix adalah penyuka ikan-ikan sehingga banyak aquarium dan kolam ikan di rumah ini.


Lasmi menatap Sumi dengan tatapan yang tajam. "Ini mengenai Jova?"


Sumi mengangguknya dengan kuat, dan wajah yang telihat sedikit murung, dan mengirup nafas dalam berkali-kali seolah ia ingin mengatakan kalau dirinya sedang sangat gugup, dan juga tegang.


Lasmi sendiri melakukan hal yang sama, menghirup nafas dalam, untuk menyiapkan apa yang sekiranya akan Sumi katakan. "Katakanlah Sum, Bibi bahkan sudah melewati ujian yang berat-berat dan Bibi yakin apapun ini, Bibi akan coba untuk menerimanya. Kamu jangan takut Bibi itu kuat kok," ucap Lasmi dengan wajah yang menunjukan bahwa dirinya sangat kuat.


"Baiklah, Sumi juga yakin kalau Bibi pasti kuat, Bibi adalah ibu dari Jova wanita yang kuat dan kekuatan Jova itu pasti dari Bibi...."


"Jova, saat ini dia sedang di penjara," balas Sumi  dengan suara yang lirih, tetapi jelas masih bisa di dengar oleh Lasmi. Wanita setengah baya dengan kerudung menutup kepalanya pun menunduk terdengar isakan samar dari wanita itu. "Bibi jangan khawatir Felix sedang mengusahakan agar Jova bisa bebas dengan cepat. Karena yang Jova lakukan hanya membela diri. Bibi harus yakin kalau Jova pasti bisa menghadapi ini semua. Jova adalah wanita kuat dan Bibi harus beri dukungan terus untuk Jova." Sumi menggenggam tangan Lasmi, untuk memberikan dukungan.


"Kasus apa yang sedang membelit anak Bibi? Apa kasusnya sama dengan yang kamu alami?" tanya Lasmi dengan suara yang bergetar.


Sumi menggeleng. Setelah menghirup nafanya dengan dalam, Sumi pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang Sumi dengar saat Jova ceritakan pada pengacara Prabu, Sumi ceritakan juga pada Lasmi. Wanita paruh baya itu terus terisak ketika mendengar cerita dari Sumi, tetapi wanita paruh baya itu berusaha untuk tetap mengerti apa yang terjadi dengan putrinya.


"Bibi yakin kalau Jova hanya melakukan pembelaan," ucap Lasmi sembari menghapus air matanya yang jatuh. Sumi mengangguk dengan kuat.

__ADS_1


"Sumi juga yakin. Bahkan kalau Sumi yang berada di posisi Jova, sudah pasti Sumi akan melakukan hal yang sama. Sumi akan membunuh orang itu," balas Sumi dengan memeragakan tanganya yang tengah menikam dengan benda tajam.


"Lalu kondisi Felix bagaimana?" tanya Lasmi, tidak menyangka kenapa kepergianya pagi tadi dengan wajah cerianya ternyata membawa musibah.


Kali ini Sumi kembali murung. "Tadi pengacara Prabu sempat bilang kalau kondisinya terus membaik, semoga saja memang membaik yah Bi."


"Sum, Bibi pengin lihat Jova apa bisa? Kamu tahu kan tempat Jova di tahan. Bibi ingin membawakan makanan untuk Jova." ucap Lasmi dengan wajah yang penuh semangat.


Sumi pun menghembuskan nafas kelegaanya, setidaknya apa yang dia takutkan tidak terjadi. Yang paling dia takutkan adalah Lasmi akan syok dan pingsan lagi lalu kesehatanya menurun, dan menambah beban pikiran pada Jova.


"Sum... gimana kamu bisa tidak? Kalau bisa Bibi akan segera siapkan masakan untuk Jova," ulang Lasmi dengan menepuk pundak Sumi.


"Sumi tidak tahu boleh masuk atau tidak," balas Sumi dengan suara yang ragu.


"Tidak apa-apa tidak boleh masuk di coba dulu, dan soal makanan kan bisa dititipkan pada penjaga lapas," ujar Lasmi, terdengar sekali dari suaranya kalau wanita paruh baya itu sangat bersemangat.


Sumi, melihat jam didinding yang menunjukan masih pukul empat, masih ada waktu untuk jadwal makan malam, pikirnya pasti di izinkan untuk memberikan makanan untuk Jova.


"Yaudah Bi nanti kita abis magrib berangkat, mudah-mudahan diizinkan meskipun sebentar," balas Sumi. Wanita itu lupa kalau dia tadi tidak bertanya jam besuk di pukul berapa saja sehingga dia bisa mengatur waktu kalau mau membesuk Jova.


Lasmi pun terlihat sangat bersemangat untuk masak makanan kesukaan Jova.

__ADS_1


"Kamu beruntung Jova, Ibu kamu sangat kuat dan sangat sayang dengan kamu. Semoga apa yang kamu hadapi saat ini, bisa segera berakhir. Aku yakin kalau kamu pasti bisa melewati ujian berat Ini."


__ADS_2