
Waktu terus bergulir hingga tanpa terasa kini Jova sudah menghabiskan waktu hampir satu bulan dia terkurung di jeruji besi. Rasa rindu sudah sangat menggunung, meskipun sang ibu tercinta selalu mengirimkan olahan hasil tanganya untuk mengurangi rasa rindu, dan sesekali juga Lasmi mengunjungi Jova tetapi tetap saja, batinya selalu menambah luka-luka yang baru.
Felix sendiri di sela-sela kesibukanya dia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk sang istri. Tidak jarang juga Felix mengunjungi Jova karena ingin makan bersama, berbagi cerita dan juga mengetahui kondisi Jova.
[Bisakah Anda datang ke rumah sakit 'Menuju Sehat', istri Anda sakit.] Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh salah satu petugas lapas wanita yang menjadi tempat Jova di tahan.
(Mohon, maaf untuk kasus tidak bisa dikulit terlalu detail apalagi penyangkut pa-sal karena barusan othor udah dapat surat cinta dari N-T takut di kira ada unsur sara dan ujaran kebencian, jadi cerita di pejara di ambil tipis-tipis saja)
Tubuh Felix langsung bergetar hebat, ia tidak menyangka kalau kemarin dirinya bertemu dengan Jova dalan keadaan kurang sehat. "Pantas saja kemarin kelihatanya sedang lesu, belum tubuh Jova yang semakin kurus," gumam Felix sembari bersiap untuk menuju ke rumah sakit.
"Zen, kamu tolong gantikan pekerjaan aku yah, jadwal disiapkan oleh Sisil, untuk pekerjaan yang lain kamu bisa minta bantuan Sachi. Jova sedang sakit aku akan menemaninya di rumah sakit," ucap Felix dengan wajah yang terlihat cemas.
"Hah, Jova sakit apa?" tanya Arzen tidak kalah panik sebab, ini sudah masuk persidangan, hanya tinggal empat kali sidang hakim bisa menentukan keputusanya.
"Kalau aku tahu, aku tidak akan cemas seperti ini. Justru aku tidak tahu dia sakit apa," balas Felix dengan memberikan tatapan tajam pada asistenya yang sok tahu itu.
"Kalau gitu pergilah, dan soal kerjaan tenang saja, bisa aku urus, dan salam untuk Jova semoga lekas sembuh. Mungkin dia terlalu cemas menghadapi persidangan sehingga dia tidak sadar kualitas tidur dan juga makan yang tidak teratur. Belum juga dia jadi semakin kurus." Arzen langsung mengambil alih tugas-tugas pekerjaan Felix.
"Yah, aku pun berpikir seperti itu. Kadang dia bilang baik-baik saja, tetapi pada kenyataanya dia itu dalam pikiranya menyimpan beban yang berat."
Tanpa menunggu waktu lama kini Felix pun sudah meninggalkan kantornya, dan menuju rumah sakit di mana Jova di rawat. pikirannya semakin tidak tenang, terutama Jova adalah orang yang tertutup, untuk bercerita saja dia akan sangat hati-hati sekali.
__ADS_1
"Jo, semoga kamu baik-baik saja yah. Aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua. Kamu sudah hebat bertahan sampai setengah jalan. Kini kamu harus sehat dan buktikan kalau ini semua bukan kemauan kamu."
********
Sementara itu di lain tempat.
Begitu Felix pulang, Jova yang memang beberapa hari ini tidak enak makan dan tubuhnya meriang pun hanya menghabiskan waktunya dengan beristirahat. Ia sudah meminta obat untuk menangkal sakit meriang. Dari tolak angin dan juga obat parasetamol dan koyo, balsem dan minyak angin. Nyatanya tubuhnya tidak juga membaik.
"Oh ya Tuhan, kenapa malah tubuhku terasa jadi tidak enak begini. Bahkan Jova menghabiskan semalaman untuk bergadang karena tubuhnya yang tidak enak.
Kali ini keimanananya diuji kembali ketika dia sedang sakit seperti ini tetapi tidak ada siapa-siapa yang bisa ia minta tolong, hanya dirinya yang mencoba mengurut tengkuk lehernya dan mengusap perutnya yang melilit seolah ada yang mere-mas bagian bawahnya.
Lagi, seperti halnya malam, pagi ini Jova juga melewatkan sarapanya, dengan alasan perutnya yang tengah tidak enak, hanya tiduran dan tiduran sembari berdoa ketika bangun ia akan sembuh, tetapi sayang ia tidak juga kunjung sembuh. Justru disiang hari dia merasakan kalau tubuhnya semakin tidak beres. Tubuhnya merasakan sakit semua, dan juga dingin yang sangat seolah dia sedang dalam lemari pendingin.
Brughh...!! Jova pingsan, ketika baru saja akan diadakan pemeriksaan. Tubuh yang terlalu lemah langsung di bawa ke rumah sakit. Cukup lawa wanita itu pulas dalam tidurnya (Pingsan).
