Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Teman Untuk Berbagi Kisah


__ADS_3

Jova yang sudah benar-benar sampai pada titik pasrah pun hanya bisa diam menerima ke marahan suaminya. Namun Felix buru-buru sadar, bahwa apa yang telah ia katakan akan semakin menyakiti Jova. Laki-laki itu memegang tangan Jova yang sudah dingin, meskipun dalam hatinya masih ada kekecewaan dengan apa yang dilakukan oleh Jova, tetapi ia tetap mencoba untuk mengerti apa yang Jova lakukan.


"Maafkan aku, aku hanya terkejut. Aku tidak marah kok. Aku hanya bingung kenapa kamu merahasiakan ini semua dari aku." Felix mencium tangan sang istri. Berharap kalau Jova akan kembali bercerita dengan apa yang terjadi, tetapi wanita itu terus diam meskipun Felix berkali-kali mengajaknya bercerita.


"Apa kamu marah, karena ucapanku tadi?" tanya Felix setelah sekian lama dia mengobrol, tetapi Jova tidak juga meresponya.


Jova hanya membalas dengan gelengan kepala, tatapan matanya masih kosong.


"Terus kalau kamu tidak marah, kenapa kamu diam saja, setidaknya kembali pada Jova yang tetap ceria dan bercerita dengan apa yang terjadi dengan kamu," ucap Felix kembali memancing Jova untuk bercerita, tetapi lagi-lagi dia hanya diam seribu bahasa.


"Baiklah, mungkin kamu sedang butuh waktu sendiri. Aku akan ke kantin untuk membeli kopi, apa kamu ada yang ingin nitip?" tanya Felix sebelum meninggalkan Jova seorang di di dalam kamarnya.


Kembali, gelengan kepala kepala dari Jova yang Felix lihat.


"Kalau gitu aku pamit dulu, kamu istirahatlah dan aku akan titip pada perawat untuk menjaga kamu." Felix pun benar-benar meninggalkan Jova seorang diri.


Air mata Jova kembali luluh ketika dia sekarang di dalam kamar sendirian. Beribu penyesalan yang mengganjal dihatinya di tuangkan lewat tangisan. Penyesalan kenapa dia tidak bisa menjaga anaknya, penyasan kenapa dia terus saja berpikir berat sedangkan dokter Evi sudah mengatakan bahwa dirinya harus istirahat. Sehingga pada akhirnya dia kehilangan buah hatinya.


"Loh, kenapa Anda di sini?" tanya Dokter Evi yang melihat Felix malah berada di depan pintu ruangan Jova menatap Jova dari balik pintu.


"Astaga, Dok. Anda mengagetkan saya," ucap Felix dengan suara yang pelan agar Jova tidak tahu ada keributan di depan ruanganya.

__ADS_1


"Iya kenapa juga nggak masuk. Istri kamu sedang nunggu kamu loh," ucap Dokter Evi, yang tidak tahu kalau Felix baru saja dari dalam. Namun, Felix buru-buru meletakan jari telunjuknya di depan bibir dan meminta dokter Evi untuk tidak berisik.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Felix dengan suara yang lembut menunjuk kursi yang tidak jauh dari mereka berdiri.


"Boleh-boleh saja," ucap dokter Evi, seraya dia berjalan menuju kursi yang Felix tunjuk. "kenapa Fel, kayaknya serius banget?" tanya dokter Evi yang mana mereka sebenarnya sudah sangat akrab, itu karena dokter Evi yang baik, dan mudah berbaur dengan orang lain.


"Saya baru saja sudah membuat Jova sedih sekarang dia diam saja tidak banyak berbicara, bahkan untuk saya ajak berkomunikasi dia hanya menggelenkan kpalanya dan juga hanya mengangguk," adu Felix ada rasa penyesalan yang luar biasa karena dia sempat mengatakan yang tidak seharusnya dia katakan.


"Kamu katakan apa tadi?" tanya dokter Evi dengan berhati hati. Dan Felix pun menceritakan obrolan antara dirinya dan Jova. serta Felix yang merasa kecewa pada Jova karena sudah mengatakan kekecewaanya itu. "Kenapa Jo? Kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu sedang hamil anak aku? Apa sebegitu buruknya aku, sampai kamu tidak mau memberitahukan kalau kamu sedang hamil?" Felix mengingat kembali akan ucapannya.


Dokter Evi nampak menghirup nafasnya berkali-kali ketika Felix menceritakan apa yang dia katakan pada Jova.


