
Setelah Jova beberapa kali mencoba membangunkan suaminya, perlahan Felix pun membuka matanya dengan gerakan yang pelan dan elegan, laki-laki itu mengerjapkanya kedua matanya berkali-kali, lalu menyipitkan kedua matanya.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Felix dengan ketus, sorot matanya menunjukan bahwa laki-laki itu kurang nyaman ada Jova di ruangannya.
Sementara itu Jova tentu kaget bukanya tadi yang minta Jova tetap tinggal di rumah sakit untuk merawatnya adalah laki-laki yang sama dengan yang ada di hadapanya saat ini. Jova yang salah atau justru Felix yang sebenarnya gegar otak, atau amnesia?
"Tuan, bukanya tadi Anda yang minta saya untuk bertukar pekerjaan dan sekarang menjaga Anda, tapi kenapa Anda seperti lupa." Jova mencoba menjelaskan apa yang membuatnya tinggal di ruangan yang horor ini.
"Tidak, aku tidak meminta kamu untuk tinggal di sini." Bahkan Felix langsung menjawab tanpa berpikir dulu.
Siapa yang tidak terkejut dengan perubahan Felix yang sangat kontras, tiba-tiba, dan terkesan menyudutkan Jova.
"Ini Tuan Felix yang kesambet, atau justru amnesia alias gegar otak?" batin Jova, tetapi wanita itu tidak berani lagi berkata apa-apa. Diam adalah cara yang paling aman seperti sebelum-sebelumnya.
"Kalau gitu apa Anda ingin saya panggilkan asisten Arzen, agar dia yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" usul Jova, dengan nada yang berhati-hati. Ia cukup khawatir kalau insiden yang terjadi di gudang membuat ingatan suaminya bergeser. Namun, kalau di coba berpikir keras juga rasanya mustahil sekali, mengingat kepala Felix tidak terperban itu tandanya seharusnya tidak ada masalah dengan ingatanya.
"Kamu panggilah," balas Felix, masih dengan nada yang ketus, dan tidak mau menatap Jova.
Makin aneh, Jova mencoba berpikir keras lagi. "Bukanya kalau gegar otak itu dia juga akan lupa sebagian memory sebelum kejadian. Tapi kenapa laki-laki itu tidak lupa dengan Arzen, dan justru lupanya dengan ucapannya padaku tadi," gumam Jova. Di mana wanita itu saat ini tengah menunggu panggilan teleponya diangkat oleh Arzen.
[Halloh Jo, apa terjadi sesuatu di sana?] tanya Arzen, begitu sambungan telepon diangkat, dan suara laki-laki itu pun terdengar sangat khawatir.
[Bisa datang ke rumah sakit tidak?] tanya balik Jova, lebih memilih mengabaikan pertanyaan Arzen yang bagi dirinya tidak penting, semua yang terjadi di rumah sakit bisa dia lihat begitu laki-laki itu sudah datang ke rumah sakit ini. Seperti itu kira-kira pemikiran Jova.
[Ada apa sih, kenapa bikin benasaran saja, Tuan Felix marah? Tambah sakit? Atau kamu kanget aku?] Jangan aneh yah dengan kelakuan Arzen, laki-laki itu memang seperti itu senang bercanda dengan Jova yang memang wanita itu juga sebenarnya seru dan lucu, sehingga agak sedikit nyambung kalau ngobrol. Terlebih dua anak manusia ini akhir-akhir ini sering bertukar kabar via pesan singkat meskipun pembahasan mereka hanya seadanya.
[Arzen....]
[Iya bercanda, kan kamu tahu aku orangnya demen bercanda. Nih aku raapihkan laporan dan langsung on teh way ke sana.]
Nuttt... Nuttt.... tanpa memberikan jawaban lagi Jova langsung menutup panggilan dengan Arzen.
__ADS_1
Sementara di tempat yang berbeda Arzen, asisten kepercayaan Felix pun gegas merapihkan meja kerjanya, lalu dengan tergesa ia kembali ke rumah sakit. Tentu sebelumnya Arzen sudah meminta Sisil, sekretaris Felix, untuk mengirimkan pekerjaan yang belum sempat Arzen cek, kirim via email-nya untuk mengecek kelanjutanya di rumah sakit.
Inilah yang membuat Felix selalu puas dengan pekerjaan Arzen dia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
Di rumah sakit Jova yang sudah selesai berbicara dengan Arzen pun berjalan kembali ke Felix yang sedang menggulirkan jemarinya di atas layar pintarnya.