Dengan memijat pelipisnya Jova pun perlahan membuka kedua bola matanya, yang mana kelopak matanya terasa sangat berat, dan juga benda yang ada di sekeliling seolah tengah berputar.
"Dok, apa yang terjadi dengan saya, kenapa tubuh saya sakit semua?" tanya Jova sembari memegang pundaknya dan setengah memijit selain pegal juga ada rasa ngilu, seolah dia baru saja jatuh dari gedung tinggi.
"Apa kamu bulan ini sudah datang bulan?" tanya sang dokter yang barusan menangani Jova.
__ADS_1
Wanita itu mengingat-ingat, dan setelahnya Jova menggelengkan kepalanya. "Kayaknya saya belum datang bulan, apa artinya saya..." Jova tidak melanjutkan ucapanya, hatinya teriris kembali. Untuk membayangkanya saja Jova tidak berani.
"Iya kamu hamil, sekarang sudah jalan empat minggu, dan itu artinya kehamilan kamu sudah berjalan satu bulan," jawab sang dokter sebut saja namanya dokter Evi. Jova menggelengkan kepalanya dengan perlahan, air matanya jatuh seiring dengan rasa sesak di dadanya. Yah, dia tidak pernah menyangka kalau dirinya akan hamil.
"Kenapa saya bisa hamil Dok, kenapa dia hadir di saat situasi yang tidak tepat. Kenapa tidak nanti saja kalau saya sudah bebas. Kalau nanti saya justru terbukti bersalah dan tetap tinggal di dalam tahanan apa artinya saya akan melahirkan dan merawat anak saya dipenjara?" tanya Jova dengan tangisan yang pecah.
Dokter Evi mengusap punggung Jova yang bergetar hebat. "Ini adalah rezeki, dan rezeki datang tidak tahu kapan akan terjadi, bisa sedang dalam keadaan seperti yang kamu alami ini. Kamu harus yakin kalau ini adalah rezeki yang Tuhan kirim untuk kamu dan suami kamu," jawab dokter Evi, dengan nada yang. lembut untuk menguatkan Jova.
"Apa suami saya sudah tahu kalau saya sedang hamil?" tanya Jova lagi, masih dengan sisa tangisan.
Dokter Evi menggeleng pelan. "Belum, tapi sekarang suami kamu sedang datang ke sini."
"Kalau gitu tolong jangan kasih tahu dulu dengan kehamilan saya, Dok. Saya mohon rahasiakan kehamilan ini." Mata berkaca-kaca dan merah terlihat dari kedua bola mata Jova yang terus memohon.
"Kenapa, ini kabar bahagia, suami kamu pasti senang mendengar kabar ini. Penjaga lapas bilang suami kamu sangat perhatian dengan kamu. Kenapa kamu malah ingin merahasiakan kehamilan ini?" tanya dokter Evi dengan wajah yang tidak setuju.
"Saya tahu Dok, itulah alasan saya tidak ingin memberitahukan dulu kabar bahagia ini. Saya tidak mau kalau nanti suami saya semakin cemas memikirkan saya dan anak saya. Saya tidak mau menambah bebanya. Sekarang saja dia masih mencoba menerima takdir ini apalagi kalau dia tahu saya yang tengah hamil anaknya, dia akan semakin merasa bersalah. Saya tidak mau dia juga terlalu memikirkan saya dan sakit karena kurang istirahat. Sekarang saja suami saya masih sering menggunakan obat tidur biar dia bisa istirahat, tanpa obat-oabatan itu dia sulit untuk tidur dengan nyenyak." Jova menceritakan semua yang Arzen ceritakan dengan kondisi Felix.
Dokter Evi menghirup nafas dalam, dan menghembuskanya perlahan. "Yah, saya tahu berada di posisi kamu dan juga suami kamu, tapi kamu perlahan harus mengatakan kebenaranya, dan juga kamu jangan terlalu setres, karena akan berdampak buruk buat kehamilan kamu."
Jova mengangguk dengan lemah. Anak adalah rezeki, banyak di belahan bumi lain banyak yang berjuang untuk mendapatkan buah hati, tetapi Jova justru belum mengharapkan kehadirannya. Ia terlalu takut kalau dia akan membesarkan buah hatinya di dalam penjara. Nasibnya saja dia belum tahu mau berakhir seperti apa, tetapi justru Tuhan titipkan sebuah nyawa di rahimnya.
__ADS_1
"Maafkan Bunda, Nak. Bukan berati Bunda tidak sayang kamu, tetapi untuk sementara Bunda akan menyembunyikan kehadiran kamu dari ayah kamu." Jova mengusap perutnya yang masih datar. Isakan samar kembali terdengar, mungkin dengan menangis rasa sesak di dadanya akan hilang. Mungkin dengan menangis tenggorokannya akan sedikit lebih lega.