Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Keberanian Arzen


__ADS_3

Arzen dan Felix kini sudah duduk di taman belakang. "Ngomong-ngomong ada apa Tuan, kenapa sepertinya ada yang sangat penting," ucap Arzen membuka obrolan  terlebih dahulu.


"Ada hubungan apa antara kamu dengan Jova?" tanya Felix dengan tatapan yang tajam pada Arzen.


Arzen pun mengernyit kan dahinya, heran pertanyaan apa ini?


"Maksud Anda apa Tuan? Saya terlalu bodoh untuk bisa menjabarkan apa yang Anda maksud?"


"Kenapa aku melihat kalau kamu sangat dekat dengan Jova, apa kamu memiliki perasaan lain pada Jova?" Felix mengulang pertanyaanya, yang langsung disambut gelak tawa renyah oleh Arzen.


#Mampus loh diledekin sama asistennya sendiri... (Emot ketawa jahat dari othor)


"Tuan, Anda terlalu lucu. Apa yang saya lakukan pada Jova, semua atas perintah Anda, dan kalau saya dan Jova terlihat akrab karena kami saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Kami sama-sama dari kampung yang mencoba mengadu nasib di Jakarta. Meskipun Jova datang ke Jakarta bukan murni karena mengadu nasib, melainkan wanita itu mengikuti suaminya pindah ke Jakarta, tapi tidak bisa menutup mata Jova adalah orang yang mengharapkan sedikit lembaran rupiah yang bisa dia gunakan untuk pengobatan adiknya." Arzen yang sebelumnya tidak pernah membahas Jova lebih luas pun kali ini dia lebih bisa menjabarkan nasib Jova yang selama ini Arzen yakin Felix tidak tahu.


Entahlah, benar-benar tidak tahu atau laki-laki itu tutup mata, dan telinga atas semua yang dia ketahui dari Jova, karena ada satu anggapan yang menyudutkan Jova, entah apa itu, tetapi Arzen yakin, sepenuhnya Felix tidak menyalahkan Jova.


"Apa yang kamu tahu dari wanita itu?"


"Yang aku tahu dia hanyalah anak sulung, dari dua bersodara yang di pundaknya memikul beban keluarganya terutama sejak adiknya sakit, selebihnya aku tidak tahu karena aku hanya orang luar yang tidak sepantasnya tahu semuanya, apalagi wanita itu adalah istri orang. Rasanya kurang pantas apabila aku mengetahui lebih lanjut lagi," balas Arzen, dengan kata lain, dia langsung menepis tuduhan Felix yang mungkin dalam pikiranya mengira kalau Arzen ada main dengan Jova.


"Berikan kunci mobil untuku." Tangan Felix terulur meminta agar Arzen menyerahkan kunci mobilnya. Namun, Arzen menahanya.


"Anda mau ke mana? Bukankah Anda baru sembuh, jangan berbuat gila Tuan. Bukankah Anda sudah berjanji tidak akan berbuat onar lagi?" Arzen justru menahan kunci mobilnya. Laki-laki itu mengenal Felix dari dia belum di tinggal meninggal oleh ibunya dari Felix yang masih sangat nurut dengan ibunya dan tidak penah mengurusi papahnya beserta janda kaya itu. Hingga dia yang hampir setiap malam pulang dengan keonaran yang di buatnya, dan sekarang Felix sudah sedikit berubah lebih bisa mengurangi kebiasaan buruknya.


"Emang kamu pikir aku bakal ke mana Zen? Aku hanya ingin mengunjungi ibuku, apa aku salah?" tanya Felix dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


"Bukan soal salah atau benarnya Tuan, tetapi ini soal Anda baru saja pulang dari rumah sakit, bahkan Anda belum masuk ke dalam rumah. Apa untuk ke makam tidak bisa besok lagi?" Arzen pun sama tidak mau kalah dengan Felix, dia hanya terlalu cape kalau sampai Felix hilang kendali dan berbuat yang aneh-aneh lagi.


Felix memalingkan wajahnya pada Arzen. "Kenapa kamu jadi bawel banget, sama kaya Jojo?"


"Itu karena Anda yang memang keras kepala." Glek!! Arzen menelan salivanya kasar, dia sendiri tidak menyangka kalau dia saat ini berani menjawab setiap perkataan Felix. Sedangkan sebelumnya dia adalah orang yang selalu nurut dengan apa yang Felix katakan. Namun sejak adanya Jova dia pun sedikit demi sedikit bersikap tegas pada bosnya bukan dia membangkang, tetapi memang demi kebaikan sang bos.