"Tuan, tadi Anda belum sempat minum obat, berhubung saya sudah dapat pi-sang yang Anda minta. Ayok minum obat, biar cepat sembuh dan cepat pulang."
Jova kembali mengambil obat yang sebelumnya ia simpan begitu saja di atas nakas. Pelakuan Jova pun kali ini lebih ramah, dan sabar. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat bar-bar dan sedikit nyolot dengan laki-laki yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Felix pun tanpa protes dan tanpa banyak mengeluh seperti sebelumnya, ia memilih langsung meletakan ponselnya di samping dirinya duduk dan meraih satu buah pi-sang yang sudah dikupas oleh Jova. Tanpa mengucapkan apapun satu persatu obat yang ada di piring kecil pun sudah pindah ke perut Felix.
"Alhamdulillah... apa Anda mau minum?" Jova meraih satu botol air mineral dan mengulurkan pada suaminya. Lagi, Felix juga tanpa protes atau apa langsung meraih botol air minural, dan meneguknya beberapa tegukan.
Meskipun Jova memang merasakan ada yang aneh dengan Felix, tetapi tidak dipungkiri Jova pun senang ketika perlakuan Felix berubah. Terlepas dari laki-laki itu yang gegar ingatan ataupun justru hanya ekting, atau kesambet. Jova tidak perduli yang terpenting bagi Jova adalah Felix yang sudah berubah perlakuanya.
Andai boleh di minta, tentu Jova ingin sikap suami sekaligus bosnya tetap seperti ini. Meskipun ia akan jadi perawatnya apabila sikapnya yang seperti ini, maka Jova tidak akan merasa keberatan. Di samping pekerjaannya juga ringan karena hanya di butuhkan tenanganya sesekali tidak seperti bekerja pada saat di gudang, ia juga lebih banyak waktu luang, sehingga bisa ia gunakan untuk menulis, atau sekedar menyapa pembacanya.
Felix menggeleng dan menyenderkan kepalanya di bantal yang Jova sengaja sebelumnya tumpuk dengan susunan yang tinggi agar punggungnya nayaman ketika rebahan, terbukti Felix terlihat nyaman bersender di tumpukan bantal yang tinggi itu.
"Baiklah, kalau Anda sudah tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya akan duduk di sofa, sembari menunggu Arzen yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit ini, dan apabila ada sesuatu yang Anda butuhkan dari bantuan saya, Anda bisa panggil saya."
Felix pun mengangguk sebagai tanda bahwa ia tahu dengan apa yang dimaksud oleh Jova. Setelah Felix mengangguk dan itu artinya ia paham dengan yang dikatakan oleh Jova maka wanita itu langsung duduk di Sofa tempat sebelumnya ia duduk, dan seperti sebelum-sebelumnya dia akan meraih ponselnya dan melanjutkan mengetik rangakai kata demi kata untuk membuat sepenggal cerita.
Maka ketika Felix bersikap baik dan lembut, setidaknya tidak membentak-bentak Jova terus, wanita berparas ayu itu pun melakukan hal yang sama, bahkan lebih Jova bisa memperlakukan Felix jauh lebih sopan dari sebelumnya. Namun, ketika Felix kasar dan berbicara semena-mena maka Jova pun akan melakukan hal yan sama, bahkan dia tidak perduli sekalipun laki-laki itu adalah suami ataupun bosnya.
"Air susu balas dengan air susu, air tuba balas dengan air tuba." Mungkin ini adalah pepatah yang menggambarkan sifat Jova.
Tidak menunggu lama Arzen pun sudah datang di rumah sakit dan masuk ke ruangan bosnya dengan langkah yang setengah tergesa.
"Apa Anda yang panggil saya Bos?" tanya Arzen begitu dia masuk ke dalam ruang rawat yang hampir mirip-mirip dengan kamar hotel.
__ADS_1
Felix sendiri yang sedang fokus dengan layar pintarnya, mengangkat pandangan matanya dan dialihkan pada Arzen. Lalu seperkian detik anggukan kepala terlihat dari laki-laki itu.
"Minta wanita itu tunggu di luar."
Jova pun tanpa Arzen mengulang perkataan Felix tentu dengar ucapan bosnya itu, sehingga ia langsung bangun dan beranjak dari duduknya.
"Saya akan keluar Tuan Felix, dan asisten Arzen." Lagi pula memang Jova juga lebih baik menunggu di luar dari pada di dalam ruangan yang sangat menegangkan itu.
