Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Dukungan Dari Suami


__ADS_3

Seperti biasa Jova akan kembali terbangun di pagi hari, untuk kegiatan pertama pasti ia gunakan untuk ibadah, setelah itu menyiapkan semua kebutuhan suaminya, serta tidak lupa mengecek ke bawah, yang pasti Sumi dan ibunya sedang bersiap untuk sarapan.


"Sum, kamu berangkat dengan siapa?" tanya Jova begitu turun, dan Sumi sudah siap dengan setelan kemeja putih dan bawahan hitam.


"Anu... sama Arzen," jawab Sumi seperti ada yang disembunyikan.


"Sama Arzen? Apa kamu ada hubungan sesuatu?" tanya Jova, padahal wanita itu tahu memang yang namanya Arzen itu baik, dulu dirinya sendiri juga lebih dekat dengan Arzen dari pada dengan Felix. Ah, hanya sekarang saja di balik duka ada rahasia Tuhan, sejak dirinya berkabung Felix jadi lebih perhatian dengan sang istri.


"Apaan sih Jo, lagian kan aku udah bilang kalau aku sudah punya calon suami," balas Sumi dengan santai.


"Iya... Iya aku ingat, jung-kook kan?"


"Nah, itu kamu masih ingat, pokoknya sekali jung-kook, tidak ada lagi, baik Arzen maupun Barong," balas Sumi dengan menunjukan wajah kesalnya. Jova justru membalasnya dengan tertawa renyah.


"Oh iya, ngomong-ngomong si Barong gimana kabarnya kita sudah lama nggak tahu kabar dia." Jova membantu Lasmi dan juga Bi Suro untuk memasak. Mereka berdua nampak sangat akrab sekali saling bantu untuk urusan dapur.


"Dih, mana aku tahu, kan dia teman kamu," balas Sumi dengan ketus.


"Iya dia teman aku, tapi dia sukanya sama kamu, bunga desa," ledek Jova dengan tertawa renyah.


"Bunga desa itu kamu, kalau aku bunga pasir." Sumi dan Jova pun semakin tertawa hingga pukul enam mereka ngobrol tidak penting, Sumi bersiap untuk kerja dan Jova harus kembali ke dalam kamarnya untuk membangunkan suaminya untuk bersiap kerja juga.


Menurut Felix dia biasa bangun di jam setengah enam, nanti akan olahraga pagi dan sampai jam tujuh baru dia akan bersiap kerja, tetapi kali ini karena dia kelelahan sehingga meminta di bangunkan di pukul enam, agar bisa lebih lama beristirahat.


"Pagi, Mommy-nya cemong," ucap Felix setelah dibangunkan sama Jova beberapa kali akhirnya laki-laki dengan bulu-bulu halus di dagunya pun bangun, nan memancing keributan.


"Oh astaga aku belum mengunjungi selingkuhan aku, pasti cemong nunggu." Sifat iseng Jova pun bangkit dia langsung bersiap akan pergi menemui cemong.

__ADS_1


"Hap, lagi, Felix sudah bersiap untuk menangkap Jova dan mengukungnya, hingga Jova meminta ampun, menggelitik adalah kelemahn Jova, sehingga Felix sangat menyukainya.


"Apa kamu bilang cemong selingkuhan kamu," ucap Felix dengan kedua bola mata yang melebar.


"He'eh, sejak saat ini dia yang awalnya jadi anak angkat, akan aku jadikan selingkuhan, terutama kalau kamu kerja," balas Jova, yang terlalu senang dengan mengerjai suaminya.


"Kalau gitu aku akan mandi, dan kamu juga, kamu mulai saat ini jadi kerja menjadi asisten pribadi aku dan mengantarku pergi kemanapun, termasuk kerja," balas Felix dengan setengah menahan marah.


"Tidak bisa, aku kan juga mau menikmati harta-harta suami dengan seharian nonton TV dan juga mengemil di atas kasur, lalu tidur dan bangun makan lagi. Bukanya suamiku kaya raya tidak akan habis di makan tujuh turunan uangnya, lalu untuk apa aku kerja cape-cape," balas Jova, dengan gaya sombongnya.


"Ya, itu sih terserah kamu, kecuali kamu mau suami kamu digoda sekretaris seksi seperti Sachi," balas Felix dengan yakin kalau Jova pasti akan  menyerah dan mengikuti kemauan dirinya.


"Huh, kenapa kalau  tidak mengancam. Baiklah aku ikut..." Sesuai perkiraan Felix, Jova tidak akan mau kalau di goda oleh wanita lain.


Pagi ini, untuk pertama kalinya Jova merasakan benar-benar melayani suaminya dari menyiapkan pakaian kerja dari pakaian luar hingga pakaian dalam Jova yang siapkan. Wanita berumur dua puluh tiga tahu itu juga mulai belajar memakaikan dasi meskipun hasilnya masih berantakan dan belum rapih, tetapi sudah ok, untuk kelas orang yang masih belajar.


