Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Duka Kembali Menyelimuti


__ADS_3

"Ayah." Jova langsung bersimpuh di ambang pintu ketika melihat tubuh ayahnya yang tidak berdaya. "Apa yang terjadi dengan Ayah dan kenapa orang-orang itu hanya mematung saja?" Itu yang ada dalam pikiran Jova.


Sementara Felix yang melihat tubuh Jova ambruk pun langsung membantunya untuk  berdiri. "Jo, bangun kita harus bantu Ayah kamu kenapa beliau bisa sampai pingsan," ucap Felix dengan memegang pundak Jova dan membantunya berdiri, yang sudah Felix tahu kalau saat ini dia sangat lemah seolah kehilangan tenaga.


Bukan hanya Jova yang heran kenapa bisa terjadi dengan ayahnya. Felix pun bingung dengan apa kiranya yang terjadi pada ayah mertuanya.


Lasmi pun menatap Jova dan Felix, dengan berderai air mata. Felix tahu wanita paruh baya itu seolah ingin cerita, tetapi bibirnya kelu sehingga tidak bisa berucap apa-apa. Hanya menatap mengabarkan bahwa awan hitam kembali menyelimuti keluarganya.


"Bu, ini ada apa?" tanya Felix dengan mengusap punggung ibu mertuanya.


Sedangkan Jova sudah entah dia saat ini sadar atau tidak menangis dengan menjerit di atas tubuh ayahnya yang beberpa menit lalu masih mengobrol dengannya. Namun takdir memang benar-benar misterius, kini tubuh itu sudah tidak bernafas lagi.


Yah, laki-laki paruh baya yang baru saja menitipkan Jova pada Felix sudah terbaring tidak bernyawa. Apa penyebabnya? Felix dan Jova pun tinggal menunggu Lasmi untuk bercerita.


Namun, Lasmi pun tidak bisa memberikan kesaksian apapun itu. Lasmi masih syok sehingga tidak bisa berbicara apa-apa.


"Itu Mas, orang-orang itu adalah anak buah juragan Guntoro, mau mengambil rumah ini. Katanya Pak Janu sudah menjualnya, maka dari itu mereka meminta Pak Janu dan Bu Lasmi pindah saat ini juga. Tetapi kata Pak Janu uang-uang itu di rampok, dan kemungkinan besar uang merampok adalah orang suruhan juragan Guntoro juga sehingga Pak Janu dan Bu Lasmi tidak mau pindah dari rumah ini. Tadi sempat terjadi ketegangan dan keributan yang besar, sebelum Pak Janu tiba-tiba pingsan dengan memegangi dadanya." Salah satu tetangga sebagai saksi kunci kejadian pun menjelaskan apa yang sekiranya terjadi dengan Pak Janu, setelah melihat kalau Lasmi tidak bisa menjawab.


Gigi-gigi Felix pun saling beradu karena geram dengan perbuatan papahnya bisa-bisanya orang masih berduka malah ini tiba-tiba di minta untuk keluar dari rumah itu juga. Sebesar apapun utang-utangnya tidak sepantasnya langsung mengusir saat masih berduka. Minimal tujuh hari lah, nah ini tanah pemakaman saja masih sangat basah sudah ribut masalah uang. Felix juga kejam, tapi setidaknya punya belas kasih. Beda dengan papahnya.

__ADS_1


"Orang itu memang kurang ajah. Kalian pulanglah jangan bikin aku marah!" bentak Felix ke lima orang yang sedang berdiri menatap mertuanya dan Jova yang masih menangis dengan sedih. Mereka adalah orang suruh juragan Guntoro.


"Pak, tolong kabarkan pada tetangga yang lain kalau kami kembali berduka, dan di mohon bantuanya untuk memakamkan mertua saya," ucap Felix dengan ramah dan lembut. Saat ini dia harus mengurus semuanya sendiri. Ia tidak mungkin mengandalkan Lasmi dan Jova yang masih sangat sedih. Bahkan Felix tahu kalau kejadian saat ini masih belum mereka kehendaki dan masih berharap kalau ini adalah mimpi mereka. Sama Felix pun berharap kalau ini semua adalah mimpinya.