"Lagian siapa yang ingin nguping juga," gerundel Jova, begitu ia sudah keluar dari dalam ruangan bosnya. Meskipun tidak di pungkiri Jova pun kepo dengan apa yang akan bosnya bahas dengan Arzen, mana dari wajah keduanya seperti tegang, sehingga Jova pun merasakan sangat penasaran, tetapi apa daya dia tidak bisa kepo karena pekerjaan taruhanya.
"Kenapa Anda panggil saya Tuan, apa terjadi sesuatu?" tanya Arzen, sembari tanganya menarik satu kursi untuk duduk di samping Felix. Tidak biasanya laki-laki itu memanggil dirinya, kecuali memang sangat penting.
"Aku sedang pura-pura lupa ingatan sebagian, dan kamu harus mendukung rencana aku, aku tadi pura-pura lupa dengan apa yang terjadi di antara aku dan Jojo," jelas Felix dengan kedua bola mata bergulir ke kanan dan kekiri seolah tengah mengawasi suasana, mungkin saja Jova menguping.
"Hah? Kenapa Anda harus melakukan itu? Apa Jova melakukan sesuatu, kalau memang ia bisa saya nasihati dia, agar bersikap sopan dan tidak membuat bosnya marah.
Namun justru Felix menggelengkan kepalanya dengan cukup pelan, dan meletakan kembali punggungnya pada tumpukan bantal sehingga rasanya saraf yang tegang di punggung menghendur dan nyaman.
"Lalu, kenapa Anda sampai melakukan hal seperti itu, kenapa Anda sampai harus berbohong, dan mengarang cerita seperti itu?" Sama halnya dengan yang lain Arzen juga akan terus mencecar Felix dengan apa yang ada dalam pikiranya. Apalagi ini menyangkut kebohongan.
Terdengan hembusan nafas kasar, sebelum Felix menjelaskan maksud dirinya melakukan kebohongan itu. "Tadi aku tertidur, dan aku lagi-lagi mengigo tentang almarhumah ibuku, dan mengumpat janda genit itu dan mengumpat ppapahku juga, itu yang aku ingat. Sehingga aku memutuskan untuk pura-pura lupa agar wanita itu tidak kepo dengan masalah keluargaku, dan juga tidak terlalu ikut campur masalah pribadiku. Kamu cari saja alasan kalau sampai wanita itu membahas perlakukan aneh aku."
Arzen pun yang sudah paham tentang permasalahan keluarga dari bosnya mengangguk mengerti dengan apa yang bosnya lakukan. Dia memang seperti itu terlalu tertutup dengan masalah pribadinya, dan satu-satunya yang tahu dengan masalah pribadi Felix adalah Arzen. Hanya Arzen yang tahu apa yang sebenarnya terjadi antara papahnya, almarhum ibunya, dan wanita yang di sebut janda gatel itu.
"Anda tenang saja Tuan, saya bisa atur semuanya, dan pastikan bahwa Jova tidak akan mengorek-ngorek masalah pribadi Anda, apalagi itu keluarga Anda, seperti yang sudah-sudah saya akan bisa diandalkan dengan masalah ini." Arzen sudah sangat paham dengan sikap Felix yang selalu tidak pernah suka apabila ada seseorang yang menyinggung masalah keluarga.
"Yah, maka dari itu aku panggil kamu untuk pastikan wanita itu tidak bertanya dengan mimpi aku. Biarkan dia tahu seperti yang beredar seperti selama ini, jangan sampai tahu apa yang terjadi sesungguhnya dalam keluargaku." Sama seperti biasanya makan Felix juga akan merasa lega ketika Arzen sudah bekerja, karena yang sudah sudah pekerjaan Arzen sangat bisa diandalkan.
Ingin sebenarnya Felix bisa tidur dengan tenang, tanpa bayang-bayang mamihnya dan juga tanpa bayang-bayang papah dan juga janda kaya ia maksud, tetapi alam bawah sadarnya sulit untuk dia atur, sangat sulit untuk diarahkan, selalu saja tidurnya akan selalu tidak tenang.
Bahkan ia harus merasakan trauma untuk sebuah setatus hubungan dan juga senyumnya hilang semenjak ibunya menderita, karena perlakuan para penghianat.
__ADS_1
Meskipun ia tahu bahwa ibunya korban, tetapi dia tidak bisa menuntut keadilan, karena ini menyangkut nama baik keluarganya. Laki-laki itu hanya bisa berperang dengan perasaannya sendiri.