Semua kebutuhan Felix Jova yang urus dia hanya duduk manis dan menatap istrinya dengan puas saat melayani dirinya, meskipun Jova sembari bersungut-sungut apalagi ketika pasang dasi, mungkin kalau dasinya memiliki telinga dia akan menjerit dan meminta dilepaskan saja, karena terlalu panas diomelin terus. Jova yang tidak bisa pasang dasi, tapi dasinya yang salah, dan kena omel, hingga pagi-pagi Felix sudah dibikin gigi kering sama kelakuan istrinya yang bar-bar itu.


"Iya Bu, ada yang harus Jova bantu soalnya," jawab Jova, wanita itu juga memberikan alasan-alasan yang masuk akal ketika dirinya memutuskan diri untuk mengikuti kerja suaminya.


"Apa Ibu kesepian kalau Jova, kerja bareng Felix?" tanya Felix dengan serius. Namun, buru-buru dibalas gerakan tangan menandakan kalau Lasmi tidak keberatan kalau Jova akan ikut dengan dirinya kerja.


"Tidak Nak, Ibu mah di rumah sini juga bisa ngobrol dengan Bi Suro kami sebaya jadi bisa banyak bercerita, terus juga ada cemong yang sangat lucu." Lasmi bahkan terlihat sangat antusias ketika bercerita tentang cemong yang sontak saja langsung membuat Jova terkekeh sendiri dengan cerita ibunya yang justru lagi-lagi membuat Felix seperti marah mendengarnya.


Bagaimana tidak, mertuanya juga lebih dekat dengan cemong.


Sementara Jova hanya terkekeh samar dengan apa yang terjadi dengan wajah suaminya yang nampak kesal setiap ada yang mengunggulkan mahkluk berbulu halus itu, dan juga pastinya menggemaskan.

__ADS_1


"Apa kamu punya fotonya makluk jelek itu?" tanya Felix dengan nafas yang masih memburu.


Jova langsung meraih ponselnya dan menunjukan foto-oro cemong dari pertama dirinya dipertemukan hingga saat ini dia sudah makin besar dan sehat.


Untuk beberapa saat Felix diam dan hanya memperhatikan binatang dengan hidung pesek itu. "Dia lucu, dan menggemaskan. Apakah memang hidungnya seperti ini, atau memang dia memiliki cacat pada tubuhnya sehingga hidungnya berbeda," ucap Felix untuk sesaat memang sangat lucu, apalagi laki-laki itu melihat juga beberapa vidio saat cemong bermain-main dengan mommy-nya.


Brugghh... Jova memukul pundak Felix dengan kenyang.


"Sembarangan kalau kamu bilang. Cemong itu kucing ras persia, dia memng seperti itu, terkenal dengan bulu lebatnya dan juga hidung peseknya. Coba kamu google deh berapa harga kucing dengan ras itu, harga kucing kayak cemong itu mahal," dengus Jova enak saja cemong yang ganteng dibilang cacat hanya karena hidungnya yang pesek. Ngamook lah mommy-nya anaknya dibilang cacat.


"Benar saja Felix merogoh ponselnya dan mengecek harga kucing dengan ras yang barusan Jova katakan. "Waw, harganya emejing yah," ucap Felix, setelah matanya menangkap harga yang bisa sampai satu ekor jutaan rupiah, dan anak-anaknya dengan harga ratusan ribu.


"Nah, makanya aku sayang banget sama cemong mana dia lucu dan pintar." Jova sampai mencium layar ponselnya dengan berkali-kali.


"Kenapa tidak kamu ambil peluang ini, kamu bisa coba ternak kucing dengan ras yang menjanjikan sekaligus ibu juga di ajak kerja sama bukanya ibu juga suka kucing," usul Felix, tidak masalahkan mengembangkan kesukaan menjadi modal untuk membuka usaha yang baru.


"Mau, aku mau banget," jawab Jova langsung dengan menunjukan wajah semangat dan bahagianya.


"Yeh, giliran suruh pelihata kucing ajah, semangat banget," dengus Felix.


"Iya aku semangat banget, karena aku suka banget sama kucing, kamu seriuskan Mas, kalau kamu serius tidak apa-apa belikan sepasang saja biar aku yang merawatnya dan aku pasti bakal sangat senang," ucap Jova dengan wajah yang sangat memohon.


"Tapi apa nanti kalau kamu aku izinkan untuk memelihara cemong tidak akan lalai tugas kamu sebagai istri?" tanya Felix, harus ada perjanjian hitam di atas putih agar Jova tidak terlalu asik bermain binatang-binatang berbulu halus itu.


"Tidak!!" Tanpa berpikir ulang Jova langsung menjawabnya.


"Aku tidak akan lupa untuk tetap mengerjakan kewajiban aku sebagai istri, aku akan temui anak-anak angkatku kalau kamu sudah berangkat kerja." Jova sangat berusaha keras agar suaminya bisa memberikan sepasang kucing dengan ras hidung pesek itu.

__ADS_1


"Ah, tapi jangan deh, nanti aku tidak ada yang menemani bekerja," balas Felix dengan santai.


"Ih, tau gitu ngapain kasih aku harapan yang tinggi." Jova mencubit lengan Felix dengan gemas.


__ADS_2