Felix harus fokus ke pada keluarganya dulu  untuk memakamkan Janu dan memastikan Lasmi dan Jova dalam keadaan baik dulu. Setelah itu Felix berjanji akan mengurus masalah rumah mereka. Perang-perang dah bakal di jabanin sama Felix, apalagi laki-laki itu masih menyimpan dendam pada papah dan juga janda kaya yang merebut papahnya dari ibu kandungnya. Entahlah merebut atau memang sama-sama gatal.


"Aku tidak menyangka ternyata kelakuan papahku semenyeramkan ini. Kenapa Papah sangat berbeda dengan Papah yang dulu. Kenapa mereka bisa berbuat sejahat ini?" batin Felix melihat orang-orang yang membaca yasin dan doa-doa kebaikan untuk sang mayit.


Felix mengusap lembut punggung Jova ketika wanita itu terlihat sekali kesedihanya. Jova pun terkejut ketika tangan Felix mengusapnya. Jova menatap Felix dengan iba, dan laki-laki itu seolah berkata kalau semuanya akan baik-baik saja, berbeda dengan Jova yang takut kalau semua ini akan berakhir semakin hancur kehidupannya.


"Kamu yang kuat yah, kamu pasti ingat apa yang tadi Ayah kamu pesankan." Felix menarik tubuh Jova yang sedang lemah ke dalam pelukanya. dan tangan kanannya memegang tanya Janu yang sudah di tutup oleh kain jarit.


"Yah, di hadapan Ayah, aku berjanji kalau aku bakal membahagiakan anak Ayah. Tadi Ayah menitipkan Jova pada Felix, maka sekarang Felix akan menjaga bidadari-bidadari Ayah," janji Felix di depan jasad sang papah mertua yang sudah kaku. Feli pun tidak lupa menatap ibu mertuanya yang tetap bergeming dengan  kebingunganya. Felix tahu ibu mertuanya juga pasti masih berharap bahwa yang terjadi adalah mimpi.


"Banyak, kamu bisa melakukan apapun tanpa Ayah dan Jini, karena kamu adalah wanita yang kuat, maka dari itu Tuhan menitipkan ibu kamu pada kamu, karena Mereka tahu kamu adalah orang yang kuat dan bisa membahagiakan ibu kamu, meskipun di tengah-tengah duka yang kembali mengampiri.


"Kita segera mandikan dan urus pemakaman Ayah yuk, mumgkin Jini di dalam sana ketakutan sehingga ingin ditemani oleh Ayah, dan kamu di dunia ini dengan Ibu. Karena mereka tahu kalau kamu bisa meyakinkan Ibu dan merawat dan menjaga Ibu dengan baik," ucap Felix yang menatap ke arah ibu mertuanya yang masih sedih.


"Lalu Ibu?" Jova menatap ibunya yang terlihat sangat sedih dan melamun terus, Entah berapa kali Lasmi jatuh pingsan saat proses pemahaman Jini, dan di pemakaman Janu pasti Jova juga yakin bahwa sang ibu akan kembali pingsan. Sebenarnya Jova dan Felix sangat penasaran dengan yang tetangganya katakan tadi, rampok dan jual rumah, tetapi mereka akan bertanya setelah situasi membaik, dan Lasmi bisa diajak berkomunikasi.

__ADS_1


"Sepertinya Ibu lebih baik di rumah untuk beristirahat, biar urusan memakamkan kita saja, kamu kuat kan. Kalau kamu merasa sedih cobalah kamu berpikir akan pesan ayah kamu barusan." Felix yakin saat kepergian Janu, Jova akan lebih tegar karena sebelumnya Janu sudah memberikan petuah yang seolah menandakan bahwa dirinya akan berpulang untuk Jova.


