Dinikahi Anak Konglomerat

Dinikahi Anak Konglomerat
Permohonan Felix


__ADS_3

"Jo... Jova..." Suara ringisan dari Felix terdengar, dan Arzen yang masih sibuk dengan segudang pekerjaan untuk mencoba mengeluarkan Jova pun langsung menghampiri bosnya yang sudah sadar itu.


"Akhhh..." Ringisan kembali terdengar ketika Felix mencoba untuk bangun.


"Tuan... Anda jangan banyak bergerak dulu, luka jahit Anda masih sangat basah." Arzen menahan pundak Felix agar tidak banyak bergerak. Yah, laki-laki yang tengah terbaring lemah di ranjang pasien pun langsung merebahkan badanya kembali. Matanya terpejam sempurna. Menikmati sensasi yang nano-nano dari luka di pinggangnya


"Zen, apa yang terjadi dengan Jova?" tanya Felix dengan mata yang terpejam, merasakan sensansi obat anestesi yang sudah mulai hilang perlahan kegunaannya..


Arzen menelan salivanya dengan kasar ketika Felix menanyakan Jova. Dalam pikiranya ada banyak yang ingin dia katakan mengenai Jova yang saat ini sedang mendekam di dalam jeruji besi.


"Apa orang itu meninggal?" tanya Felix kembali, padahal Arzen saja masih mencoba untuk mencari jawaban yang tepat, tetapi sudah dicecar dengan pertanyaan yang lain lagi.


Arzen membalas dengan anggukan kepala.


"Ya Tuhan." Felix semakin memejamkan kedua matanya dengan kuat. "Lalu kondisi Jova bagaimana?" tanya Felix dengan mata yang sudah memerah.


"Pengacara Prabu sedang ke sana untuk mencoba mencari bukti dan kesaksian dari Jova, dan juga aku minta Sumi untuk ikut, sekedar menghibur Jova yang pasti ketakutan luar biasa," jawab Arzen dengan suara yang berat.


"Di penjara?" tanya Felix kembali, padahal seharusnya dia sudah tahu betul bagaimana nasib Jova sekarang sedangkan dia alami, tetapi kalau tidak ada jawaban yang memastikan dari Arzen rasanya Felix masih penasaran berat.

__ADS_1


Kembali Arzen membalas dengan anggukan kepala yang lemah.


"Antarkan aku untuk menemui Jova," ucap Felix dengan gigi-gigi yang kembali mengadu.


"Maaf Tuan, kondisi Anda masih sangat lemah dan juga sekarang Jova belum bisa di temui karena sudah lewat dari jam besuk." Itu yang Arzen tahu dari ucapan pengacara Prabu.


Suara tangisan Felix pun pecah, rasa sakit di bagian pinggang karena luka tusuk tidak lagi Felix rasakan, ada yang lebih sakit lagi dari itu, yaitu hatinya lebih sakit lagi.


"Zen, antarkan aku ke kantor polisi, Gunakan uang-uang kita untuk mempertemukan aku dengan Jova,"ucap Felix kembali. Dia tidak mau lagi  mendengar alasan Arzen yang tidak mengikuti apa ucapanya.


"Zen, aku tidak bisa membiarkan Jova tidur dengan alas seadanya dan juga aku tidak mau dia makan dengan jatah makan yang apa adanya juga, dalam keadaan ketakutan dan juga tertekan," imbuh Felix padahal dia sendiri sedang sejak tadi Arzen diam saja.


"Masalah apapun itu nanti biar aku yang mengurusnya, kamu cukup ikuti apa yang aku ucapkan. Terus masalah Ibu mertuaku bagaimana, apa beliau sudah tahu bagaimana nasib putrinya?" tanya Felix lagi, rasa sakitnya kini sudah tidak ia rasakan lagi, bukan karena ia sudah sembuh, tetapi karena apa yang ia rasakan saat ini benar-benar terpokus dengan masalah Jova yang saat ini sedang terkurung di dalam jeruji besi. Tanpa adanya kesalahan, itu yang Felix yakini, siapapun yang berada di posisi Jova pasti akan melakukan hal yang sama, marah dan melawan, apalagi teman perampok itu mengatakan untuk menghabisi mereka semua karena sudah memiliki bukti kejahatan mereka. Pasti siapapun itu akan merasa keselamatanya terancam, akan melakukan perlawanana.


