Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Membuka Hati


__ADS_3

Jova terus terisak di atas pusaran terakhir sang adik, sementara Felix pun dengan sabar menunggu Jova hingga bisa lebih tenang dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Laki-laki itu mencoba mengerti apa yang Jova rasakan, dan membiarkan menumpahkan kesedihanya dan berharap setelah itu Jova akan kembali bersemangat seperti yang sebelumnya. Biarkan deh galak yang penting tidak seperti sekarang yang sangat jauh dengan Jova yang biasanya.


Felix pernah berada di posisi itu dan memang ketika menumpahkan semua yang mengganjal perasaan di atas makan orang yang kita sayang sangat bisa membantu kelegaan dihati.


"Mbak, ayah mau pulang dulu, kamu mau langsung pulang sekarang atau nunggu nanti?" tanya Janu, sama halnya dengan Felix, laki-laki paruh baya itu pun membiarkan Jova meratapi kesedihanya, tetapi setelah itu Jova harus bangkit dan juga harus kembali ceria, karena masa depanya masih panjang. Tidak bisa dia hanya menangisi kehilangan sang adik yang sudah bahagia di surga-Nya.


Jova mengangkat wajahnya menatap Janu dengan iba. "Ayah duluan saja, Jova ingin temanin Jini dulu," jawab Jova dengan air mata yang masih meleleh.


"Ya udah Ayah pulang dulu yah, kamu boleh bersedih, tapi setelah itu kamu harus bangkit lagi, karena sejatinya makluk yang bernyawa di dunia ini pasti akan meninggal. Hanya soal waktu dan sebabnya itu yang jadi rahasia Allah. Kamu jangan tetalu bersedih, karena itu hanya akan sia-sia belaka." Janu berjalan dan mengusap pundak Jova, dan Jova pun merasakan rasa yang sangat damai. Jova mengusap balik punggung tangan Janu yang terasa sangat keriput.


Beratnya ujian membuat laki-laki paruh baya itu terlihat sangat kurus, entah berapa banyak berat badan yang hilang karena cobaan sakit Jini.


"Maafkan Jova, Yah. Jova tidak bisa membantu Ayah. Terima kasih telah jadi Ayah yang terbaik untuk kami," ucap Jova dengan terisak. Ia kembali menyesal pernah membentak laki-laki yang sebagian darahnya mengalir di tubuhnya. hanya karena perjodohan yang tidak ia inginkan.


Janu tidak menjawah hanya isakan samar dan nafas yang memburu yang Jova rasakan sebagai jawaban dari ucapan Jova. "Cepatlah pulang dan istirahat, karena Jini pasti sedih kalau lihat kamu juga terlalu bersedih melepas kepegianya. Kamu juga harus istirahat." Pandangan Janu beralih pada Felix yang tetap setia menemani Jova.


Dengan senyum yang samar Felix pun membalas tatapan Janu begitupun laki-laki paruh baya itu yang terlihat sangat sedih dan juga lelah.


"Felix, Ayah titip putri Ayah yah, apabila berkenan sayangi dia dengan tulus. Karena dia tidak punya pegangan lagi selain kamu, suaminya."

__ADS_1


Deg!! Baik Jova maupun Felix pun sama merasakan pesan Janu itu terlalu mendalam.


"Ayah, maksud Ayah apa sih. Jova tetap punya pegangan karena ada Ayah dan juga Ibu yang akan selalu melindungi Jova," balas Jova tidak suka dengan ucapan Janu.


"Belajar dari kejadian Jini, ayah hanya belajar, bahwa ajal itu tidak tahu kapan akan datang. Makanya Ayah ingin kamu ada yang menjaga." Janu pun kembali menatap Felix yang masih mematung.


"Ayah jangan khawatir, karena Felix akan tetap menjaga Jova  bagaimanapun keadaanya. Karena Jova adalah istri Felix." Dengan yakin Felix meyakinkan Janu, agar tenang, dan juga dari kejadian kehilangan ini Felix banyak melihat kebaikan Jova, di mana dia hanyalah gadis polos yang butuh kasih sayang dan perlindungan.


"Alhamdulillah, kalau gitu ayah bisa lebih tenang, dan ayah pulang dulu. Kamu jangan kelamaan di sini Mbak." Janu mengulang lagi pesanya. Kini terlihat sekali wajah laki-laki paruh baya itu yang sangat terlihat bahagia. Seperti tanpa beban.


Dari ekor mata Felix justru terus menatap kepergian Janu, yang terlihat sangat tidak bergairah. Laki-laki itu terus menatap Janu hingga laki-laki paruh baya itu hilang di telan pepohonan besar.


