
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama, kini Jova pun sudah sampai di depan rumah suaminya. "Kenapa aku berasa jadi majikan yah, pulang diantarin sopir," kelakar Jova sembari bersiap turun.
"Sopir nggak dapat bayaran mah percuma," seloroh Arzen, kali ajah dapat bayaran yang spesial.
"Mau di bayar berapa aku hanya punya uang dua puluh lima rebu, kalau mau di bayar lima rebu nggak apa-apa, lumayan buat beli teh pucuk, masih sisa dua rebu, nah sisa dua rebunya buat beli risol dapat satu butir." Jova pun tertawa dengan renyah.
"Bayarnya jangan pakai uang mau nggak?"
Jova langsung terdiam dengar ucapan Arzen. "Terus bayarnya pakai apa? Jangan macam-macam yah!" ancam Jova sebelum Arzen berkata yang benar-bener macam-macam.
"Macam-macam gimana, cuma mau ajak makan mie ayam ajah, bayarnya dengan makan mie ayam gimana?" tanya Arzen sembari mengembangkan senyum terbaiknya.
"Tapi, kalau untuk itu tunggu sampai gajihan yah, tabungan aku tinggal dikit dan aku takut tidak sampai gajihan lalu aku makan pakai apa?"
Arzen gantian kini dia yang terkekeh, bagaimana kalau aku yang telaktir?"
"Jangan deh, aku nggak enak, kamu selama ini sudah baik banget, suka bantu aku dari masalah dengan Bos Felix aku nggak enak, tunggu saja sampai aku gajihan dan setelah itu insyaAllah aku akan traktir makan mie ayam."
Kini Jova pun kembali bersiap hendak keluar dari dalam mobil asisten Arzen.
"Jo..." Arzen kembali memanggil Jova. Dan wanita itu kembali menghentikan kakinya yang sudah turun sebelah.
__ADS_1
Jova menaikkan sebelah alisnya. "Apa lagi," ucap Jova dengan suara yang setengah berbisik.
"Cuma mau bilang salam untuk Cemong dan juga buat Momy-nya Cemong." Arzen terkekh dengan renyah. Sementara Jova terkejut dengan apa yang Arzen katakan.
"Dari mana kamu tahu kalau aku punya anak angkat bernama cemong? Kamu nggak akan bilang-bilang pada bos kamu kan?" Wajah Jova untuk seketika menegang, dia terlalu takut kalau Arzen akan mengadukan pada suaminya soal Cemong yang tinggal di rumah dia.
"Tidak lah, lagian kayaknya bos juga nggak akan kejam banget kayak gitu kali, dia baik kok." Entah berapa kali Arzen mengatakan kalu bosnya baik, tetapi Jova sendiri belum yakin ia adalah orang baik sebab ia sendiri belum merasakan kalau Felix memang memiliki sifat baik. Ok lah Jova pun secara pribadi belum pernah yang di marahi sampai sakit hati banget, paling salah paham seperti tadi dan kata-kata yang sebatas celetukan, masih bisa di maklumi, tetapi yang tidak habis pikir adalah Jova adalah istrinya, tetapi diperlakukan sangat buruk dengan tinggal di atap rumahnya dan bekerja sendiri untuk memenuhi nafkahnya. Itu yang membuat Jova merasa sangat buruk telah memiliki jodoh yang bernama Felix.
"Aku masuk, kamu kerja dan jaga yang benar bos kamu itu, kalau perlu jampi-jampi biar jangan marah-marah terus, percayalah tidak akan berkurang rezeki dia dengan bersikap baik, apalagi pada istrinya." Tanpa menunggu waktu lama kini Jova pun langsung turun dan berjalan ke pintu samping. Pintu yang menghubungkan langsung ke tangga yang menuju kamarnya, di atap rumah mewah itu. Meskipun di atap, tetapi setidaknya tidak terlalu panas karena ada pohon besar di setiap sudutnya.
"Sore Bi Suro, sedang apa?" tanya Jova, seperti biasa ketika ada bi Suro di dapur maka Jova akan menyapanya dengan ramah, sekedar basa basi karena memang wanita itu sudah sering di bantu oleh bi Suro, terutama yang berhubungan dengan makanan.
"Eh Neng Jova baru pulang? Tunggu!!" Bi Suro gegas langsung menuju meja makan dan mengambil sesuatu. Yang Jova bisa tebak itu adalah makanan yang bisa ia gunakan untuk makan malam.
Jova bergeming tidak langsung menerima makanan yang di berikan bi Suro, hatinya justru terharu ketika melihat makanan di depanya.
"Bibi tahu gimana perasaan Neng, Bibi hanya berdoa suatu hari nanti Neng Jova bisa merubah sikap Tuan Filix, dia sebenarnya baik, cuma terlalu takut untuk kenal dengan orang baru." Lagi, ternyata bukan hanya Arzen yang bilang kalau Felix memang orang baik, bi Suro berkata kalau Felix juga orang baik.