"Baik Tuan, saya akan hubungi pengacara Prabu, dan juga akan bernegosiasi dengan dokter, karena sepertinya Anda akan sangat sulit ke luar dari rumah sakit sedangkan kondisi Anda seperti ini." Arzen saja melihat darah yang berada di dalam kantong darah masih setengah dan itu tandanya kondisi Felix masih sangat lemah.


"Zen, aku tahu bagaimana kondisi fisik aku, aku berjanji akan cepat sembuh. Di sana Jova membutuhkan aku, aku tidak tega untuk membayangkan Jova menjalani ini semua." Yang ada dalam pikiran Felix bagaimana bisa ia biarkan Jova sendiri dalam ketakutanya, dan juga bagaimana bisa ia tidur di atas kasur yang empuk sedangkan Jova tidur dengan beralaskan kasur lantai, atau bahkan tikar.


Bongkahan penyesalan kembali menghantam perasaan Felix. Ia tidak menyangka sama sekali kalau sejak pagi Jova berkali-kali mengatakan tidak enak adalah sebagai firasat buruk. Ide Jova untuk mencari jalan yang rebih ramai malah Felix abaikan dengan alasan waktu tempuh yang lama, dan lain sebagainya.

__ADS_1


Justru karena sifat Felix yang keras kepala itu membawa Jova dalam masalah yang runyam.


"Jo, maafkan aku, mungkin kalau aku mendengarkan ucapan kamu, kamu tidak akan seperti ini sekarang. Mungkin sa'at ini kita masih bersama-sama," gumam Felix dengan segala penyesalanya. Kini yang ada dia tidak bisa merasakan lagi keusilan sang istri, dan laki-laki itu sudah bisa membayangkan senyum yang hilang dari wajah Jova, berganti dengan wajah yang mendung.


Setelah mengurus segudang perizinan dan menjelaskan masalah yang dialami Felix, kini laki-laki itu pun diizinkan untuk ke luar sebentar dari rumah sakit dengan catanan menggunakan korsi roda dan pulang-pergi dengan ambulance dan juga tim medis yang ikut mengantar Felix untuk mendatangi Jova yang berada di ruang tahanan.


Pukul tujuh malam, di mana seharusnya tidak boleh lagi ada yang jenguk apalagi kasus yang membeli Jova dengan tuduhan pembunuhan sehingga untuk penjagaan dan juga untuk perlakuan sedikit keras, dan dalam pengawasan yang ketat.


Air mata Jova kembali menetes, ketika dihadapanya ada satu buah piring plastik yang sudah berwarna pudar, dengan nasi dan juga  sayur bening bayam dan jagung serta satu iris tempe goreng. Wanita itu menelan salivanya dengan kasar, rasa sakit di tenggorokanya masih terus datang. Ia mengambil satu sendok makanan itu lalu mencecapnya berkali-kali, tidak ada rasa nikmat.


Piring yang berisi makanan Jova biarkan begitu saja sedangkan dia kembali terisak.


"Kamu nggak makan?" tanya penjaga yang melihat Jova hanya terisak. Wanita itu membalas dengan gelengan kepala yang lemah. "Aku tidak lapar," jawab Jova dengan suara yang lirih.


"Kamu tidak makan dari siang nanti kalau kamu sakit kita semua yang repot, makan!!" Suara menggelegar membuat Jova semakin ketakutan, tetapi wanita itu tetap menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Aku benar-benar tidak lapar, dan aku pastikan aku tidak akan sakit," jawab Jova dengan menunduk ia siap menerima tamparan sama seperti tadi ia ditampar karena diam saja ketika ditanya sesuatu. Mungkin itu lebih baik dari pada hatinya yang terus-terusan sakit.


"Kamu di tunggu seseorang di ruang besuk," ucap petugas lain yang datang tepat saat Jova merasakan pipinya panas dengan air mata berlinang. Dada Jova pun bergemuruh bertanya-tanyak, siapa lagi gerangan yang datang, apakah pengacara Prabu atau justru ibunya?"

__ADS_1


Dengan langkah kaki yang terseok, dan tubuh yang lemas kini Jova berjalan ke ruang tunggu. Kembali air matanya jatuh semakin deras ketika dia tahu siapa yang datang. Tubuh Jova bergeming sulit untuk ia gerakan. Seolah dia merasakan kalau tubuhnya kaku.


__ADS_2