"Jo, kalau sudah selesai kita cepat pulang yah. Kamu juga harus dengarkan nasihat ayah kamu, dan juga kamu harus hibur ibu kamu yang di rumah pasti ibu kamu butuh hiburan dari kamu." Felix mengusap pundak Jova.


Hingga langit yang cerah dalam waktu yang singkat berubah mengabu dan kini gerimis pun mulai mengundang hujan.


"Jo, kita harus seceparnya pulang, hujan sudah mulai turun." Felix kembali mengingatkan Jova dan Jova pun hanya terdiam dengan kebingunganya. Wajahnya menatap ke atas dan benar saja hujan turun belum terlalu besar, tetapi tetap saja akan basah apabila tidak segera berteduh.


"Jini, sekarang sudah turun hujang, padahal cuaca barusan sangat cerah. Seolah Tuhan juga ikut berduka atas kepergian kamu. Jini kamu adalah anak baik pantas saja Tuhan dan para malaikat merasakan kesedihan itu. Jini apa kamu juga masih ingat dulu kita sering main hujan-hujanan dan pulang pasti ketakutan karena Ibu atau Ayah akan marah, tapi kamu selalu berhasil membujuk mereka. Jini, apa kamu tidak kangen dengan masa-masa itu? Kenapa mbak merasa sangat rindu sekali dengan kamu meskipun kamu baru saja di makamkan, tapi mbak sudah sangat kangen," racau Jova dengan tangan terus mengusap nisan yang bertuliskan.

__ADS_1


Jini Agus Mustika binti Janu Musyanto 01 Agustus 2007 ~ 11 Febuari 2023.


"Jini, Mbak pulang dulu yah. Mbak janji akan sering bermain ke rumah kamu. Semoga kamu bahagia terus di sisi Allah. Meskipun kamu sudah tidak ada di dunia ini, tetapi kenangan bersama kamu akan mbak ingat terus. Mbak sangat bahagia karena telah Tuhan berikan kesempatan untuk menjadi sodara kamu, meskipun perjalan kamu di dunia ini harus terputus hanya sampai usia kamu di angka 15 tahun. Mbak sangat berterima kasih karena kamu selalu menjadi adik terbaik."


Terakhir Jova pun mencium nisan Jini, berharap adiknya di alam kubur sana merasakan bahwa kakaknya memberikan ciuman terakhirnya.


Felix dan Jova pun perlahan, tetapi pasti melangkan untuk menjauh dari makam sang adik. "Terima kasih Tuan, Anda sudah menemani saya, dan mau bersusah-susah memerankan peran suami yang baik. Saya banyak berhutang budi pada Anda." Suara Jova mengagetkan Felix yang saat ini sedang berjalan bersama di tengah gerimis yang datang. Namun mereka tetap melangkah dengan damai seolah tidak ada tetesan air dari awan yang berwarna gelap itu.


"Jo, tolong jangan panggil Tuan lagi. Aku pernah menganggap kalau kamu hanyalah wanita yang sama  dengan wanita-wanita yang mendekati aku, yang tak lain adalah hanya untuk menumpang hidup dengan k


Memanfaatkan kekayaanku. Namun, setelah kita bersama dalam waktu yang hampir satu bulan ini. aku tahu kalau kamu adalah wanita yang baik, dan mungkin memang kamu adalah jawaban Tuhan atas doa almarhum ibu yang selalu meminta mendatangkan jodoh yang baik untuk aku. Kita bisa memulai pernikahan kita sama seperti orang-orang dan sebutan pun bukan Tuan dan bos lagi tetapi panggilan suami dan istri pada umumnya."


Jova pun langsung memalingkan pandanganya dan melihat ada keseriusan di wajah Felix. "Kalau itu kemauan Anda saya akan usahakan," balas Jova ada rasa bahagia karena Felix memang dia lihat orang yang cukup baik.


Namun, ketenangan Jova terusik ketika di rumahnya seperti ada keributan. Memang area pemakaman yang dekat sehingga mereka memilih berjalan kaki.


"Jo, ini ada apa?" tanya Felix dan Jova pun langsung mengayunkan kakinya lebih cepat, ketika pandangan mata menangkap keadaan yang mengerikan dan indra pendengaran mendengar ada keributan di rumahnya. Belum tangisan sang ibu terlihat sangat pilu.


Tubuh Jova langsung bersimpuh di ambang pintu ketika melihat sang Ayah sudah terjatuh di lantai dengan tanda bahwa laki-laki paruh baya itu sudah tidak berdaya, dan banyak orang yang hanya menjadi penonton, seolah tubuh Janu kotor sehingga tidak ada yang memegangnya selain Lasmi yang memeluk tubuh suaminya.

__ADS_1


"Ayah... Ibu..."


"Tuhan, kejutan apa lagi ini?"


__ADS_2