"Amin Bi, Jova tidak ingin berharap lebih hanya ingin dihargai saja." Kelopak mata Jova pun memanas, dan butiran menyerupai Kristar pun keluar dari sudut matanya. Bi Suro yang sangat baik pada dirinya justru membuat ia terharu. Bahkan bi Suro selalu menyisakan jatah makanya untuk Jova. Mungkin apabila tidak ada bi Suro, Jova akan sangat berat merasakan hidup di Ibukota ini, berkat wanita paruh baya itu, Jova bisa menghemat uang makanya.
"Kalau begitu Jova ucapkan banyak terima kasih Bi, Jova tidak bisa membalas kebaikan Bibi dengan sesuatu yang bernilai ataupun berharga, tetapi Jova selalu doakan Bibi semoga Allah mudahkan segala hajat, dan Bibi di beri kesehatan selalu." Jova dengan tangan bergetar menerima piring berisi nasi dan lauk pauk yang tentunya lezat sangat berbeda dengan biasanya.
__ADS_1
Bi Suro pun membalas dengan senyum teduhnya. Sepanjang kakinya menapaki anak tangga satu persatu, air matanya juga menetes dengan deras, bukan karena sedih, tetapi terlalu bahagia, di saat ada seseorang yang tidak menyukainya, akan ada orang lain yang dengan tangan terbuka membantunya. Mungkin sebagian orang untuk makanan seperti yang saat ini berada di tangan Jova sangat sederhana, dan Jova pun mampu untuk membelinya. Namun bukan hanya sekedar mampu dan mewahnya. Nilai dari makanan itu, perhatian dari orang yang tidak Jova kenal sungguh membuat dia sangat bahagia, sehingga ia menangis haru.
"Meong..." Suara cemong berhasil mengagetkan lamunan Jova, dan seketika itu bibir Jova langsung melengkung sempurna, dan punggung tanganya mengusap air mata yang menetes di pipinya.
"Hai, Cemong. Momy udah pulang kamu pasti kangen yah." Jova langsung meraih Cemong yang memang dengan sengaja dibiarkan berkeliaran di luar rumah tempatnya tinggal, kebetulan setiap turun ke bawah ada pintunya sehingga Cemong tidak bisa ke luar berkeliaran ke lantai bawah. Jova bisa tenang meninggalkan cemong sendirian untuk kerja, karena ada bi Sarni yang membantu menjaga cemong juga jadi Jova tidak terlalu khawatir dia akan kelaparan.
Seperti biasa sebelum ia membersihkan diri dan juga mencuci pakaian yang kotor. lebih dulu wanita itu bercerita dengan kucing ras persia itu. Hidung yang pesek membuat Jova semakin gemas dengan kucing itu. Akan menjadi rutnitas rutin setiap pulang kerja ia akan bercerita dengan cemong dengan apa yang dia alami selama seharian ini.
Seperti hari ini apa yang menimpanya benar-benar Jova ceritakan, dari mulai ia yang diperintahkan bu Dewi, yang memerintahkan dirinya untuk naik ke papan, dan Incident yang tidak diharapkan terjadi. Lalu dirinya yang di minta bertanggung jawab dan juga saat ini pekerjaan dia yang menjaga bosnya Felix. Serta rasa haru dan bahagia dia yang di beri makanan yang menurutnya mewah. Nasi dengan Cumi, dan udang goreng tepung dan tumis capcay. Beberapa potong buah-buahan, membuat Jova kebali terisak, ketika menceritakan apa yang terjadi dihari ini pada Cemong.
Kucing dengan hidung pesek itu pun seolah tahu bahwa sang Momy angkatnya sedang sedih, kucing itu hanya diam saja dengan sorot mata saling menatap pada Jova, seolah binatang berbulu halus itu sedang berusaha menguatkan Jova.
"Cemong, maafkan Momy kalau nanti momy tidak pulang ke sini yah, mungkin saja bos momy tidak akan mengizinkan momy untuk pulang, kamu jangan nakal, dan jangan cari momy yah, kamu juga harus jadi kucing yang baik, kucing yang mandiri, dan jadi anak momy yang tidak nakal. Nanti kalau Momy sudah gajihan Momy akan ajak kamu ke dokter hewan untuk vaksin, dan ke pet shop untuk kamu potong bulu biar bulu-bulu kamu semakin cakep. Kamu doakan momy banyak uang yah, dan gajih momy lancar kalau bisa besar biar momy bisa manjain kamu terus." Tangan Jova mengelus bulu-bulu halus itu, dan cemong pun terlihat sangat menyukainya.
"Meong..." Cemong kembali memberikan respon.
Ini adalah hal kecil yang membuat Jova merasakan nyaman, meskipun hanya bercerita dengan seekor anak kucing, tetapi berhasil membuat otak dia tidak sampai gila, dan juga tidak sampai setres. Bahkan kadang rasanya ia lebih suka bisa bercerita dengan cemong, dari pada bercerita dengan manusia, Jova merasa lebih nyaman ketika bercerita degan seekor kucing.
Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu memegang dadanya yang tiba-tiba berdetak hebat. "Ayah, Ibu, Jini apa kalian baik-baik saja di kampung halaman? Jova kangen banget sama kalian." Kini pikiran Jova kembali merasakan tidak enak, setiap teringat keluarga maka hati Jova seolah teriris-iris. Nyeri dan sesak.
Seperti ini penampakan Cemong yang sedang menyimpan Momy Jova bercerita.
__ADS_1