
Dengan langkah kaki berat Janu meninggalkan sang istri yang sedang menunggu putrinya. Pikiranya masih mengingat pada perkataan dokter bahwa putrinya kemungkinan besar sulit untuk hidup normal lagi, karena saat ini sakit yang diderita Jini sudah dalam setadium lima di mana sangat besar terjadi komplikasi pada organ vital lainya. Apabila itu terjadi maka resiko kematian akan sangat tinggi.
"Ya Tuhan andai hujan ini adalah berkah, tolong turunkan keberkahan itu untuk putriku, Jini. Sembuhkan dia dari sakit ini, kami ingin melihat senyumnya seperti dulu," jerit Janu sembari dia terus mengemudikan mobil. Meskipun hujan terus mengguyur bumi hingga banjir terjadi di beberapa titik jalanan tidak menyurutkan niat Janu untuk menemui juragan Guntoro. Rumah masa kecil, dan menjadi harta berharga satu-satunya kini menjadi harapan terakhir Janu setidaknya putrinya bisa sembuh, dan dia percaya bahwa Tuhan akan mengirimkan bantuan seiring dirinya yang terus berusaha dan berdoa.
Janu menghentikan laju kendaraanya ketika orang-orang ramai karena ada banjir yang mana kendaraan harus berhati-hati untuk melaju, ada juga yang memilih berhenti untuk menepikan kendaraanya karena mereka takut kendaraannya mogok.
"Seharusnya aku belajar dari bahasa air, bagaimna berkali-kali, tanpa mengeluh sedikit pun pada takdir." Janu menatap derasnya hujan, dan air yang mengalir deras menutup jalanan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama karena sempat beberapa kali ia terjebak macet karena banjir, kini Janu sudah sampai di depan rumah juragan Guntoro.
"Eh ada besan, ada maksud apa Pak Janu, datang kemari mana hujan-hujan pasti ada niat yang penting?" tanya Juragan Gutoro dengan senyum yang tidak ada hentinya, merekah.
Janu menelan salivanya, di saat orang sedang enak duduk dengan nyaman di rumah sembari menikmati teh hangat dan makanan selingan untuk ganjal perut sembari menunggu hujan reda. Janu justru tengah terombang ambing mencari uang untuk pengobatan putrinya.
"Jadi gini Juragan, saya akan menawarkan rumah saya," balas Janu dengan suara yang bergetar karena menahan dinginya tubuh. Pakaian basah dari berangkat serta saat ini basah lagi karena harus berlari-lari menuju trelas rumah juragan Guntoro.
Laki-laki dengan tubuh sedikit gempal tertawa dengan renyah. Dan kepalanya mengangguk-angguk persis seperti pajangan mobil, yang melewati jalan bergelombang. "Aku hanya bisa membeli seperti harga yang sebelumnya saya tawarkan, karena rumah kamu juga paling akan kami robohkan terus tanah kamu juga tidak terlalu setrategis, itu jadi pertimbangan kami untuk membeli rumah kamu," ucap juragan Guntoro, meskipun Janu tahu bahwa itu hanya akal-akalan saja, padahal rumah mereka tepat di pinggir jalan, di mana harga tanah jauh lebih mahal, tetapi lagi dan lagi kebutuhan yang mendesak membuat Janu merelakan semuanya.
Harga jual murah dan tidak bisa menawarkan pada yang lain karena orang-orang pasti akan berpikir dengan harga yang dia jual terlalu mahal. Hanya juragan Guntoro yang punya uang banyak dan berharap uang cepat cair.
"Saya sudah pertimbangkan dengan istri, tidak masalah dengan harga segitu karena kita sangat butuh uang itu." Janu sangat berharap bahwa ia pergi dari rumah besar itu dengan membawa uang yang bisa ia gunakan untuk pegangan dan biaya kebutuhan selama di rumah sakit. Yang Janu sendiri tidak tahu akan berapa hari dia di rumah sakit. Entah berapa hari atau berapa minggu atau bahkan dalam hitungan bulan.
"Baiklah, tunggu aku akan minta anakku untuk membuat perjanjian dan akan membawa uang separuh pembayaran dari harga tanah itu," ucap Juragan Guntoro yang di balas anggukan oleh Janu.
__ADS_1
Kini laki-laki yang pakaianya sedikit basah bisa merasakan sedikit kelegaan karena itu tandanya kini dia bisa sedikit lebih tenang, tinggal Janu memikirkan nasib keluarganya ke depan dan juga bagaimana cara menceritakan pada Jova, anak sulungnya kalau rumahnya sudah terjual, dan uangnya digunakan untuk pengobatan adiknya.
Tidak lama menunggu Juragan Guntoro datang dengan kantong kresek di tanganya berwarna hitam, yang Janu yakini itu adalah uang untuk pembayaran rumahnya, Di samping jurangan kaya raya itu ada anaknya yang umurnya sekitar tiga puluh tahun, membawa kertas yang Janu yakini bahwa kertas itu adalah perjanjian yang barusan juragan Guntoro katakaan.
Ini adalah kabar bahagia untuk Janu, tetapi hatinya justru tidak enak ketika semakin lama dua orang itu berjalan dan kini jaraknya sangat dekat dengan Janu.
"Ini perjanjian dari kita, dan kami harap kalian tidak akan keberatan." Juragan Guntoro menyodorkan kertas yang di bawa oleh putranya, benar apa dugaan Janu kalau yang laki-laki muda itu bawa adalah surat perjanjian.
Dengan tangan bergetar akhirnya Janu menerimanya. Satu per satu lembaran kertas yang anak dari juragan kaya itu sodorkan. Janu baca dan pikirkan kira-kira memberatan tidak untuk dirinya, dan keluarganya. Tidak hanya sekali Janu membaca surat pejanjian itu. Ia harus telliti dengan surat perjanjian yang juragan Guntoro buat yang bisa saja dia memang menginginkan keluarganya menderita.
