Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Dihantui Rasa Bersalah


__ADS_3

Felix menggenggam tangan Jova yang terasa dingin dan bergetar, di mana saat ini dirinya akan memasuki ruang sidang. Di belakang Jova juga ada Lasmi dan juga Sumi tidak ketinggalan Arzen. Mereka datang untuk memberikan dukungan pada Jova, memberikan kekuatan pada Jova di mana wanita itu meskipun ini adalah sidang penentuan dari tersangka be-gal yang sesungguhnya dan setatus dirinya saat ini sebagai saksi, tetapi Jova masih merasakan tubuhnya bergetar dengan hebat. Tentu bukan Jova saja yang bersetatus saksi. Felix juga bersetatus saksi, tetap beda perasaan yang ditunjukkan dari keduanya. Di saat Felix tetap tenang, dan sudah mempersiapkan semua jawabannya, Jova justru semakin diselimuti kepanikan.


"Sayang tangan kamu dingin sekali," ucap Felix dengan menatap Jova penuh arti seolah dari tatapanya itu, laki-laki itu tengah memberikan dukungan pada Jova.


"Aku tidak tahu Sayang, tapi yang jelas saat ini aku sangat takut sekali. Aku pun tidak tahu kenapa aku akhir-akhir ini mudah sekali melow, seperti saat ini aku sedang ingin nangis." Jova memeluk tangan Felix, dan wanita itu terisak, sebelum persidangan di mulai.


Detik bergulir hingga berganti dengan menit dan juga menit berganti dengan jam. Sidang pun terus berlangsung hingga putusan sidang membuktikan kalau Jova tidak bersalah, dan seperti kasus yang lain Jova pun mendapatkan penghargaan dan juga di minta uantuk memberikan wawancara agar mengedukasi para warga yang lain, agar apabila ada bahaya mengancam jangan takut untuk melawan.


Tubuh Jova bergetar dengan kuat ketika dia harus di wawancara oleh sejumlah wartawan, dia memang padai untuk bermain kata, tetapi Jova tidak percaya diri kalau harus diwawancarai. Hingga akhinya lebih banyak Felix yang menjawabnya. Tentu seperti yang  Felix katakan kalau Jova dan dirinya mengucapkan banyak terima kasih untuk masyarakat di manapun berada yang sudah membantunya, hingga dia terbebas dari masalah ini.


Hampir seharian Jova mengurusi  kasus yang membelitnya, membersihkan namanya yang sempat di cap dengan istilah pembunuh, meskipun yang dilakukanya adalah  pembelaan dirinya.


Jova melankah dengan setengah terseok, tubuhnya lemas seolah tidak ada tulangnya. Ini adalah hari kebebasan untuk wanita itu, tetapi ia justru ada rasa sakit di hatinya ketika wanita itu kembali mengingat hari buruk itu. Tanpa Jova sadari tanganya sudah menghilangkan nyawa. Meskipun hukuman ia bebas, tetapi penyesalan dalam dirinya tidak bisa dia sembunyikan tetap dalam alam bawah sadarnya Jova terus di hantui oleh rasa penyesalan.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Sayang, aku lihat kamu setelah keluar dari ruangan sidang bukanya bahagia malaah seperti menanggung beban," ucap Felix sembari mengusap tangan Jova yang terasa dingin.


Benar saja, Jova tersentak kaget dengan gerakan Felix yang tanganya menggosok tangan Jova dengan lembut.


"Kamu ngomong apa Sayang? Maaf aku lagi kurang konsentrasi," ucap Jova dengan mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Kamu kenapa, aku perhatikan jadi murung sejak ke luar dari ruangan sidang bahkan tadi ada beberapa pertanyaan dari teman media, yang kamu kurang fokus, untung aku bisa  bantu jawab," ucap Felix dengan memeluk tubuh Jova.


Laki-laki yang duduk di samping Jova pun memeluk sang istri dengan pelukan yang hangat.


"Besok kita konsultasi ke pskiater yah, sepertinya kamu mengalami kecemasan yang berlebih, dan kamu harus menjalani terapi agar kamu tidak terjebak dalam pikiran yang seperti itu." Felix mengerti ketakuan Jova, dan dia juga tidak bisa sembarangan menjawab pertanyaan sang istri, biarkan Jova bertemu dengan orang yang lebih mengerti untuk menenangkan kecemasanya.


Jova menatap sang suami seolah dia tidak setuju dengan rencana suaminya itu.

__ADS_1


"Psikiater bukan untuk orang dengan gangguan jiwa saja, keberadaan mereka juga untuk mengendalikan pasien yang memiliki kecemasan berlebih seperti kamu. Ingat kata dokter Evi ketika kita akan program kehamilan pikiran kamu harus bisa tenang." Felix kembali mengingatkan apa kata sang dokter.


"Baiklah besok kita ajah mendatangi Pskiater, mudah-mudahan aku bisa kembali tenang dan bisa tidur nyenyak Jujur untuk saat ini memejamkan mata saja aku teringat kejadan mengerikan itu," jawab Jova, dengan wajah yang murung.


"Aku yakin kamu pasti bisa mengilangkan ketakutan itu. Gimana kalau kita tambah anak lagi." Felix tahu untuk mengalihkan rasa cemas Jova cukup menambah si pesek untuk menjadi anak asuhnya.


Namun kali ini Jova nampak berpikir dengan berat.


"Kayaknya jangan nambah anak asuh lagi den Mas, gimana kalau sekarang kita peliharanya jangan kucing doang, tapi juga tambah ular," usul Jova sontak saja Felix langsung menolak.


"Jangan macam-macam Jo, aku paling takut sama ular, klau kamu plihara ular nanti yang ada aku yang ngungsi dari rumah itu," protes Felix yang di balas tawa renyah oleh Jova.


"Santai aja Mas, Jova juga hanya bercanda kok, kita ke kantor kamu aja yuk, aku mau razia karyawan kamu siapa tau masih ada yang berpakaian seksi," ucap Jova. Yah, sejak dirinya yang melihat sang sekretaris suaminya yang berpakaian seksi kini Jova pun selalu mengingatkan Arzen untuk menerapkan peraturan pakaian yang tidak terbuka, demi kebaikan bersama. Terutama sekretaaris dari suaminya harus banget nutup aurat.

__ADS_1


__ADS_2