Degan tatapan nyalang Felix pun berdiri, menunjukkan sifat marah dengan Arzen yang semakin bisa melawan, tetapi Felix juga tidak bisa membantahnya karena yang dikatakan asistenya memang rata-rata kenyataan dan demi kebaikannya.


"Akhirnya... bebas," batin Arzen dengan mengelus dadanya dan menghirup nafas dalam-dalam, seolah laki-laki itu  kehabisan nafas. Padahal dalam hatinya sangat bergemuruh ini adalah kali pertama dia berkata yang sedikit nyolot, ada rasa takut di pecat, tetapi ternyata sedikit tegas pada bos sendiri cukup menantang, dan membuat dia senang. Merasakan hal yang baru.


"Pantas Jova senang sekali melawan. Ternyata ada kepuasan tersendiri." Arzen terkekeh bangga ketika Felix meninggalkan dirinya karena kalah berdebat.


"Jojo ke mana Bi?" tanya Felix begitu masuk ke dalam rumahnya hanya melihat bi Suro.


"Panggil dan minta dia ke kamarku!" Felix pun kembali melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya.


Sesuai perintah dari majikan, bi Suro langsung mengayunkan kakinya menuju atap rumah, sedangkan asisten Arzen lngsung pulang ke rumahnya.


Sementara Jova begitu sampai kamar hal yang wajib dan harus di lakukan adalah mengajak bermain anak asuhnya.


"Cemong, hari ini momy sangat cape hati, masa momy tidak boleh kerja lagi dan bertemu dengan teman-teman momy, kamu tahu cemong, hal itu bikin momy stres dan gila." Jova meluapkan semua perasaan kesal pada suaminya dengan bercerita dengan cemong, bersungut dan mengacak-acak rambutnya. Menjadi sedikit gila untuk menjaga kewarasannya.


"Meong..." Cemong pun lagi-lagi memberikan solusinya, seolah ia berkata. "Jangan sedih Momy kan ada Cemong yang akan jadi teman momy cerita dan bermain.


"Uh, kamu memang pengertian banget Cemong, momy makin sayang sama kamu. Tahu tidak sejak ada kamu hari-hari momy jadi berwarna kayak pelangi dan juga momy jadi bahagia sekali. Momy sanyang banget sama kamu, cemong." Jova pun mengelus bulu yang halus milik cemong.

__ADS_1


"Meong...." Lagi, Cemong memberikan balasanya. "Cemong juga sayang momy."


Tidak ada henti Jova pun mengucapkan rasa syukurnya karena telah dititipkan makhluk kecil yang sangat lucu, bahkan rasa cape dia bekerja dan cape ngadapin Felix hilang saat itu juga, ketika bertemu dengan anak asuhnya.


"Neng... Neng Jova." Bi Suro memanggil Jova dari balik pintu.


"Meong." Lagi makhluk berbulu halus dan menggemaskan itu seolah memberitahukan momy-nya kalau ada yang sedang mencari di luar.


"Iya Sayang, itu Bi Suro. Kalau gitu kamu duduk manis, momy akan buka pintunya." Jova pun beranjak dari duduknya dan menghampiri pintu. Cemong pun yang sudah menjadi anak baik mengikuti arahan dari momy-nya duduk dan hanya mengamati apa yang momy-nya  lakukan.


"Kenapa Bi?" tanya Jova begitu membuka pintu kamarnya. Jova berpikir akan seperti biasa Bi Suro membawa makanan untuk dirinya, tetapi kali ini dugaanya salah, wanita paruh baya itu tidak membawa apa-apa di tanganya. Hanya senyum ramah yang bi Suro bawa.


"Itu Neng, di panggil Tuan Felix. Di minta datang ke kamarnya." Bi Suro langsung menyampaikan apa yang dikatakan oleh Felix.


"Hah... yang benar Bi? kenapa aku jadi takut Bi?" Tatapan Jova pun mengiba, dalam pikiranya sudah membayangkan kalau Felix akan marah pada dirinya.


"Iya Neng, Tuan yang minta, makanya bibi ke kamar Neng."


Jova pun membalikkan badannya dan menatap cemong dengan tatapan seolah tengah meminta doa pada makhluk berbulu halus itu, agar dia tidak terjadi masalah dengan Felix.


Ini adalah tatapan balik cemong, yang dalam batinnya mendoakan sang momy....


Agar sang dedy tidak sakiti momy.


__ADS_1


__ADS_2