Jova menganggukan kepalanya dengan yakin. "Benar kata Ayah, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemukan kematianya, dan saat ini Jini dan Ayah, bukan tidak mungkin aku akan menyusul." Tangis Jova  pun kembali pecah.


"Jo, kenapa kamu ngomong gitu, kalau kamu ikut dengan mereka, lalu siapa yang akan menjaga ibu kamu? Lalu siapa yang akan menjaga aku, jujur baru kamu wanita yang bisa mengetuk hati aku setelah kepergian ibuku. Jadi kamu harus yakin kalau semuanya akan baik-baik saja," ucap Felix, untuk menguatkan Jova. Felix saat ini benar-benar berubah bukan lagi Felix yang keras kepala dan arogan, dia menjadi sosok laki-laki yang tangguh.


Jova kembali mengangguk dan acara pemakaman Janu pun di lakukan dari memandikan, menyolatkan dan terakhir memakamkan. Sementara Lasmi yang memang sudah lebih dari satu minggu terlalu lelah mengurus Jini dan masih banyak masalah yang dia pikirkan, dan satu malam tanpa tidur sama sekali, kebali pingsan dan atas permintaan Felix wanita itu pun dilarikan ke rumah sakit untuk mendapkan pengobatan dan istirahat yang cukup, tetangga yang baik hati yang mengantarkan Lasmi. Sementara Felix dan Jova di rumah mengurus pemakaman Janu.


"Ayah, Jova sekarang akan antar Ayah ke rumah Ayah, bareng sama Jini, (Bersebelahan). Ayah kenapa Ayah tidak kasih kami nafas dulu untuk menerima takdir kelam ini satu persatu. Kenapa dalam hari yang sama dihari kepergian Jini, Ayah juga tinggalkan kami. Ayah, sekarang Ibu sedang di rumah sakit, tidak kuat dengan takdir Tuhan yang menguji kita dengan sangat dahsyat. Ayah tolong jangan ajak Ibu lagi, biarkan Ibu bersama Jova, berikan izin Jova untuk membahagiakan kalian dengan kebahagiaan Ibu. Ayah, sekarang Ayah dan Jini sudah bersama semoga kalian bahagia dan titip Jini." Jova berbisik di samping jasad sang ayah yang sudah siap untuk di makamkan.


"Ayah, ini Felix, maaf kalau Felix sempat menolak putri Ayah, tetapi mulai saat ini di depan jasad Ayah, Felix berjanji akan menerima Jova dengan tulus, baik kekuranganya maupun kelebihanya. Ayah, mohon restui pernikahan kami." Tidak kalah Felix pun kembali mengucapkan janjinya.


"Kita makamkan sekarang Mas?" tanya tertua di kampung mereka, dan Felix menganggukan kepala, dengan kedua mata awas mencari papahnya yang mungkin saja di pemakaman besannya laki-laki tua itu hadir. Mungkin ketika permakaman Jini tidak hadir karena tidak tahu, tetapi pemakaman Janu rasanya terlalu mustahil kalau tidak datang.


Setelah meng absen satu per satu orang yang datang. Namun Felix tidak melihat batang hudung sang papah, keluarga ibu tirinya pun tidak ada yang datang.


Ada rahasia apa sebenarnya yang terjadi di antara mertuanya dengan papahnya. Kenapa bisa-bisanya papahnya tidak datang sama sekali sedangkan yang meninggal adalah besanya dan secara tidak langsung penyebab meninggal adalah Juragan Guntoro?


"Ya udah bapak-bapak kita makamkan sekarang. Sama seperti pemakaman sang ibu, Felix pun turun untuk membantu menyelesaikan tugasnya sebagai menantu dari Janu.

__ADS_1


Bahkan banyak tetangga yang memuji Felix, meskipun tidak jarang yang meyumpahi papahnya, juragan Guntoro.


"Kini sepasang suami istri kembali bersimpuh di tengah-tengah makam yang masih basah antara adik dan juga papahnya.


__ADS_2