Perjanjian itu ada lima poin, yang memuat seperti perjanjian jual beli tanah/barang pada umumnya dan ada juga kwitansi pembayaran tanah. Tidak hanya surat jual beli tanah, tetapi juga perjanjian kalau keluarganya harus cepat-cepat beranjak dari rumah itu. Dan yang terakhir tidak akan ada sengketa apapaun atau protes apapun yang mungkin terjadi di belakang.
Janu pun merasa surat perjanjian ini masih wajar, dan ia pun menanda tangani surat perjanjian itu dengan yakin. Semakin cepat transaksi maka semakin cepat juga untuk dirinya kembali ke rumah sakit, di mana istrinya pasti akan sangat ketakutan apabila terjadi hal buruk pada putrinya.
Juragan Guntoro tampak saling tatap dengan putranya, dan tidak lama mengangguk. "Aku hanya memberi waktu sampai anak kamu pulang dari rumah sakit setelah itu maka kamu harus pergi."
Janu pun terlihat sangat bahagia ketika juragan Guntoro memberikan kesempatan untuk dirinya tidak langsung pindah saat itu juga.
Transaksi pembayaran rumah pun terjadi saat itu juga. Hati Janu sedikit nyeri ketika membawa uang dalam jumlah banyak, ada rasa takut ada yang berniat jahat dan merampok dalam perjalanan ke rumah sakit, dan juga ada rasa tidak sepenuhnya ikhlas ia menjual rumah peninggalan orang tuanya, yang dalam kata lain dia saat ini tidak punya apa-apa selain uang dua ratus juta itu yang dia sendiri tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan dengan uang-uang itu.
**********
Di lain tempat, Sudah satu minggu Felix di rawat di rumah sakit, hubungan mereka pun masih sama-sama sedikit dingin dan tidak banyak perubahan yang berarti. Yah, meskipun saat ini Felix tidak terlalu nyolot apabila dilayani oleh Jova, dan tentunya tidak ada lagi kerja mengerjai. Semuanya murni terjadi antara perawat dan pasienya.
__ADS_1
"Tuan, hari ini dokter datang, dan akan membuka gips Anda, dan akan di lanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan. Apabila hasil semuanya ok, maka kita bisa pulang sore ini juga," ucap Jova dengan perasaan yang cukup bahagia karena itu tandanya ia tidak harus cape bolah balik rumah sakit.
"Hemzz..." hanya deheman yang terdengar dari bibir Felix, dan memang seperti itu hari-hari mereka untung Jova tidak sampai gila karena hampir tidak ada obrolan di antara mereka. Felix dan Jova benar-benar seperti orang asing yang berada di dalam satu ruangan, tetapi tidak saling tegor, ataupun basa basi, kalian bayangkan sendiri hampir dua belas jam. Felix sibuk dengan pekerjaanya, dan sesekali dia akan meminta minum, atau ambilkan makanan setelah itu diam lagi, dan Jova pun sama, hanya terlibat obrolan ketika waktu minum obat dan makan tiba. Setelah itu mereka diam lagi.
Andai diminta memilih maka Jova akan tetap memilih bekerja di gudang, kalau bekerja dengan Felix, bisa-bisa dia di dalam rumah sakit satu minggu keluar-keluar sudah ubanan, saking membosankanya.
Tidak lama dokter datang, dan Jova merapihkan pekerjaan Felix dan melihat dengan baik-baik bagaimana cara dokter dan perawat membuka perban suaminya.
"Hari ini kita lepas gips dan setelah ini kita cek lagi, rontgen ulang, untuk memastikan semuanya baik-baik saja dan setelah itu sore ini juga Tuan Felix boleh pulang." Dokter menjelaskan sembari tanganya terus bekerja.
Sementara Jova ingin rasanya berteriak gembira. Akhirnya dia tidak jadi depresi karena harus dalam satu ruangan terus menerus bersama suaminya yang kayak manusia kutub.
Mata Jova terbelalak bingung sakit yang seperti apa sedangkan dia melihat kaki Felix benar-benar baik-baik saja, bahkan ketika di coba berjalan sendiri sangat lancar dan di gerak-gerakan sendiri pun wajahnya biasa saja tidak ada ketegangan atau rasa yang tertahan karena sakit.
Diam-diam Jova merekam Felix berjalan dan mengirimkan rekaman pada Arzen.
[Bos kamu memang gila, kaki baik-baik saja kenapa harus diperban, aku pikir patah kaki ternyata hanya keseleo. Itu di bawa mak raji atau urut cimande juga langsung sembuh.] Itu pesan yang Jova kirim untuk Arzen. Dongkol banget rasanya Jova satu minggu dia memapah dan berat membantu Felix berjalan, tetapi kaki dia justru tidak separah dengan yang dia bayangkan.
[Kamu maklum saja, kalau di bawa ke tukang urut, uang dia tidak berkurang. Bos kamu itu bingung bagaimana cara menghabiskan uang.] Pesan yang dikirim oleh Arzen, menambah bingung Jova.
[Dasar orang kaya memang cara berpikirnya tidak bisa di tebak, sumpah gila nggak sih punya bos kaya dia!] pesan selanjutnya di kirim pada Arzen di mana itu umpat Jova pada Felix yang saat ini kembali duduk di kursi roda untuk di lakukan pemeriksaan lanjutan.
"Ngapain juga duduk di kursi roda sedangkan dia bisa berjalan." Jova tidak ada henti-hentinya mengumpat Felix sedangkan dia bisa berjalan tapi memilih duduk di kursi roda membuat pekerjaan untuk Jova yang harus mendorongnya.
__ADS_1