"Kalau aku jadi Jova, aku juga akan melakukan hal yang sama, kenapa aku melakukan hal yang sama, itu karena kamu berbicara sangat menyakitkan. Jadi Jova juga tidak mudah Felix. Apa kamu tahu kenapa dia merahasiakan kehamilanya dari kamu, ayah jabang bayi yang dia kadung? Istri mana yang tidak suka ketika hamil, sama dengan istri yang lain Jova juga sebenarnya ingin memberitahu kamu akan kabar bahagia ini tetapi dia T-E-R-P-A-K-S-A melakukan ini semua." Dokter Evi saking gemasnya langsung menasihati Felix, dengan menekankan kata terpaksa.


"Nah, itu kamu tahu. Dia melakukan itu juga demi kamu, dia tidak mau kamu terpikirkan beban pada dirinya dan juga tidak mau membuat kamu terpikirkan. Coba kalau kamu tahu saat itu Jova sedang hamil harus tinggal di dalam penjara, kamu pasti tambah kefikiran. Jadi janganlah ada apa-apa di bebankan pada Jova. Pasti dia ada alasan tersendiri kenapa dia tidak memberitahu kehamilanya pada kamu." Dokter Evi pun mencoba mengerti posisi Felix dan Jova, yang sama-sama diuji dengan ujian yang hebat.


Bahkan dukungan dari dokter Evi banyak memberikan semangat baru untuk Jova. Wanita paruh baya itu sangat yakin kalau Jova tidak bersalah.


"Iya Dok, bisa bantu saya kan Dok setidaknya buat Jova lebih nyaman dan bisa kembali jadi Jova yang ceria," ucap Felix dengan setengah memohon pada dokter Evi.


"Akan saya coba yah, saya juga sangat sayang sama istri kamu, dia adalah wanita yang baik, yang tidak macam-macam dan juga di wanita yang ceria. Kalau saat ini dia berubah jadi pendiam percayalah bahwa dia saat ini sedang dalam tahap lelah, dan semuanya akan kembali lagi kalau hatinya sudah ikhlas akan semua yang menimpa dia. Kamu sekarang pergilah dulu ke kantin untuk mendinginkan pikiran kamu. Urusan Jova biar aku yang urusnya," ucap dokter Evi dengan berhati-hati. Agar Felix juga tidak tersinggung dengan omonganya. Suasana hati mereka sedang tidak baik-baik saja sehingga untuk menasihati dua orang itu butuh kehati-hatian.

__ADS_1


"Terima kasih Dok, atas bantuanya. Saya akan mengikuti saran Anda." Kini Felix beranjak ke kantin. Mempercayakan urusan Jova pada dokter Evi selain sebagai tenaga medis yang menangani akan kesehatan, dokter Evi juga bisa dijadikan untuk teman curhat.


Setelah memastikan Felix pergi ke kantin dengan langkah yang bisa dokter Evi lihat bahwa dirinya sangat khawatir dengan kondisi Jova. Kini dokter Evi pun masuk ke dalam ruangan Jova. yang ia tahu Jova pasti sedang menangis.


"Apa ada yang sakit Jo?" tanya dokter Evi, sengaja langsung meberikan pertanyaan begitu masuk agar wanita yang tengah memunggungi pintu tahu bahwa yang masuk adalah dokter Evi bukan suaminya.


Dengan gerakan tubuh berhati-hati Jova menatap dokter Evi dengan tatapan yang mengiba. Lalu setelahnya menggeleng.


"Tidak ada Dok," jawab Jova dengan suara lirih dan paraunya.


Dokter Evi memeriksa perut Jova, dan mengangguk-anggukan kepalanya. "Kalau ada yang dirasakan sakit langsung cerita yah takutnya ada yang bermasalah di dalam perut kamu."


"Baik Dok," jawab Jova dengan setengah berbisik dan wajah yang murung.


Dokter Evi menarik kursi dan duduk di samping Jova. "Apa ada yang membuat kamu murung? Aku memang bukan ibu kamu dan juga bukan kerabat kamu, tapi kamu sudah aku anggap lebih dari pasien aku. Aku tahu kamu banyak menyimpan kesedihamu sendiri. Mungkin kamu kalau cerita dengan ibu kamu tidak bebas karena takut ibu kamu terpikirkan akan masalah kamu. Kamu bisa cerita dengan aku. Setidaknya jangan simpan semua beban sendiri. Manusia sejatinya butuh teman untuk berbagi cerita. Ceritalah Jo, agar hati kamu tidak sesak."


Jova pun menunduk dengan ketidak berdayaanya.


...****************...


Sembari menunggu Jova dan Felix, yuk mampir ke karya bestie others di jamin pasti bakal baper....

__ADS_1


kuy ramaikan yah 🙏🏻



__ADS_2